Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Penyergapan


__ADS_3

Seorang lelaki berumur 30 tahunan dengan kumis tipis sedang duduk di lantai serambi pakuwon Bedander saat Watugunung datang.


Wajahnya tak asing, seperti pernah melihat.


Laki laki itu buru buru membungkuk hormat kepada Panji Watugunung saat Panglima pasukan Garuda Panjalu itu tiba di serambi.


"Jadi kau yang diangkat Gusti Adipati menjadi Akuwu Bedander yang baru?", tanya Watugunung dengan pandangan menyelidik.


"Iya Gusti Panglima, saya Sindupati yang di tunjuk Gusti Adipati menjadi Akuwu Bedander yang baru", pria itu membungkuk hormat.


'Sindupati? Bukan kah putra Tumenggung Sancaka dari Gelang-gelang?'


"Kalau tidak salah, kisanak ini putra kedua Tumenggung Sancaka dari Gelang-gelang bukan?", ujar Watugunung sambil tersenyum.


"Bagaimana Gusti Panglima bisa tau?", jawab Sindupati takut takut.


"Tentu saja bisa, Kakang Watugunung kan putra Bupati Gelang-gelang", sahut Sekar Mayang yang dari tadi memperhatikan.


Sindupati terkejut, sedikit sedikit dia mulai ingat wajah Panji Watugunung yang hadir saat perayaan di Gelang-gelang.


"Maafkan Sindupati yang bodoh Gusti Panji, Sindupati pantas mendapatkan hukuman", Sindupati segera bersujud kepada Panji Watugunung.


"Berdirilah Sindupati,


Bagaimana kisah nya kau bisa di Seloageng?", tanya Watugunung penasaran.


Sindupati lalu menceritakan tentang perjodohan nya dengan putri Pakuwon Ganter. Sekarang Sindupati adalah menantu Akuwu Ganter, Rakai Kulawu.


Panji Watugunung manggut-manggut saja mendengar cerita Sindupati.


"Dengar Sindupati, mulai sekarang kau adalah Akuwu Bedander. Jalankan tugas dan tanggung jawab mu dengan baik. Atur tata kelola pemerintahan Pakuwon Bedander ini dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah menyeleweng dari aturan. Kalau sampai aku dengar kau menyeleweng dari aturan, nasibmu akan sama seperti Madangkungan. Mengerti kau?".


"Sindupati mengerti Gusti Panji, Sindupati akan menjalankan tugas penting ini sebaik-baiknya", ujar Sindupati sambil menghormat.


"Paman Saketi,


Suruh Gumbreg menata perbekalan. Besok pagi kita pulang ke Kadipaten Seloageng".


"Sendiko dawuh Gusti Panji", Ki Saketi segera mundur dan menuju tenda perbekalan dimana Gumbreg dan 3 orang anggota nya berjaga.


"Gumbreg, persiapkan perbekalan. Besok pagi kita pulang ke Seloageng.


Usai memberi perintah, Ki Saketi meninggalkan Gumbreg dan 3 orang bawahannya.


"Memang enak ya jadi pimpinan, tinggal perintah tunjuk sini tunjuk sana beres perkara", Gumbreg menggerutu.


"Sudah resiko jadi bawahan Kang, kita masih beruntung, walau bagian perbekalan, tapi kita masih menjadi bagian pasukan khusus ini Lo kang", ujar Weleng, prajurit dari Pakuwon Pucang.


"Beruntung apanya Leng? Aku lebih suka menggebuk musuh dengan pentung pusaka ku daripada mengurusi urusan dapur dan ***** bengek nya ini", Gumbreg terus mengomel sambil terus mengumpulkan bekal perjalanan tanpa menoleh ke belakang.


3 orang bawahan Gumbreg pucat pasi, Panji Watugunung yang kebetulan lewat memeriksa keadaan tenda Gumbreg saat Gumbreg terus mengeluarkan unek-unek nya.


"Seharusnya Gusti Panji Watugunung itu memahami, kalau kita kesini untuk berperang bukan mengurusi makanan".


"Tapi pengurus makanan juga penting loh, tanpa pengurus makanan, para prajurit tidak akan kuat berperang", Watugunung yang berdiri di belakang Gumbreg menyahut santai.


Gumbreg yang merasa sebal omongan nya di potong segera membalik badan.


"Alah kamu itu pasti nge...."


Gumbreg langsung pucat melihat Panji Watugunung yang tersenyum berdiri di belakang nya.


"Ampun Gusti Panji ampuni hamba...".


"Aku mengerti keluhan mu, tapi harus kau ingat, prajurit perbekalan itu prajurit yang paling berguna. Pasukan Garuda Panjalu tidak akan bisa berperang kalau tidak ada pasukan perbekalan seperti kalian.


Paham maksud ku", Panji Watugunung tersenyum.

__ADS_1


Dewi Srimpi menahan tawa dengan menutup mulutnya.


"Paham.. paham Gusti Panji", Gumbreg gemetar badannya.


"Masih ingin pindah ke bagian pertarungan?", tanya Panji Watugunung serius.


"Tidak Gusti Panji tidak, di perbekalan saja yaa di perbekalan saja", Gumbreg masih gemetaran.


"Bagus, lanjutkan dengan benar. Ingat besok pagi kita pulang ke Seloageng", ujar Panji Watugunung seraya melangkah keluar dari tenda.


Gumbreg, Weleng dan 2 kawan nya menghormat. Saat Panji Watugunung sudah tidak kelihatan, Gumbreg menginjak kaki Weleng.


"Aduh sakit kang", teriak Weleng yang jempol kakinya seperti ketiban batu.


"Kau mau mencelakai ku ya? Kenapa tidak bilang kalau Gusti Panji kesini? Senang kau aku ketakutan?", Gumbreg kesal pada Weleng.


"Ya tidak kang, wong tadi sudah tak kasih kode eh kakang ngomel-ngomel terus. Untung Gusti Panji orang baik, kalau tidak sudah di pancung lehermu kang", Weleng menakuti Gumbreg.


Gumbreg bergidik ngeri membayangkan nya.


Panji Watugunung segera menuju ke tempat tidur nya. Sekar Mayang dari tadi mondar mandir menunggu kedatangan Panji Watugunung. Dewi Srimpi yang dari tadi mengikuti langkah melihat Sekar Mayang sudah di depan pintu kamar, menekuk wajahnya.


'Kenapa si selir galak itu sudah ada disana?', gerutu Dewi Srimpi dalam hati.


"Darimana Kakang? Kog lama sekali", tanya Sekar Mayang sambil melirik Dewi Srimpi yang melangkah membuka pintu kamar.


"Dari tenda perbekalan, melihat persiapan", jawab Watugunung seraya melangkah masuk kedalam kamar.


Dewi Srimpi membenarkan selimut Panji Watugunung, menata bantalnya. Setelah selesai, dia berdiri di samping ranjang.


"Kenapa masih disitu? Kau mau ikut tidur di ranjang Kakang Watugunung juga?", Sekar Mayang mendelik tajam kearah Dewi Srimpi.


"Dinda Mayang, kenapa kau selalu galak padanya? Padahal dia hanya menunggu ku tidur dan menutup pintu kamar", ujar Panji Watugunung naik ke atas ranjang.


Dewi Srimpi bersorak dalam hati mendengar pembelaan Panji Watugunung.


Sekar Mayang ikut naik ke ranjang.


Deggg..


Wajah Dewi Srimpi memucat mendengar ucapan Sekar Mayang.


"Singkirkan semua pikiran burukmu Dinda, jangan suka menghakimi orang seenaknya", Panji Watugunung segera menoleh ke arah Dewi Srimpi dan mengangguk. Dewi Srimpi segera keluar sambil menutup pintu kamar dari luar.


"Selamat beristirahat Tuan".


Pagi menjelang tiba saat pintu kamar terbuka lebar. Dewi Srimpi membawa segelas minuman hangat, kain kering dan air hangat bercampur daun sirih di dalam gendok.


Hati Dewi Srimpi panas, saat melihat tangan Sekar Mayang melingkar mesra di dada Panji Watugunung.


Panji Watugunung terbangun saat jendela kamar nya di buka Dewi Srimpi.


"Sudah pagi Tuan, waktunya persiapan pulang ke Seloageng".


Panji Watugunung segera memindahkan tangan Sekar Mayang dan turun dari ranjang.


Pemuda tampan itu segera ke meja kecil dan membasuh muka nya dengan air hangat. Sejak Dewi Srimpi mengikuti nya, inilah kebiasaan baru Panji Watugunung.


"Srimpi, kau sudah menata pakaian ku?".


"Sudah Tuan, tinggal berangkat saja. Baju untuk tuan sudah saya siapkan, setelah mandi tinggal memakai nya".


Dewi Srimpi benar benar memanjakan Panji Watugunung dengan semua perhatian nya.


Sekar Mayang terbangun kemudian dan bergegas membersihkan diri.


Usai mandi, Panji Watugunung segera keluar dari kamar di ikuti Dewi Srimpi.

__ADS_1


Semua orang sudah bersiap untuk pulang ke Seloageng. Panji Watugunung dan pasukannya bergerak menuju barat, menuju Pakuwon Palah.


Akuwu Bedander yang baru, Sindupati mengantar sampai gapura istana pakuwon.


Debu jalanan beterbangan mengikuti langkah kaki kuda pasukan Garuda Panjalu. Ludaka dan Rajegwesi yang berasal dari Pakuwon Palah menjadi ujung tombak perjalanan. Di ikuti Ki Saketi dan Jarasanda.


Panji Watugunung di tengah, diapit dua selirnya Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Dibelakang Dewi Srimpi, sang pelayan setia.


Gumbreg dan 3 kawannya menyusul di belakangnya, di ikuti Marakeh dan Rakai dan 5 orang prajurit dari kadipaten Seloageng termasuk Laras dan Arimbi.


Mereka bergerak cepat, menjelang tengah hari mereka sudah sampai di persawahan luas di dekat Siwatantra Palah.


Rombongan pasukan berhenti untuk mengisi perut. Para wanita prajurit membantu Gumbreg dan kawan nya di bagian perbekalan.


Ratna Pitaloka membawa pincuk daun jati berisi beberapa makanan. Sekar Mayang membawa beberapa buah-buahan segar. Sedangkan Dewi Srimpi membawa kendi air minum. Mereka mendekati Panji Watugunung yang sedang duduk di bawah pohon mangga yang rimbun.


Mereka makan siang bersama dengan riang. Canda dan tawa kecil sesekali menghiasi wajah mereka.


Setelah selesai, rombongan itu bersiap melanjutkan perjalanan mereka. Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya tanda maju, dan pasukannya bergerak. Namun belum sampai 100 tombak mereka meninggalkan tempat itu, sebuah anak panah melesat cepat menuju ke Panji Watugunung.


Panji Watugunung yang merasa bahaya mengancam, menghantamkan tangan kanan nya ke arah anak panah dari arah samping kanan.


Shuuttt....


Brakkk!!!


Anak panah hancur berantakan.


Suara cukup keras segera menghentikan gerakan pasukan Garuda Panjalu. Mereka terkejut mendengar suara benda hancur dan segera membentuk lingkaran pagar betis di sekeliling Panji Watugunung.


"Keparat, siapa berani menyerang rombongan kami? Keluar, tunjukkan wujud kalian", Ki Saketi berteriak marah.


Dari rimbun pepohonan, muncul 10 orang bersenjata lengkap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hayo siapa mereka?


Nantikan terus kelanjutan ceritanya guys.

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍


Selamat membaca 😁😁😁😁


__ADS_2