
Dewi Anggarawati tersenyum bahagia sambil berlari memeluk ayahnya. Beberapa purnama tidak bertemu membuat kerinduan nya semakin membuncah. Nararya Candradewi ikut memeluk tubuh putri nya dengan perasaan haru.
Setelah melepas rindu, Dewi Anggarawati duduk di sebelah kiri dekat ibunya.
"Gusti Adipati, saya mengemban tugas dari ayahanda Bupati Gelang-gelang. Menurut beliau, tugas ini langsung dari Sinuwun Gusti Maharaja Samarawijaya di Daha. Apakah itu benar? Mohon Gusti Adipati memberikan penjelasan", ujar Panji Watugunung sopan.
"Hahahaha, itu memang benar Cah Bagus. Bahkan aku sendiri yang mengusulkan nya, mengingat banyaknya rakyat Panjalu di perbatasan yang mengeluh karena perampokan.
Karena itu aku mengusulkan pembentukan pasukan khusus penjaga keamanan. Dengan nama sandi Garuda Panjalu", sahut Tejo Sumirat.
"Aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk mengawal tugas mu Cah Bagus, tapi jangan khawatir. Mereka orang orang pilihan dari semua pakuwon di wilayah Seloageng", timpal Adipati Tejo Sumirat.
"Sendiko dawuh Gusti Adipati, mohon maaf apa orang orang itu sudah siap melakukan perjalanan?", Panji Watugunung menunggu jawaban.
"Hahahaha belum hahahaha...
Tinggal Pakuwon Bedander dan Pakuwon Palah yang belum mengantarkan orangnya. Ya kita tunggu saja, tidak usah buru buru hahahaha", jawab Tejo Sumirat dengan tertawa.
"Anggarawati, antar calon mantu ku ke keputran timur. Biarkan dia istirahat dulu".
"Iya Ayahanda, Anggarawati siap melaksanakan tugas", jawab Anggarawati senang. Panji Watugunung segera menghaturkan sembah, meninggalkan paseban di ikuti Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi.
"Untuk para prajurit, silahkan beristirahat di bangsal tamu. Saketi, antar mereka", titah sang Adipati Seloageng.
Bekel Saketi segera menghaturkan sembah dan di iringi 5 orang Gelang-gelang bergegas ke bangsal tamu kadipaten.
Menjelang sore, Panji Watugunung duduk di serambi keputran Seloageng di dampingi Dewi Srimpi.
"Yang Mulia Adipati Tejo Sumirat memasuki keputran", teriak penjaga gapura keputran.
Panji Watugunung segera berdiri dan melangkah keluar ke halaman.
"Mohon maaf Gusti Adipati, ada gerangan apa yang membuat sore ini berkunjung ke keputran?", Panji Watugunung bertanya.
Tejo Sumirat segera melirik ke arah Dewi Srimpi. Panji Watugunung yang paham maksud Tejo Sumirat segera berkata,
"Jangan khawatir Gusti Adipati, dia pelayan setia saya. Saya jamin tidak akan buka mulut".
Hemmmm
"Sebenarnya aku kesini mau tanya, kapan kau nikahi putri ku?, Ibu nya terus mendesak ku untuk segera mengawinkan kalian", jawab Tejo Sumirat.
Panji Watugunung yang jengah, menundukkan kepalanya.
"Romo juga menginginkan hal yang sama Gusti Adipati. Kalau saya ikut kebijaksanaan dari Gusti Adipati saja".
"Hahahaha ...."
Tawa Tejo Sumirat memenuhi seluruh ruangan di keputran.
"Bagus bagus... Aku tidak salah pilih calon mantu, hahahaha..
Yayi Candradewi pasti gembira mendengar hal ini. Aku akan mengatur nya, secepatnya. Kalau perlu sebelum kau mulai bertugas sebagai Kepala Pasukan Garuda Panjalu", Tejo Sumirat senang.
"Aku akan mencari hari baik pada Resi Janapada. Tapi sebelum pelaksanaan pernikahan mu, aku ingin kau ke pertapaan Ranja di Pakuwon Bedander", timpal Tejo Sumirat kemudian.
"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Panji Watugunung menghormat.
"Sekarang kau istirahat lah, besok pagi kau berangkat", ujar Tejo Sumirat sambil berdiri dan meninggalkan keputran. Panji Watugunung mengantar nya sampai ke gerbang keputran.
__ADS_1
Dewi Srimpi hanya menunduk tak bicara apa apa. Entah kenapa hatinya sakit mendengar berita tuan nya akan menikah.Tak terasa setetes air mata bening perlahan menetes di pipinya.
Panji Watugunung yang baru mengantar calon mertuanya, bergegas kembali ke serambi. Tak sengaja melihat gadis itu bersedih, Panji Watugunung mengernyitkan keningnya.
"Kau kenapa? Kangen bapakmu?"
Dewi Srimpi buru buru menghapus air mata nya. Dan menunduk kembali.
"Kalau kau kangen, kau boleh pulang ke Watugaluh. Aku tidak memaksa mu ikut".
Ucapan Panji Watugunung yang baru itu langsung membuat Dewi Srimpi menangis tersedu-sedu.
"Heiii, kau kenapa? Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?", Panji Watugunung kebingungan dengan sikap Dewi Srimpi yang terus menangis.
Karena tidak mereda, Panji Watugunung segera memeluk tubuh Dewi Srimpi.
"Sudah sudah, maafkan aku. Jangan menangis lagi. Kalau aku mengatakan sesuatu yang salah, maafkan aku".
Dewi Srimpi tak menyangka dirinya di peluk Panji Watugunung langsung menghentikan tangisannya. Dadanya seketika bergemuruh kencang. Seumur hidup dia tidak pernah di sentuh lelaki, baru Panji Watugunung yang menyentuh nya. Perasaan Dewi Srimpi begitu tenang.
Mendengar isak tangis Dewi Srimpi berhenti, Panji Watugunung melepaskan pelukannya.
Dalam hati Dewi Srimpi ada sesuatu yang hilang dari hidup nya.
"Sekarang tidur lah. Aku menyuruh mu pulang bukan berarti aku mengusir mu. Aku hanya memberi kebebasan untuk mu"
Panji Watugunung melangkah ke dalam kamarnya. Sudah lama dia tidak bersemedi.
Malam ini dia ingin bersemedi sambil melatih tenaga dalam nya.
Dewi Srimpi tetap mengikuti nya. Dan duduk di salah kursi di ruangan kamar tidur.
Keringat bercucuran dari Dewi Srimpi namun gadis itu tetap bertahan di dalam kamar.
Saat Panji Watugunung menghentikan olah tenaga dalam nya, suhu kamar kembali seperti semula. Dewi Srimpi bernafas lega.
Panji Watugunung membuka matanya dan melihat wanita bercadar hitam itu masih disana. Niat nya semedi kacau sudah. Dia memilih untuk tidur.
Tak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari ranjang Watugunung. Dewi Srimpi beranjak membenarkan selimut hingga menutupi seluruh tubuh Panji Watugunung. Gadis itu menatap lekat lekat wajah pria itu.
'Sampai kapan pun, aku tak akan pergi meninggalkan mu. Entah aku kau anggap pelayan atau budak mu aku tidak peduli', janji Dewi Srimpi dalam hati. Gadis itu kembali ke kursi di sudut ruangan.
Sementara itu, Dewi Anggarawati bersorak gembira mendengar cerita ayahnya yang baru dari keputran. Dia begitu bahagia mendengar Panji Watugunung menyerahkan acara pernikahan nya pada ayahnya
"Lalu kapan ayahanda akan menikahkan kami?", tanya Dewi Anggarawati antusias.
"Hahahaha kenapa kau semangat sekali? Sudah tidak tahan ya? Hahahaha", Tejo Sumirat tertawa terbahak-bahak melihat Dewi Anggarawati yang tersipu malu.
Nararya Candradewi segera menepuk paha suaminya itu, "Kau ini tidak bisa menahan sikap usil mu? Lihat Anggarawati jadi malu kan Kangmas".
"Biar saja, sebentar lagi dia juga paham hahahaha..", jawab Tejo Sumirat semakin membuat wajah Dewi Anggarawati seperti kepiting rebus.
Ada yang bahagia tentu ada yang kecewa. Raut wajah Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang benar benar kusut mendengar berita dari Adipati Seloageng.
Mereka ingin protes tapi juga tak berdaya. Mereka sadar bahwa derajat mereka dengan Panji Watugunung bagai bumi dan langit. Mereka masih bersyukur Panji Watugunung mau mengangkat mereka sebagai istri walaupun dengan status selir.
Sebagai calon Bupati Gelang-gelang, tentu Panji Watugunung membutuhkan seorang gadis bangsawan untuk di nikahi. Itu sudah aturan baku di tata pemerintahan Kahuripan sejak dari Mpu Sindok. Mereka beruntung Dewi Anggarawati mau menerima kehadiran mereka.
Tejo Sumirat masih tertawa terbahak-bahak, Nararya Candradewi dan dua kakak Anggarawati juga ikut tersenyum. Memang mereka belum menikah, tapi Tejo Sumirat sudah menerima lamaran untuk dua Putri tertuanya dari Wengker dan Tumenggung Adipraja di Daha. Mereka akan di boyong, tapi masih menunggu waktu yang tepat.
__ADS_1
Malam semakin larut. Malam ini hujan kembali turun di wilayah kota Seloageng hingga pagi menjelang tiba.
Panji Watugunung terbangun saat pintu kamar nya terbuka. Dewi Anggarawati yang semalam suntuk tidak bisa tidur mendengar berita dari ayahnya menghamburkan ke arah ranjang. Panji Watugunung yang belum beranjak dari tempat tidur nya, langsung di peluk nya.
Tiga pasang mata gadis menatap tingkah Anggarawati dengan kesal.
'Kau pikir cuma kau yang istrinya'
'Kau cuma beruntung karna putri bangsawan'
'Tingkahnya sungguh mengesalkan'
Tiga gadis itu menggerutu dalam hati.
"Kakang Watugunung, aku bahagia sekali", Dewi Anggarawati tersenyum manis sambil menciumi wajah Panji Watugunung.
"Eh iya Dinda iya, sudah jangan seperti itu", Panji Watugunung gelagapan dengan ulah Anggarawati. Dari sudut matanya, dia tau ada tatapan sebal dari mereka bertiga.
"Ehmmmm ehemmmm", Ratna Pitaloka mengeraskan suara nya.
Dewi Anggarawati menghentikan aksinya dan tersenyum meledek ke arah mereka.
"Maaf ya Kangmbok Pitaloka Kangmbok Mayang, jangan marah ya kalau aku duluan".
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang geram. Kalau bukan di istana Seloageng, pasti mereka sudah mengeroyok Dewi Anggarawati yang menjulurkan lidahnya.
'Awas kau nanti'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Daripada kelamaan di tahan, mending cepat di halalkan ya guys 😁😁😁😁
__ADS_1
Tetap dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍