Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Gejolak Pakuwon Watugaluh


__ADS_3

Di suatu tempat di timur perbatasan Watugaluh dan Tamwelang.


Lima orang bertopeng separuh wajah, sedang duduk diapit sekitar 200 orang pengikut. Mereka sedang menanti kedatangan Iblis Bukit Jerangkong dan anak murid nya. Langit mulai berwarna jingga tanda sebentar lagi senja akan turun.


Perampok Bukit Hitam adalah lima saudara seperguruan dari Perguruan Bukit Hitam yang terkenal karena kekejian nya. Mereka adalah buronan paling dicari pada masa pemerintahan Sang Prabu Airlangga bertakhta di Kahuripan.


Mereka terdiri dari 4 laki laki dan 1 perempuan.


Pemimpin mereka terkenal dengan sebutan Dewa Rampok. Laki laki bertubuh tinggi besar itu sangat keji menyiksa mangsanya dengan berbagai cara.


Perselisihannya dengan Pedang Iblis terjadi saat Dewa Rampok dan adik Pedang Iblis yang bernama Janaloka berebut perempuan di tempat pelacuran di ibukota Kahuripan. Janaloka tewas terbunuh dalam pertarungan itu.


Dari arah timur muncul ribuan orang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam dengan hiasan berbentuk tengkorak.


"Lurah e, mereka sudah tiba", teriak seorang pengikut Perampok Bukit Hitam.


Dewa Rampok dan keempat adik seperguruannya segera berdiri dan keluar dari tempat peristirahatannya. Bukan karena menghormati, tapi cuma tidak mau berurusan dengan Iblis Bukit Jerangkong yang berilmu tinggi. Mereka berlima belum tentu mampu menghadapi Iblis Bukit Jerangkong sendirian. Apalagi sekarang dengan seluruh anak didiknya, untuk menang sangat tidak mungkin.


"Bagus, rupanya Dewa Rampok sendiri yang menyambut kedatangan ku", ujar Iblis Bukit Jerangkong segera melompat turun dari kudanya.


"Tentu saja aku menghargai mu Iblis Bukit Jerangkong. Kau adalah pemimpin pasukan dunia persilatan yang di tunjuk langsung oleh Gusti Mapanji Garasakan. Mendengar perintah mu, sama dengan mendengar ucapan Gusti Garasakan sendiri", ucap Dewa Rampok sambil membungkukkan badannya.


Hahahaha


"Bagus Rampok tua. Malam ini kita berpesta bersama. Besok pagi kita ratakan Watugaluh dengan tanah", Iblis Bukit Jerangkong tertawa terbahak-bahak.


Para anggota Padepokan Bukit Jerangkong segera mendirikan tenda sementara untuk bermalam disitu.


Malam itu mereka minum arak beras sampai mabuk.


**


Sementara itu di istana Pakuwon Watugaluh, begitu mendengar berita telik sandi yang mengatakan bahwa pasukan perguruan aliran hitam pimpinan Iblis Bukit Jerangkong sudah tiba, Tumenggung Ardanata segera mengumpulkan semua perwira tinggi prajurit Daha dan Pakuwon Watugaluh.


"Berdasarkan berita yang baru aku tahu, mereka berjumlah sekitar 1700 orang. Di sisi Utara ada 300 anggota Lembah Hantu. Di sisi timur ada 1100 anggota Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam. Di sisi selatan ada sekitar 300 anggota Kalajengking Biru", penjelasan Tumenggung Ardanata pada para perwira tinggi prajurit.


"Menurut ucapan dari utusan Pasukan Garuda Panjalu tadi, mereka sanggup menghadapi Kalajengking Biru di sisi selatan. Kita tinggal memikirkan sisi Utara dan Timur", sambung sang Tumenggung Ardanata.


"Bagaimana kalau pasukan dari Watugaluh menghadang pasukan dari utara Gusti Tumenggung? Pasukan Watugaluh berjumlah sekitar 300 prajurit, hamba rasa mampu menghadapi Lembah Hantu", Bekel Setyaka menghormat pada Tumenggung Ardanata.


Sepasang Sriti Perak yang diundang oleh Akuwu Watugaluh mengangguk tanda setuju. Begitu juga Dewi Kipas Besi dan Tapak Malaikat.


Tumenggung Ardanata segera menoleh kearah Tumenggung Wiguna yang mengangguk.


"Baiklah, kalian hadang Lembah Hantu. Biar sisi timur kami yang menghadapi", ujar Tumenggung Ardanata.


Semua nya segera membubarkan diri untuk beristirahat sebaik-baiknya karena besok mereka akan mengadu nyawa di medan laga.


**


Di tenda perkemahan Pasukan Garuda Panjalu, nampak semua perwira prajurit sedang mendengar siasat perang dari Panji Watugunung. Di depan mereka terhampar beberapa batu yang tertata menyerupai keadaan tanah di sekitar Watugaluh. Panji Watugunung memegang sebuah ranting kayu kering.


"Dengar baik baik.


Ludaka dan kau Landung, bawa lima orang prajurit yang mampu berkuda cepat. Pancing pasukan Kalajengking Biru untuk masuk ke rute yang sudah di siapkan jebakan.


Saat mereka memasuki hutan di dekat kota ini, biarkan saja. Begitu mereka memasuki tebing bukit ini, jebakan yang sudah kalian siapkan akan berguna. Bakar kayu gelondongan itu sebelum di lepaskan.


Rajegwesi, tugas mu menjaga agar tidak ada yang lolos.


Kakang Warigalit, Paman Saketi dan seratus lima puluh pasukan akan menghadang mereka yang bergerak menuju istana. Aku dan dan sisa pasukan akan mengepung dari belakang.


Apa kalian paham penjelasan ku?", Panji Watugunung menatap ke arah wajah semua orang di bawah tenda besar itu.


"Kami mengerti maksud Gusti Pangeran", jawab mereka kompak.

__ADS_1


"Lantas bagaimana dengan aku Kangmas?", tanya Ayu Galuh yang ingin dilibatkan dalam perang ini.


"Dengar Dinda Galuh, perang ini bukan main-main. Besok kau akan di jaga Ratri dan beberapa prajurit wanita perbekalan. Jadi kau menjaga tenda perkemahan kita saja", jawab Watugunung seraya menatap wajah Ayu Galuh.


"Apa Kangmas meremehkan kemampuan beladiri ku?", Ayu Galuh ketus bertanya.


"Tidak Dinda Galuh, aku tau selama aku menjadi utusan, kau berlatih keras ilmu beladiri.


Aku percaya kemampuan mu. Tapi kau adalah putri Raja Daha. Kalau kau sampai terluka dalam pertempuran ini, apa kau pikir Gusti Prabu Samarawijaya akan mengampuni nyawa ku? Ini bukan hanya tentang kemampuan beladiri mu saja. Ku harap kau mengerti Dinda", jawab Watugunung seraya tersenyum pada Ayu Galuh.


"Baiklah Kangmas, Galuh patuh kepada Kangmas Panji Watugunung. Tapi Kangmas Panji harus berjanji, begitu selesai pertarungan, harus segera menjemput ku", Ayu Galuh menundukkan wajahnya.


"Iya, aku janji", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum penuh arti.


Malam itu mereka beristirahat. Panji Watugunung tidur bersama dengan keempat istrinya.


Pagi menjelang tiba, semua orang segera bangun dan bersiap menuju ke medan laga. Usai makan bersama, mereka berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa semoga pertarungan ini mereka bisa menangkan. Tak lupa Dewi Srimpi memberikan sebutir pil penawar racun kepada semua orang.


Semua orang segera bergegas menuju ke arah yang di tunjukkan Panji Watugunung.


Warigalit dan Ki Saketi segera berkuda dengan cepat kearah hutan kecil di depan gapura kota Pakuwon Watugaluh.


Rajegwesi memimpin pasukan pemanah untuk mengambil posisi di pepohonan yang ada di seberang bukit tandus.


Jarasanda dan Manahil segera bergerak cepat menuju atas bukit tandus di selatan gapura Pakuwon Watugaluh. Mereka langsung menyiapkan jebakan yang sudah mereka tata sebelum nya.


Panji Watugunung dan ketiga selir nya, serta Gumbreg, Weleng, Widarba dan Gubarja dan beberapa prajurit yang tersisa bersembunyi di balik pepohonan rimbun.


Ludaka dan Landung segera bergerak cepat menuju ke arah anggota Kalajengking Biru yang ada seberang sungai kecil itu. Setelah mereka turun dari kuda masing-masing, mereka bergerak cepat menuju kearah anggota Kalajengking Biru yang sedang asyik berbincang di tepi sungai kecil.


Ludaka langsung melempar senjata rahasia nya ke arah anggota Kalajengking Biru yang sedang duduk menunggu bunyi terompet tanduk kerbau berbunyi.


Sring sringggg sringgg


Para anggota Kalajengking Biru yang tidak terima dengan serangan itu segera memburu Ludaka dan kawan kawan nya tanpa menunggu perintah pimpinan pasukan.


Dewi Kalajengking Biru yang memimpin langsung anggota nya masih menikmati makanan yang tersaji saat seorang anggotanya masuk ke tenda.


"Ampuni hamba Guru, para prajurit Daha mengamuk di tepi sungai. Mereka membunuh setidaknya 15 anggota kita Guru".


"Kurang ajar!


Berani sekali mereka menyerang kita lebih dulu. Kita tidak perlu menunggu aba-aba dari Iblis tua itu. Ayo serbu Watugaluh", teriak Dewi Kalajengking Biru geram.


Wanita paruh baya itu segera mengikat pedang nya di pinggang dan segera melirik Racun Tua yang ada di sebelah nya. Dewi Kalajengking Biru segera melompat ke atas kuda nya di ikuti oleh seluruh anggota Kalajengking Biru.


"Ayo serang Watugaluh", teriak Racun Tua sambil menggebrak kuda nya. Teriakan riuh rendah segera terdengar saat anggota Kalajengking Biru bergerak cepat menuju gapura selatan Pakuwon Watugaluh.


Ludaka dan Landung terus memacu kudanya melesat menuju gapura selatan Pakuwon Watugaluh. Di belakang mereka ratusan orang mengejar mereka dengan senjata terhunus.


Begitu anggota Kalajengking Biru melintasi jalan di samping bukit tandus, tiba tiba terdengar suara gemuruh turun dari bukit tandus.


Puluhan batu besar menggelinding cepat. Di susul kayu gelondongan besar yang terbakar menggelinding ke arah anggota Kalajengking Biru.


"Celaka!


Ini jebakan", teriak Racun Tua tapi sudah terlambat.


Jerit kesakitan akibat tertimpa batu besar yang di susul kayu gelondongan yang terbakar api tiba-tiba saja membuat puluhan anggota Kalajengking Biru tewas. Kembali bola bola rumput kering meluncur turun dari atas bukit.


Arimbi dan Laras segera mengincar bola rumput kering dengan panah berapi mereka.


Whuttttt whutttt


Crep creeppp

__ADS_1


Bola rumput kering itu langsung terbakar dan menggelinding menghantam apa saja yang di lalui nya.


Racun Tua, Dewi Kalajengking Biru, Kaki Kalajengking, serta Ular Racun melompat kesana-kemari menghindari jebakan yang datang silih berganti. Separuh lebih dari anggota Kalajengking Biru tewas dan terluka parah akibat jebakan yang di pasang.


"Dasar tikus Daha licik.


Mereka akan membayar ini semua", Dewi Kalajengking Biru geram melihat banyaknya anak muridnya yang tewas dan terluka.


"Ayo maju kalian semua", teriak Racun Tua.


Sebelum mereka memasuki kota pakuwon Watugaluh, tiba tiba Warigalit, Ki Saketi dan Mpu Seti muncul dari hutan kecil dan menghadang laju mereka. Masing-masing telah memegang senjata yang terhunus dari sarungnya.


Dari atas bukit tandus, Jarasanda dan Manahil segera melompat turun di ikuti oleh pasukan nya.


Dari balik rimbun pepohonan, Panji Watugunung dan ketiga selir nya serta pasukannya muncul dengan senjata masing-masing.


Pertempuran sengit segera terjadi.


Warigalit segera memutar tombak pendek nya dengan cepat dan menerjang kearah anggota Kalajengking Biru sambil menusukkan Tombak Angin nya.


Creppp


Aughhhhh


Si anggota Kalajengking Biru yang bernasib naas itu tewas saat Tombak Angin nya Warigalit menusuk dada kiri nya.


Warigalit terus bergerak cepat sambil mengayunkan Tombak Angin nya. Dalam beberapa jurus, sudah 4 nyawa anggota Kalajengking Biru kehilangan nyawa di tangan nya.


Melihat anak buahnya tewas berjatuhan, Racun Tua segera melompat ke arah Warigalit.


"Bangsat!!!


Ku cabut nyawamu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Jangan lupa sedekah like vote dan komentar nya 👍👍👍


Dukungan kalian sangat berarti buat author terus semangat menulis 🙏🙏


Selamat membaca guys 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2