Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Tugas dari Ayahanda


__ADS_3

Setelah semuanya bersiap, Panji Watugunung dan keempat gadis pengikut nya segera meninggalkan penginapan yang sudah di bayari juragan Karsa. Tak lupa mereka berterimakasih kepada pria paruh baya itu.


Setelah berkuda seharian, menjelang senja mereka sampai di kota Kabupaten Gelang-gelang.


Kota Gelang-gelang sekarang terlihat lebih ramai. Lalu lalang orang dan kereta kuda membawa barang dan penumpang memenuhi seluruh sudut kota.


Sesampainya di gapura istana, penjaga mengenali sang putra Bupati dan memberi hormat. Salah satu penjaga gapura segera berlari untuk memberitahu Sang Bupati. Rombongan Panji Watugunung menepuk kuda mereka pelan, dan menambatkan kuda mereka di sisi barat alun-alun istana Gelang-gelang.


Panji Gunungsari menyambut kedatangan putra sulungnya dengan gembira.


"Selamat datang Ngger Cah Bagus, Romo senang sekali kamu sudah kembali ke sini".


"Salam bakti saya Kanjeng Romo, maaf saya terlambat beberapa hari", Panji Watugunung menghormat pada ayahnya.


"Salam hormat Gusti Bupati", ucap ketiga gadis calon istri Panji Watugunung segera menghormat pada Panji Gunungsari.


"Ya ya ya, aku senang melihat calon mantu ku rukun semuanya", ujar Panji Gunungsari yang di sambut senyum bahagia dari ketiga gadis itu.


"Yang di belakang itu siapa Ngger Cah Bagus?", Panji Gunungsari menunjuk ke arah Dewi Srimpi yang duduk di belakang dan menunduk.


Belum sempat Panji Watugunung menjawab, Dewi Srimpi segera berkata, " Hamba pelayan Tuan Watugunung Gusti Bupati, mohon maaf jika hamba lancang".


Hemmmm


Panji Gunungsari melirik ke arah putra nya sambil manggut-manggut.


Dewi Pancawati tergopoh-gopoh menuju Balairung Puri Agung Gelang-gelang mendengar putra tirinya kembali.


"Ngger Cah Bagus anak ku, kau sudah pulang Ngger..", Dewi Pancawati segera memeluk tubuh Panji Watugunung.


"Iya Kanjeng Ibu, Watugunung kembali setelah Kanjeng Romo mengirim surat ke Padepokan Padas Putih", Watugunung segera memberi hormat Dewi Pancawati, di ikuti semua calon istri dan pelayan nya.


Dewi Pancawati mengelus kepala Panji Watugunung dan duduk di sebelah suami nya.


"Kanjeng Romo, saya membawa titipan surat Dewi Anggrek Bulan dari Bukit Lanjar", Watugunung menghaturkan surat yang di bungkus kain berwarna putih.


Dewi Pancawati dan Panji Watugunung terdiam sejenak, lalu segera mengambil surat dari tangan Panji Watugunung dan membacanya.


*


"Panji Gunungsari,


Cucu ku Watugunungsudah besar,


Sudah waktunya menikah.


Apa lagi yang kau tunggu?


Lakukan persiapan segera,


Aku menunggu kabar baik dari mu."


Dewi Anggrek Bulan.


*


Panji Watugunung segera menghela nafas panjang.


"Sudah ku duga perempuan tua itu akan begini".


"Ada apa Kangmas? Kog seperti ada yang mengganjal pikiran mu?", Dewi Pancawati melihat perubahan raut wajah suaminya.


"Bibi mu, meminta agar Panji Watugunung segera di nikahkan", Panji Gunungsari tersenyum tipis sambil memandang kearah Panji Watugunung dan ketiga calon istri nya.


Ketiga calon istri Panji Watugunung tersenyum bahagia saat mendengar suara dari calon mertua nya.


"Tunggu Romo, siapa yang di maksud bibi nya Kanjeng Ibu? Bukankah itu tadi surat dari Dewi Anggrek Bulan?", Panji Watugunung kebingungan.


Panji Gunungsari segera memahami kebingungan dari Panji Watugunung.


"Yayi Pancawati, sekarang kau yang menjelaskan semuanya".


"Ngger Cah Bagus, Dewi Anggrek Bulan itu sepupu ibu ku dan bibi ibu mu nak, Dewi Sekar Pembayun. Jadi bisa dikatakan dia itu nenek mu", jawab Dewi Pancawati menjelaskan.

__ADS_1


Panji Watugunung bengong seketika, dan ketiga calon istri nya juga terkejut bukan main.


"Jadi Dewi Anggrek Bulan bulan itu nenek kakang Watugunung?", Sekar Mayang seakan tak percaya.


"Iya Ngger Cah Ayu", jawab Dewi Pancawati meyakinkan.


"Tapi kog masih seumuran kami?", tanya Dewi Anggarawati tak kalah kaget.


Dewi Pancawati tersenyum simpul, dia sudah menduga bahwa pertanyaan itu akan muncul.


"Dewi Anggrek Bulan itu adik Dewi Lanjar. Saat mereka masih muda, mereka memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Dewi Lanjar, memilih menjadi istri Tumenggung Sindupraja, dan memiliki putri aku dan mbakyu Sekar Pembayun sedangkan Dewi Anggrek Bulan memilih mempelajari ilmu kanuragan.


Aku tidak tau ilmu apa yang di pelajari bibi ku itu sehingga bisa awet muda seperti itu".


Watugunung, Sekar Mayang, Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati hanya melongo mendengar penuturan Dewi Pancawati.


"Ya karena putra ku sudah ada disini, sekarang kalian segera membersihkan diri dan beristirahat, karna besok ada hal penting untuk kita bicarakan Ngger Cah Bagus", ujar sang Bupati Gelang-gelang.


Setelah berkata demikian Panji Gunungsari segera menarik putranya ke keputran Gelang-gelang di ikuti Dewi Srimpi sedangkan Dewi Pancawati menggiring calon mantu nya ke keputren.


Sesampainya di keputran, segera Panji Watugunung membersihkan diri dan berganti pakaian layak nya bangsawan.


Dewi Srimpi benar benar terpana dengan perubahan penampilan Panji Watugunung.


"Srimpi... "


Gadis bercadar hitam itu masih bengong.


Panji Watugunung sampai berdiri di depan nya dan menggoyangkan tangan nya, tapi gadis itu tetap melongo seperti kesurupan.


'Dia gagah sekali. Dan tampan', batin Dewi Srimpi.


Akhirnya karna kesal dengan sikap Dewi Srimpi, Panji Watugunung menepuk pipi gadis itu. Membuat gadis itu tersadar dari ketakjuban nya.


"Eh iya iya, ada apa tuan?"


"Kau ini bengong dari tadi, seperti melihat hantu saja", Panji Watugunung membetulkan sumping telinga nya yang sedikit miring.


"Ya tidak apa-apa. Tolong kau ambilkan aku wedang jahe. Sebentar lagi Kanjeng Romo kemari".


"Ba-baik tuan", Dewi Srimpi segera bergegas menuju dapur Puri Agung Gelang-gelang di temani seorang dayang.


Tak berapa lama kemudian, Bupati Gelang-gelang datang ke keputran. Pria paruh baya itu segera duduk di kursi yang ada di serambi keputran Gelang-gelang di temani Panji Watugunung.


"Kau benar benar tampan seperti eyang mu Ngger, sangat gagah bahkan mengalahkan aku hehehehe", puji Panji Gunungsari setelah mengamati Panji Watugunung lekat.


"Pantas saja 3 wanita itu rela kau madu hahahaha".


Panji Watugunung tersipu mendengar penuturan ayahnya.


"Ngger Cah Bagus, sebenarnya ada tugas yang akan ku berikan untukmu. Ku harap kau bersedia menjalankan nya", kata Bupati Gelang-gelang sambil menghela nafas.


"Tugas ini sebenarnya dari Maharaja Samarawijaya, dan aku mempercayakan tugas ini pada mu. Anggap saja ujian untuk mu sebagai calon bupati Gelang-gelang selanjutnya".


"Apakah tugas itu Kanjeng Romo", Panji Watugunung penasaran.


"Kau akan memimpin pasukan khusus yang bertugas menjaga keamanan di perbatasan Panjalu. Mulai dari Seloageng sampai ke Watugaluh. Tugas mu memberantas perampok dan pengacau yang merajalela sekarang ini".


Panji Gunungsari mengambil sebuah lencana emas berukir burung Garuda tanda sebagai pasukan khusus dari Panjalu, dan memberikan nya pada putranya.


"Ananda siap melaksanakan tugas Kanjeng Romo".


Panji Watugunung menerima lencana dan memasukkan ke kantong bajunya.


"Ingat Ngger Cah Bagus, tugas ini tidak mudah. Setiap saat kau harus bertaruh nyawa. Berhati-hatilah", ujar Panji Gunungsari sambil menghela nafas.


Lalu Panji Gunungsari menjelaskan bahwa dari setiap wilayah, seperti Seloageng dan Gelang-gelang akan menyetorkan 10 prajurit pilhan. Untuk wilayah Pakuwon perdikan seperti Kunjang dan Watugaluh wajib setor 5 prajurit.


"Kau mengerti Ngger, sehabis dari Gelang-gelang kau harus ke Seloageng. Temui Kakang Tejo Sumirat. Dia yang mengusulkan mu menjadi pasukan khusus.


Besok di paseban, akan ku tunjuk siapa saja yang akan menjadi pembantu mu", ujar Panji Gunungsari.


Dewi Srimpi yang akan masuk serambi keputran menghentikan langkahnya, begitu mendengar ucapan Bupati Gelang-gelang.

__ADS_1


"Maaf Kanjeng Romo, jika boleh hamba mengajak ketiga gadis itu dan pelayan ku. Sisanya aku serahkan kepada kebijakan Kanjeng Romo", potong Panji Watugunung.


"Itu terserah kamu Ngger Cah Bagus, asal kamu tidak lupa tugas karna bermesraan terus dengan calon istri mu hehehehe", Panji Gunungsari terkekeh.


Semburat merah terlihat di wajah Watugunung, sebab walaupun sering berbagi tempat tidur dengan calon istri nya, tapi belum pernah sekalipun dia melakukan hubungan intim dengan mereka.


Dewi Srimpi lega mendengar jawaban dari Bupati Gelang-gelang. Segera dia masuk dan menghidangkan wedang jahe dan beberapa makanan kecil untuk tuan dan ayah tuan nya.


Malam semakin larut. Panji Gunungsari sudah meninggalkan keputran Gelang-gelang sejak tadi. Panji Watugunung juga bersiap beristirahat. Tanpa gangguan dari ketiga calon istri nya. Karna di Istana Puri Agung, ada tata krama yang melarang pasangan belum menikah tinggal bersama dalam satu atap.


Dewi Srimpi merapikan selimut Panji Watugunung. Gadis itu benar benar menjaga Watugunung.


Pagi menjelang, saat Watugunung terbangun dari tidurnya. Mata nya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan Dewi Srimpi tertidur di kursi dekat tempat tidur nya.


'Hemmmm gadis ini'


Panji Watugunung pelan pelan tanpa bersuara keluar kamar dan segera membersihkan diri. Saat kembali, Dewi Srimpi sudah berdiri di samping meja. Dan segelas wedang jahe ada disana.


Setelah berganti baju, Panji Watugunung bergegas ke Balairung Puri Agung Gelang-gelang. Semua sudah hadir di paseban.


Panji Watugunung segera mengambil tempat duduk di sebelah kanan bawah singgasana ayahnya.


"Besok, putra ku akan menjalankan tugas penting dari Kotaraja Dahanapura. Masing masing Pakuwon harus mengirim seorang jagoan untuk mengikuti putra ku melaksanakan tugas ini".


Suasana paseban tiba tiba sedikit riuh dengan kasak kusuk.


"Ampun Gusti Bupati, Kami siap membantu tugas Gusti Putra Mahkota. Kapan kami bisa mengirim kan perwakilan Pakuwon kami?", seorang Akuwu sepuh bernama Samburikma dari Pakuwon Janti memecah keriuhan.


"Lebih cepat lebih baik. Kalau bisa hari ini sudah berkumpul, sebab besok sudah harus berangkat ke Seloageng".


"Kami mengerti Gusti Bupati, ijin kan kami mohon diri", ujar Akuwu Samburikma.


Panji Gunungsari mengangguk dan mengangkat tangan tanda mengiyakan.


Akuwu Samburikma di ikuti Akuwu lainnya menghaturkan sembah dan mundur dari paseban.


"Sancaka, kirimkan surat ke pos pos pengawasan di seluruh wilayah Gelang-gelang tentang tugas ini. Semua prajurit di pos pengawasan harus siap membantu jika pasukan khusus ini membutuhkan bantuan", titah sang Bupati.


"Sendiko dawuh Gusti Bupati", Tumenggung Sancaka menghormat.


Panji Watugunung tersenyum mendengar semua titah Bupati Gelang-gelang.


'Tugas pengabdian ku dimulai'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah perjalanan Watugunung di Episode selanjutnya ya guys.


Jangan lupa sedekah like vote dan komentar nya.


Happy reading ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


and thanks for reading my novel๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

__ADS_1


__ADS_2