
Panji Watugunung tersentak mendengar suara keras dari Ratna Pitaloka.
'Ada apa ini'
Sambil garuk-garuk kepala, Panji Watugunung segera duduk.
"Tunggu dulu, ada masalah apa ini? Kenapa kalian ribut seperti ini?, tatap Watugunung pada mereka bertiga.
"Begini Kakang, sekarang kami jujur pada Kakang Watugunung..", Ratna Pitaloka menghela nafas panjang sebelum berkata, " Aku, Mayang dan Putri Manja ini suka dengan kakang, cinta dengan Kakang Watugunung.
Sekarang Kakang pilih, siapa diantara kami yang akan kakang jadikan istri?"
Deggg..
Kata kata Ratna Pitaloka bagai petir di siang bolong.
Panji Watugunung memandang wajah mereka bertiga. Ada raut gugup bercampur cemas dari ketiga wajah perempuan cantik itu.
'Apa yang harus kulakukan?'
Tiba tiba Panji Watugunung teringat tujuan Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
"Sebelum menjawab, aku ingin tau apa tujuan Dinda Pitaloka dan Sekar Mayang kesini?"
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang berpandangan satu sama lain, sedangkan Dewi Anggarawati terkejut dengan jawaban Panji Watugunung.
Hening sejenak
"Saya dan Kangmbok Pitaloka diutus guru menyampaikan surat ke Gusti Bupati Gelang-gelang", ujar Sekar Mayang pelan.
"Sekarang, mana suratnya?", tanya Watugunung.
Sekar Mayang merogoh ke dalam baju nya. Lalu mengeluarkan kantong kain merah.
"Ini Kakang", ucap Sekar Mayang sambil mengulurkan kantong kain merah itu pada
Panji Watugunung.
Panji Watugunung segera membuka kantor kain merah dan membacanya.
"Nakmas Bupati Gelang-gelang,
aku mengirim pesan ini
mohon maaf sebelumnya
Aku harap Nakmas Bupati mengijinkan
Panji Watugunung kembali ke Padepokan Padas Putih untuk sementara.
Ada rencana jahat besar telah tersusun
setelah pembagian wilayah Kahuripan.
Guru mu,
Mpu Sakri".
'Rencana jahat besar?
Apa maksudnya guru sebenarnya?'
Berbagai pikiran membuat kepala Panji Watugunung pusing tanpa sebab.
"Baiklah, aku memberikan jawaban. Setelah kita kembali ke Padepokan Padas Putih, dan tau apa maksud guru memanggil ku pulang, maka aku akan membuat keputusan".
Sekarang aku tanya kalian,
Apa kalian tetap mencintai ku jika aku menikah dengan wanita lain?".
__ADS_1
Sunyi.
Ratna Pitaloka lalu bersuara ", Aku tetap mencintai mu kakang".
Dewi Anggarawati tak mau kalah, " Aku juga tetap mencintaimu walau kau menikahi wanita lain".
Sekar Mayang tersenyum simpul, " Jangan kira hanya kalian yang mencintai Kakang Watugunung, aku akan tetap mencintai dia. Walau dia sudah menikah, aku rela di madu asal tetap bersama dengan nya".
Watugunung tersenyum tipis.
"Baiklah, berarti kalian tidak keberatan jika berbagi cinta ku dengan orang lain?"
Ketiga gadis itu mengangguk.
"Sebagai tanda kalian benar-benar mau berbagi cinta, aku akan mengangkat kalian sebagai selir ku. Setelah jelas semua masalah, aku akan menjelaskan status secara resmi.
Apa kalian mau?"
Ketiga gadis itu langsung bilang "Mauuuu...!!!!""
Panji Watugunung tersenyum lega. Setidaknya saat ini dia bisa lega melihat mereka rukun kembali.
Tapi kerukunan itu tidak berlangsung lama.
Ketiga gadis itu ribut kembali soal urutan siapa yang menjadi selir pertama.
"Aku yang pantas menjadi selir pertama, aku paling dulu mengenal Kakang Watugunung daripada kalian", ujar Ratna Pitaloka.
Sekar Mayang tidak terima dengan pernyataan Ratna Pitaloka.
"Tidak bisa begitu Kangmbok, apa Kangmbok Pitaloka langsung jatuh cinta pada Kakang Watugunung saat pandangan pertama? Tidak kan?".
"Betul itu, lama kenal tidak bisa di jadikan ukuran", Dewi Anggarawati menimpali.
Ratna Pitaloka meradang.
Belum sempat Ratna Pitaloka menjawab, Panji Watugunung sudah berteriak.
Ketiga gadis itu langsung diam.
"Aku mengangkat kalian menjadi selir bukan untuk melihat kalian ribut. Aku hanya tidak mau kalian ribut mempermasalahkan aku. Kalau kalian masih ribut terus, lebih baik kalian pergi jauh dari sini dan jangan ganggu hidup ku.
Mengerti kalian?"
Ketiga gadis itu mengangguk tanda mengerti.
"Sekarang selesaikan masalah kalian, aku mau tidur. Kalau sampai nanti sore belum ada kata sepakat, sebaiknya kalian tidak perlu menemui aku lagi. Untuk selamanya".
Usai berkata, Panji Watugunung segera masuk ke kamar keputran. Meninggalkan Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang serta Dewi Anggarawati di serambi.
Saat mereka bingung harus berbuat apa, penjaga gapura masuk mengantar Mahesa Rangkah dan Parwati yang ingin menemui Panji Watugunung.
Melihat Anggarawati tengah kebingungan, dan dua orang gadis asing di sebelah nya juga sama, Mahesa Rangkah memberanikan diri untuk bertanya.
Setelah mendengar cerita dari Anggarawati, Mahesa Rangkah lalu tertawa kecil.
"Apa yang lucu Paman?", tanya Anggarawati.
"Tidak apa-apa Gusti Putri, cuma hamba sudah tau maksud Den Mas Panji Watugunung dengan mengangkat Den Ayu sekalian sekaligus menjadi selir nya", jawab Mahesa Rangkah.
Lalu Mahesa urutan yang benar dari mereka.
Anggarawati tetap menjadi calon permaisuri, sebab sebagai putri Adipati Seloageng tidak mungkin dia menjadi selir. Lagi pula dia paling awal di jodohkan dengan Panji Watugunung.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang menjadi selir pertama dan kedua, berdasar pada berapa lama mereka mengenal Panji Watugunung.
Maksud Panji Watugunung mengangkat mereka menjadi selir, bukan karena nafsu semata. Panji Watugunung ingin mereka sama sama rukun, tidak ada permasalahan.
Setelah mendengar ceramah panjang lebar dari Mahesa Rangkah, ketiga gadis itu akhirnya paham dan menerima penjelasan Mahesa Rangkah dengan lapang dada.
__ADS_1
Sore hari, Panji Watugunung keluar dari dalam rumah. Ia bermaksud menemui ayahnya untuk membicarakan isi surat Mpu Sakri.
Ketiga gadis itu masih ada di serambi.
"Kakang...", Dewi Anggarawati tersenyum membuka percakapan..
"Ada apa?? Aku tidak mau keributan lagi. Aku pusing", potong Watugunung.
"Duh marah marah terus. Untung saja tampan, kalau tidak sudah ku ulek jadi bumbu sayur", Dewi Anggarawati berkelakar sambil di sambut tawa kecil dua gadis di sebelahnya.
"Kakang Wugunung, kami mau minta maaf kepada Kakang. Kami sadar kami salah", Ratna Pitaloka menimpali.
"Lalu...", Panji Watugunung pasang tampang dingin nya.
"Duh ekspresi wajah nya bikin pengen cium deh hehehe", Sekar Mayang terkekeh geli.
"Kami sudah sepakat dan berjanji tidak akan ribut lagi. Asal kakang adil pada kami bertiga", sambung Dewi Anggarawati.
"Sesuai kesepakatan, Kangmbok Pitaloka jadi selir pertama dan aku selir kedua", Sekar Mayang tersenyum tipis.
Hemmmm
Seakan bisa membaca pikiran Panji Watugunung, Ratna Pitaloka berkata,
"Anggarawati jadi permaisuri mu kakang"
Panji Watugunung takjub dengan pemikiran mereka bertiga.
"Darimana kalian bisa menemukan jalan keluar untuk masalah ini?"
Ketiga gadis cantik itu langsung tertawa melihat ekspresi wajah Panji Watugunung.
Dan tentu saja Panji Watugunung tidak akan memahami dari mana pemikiran mereka bertiga, karna Mahesa Rangkah dan Parwati sudah tidak ada di serambi keputran. Mereka berdua pulang ke bangsal tamu usai menceramahi ketiga gadis cantik itu.
"Karna kami telah sepakat, semua kebutuhan kakang Watugunung biar kami yang menyiapkan", ujar Ratna Pitaloka.
"Kami tidak mau ada perempuan lain yang mendekati kakang Watugunung lagi", sambung Sekar Mayang
"Dan kalau kakang mencari istri lagi, bisa kami pastikan calon istri Kakang akan tewas kami habisi", pungkas Dewi Anggarawati.
'Lah kog jadi begini?'
Panji Watugunung garuk garuk kepala yang tidak gatal.
Biarlah, yang penting mereka akur. Itu sudah lebih dari cukup.
"Terserah kalian, yang penting tidak ribut.
Aku mau menghadap ayahanda bupati, untuk membicarakan tentang surat dari guru.
Kalian mau ikut tidak??", ujar Watugunung sambil membenarkan bajunya.
Ketiga gadis itu saling pandang dan kompak berkata , "Mau....."
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Berhati-hatilah Panji Watugunung,
Sepertinya mereka bertiga jadi menyeramkan.