
"Berani sekali kau menyerang orang Istana Atas Angin, hai pendekar negeri timur.
Sudah tebal ilmu kanuragan mu ha?", teriak seorang lelaki paruh baya yang memakai baju hijau dengan garis biru.
"Kalau orang mu tidak menghina duluan, kami juga tidak ingin mencari masalah.
Semua orang disini melihat. Masih kau menyangkal, paman tua?", Lawana langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Haaahhhh, banyak bicara...
Serang mereka!", teriak lelaki paruh baya berambut panjang itu segera.
5 orang berbaju biru langit langsung melesat menerjang kearah Panji Watugunung dan rombongannya.
Dengan cekatan, mereka berenam menghindari serangan.
Bruakkk
Meja warung makan hancur berantakan akibat terjangan salah satu orang berbaju biru langit.
Mereka lalu segera memburu rombongan Panji Watugunung yang menyebar.
Sekar Mayang yang memulai pertarungan, langsung berhadapan dengan seorang lelaki berbaju biru langit dengan kumis tebal nya.
Dengan cepat, laki laki itu menerjang maju dengan kipas yang menjadi senjata andalan nya.
Whussss
Angin dingin tenaga dalam menerabas cepat kearah Sekar Mayang saat kipas itu berayun dari tangan pria paruh baya itu.
Dengan cepat, Sekar Mayang melompat cepat ke belakang, kemudian melepas Selendang Es nya dan mengebutkannya kearah angin dingin dari kipas.
Blarrrrr
Ledakan keras terdengar dari benturan dua tenaga dalam. Si pria berbaju biru langit itu terlempar keluar dari rumah makan setelah tubuh nya menabrak jendela. Sekar Mayang segera melompat mengejar nya.
Pertarungan sengit terjadi di dalam dan luar warung makan itu.
Trajutrisna yang kelihatan lemah, ternyata mampu mengimbangi permainan silat pria berbaju biru langit dengan tompel di pipi kanan nya.
Gerakannya luwes dalam bertahan dan menyerang. Saat lawan nya lengah Trajutrisna segera melayangkan tendangan keras ke perut si tompel itu.
Bukkkkk
Si tompel langsung menjerit keras. Perutnya sakit sekali mendapat tendangan dari Trajutrisna. Melihat lawan nya kendor pertahanan, Trajutrisna melompat tinggi ke udara dan melayangkan tendangan keras ke dada si tompel itu.
Si tompel terpental menabrak dinding warung makan. Dia muntah darah dan pingsan seketika.
Sukmajaya yang sudah sejak tadi penasaran dengan Panji Watugunung, langsung mencabut pedang di punggungnya. Kemudian dengan cepat, menerjang maju ke arah pangeran Daha itu.
Sreeetttttt
Tebasan pedang itu mengancam nyawa Panji Watugunung. Dengan tenang, Panji Watugunung hanya menggeser posisi tubuhnya setengah langkah, menghindari sabetan pedang Sukmajaya.
Mendapati serangan nya gagal, dengan bernafsu Sukmajaya memutar tubuhnya lalu kembali menyabetkan pedang nya kearah perut Panji Watugunung. Lagi lagi, Watugunung hanya berkelit ke samping sambil terus melirik ke arah pria paruh baya yang masih belum bertindak.
"Kurang ajar!", teriak Sukmajaya yang mulai geram karena serangan nya dengan mudah di hindari.
10 jurus sudah berlalu, dan Sukmajaya belum bisa menyarangkan satu serangan pun ke tubuh Panji Watugunung.
Dengan amarah membara, Sukmajaya langsung menyabetkan pedang nya kearah leher Panji Watugunung, dia mencoba mencari celah. Dengan gerakan ringan, Panji Watugunung mundur setengah langkah.
Melihat lawan mundur, Sukmajaya segera merangsek maju dengan hantaman tangan kiri nya. Panji Watugunung segera merapal Ajian Tapak Dewa Api nya.
Blammmm!!
Ledakan keras kembali terdengar dari dalam warung makan itu. Sukmajaya yang tak menduga bahwa lawannya pendekar pilih tanding terpelanting ke belakang. Pria paruh baya itu segera melompat menangkap tubuh Sukmajaya.
Sukmajaya batuk kecil beberapa kali. Dadanya terasa sesak bukan main. Dari sudut bibirnya darah segar mengalir keluar.
"Sukmajaya,
Kau terluka dalam", teriak pria paruh baya itu sambil segera menotok aliran darah Sukmajaya. Dengan cepat pria paruh baya itu duduk bersila lalu dia menyalurkan tenaga dalam nya pada Sukmajaya untuk menyelamatkan nyawa nya.
Panji Watugunung hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah wajah Sukmajaya memerah, pria paruh baya itu segera berdiri.
"Rupanya kau cukup berisi juga, pendekar negeri timur.
Andai kau tidak melukai keponakan ku, mungkin kita bisa jadi sahabat baik. Namun karena kau sudah membuat keponakan ku cedera, jangan salahkan aku bila menuntut balas.
Sebutkan nama mu, pendekar negeri timur. Hari ini, aku Pendekar Angin Utara akan menjajal kemampuan kanuragan mu", ujar pria paruh baya itu segera.
"Aku Watugunung. Tidak ada maksud untuk berbuat jahat. Tapi jika terpaksa akan membela diri", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Ku hargai sikapmu Watugunung. Sekarang bersiaplah menerima serangan ku", ujar Pendekar Angin Utara sambil mencabut pedang yang ada di pinggang nya.
Melihat pertarungan Sukmajaya yang dihajar tadi, membuat Pendekar Angin Utara tidak akan berani bermain main dengan Panji Watugunung.
Segera dia melompat dan mengayunkan pedangnya. Angin dingin dari tebasan pedangnya merangsek ke arah Panji Watugunung.
Panji Watugunung segera merapal Ajian Tameng Waja. Sinar kuning keemasan segera melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung sesaat sebelum angin dingin pedang Pendekar Angin Utara menghajar tubuh nya.
Dhuarrrr
Ledakan dahsyat terjadi. Pendekar Angin Utara tersenyum penuh kemenangan, namun tidak bertahan lama. Usai asap ledakan dahsyat itu menghilang, Panji Watugunung masih berdiri kokoh di tempat nya tanpa ada luka.
Mata Pendekar Angin Utara melotot melihat itu. Jurus andalan nya, Tebasan Angin Utara yang tidak pernah gagal menghabisi nyawa lawannya, tidak mampu melukai kulit Panji Watugunung. Diam diam ada rasa takut menyerang di hati Pendekar Angin Utara.
Kemampuan beladiri tangguh ini setara dengan Resi Buyut Gunung Galunggung, raja pendekar di Tatar Pasundan, batin Pendekar Angin Utara.
Dia melihat sekelilingnya. Orang orang nya berjatuhan di hajar pengiring Panji Watugunung. Dengan menahan malu, Pendekar Angin Utara membungkuk hormat kepada Panji Watugunung.
"Aku mengaku kalah Watugunung untuk saat ini. Lain kali aku pasti menang melawan mu", ujar Pendekar Angin Utara yang segera berbalik arah dan memapah Sukmajaya yang masih lemas. Melihat sang pemimpin mundur, orang orang berbaju biru langit itu turut mundur dari arena pertarungan.
Pemilik warung makan yang sedari tadi melihat pertarungan itu dari jarak jauh, langsung berlari menuju warung nya. Hampir semua perabot dan meja makan hancur akibat pertarungan tadi. Beberapa bagian dinding juga jebol. Dengan lemas dia terduduk di lantai rumah makan itu.
Panji Watugunung segera merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan 3 kepeng emas kemudian memberikan nya pada pemilik warung makan itu.
"Ambillah ini, sebagai ganti dari kerusakan warung makan mu", ujar Panji Watugunung segera.
"Terimakasih banyak pendekar, terimakasih", ujar si pemilik warung makan sambil menghormat.
Selepas itu, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh ketiga selir nya. Trajutrisna segera menggebrak kuda nya untuk melanjutkan perjalanan menuju ke kota Kadipaten Gunatiga sebelum menuju ke Kawali, ibukota kerajaan Galuh Pakuan.
Trajutrisna yang sudah hapal betul tempat itu, segera menemui si pemilik penginapan yang bernama Nyi Karti, janda kaya raya bekas istri Juragan Somawijaya yang tewas di rampok.
"Kami ingin menginap Nyi. Kami ada 6 orang jadi tolong siapkan tempat nya ya", ujar Trajutrisna sambil tersenyum.
Nyi Karti melambaikan tangannya, dan 2 orang pembantunya segera bergegas menata kamar pesanan Trajutrisna.
Malam itu mereka beristirahat dengan nyenyak di penginapan Nyi Karti.
**
Seorang pria berlari kencang di tengah deras hujan menuju ke sebuah rumah kecil belakang gudang besar di Pelabuhan Halong.
Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu rumah kecil itu segera. Seorang lelaki paruh baya sedang duduk di depan perapian di tengah rumah kecil itu.
"Celaka kakang celaka..
Kita harus cepat melapor pada tokai. Goran dan anak buahnya di tangkap prajurit Kalingga. Kalau kita cepat takutnya mereka akan mencium pergerakan kita", ujar pria yang basah kuyup itu segera.
"Ini gawat. Kalau sampai Adipati Agnibrata tau saudagar Coa Bu Teng terlibat dalam rencana Adipati Gandakusuma, bisa bisa kita ikut di hukum mati, Taruna", ujar lelaki paruh baya itu terlihat sedikit panik.
"Cepat ganti baju mu, Taruna. Malam ini juga kita harus menemui Coa Bu Teng untuk mengabarkan berita penting ini", imbuh pria paruh baya itu segera.
Lelaki muda bernama Taruna itu segera mengangguk kemudian berganti baju dengan cepat.
Saat mereka membuka pintu rumah kecil itu, tiba tiba...
Sringggg..
Sebuah anak panah melesat cepat menuju dada kiri si pria paruh baya itu.
Creeppp
Aughhhhh
Pria itu menjerit keras saat anak panah itu menancap di dada kiri nya. Untung saja, anak panah itu tidak mengenai jantung nya jadi pria paruh baya itu tidak tewas seketika. Dari gelapnya malam, Tumenggung Janadi langsung melompat keluar dari persembunyiannya di ikuti puluhan prajurit Kalingga. Mereka mengepung rumah kecil itu segera.
__ADS_1
Taruna segera membawa pria paruh baya itu masuk ke dalam rumah kecil itu. Hujan deras terus mengguyur pelabuhan Halong.
"Kalian menyerah saja, kalian tidak akan bisa lolos dari kami", teriak Tumenggung Janadi sambil memberikan isyarat tangan untuk merapat.
Sesuai permintaan Panji Watugunung, Adipati Agnibrata melakukan penyelidikan terkait dengan berita tentang saudagar kaya raya asal negeri Tiongkok bernama Coa Bu Teng yang terlibat dalam rencana makar Adipati Gandakusuma dari Paguhan. Dan ternyata desas desus itu benar adanya.
Coa Bu Teng mendapatkan berbagai jenis barang hasil bumi Kadipaten Paguhan seperti beras dan lada dengan harga murah kemudian mengirim berbagai macam senjata perang berkualitas bagus pada Adipati Gandakusuma.
Keuntungan Coa Bu Teng memang besar tapi itu beresiko tinggi.
Si pria paruh baya itu terus membekap luka nya akibat tusukan anak panah, sementara Taruna ketakutan setengah mati.
"Bagaimana ini Kakang? Kita tidak mungkin bisa lolos dari kepungan para prajurit Kalingga", ujar Taruna dengan wajah pucat pasi.
Si pria paruh baya hanya diam tak menjawab pertanyaan Taruna. Dia berfikir keras. Dia dan Taruna adalah penghubung antara Coa Bu Teng dan Adipati Gandakusuma lewat Tumenggung Ranapandu. Jika rahasia yang dia ketahui bocor, maka rencana Adipati Gandakusuma yang sudah separuh jalan bisa jadi gagal.
Melirik ke arah Taruna yang ketakutan, dia sadar bahwa Taruna tidak akan bertahan dari siksaan prajurit Kalingga yang akan melakukan upaya apapun untuk mengorek keterangan dari Taruna. Diam diam pria paruh baya itu mencabut sebilah belati tajam yang tersimpan di balik bajunya, dan dengan cepat menusuk perut Taruna.
Creeppp
Taruna yang tidak menyangka kalau si pria paruh baya itu menusuk perut nya hanya bisa melotot sesaat kemudian. Dengan terhuyung huyung mundur, Taruna membekap perutnya yang mengeluarkan darah banyak.
"Kau.. Kauuu...baj..ii..ngaannnnn!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Taruna sesaat sebelum akhirnya tewas meregang nyawa. Tubuhnya roboh bersimbah darah.
Si pria paruh baya itu tersenyum kecut menatap kematian Taruna.
Setelah menghembuskan nafas panjang, pria itu berteriak keras.
"Hidup Paguhan!"
Creeppp
Belati tajam yang baru di gunakan untuk menghabisi nyawa Taruna, dia gunakan untuk bunuh diri. Pria itu mendelik sesaat sebelum akhirnya tewas di samping Taruna.
Para prajurit Kalingga yang mendobrak pintu rumah kecil itu, hanya terkejut melihat kejadian itu. Tumenggung Janadi yang memimpin pasukan pengepungan hanya bisa memerintahkan kepada para prajurit untuk memeriksa mayat dua orang itu. Dan seorang prajurit yang memeriksa, menemukan sebuah surat dari daun lontar yang terbungkus kain merah. Buru buru dia menyerahkan itu pada Tumenggung Janadi.
Setelah membaca surat itu, Tumenggung Janadi mengepalkan tangannya.
"Wimuka,
Laporkan pada Senopati Lokananta untuk mengirimkan pasukan tambahan", perintah Tumenggung Janadi pada Bekel Wimuka.
"Pagi ini,
Kita serbu kediaman Coa Bu Teng!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
Yuk dukung author terus semangat menulis dengan like 👍, vote ☝️ dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca guys 😁😁