Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Buronan


__ADS_3

"Aku hanya meminta kau menarik pasukan mu dari ibukota Jenggala, Dhimas Jayengrana.


Agar tiada lagi perang berkelanjutan antara Panjalu dan Jenggala.


Untuk wilayah Jenggala yang sudah kau kuasai, itu aku tidak akan bicara. Itu hak mu dan pengorbanan mu", ucap Dewi Kilisuci dengan lembut.


"Apakah ada jaminan dari Bibi Dewi bahwa mereka tidak akan mengganggu lagi Panjalu?


Sebab selama yang aku tahu, mereka tidak pernah berhenti untuk mencoba menyerang Panjalu. Kami hanya mempertahankan diri Bibi Dewi", Panji Watugunung berbicara dengan tenang, tegas dan berwibawa.


"Aku tahu itu Dhimas Jayengrana..


Maka dari itu, untuk menciptakan suasana damai di tanah Jawa aku harus mendatangi mu lebih dulu. Bukan karena kau yang jahat, tapi justru karena kau di pihak yang benar Dhimas Jayengrana.


Kalau kau bisa legowo melepaskan Kota Kahuripan, maka aku akan mendatangi putra adhi Garasakan, untuk membicarakan tentang hal ini", Dewi Kilisuci memandang wajah Panji Watugunung yang tenang.


"Kalau begitu, aku ikut kata Bibi Dewi..


Akan ku tarik pasukan ku dari Kota Kahuripan. Demi menghormati Bibi Dewi Kilisuci. Namun jika suatu saat Jenggala kembali membuat ulah, jangan salahkan Panjalu jika kami menggempur mereka sampai habis", tutur Panji Watugunung yang segera membuat Dewi Kilisuci tersenyum tipis.


"Kau memang putra Paman Gunungsari..


Adik ku benar-benar beruntung memiliki menantu seperti mu. Seorang keturunan wangsa Isyana dengan kecakapan penalaran dan ilmu politik yang luar biasa.


Jika Jawadwipa sudah tenang kembali, aku tidak akan pernah ikut campur dalam urusan dunia.


Satu hal yang harus kamu tahu, Dhimas Jayengrana. Ini usaha ku yang terakhir untuk mendamaikan kedua keturunan Ayahanda Prabu Airlangga. Aku mohon padamu untuk menahan diri dan jangan mudah terpancing dengan apapun bentuk ulah Jenggala. Tapi jika mereka menyerbu wilayah Daha, kau berhak untuk mempertahankan diri", ucap Dewi Kilisuci dengan tegas.


"Aku mengerti Bibi Dewi.


Segala petuah mu akan aku junjung tinggi sebagai kepanjangan tangan dari Gusti Prabu Airlangga", ujar Panji Watugunung sembari menghormat pada Dewi Kilisuci.


"Dasar mulut manis!


Pantas saja istri mu banyak. Itu ternyata karena kau pintar merayu wanita ya? Hehehe", Dewi Kilisuci terkekeh kecil yang membuat wajah Panji Watugunung merona merah.


"Bibi Dewi ada ada saja.


Eh Paman Mapatih Jayakerti, kau tidak ingin mengucapkan sesuatu pada Bibi Kilisuci?", Panji Watugunung mencoba mengalihkan pembicaraan antara dia dan Dewi Kilisuci.


"Wah rupanya Kakang Jayakerti masih sehat juga ya?


Lama sekali kita tidak bertemu ya Kakang?", Dewi Kilisuci mengalihkan perhatian nya pada Mapatih Jayakerti yang duduk tak jauh di depan nya. Dulu mereka adalah kawan semasa masih Kahuripan.


"Segala restu dari Gusti Dewi Kilisuci adalah berkah bagi hamba.


Dulu hamba mengira bahwa hamba tidak akan bersua lagi dengan Gusti Dewi selepas Gusti Dewi berangkat bertapa di Gunung Pucangan. Namun rupanya Sang Hyang Tunggal masih memberikan kesempatan kepada hamba untuk menghormat pada Gusti Dewi", ujar Mapatih Jayakerti sambil menghormat pada putri Prabu Airlangga itu.


"Ah kau ini sama saja seperti Dhimas Jayengrana, pintar sekali bermulut manis.


Aku ini hanya pertapa biasa Kakang Jayakerti. Bagiku kehidupan duniawi hanyalah semu. Lain kali jangan menyembah kepada ku, karena aku bukan dewa", tutur lembut Dewi Kilisuci atau juga Sanggramawijaya Tunggadewi membuat Mapatih Jayakerti mengangguk mengerti.


Saat mereka tengah asyik berbincang, dari arah samping muncul Dyah Kirana dan Ayu Galuh yang menggendong Mapanji Jayawarsa. Dua kerabat Istana Daha segera bersimpuh dan menyembah pada Dewi Kilisuci.


"Sembah bakti saya Kangmbok Sanggramawijaya..


Aku Dyah Kirana menghaturkan hormat kepada mu", ucap Dyah Kirana sang Ibu Suri Daha pada Dewi Kilisuci.


"Salam hormat saya, Bibi Dewi..


Keponakan mu menghaturkan sembah bakti kepada mu", susul Ayu Galuh dengan nada suara penuh hormat.


"Ah kalian berdua. Lama tidak bertemu penampilan kalian banyak berubah. Aku sampai pangling melihatnya.


Bangunlah, jangan seperti menyembah pada Dewata", ucap Dewi Kilisuci segera.


Dyah Kirana segera duduk bersimpuh di depan Dewi Kilisuci, begitu pula dengan Ayu Galuh. Dua orang terdekat Prabu Samarawijaya itu begitu terkesima dengan kedatangan Dewi Kilisuci ke istana Daha. Untung saja para prajurit penjaga gerbang istana langsung memberi tahu kepada Ayu Galuh tentang kedatangan Dewi Kilisuci yang sudah di kabarkan beberapa hari sebelumnya. Jadi Ayu Galuh dan Dyah Kirana bisa langsung menemui putri Prabu Airlangga itu di ruang pribadi Raja.


"Ini putra mu Dhimas Jayengrana?", tanya Dewi Kilisuci pada Panji Watugunung seraya menatap ke arah Mapanji Jayawarsa yang sudah berusia 4 Surya Sengkala.


"Benar Bibi Dewi.


Ini adalah putra ku dengan Ayu Galuh, namanya Mapanji Jayawarsa", jawab Panji Watugunung sembari tersenyum tipis.


"Jayawarsa,


Berikan hormat kepada Eyang Putri mu ngger", perintah Panji Watugunung pada Mapanji Jayawarsa. Bocah yang mulai pintar berbicara itu masih cadel dalam berucap, beda dengan Panji Tejo Laksono yang sudah fasih berbicara.


"Ini ciapa Lomo Plabu?", tanya Mapanji Jayawarsa yang duduk di pangkuan ayahnya usai lepas dari Ayu Galuh.


"Eyang Putri mu Jayawarsa, ini saudara dari kakek mu..


Jadi kau harus memanggil nya Eyang Putri", Panji Watugunung mencoba menjelaskan pada putra kecilnya itu.


"Ooh Eyang Putli...


Sembah bakti Jayawalsa untuk Eyang Putli", bocah kecil itu menangkupkan kedua tangan nya di depan dada.


Dewi Kilisuci yang gemas, langsung mencubit pipi gembul Mapanji Jayawarsa.

__ADS_1


"Sembah bakti mu ku terima bocah tampan.. Kau benar-benar mirip Dhimas Samarawijaya waktu kecil. Suatu saat kau pasti menjadi raja yang adil untuk Panjalu", ucap Dewi Kilisuci yang disambut senyum oleh seluruh orang yang hadir di ruang pribadi Raja.


Usai mendekat, Mapanji Jayawarsa langsung berlari menjauh dari Dewi Kilisuci. Tantri yang biasa mengasuh Mapanji Jayawarsa buru-buru mengikuti langkah junjungan nya itu.


Saat matahari mulai tergelincir dari atas kepala, Dewi Kilisuci berpamitan kepada Panji Watugunung dan kerabat dekat istana Daha.


"Bibi Dewi,


Kenapa Bibi Dewi tidak mau menginap di sini barang semalam? Apakah istana Daha tidak cukup nyaman untuk Bibi Dewi?", tanya Panji Watugunung yang mencoba menahan kepergian Dewi Kilisuci.


"Dhimas Jayengrana,


Aku ini pertapa, sudah meninggalkan keduniawian. Dimana pun tempat yang diciptakan oleh Sang Hyang Wisnu, aku selalu nyaman.


Tapi aku masih harus melanjutkan perjalanan ku ke Jenggala. Semakin lama aku tinggal di khalayak ramai, aku semakin takut jauh dari pencipta ku.


Aku sudah berterima kasih kepada mu karena janji mu untuk menarik pasukan Panjalu dari Kahuripan. Dan kau juga bisa pegang omongan ku tentang Jenggala.


Satu lagi, berikan istana ini sebagai tempat tinggal para janda adik ku dan tinggallah di istana yang baru kau bangun.


Aku permisi dulu, semoga Sang Hyang Wisnu selalu melimpahi kau dengan kemuliaan Dhimas Jayengrana", ujar Dewi Kilisuci alias Sanggramawijaya Tunggadewi seraya berjalan meninggalkan istana Daha. Diikuti oleh Uttapaksi dan Ganapasu, Dewi Kilisuci melangkah keluar dari gerbang istana Daha. Tak berapa lama kemudian Dewi Kilisuci sudah menghilang di keramaian jalan raya Kotaraja Daha.


Panji Watugunung terus menatap ke arah perginya Dewi Kilisuci.


**


Hari berganti hari..


Tibalah saat Panji Watugunung dan para prajurit Panjalu berangkat menuju ke Kembang Kuning.


Para prajurit Panjalu yang terdiri dari 10 ribu orang prajurit siap berangkat menuju medan perang. Mereka akan di bantu pasukan dari Kurawan, Anjuk Ladang dan Lasem untuk menggempur Kadipaten Kembang Kuning yang sudah bersiap untuk makar.


Semua menunggu kedatangan Sang Maharaja Panjalu yang akan memimpin langsung para prajurit Panjalu.


"Kangmas Prabu Jayengrana,


Berhati-hatilah dalam berperang. Dan pulanglah dengan membawa kemenangan. Kami para istri mu hanya bisa berdoa semoga Hyang Widhi Wasa selalu melindungi setiap langkah mu", ujar Dewi Anggarawati dengan nada suara bergetar.


"Sudahlah,


Biarkan aku menunaikan tugas ku sebagai pengayom negri ini. Kalian jangan khawatir, aku pasti kembali untuk kalian", ucap Panji Watugunung yang membuat para istri nya tersenyum melepas kepergian sang suami.


Usai memeluk tubuh istri nya satu persatu, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya. Kali ini hanya Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti yang mendampingi Panji Watugunung berangkat karena Dewi Naganingrum tengah hamil besar sedangkan Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang hamil muda.


Begitu Sang Maharaja Panjalu berangkat para prajurit bergerak meninggalkan alun alun Kotaraja Daha menuju ke arah barat.


Pasukan Panjalu terdiri dari Pasukan pemanah sejumlah 2000 prajurit yang dipimpin oleh Demung Rajegwesi dan Tumenggung Landung. 3 ribu prajurit berjalan kaki dipimpin oleh Tumenggung Windupraja dan Demung Rakai Sanga, 1000 prajurit pengintai dipimpin oleh Tumenggung Ludaka dan Demung Manahil, 3000 pasukan khusus Garuda Panjalu yang dipimpin oleh Tumenggung Jarasanda, dan 1000 prajurit perlengkapan yang dipimpin oleh Demung Gumbreg dibantu 3 bawahan setia nya.


Saat menjelang senja, Pasukan Panjalu telah sampai di barat kota Anjuk Ladang yang mana merupakan daerah yang disiapkan untuk menampung kedatangan pasukan Panjalu.


Di tempat itu, Para prajurit Panjalu dan prajurit Kurawan juga Anjuk Ladang berbaur menjadi satu. Kini jumlah keseluruhan prajurit Panjalu sudah mencapai 16 ribu prajurit.


Adipati Anjuk Ladang Gunawarman langsung menyambut kedatangan Maharaja Panjalu dan dua istri nya di tapal batas kota Kadipaten Anjuk Ladang. Diikuti oleh Senopati Warigalit dan Tumenggung Sindupraja, mereka mendapat sambutan hangat dari segenap rakyat Kota Anjuk Ladang.


"Selamat datang di istana Anjuk Ladang, Gusti Prabu. Senang sekali akhirnya Gusti Prabu Jayengrana sudi untuk singgah di tempat kami.


Mari Gusti Prabu,


Hamba sudah menyiapkan tempat untuk Gusti Prabu dan Gusti Selir untuk beristirahat", ujar Adipati Gunawarman dengan penuh hormat begitu mereka memasuki istana Anjuk Ladang.


"Terimakasih atas sambutan mu, Adipati Gunawarman.


Tapi kau tak perlu berlebihan dalam menyambut ku. Ini kali kedua aku menginap di balai peristirahatan Kadipaten Anjuk Ladang bukan?


Aku masih hapal betul tempat ini", ujar Panji Watugunung sembari tersenyum tipis.


"Hamba juga tidak menduga bahwa utusan dari Gusti Prabu Samarawijaya dulu sekarang menjadi Maharaja Panjalu.


Hamba betul betul malu jika mengingat peristiwa lampau Gusti Prabu. Mohon maafkan semua kesalahan kami tempo hari", Adipati Gunawarman membungkukkan badannya pertanda dia menghormat pada Panji Watugunung.


"Sudahlah, tak perlu di ungkit masa lalu.


Sekarang mari kita bersama sama membangun dan mensejahterakan rakyat lebih baik lagi", ujar Panji Watugunung kemudian.


"Gusti Prabu Jayengrana sungguh bijaksana. Hamba begitu bersyukur karena Daha dipimpin oleh raja yang cakap dan layak.


Monggo silahkan Gusti Prabu beristirahat. Hamba mohon diri", Adipati Gunawarman menghormat pada Panji Watugunung dan kemudian mundur dari balai peristirahatan Kadipaten Anjuk Ladang.


Setelah Adipati Gunawarman mundur dari tempat itu, Cempluk berbisik pada Dewi Srimpi yang ada di dekatnya.


"Kangmbok Srimpi,


Memang dulu Gusti Prabu pernah kesini ya? Kog tadi bilang ini kali kedua?", tanya Cempluk Rara Sunti yang penasaran.


"Iya Cempluk,


Dulu sebelum kami ke Wengker dan bertemu dengan mu, daerah pertama yang kami datangi adalah Kadipaten Anjuk Ladang ini", jawab Dewi Srimpi sambil melirik ke arah Panji Watugunung yang berjalan mendekati mereka.


"Memang ada kejadian buruk apa Kangmbok hingga Adipati Gunawarman sampai meminta maaf begitu?", Cempluk Rara Sunti yang penasaran terus melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


"Dulu dua putri Adipati Gunawarman sempat membuat masalah dengan ku. Mungkin dia takut aku mendendam dengan urusan waktu itu padahal aku sudah melupakannya.


Aku menemui Kakang Warigalit dulu, kalian tunggu saja disini", sahut Panji Watugunung sembari tersenyum simpul.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti bersamaan.


"Memang dulu dua putri Adipati Gunawarman itu berbuat apa Kangmbok?


Sepertinya buruk sekali", tanya Cempluk Rara Sunti yang masih belum puas rasa penasaran nya.


"Mereka menyukai Denmas Prabu, tapi Denmas tidak mau. Mereka bahkan berani menggoda Denmas Prabu di depan ku, Kangmbok Pitaloka dan Kangmbok Mayang. Untung saja Denmas Prabu tidak marah.


Begitu ceritanya, Sunti", jawab Dewi Srimpi sambil melepas tusuk konde emas yang menghiasi sanggul rambut nya.


**


Jauh di Kembang Kuning, di wilayah Alas Roban.


Suryanata tampak gusar. Berulang kali dia mondar mandir di depan pondok kayu yang menjadi tempat tinggal nya dalam pelarian. 4 prajurit yang menjaga pondok kayu hanya menatap ulah buronan Kerajaan Panjalu itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Lampu minyak jarak yang menerangi tempat itu tampak bergoyang di terpa angin semilir yang berhembus.


Dari arah timur, terdengar bunyi langkah kuda mendekat ke tempat itu. Para prajurit Kadipaten Kembang Kuning langsung bersiaga.


Saat bunyi langkah kaki kuda semakin mendekat, terlihat bahwa yang datang adalah Galungwangi dan seorang perwira rendah Kadipaten Kembang Kuning.


Melihat kedatangan mereka, Suryanata segera mendatangi mereka. Galungwangi dan si Bekel Prajurit segera melompat turun dari kudanya.


"Bagaimana Galungwangi? Apa jawaban Paman Adipati?


Aku sudah bosan di tempat ini terus menerus", Suryanata berseru sembari menatap wajah Galungwangi.


"Kau jangan bodoh Gusti Pangeran.


Menurut berita yang aku dengar, Pasukan Panjalu telah bergerak menuju ke Kembang Kuning. Kemungkinan besar mereka telah sampai di Lasem atau Anjuk Ladang.


Jika Gusti Adipati Mpu Pamadi berhasil menundukkan Pasukan Panjalu, maka yang menjadi raja selanjutnya adalah kau, Gusti Pangeran. Jadi kau tidak boleh keluar dari tempat ini sebelum perang yang sebentar lagi pecah", kata Galungwangi yang membuat Suryanata terhenyak mendengar nya.


"Lantas darimana Paman Adipati tau kalau pasukan Panjalu sudah bergerak?


Apa Paman Adipati punya mata-mata di sekitar istana Daha?", Suryanata masih penasaran.


"Gusti Adipati Mpu Pamadi bilang, kalau dia baru menerima surat dari Akuwu Campaka.


Beliau awal mulanya juga bingung kenapa Akuwu Campaka diam diam membantu perjuangan kita, tapi setelah Akuwu bilang dalam suratnya bahwa dia diutus oleh Mahamantri Mpu Rikmajenar, Gusti Adipati langsung mengerti.


Berarti di istana Daha masih ada orang yang berpihak kepada mu, Gusti Pangeran", penjelasan Galungwangi serta merta membuat bibir Suryanata tersenyum lebar.


"Ternyata begitu. Kakek tua itu rupanya benar benar tidak suka dengan Jayengrana..


Baiklah kalau begitu,


Aku akan tetap disini sampai perang berakhir. Hari ini aku masih buronan pemerintah Daha, tapi besok aku akan menjadi raja Panjalu", ucap Suryanata sembari mengepalkan tangannya.


Langit timur tertutup mendung tebal. Hanya beberapa celah langit yang terbuka. Ada satu bintang bersinar disana. Dan seperti itulah perasaan Suryanata sekarang yang memiliki harapan indah untuk kembali ke istana Daha.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2