Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Menuju Tanggulangin


__ADS_3

Ucapan Cempluk Rara Sunti membuat semua orang menoleh kepadanya. Tiga selir Panji Watugunung mendelik tajam sementara Warok Suropati tersenyum penuh arti.


"Maaf Cempluk, kami harus meneruskan perjalanan kami. Keamanan di Panjalu tergantung pada hasil perjalanan ini", ujar Panji Gumilang.


"Apa maksudmu Kakang Watugunung? Keamanan di Panjalu? Apa ada hal yang tidak ku mengerti?", Cempluk Rara Sunti penasaran.


"Kakang Watugunung adalah utusan khusus Gusti Prabu Samarawijaya di istana Dahanapura. Sekarang dia bertugas sebagai penentu keberhasilan Daha bertahan dari rencana besar Mapanji Garasakan, Raja Jenggala yang ingin menguasai seluruh bekas wilayah Kahuripan", sahut Sekar Mayang segera. Dia benar-benar tidak suka suaminya di remehkan Cempluk Rara Sunti.


"Apaa?? Berarti dia seorang pembesar istana Daha?", Cempluk Rara Sunti semakin penasaran dengan Panji Watugunung.


"Dia adalah putra mantu Maharaja Samarawijaya, suami dari putri sulung Prabu Samarawijaya yang bernama Ayu Galuh. Jangankan kami, kau pun akan gemetar ketakutan saat berhadapan dengan singa betina itu", jawab Ratna Pitaloka dengan maksud menakut-nakuti Rara Sunti.


Cempluk Rara Sunti terkejut bukan main.


'Kalau dia suami putri Raja, berarti dia adalah pangeran Daha', batinnya.


Malam semakin larut, burung malam bersahutan. Rembulan berbentuk sabit berwarna kuning menghiasi langit malam yang gelap.


Pagi menjelang tiba.


Panji Watugunung dan rombongannya segera melompat ke atas kuda mereka. Menuju ke kota Wengker. Mereka memacu kudanya melesat meninggalkan Pakuwon Tapa.


"Loh kog pada sepi? Kemana kakang Watugunung Bopo?", tanya Cempluk Rara Sunti.


Perempuan itu hampir semalam suntuk tidak bisa memejamkan matanya. Alhasil dia bangun kesiangan.


"Ya sudah berangkat ke Wengker to Pluk Cempluk. Mereka mungkin baru masuk ke Pakuwon Sampung", jawab Warok Suropati sambil tersenyum simpul.


Wajah cantik Cempluk Rara Sunti seketika lesu.


Ingin sekali dia mengikuti Panji Watugunung kemanapun dia pergi. Tapi dia terlambat.


Warok Suropati tersenyum penuh arti.


Rombongan Panji Watugunung sudah memasuki wilayah kota kadipaten Wengker saat tengah hari. Mereka langsung menuju ke gerbang istana Kadipaten Wengker.


Seorang penjaga gapura istana kadipaten Wengker mengantar mereka ke dalam paseban Kadipaten Wengker setelah mereka melihat lencana Chandrakapala yang di tunjukkan oleh Panji Watugunung.


Di balai paseban, nampak sang Adipati Wengker, Warok Surogati sedang duduk di atas singgasana nya. Di hadapannya, para punggawa Kadipaten Wengker sedang duduk bersila di balai paseban Kadipaten Wengker.


Sang penjaga gapura istana segera menyembah kepada Adipati Surogati.


"Mohon ampuni hamba Gusti Adipati, ada utusan dari Daha yang ingin menghadap".


"Persilakan mereka menghadap kesini", titah sang Adipati Wengker.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati".


Sang penjaga gapura segera menghormat kemudian mundur dari balai paseban. Tak berapa lama kemudian, Panji Watugunung dan pengiringnya memasuki Paseban Kadipaten Wengker di ikuti sang prajurit penjaga.


Panji Watugunung dan rombongannya segera menyembah kepada Adipati Surogati. Sang Adipati segera mempersilakan mereka duduk.


"Ada apa istana Dahanapura mengirim kalian semua kesini?", tanya sang Adipati Wengker.


"Ampun beribu ampun Gusti Adipati, hamba di utus Gusti Prabu Samarawijaya mengirim surat kepada Gusti Adipati".


Setelah berkata demikian, Panji Watugunung segera menyerahkan surat dari daun lontar yang terbungkus kain merah.


Setelah membaca surat itu, Adipati Wengker tersenyum tipis. Diam diam kakak kandung Warok Suropati itu merapal Ajian Ngrogoh Sukmo. Dia ingin menjajal kemampuan pemuda tampan yang menjadi pemimpin utusan dari Daha itu.


Seketika udara menjadi sedikit dingin. Panji Watugunung yang waspada langsung menghela nafas panjang sebelum merapal Ajian Ngrogoh Sukmo ajaran Warok Suropati.

__ADS_1


Sekejap kemudian sukma kedua orang sakti ini berhadapan. Tubuh mereka berdua menjadi kaku. Hanya beberapa orang yang mengerti apa yang sedang terjadi.


"Hebat juga kau anak muda. Bisa merogoh sukma dengan cepat. Siapa yang mengajari mu?", ujar sukma Adipati Wengker.


"Hamba diajari Warok Suropati, Gusti Adipati. Mohon maaf jika hamba kurang sopan", jawab sukma Panji Watugunung.


"Bocah itu tidak memilih murid secara serampangan. Baik, kita berbicara disini. Apa sebenarnya yang terjadi di Daha?", tanya sukma Adipati Wengker.


Sukma Panji Watugunung segera menjelaskan situasi yang terjadi. Dengan gamblang dia menceritakan tentang kejadian kejadian di Panjalu, juga rencana besar Mapanji Garasakan yang ingin menyatukan wilayah Kahuripan lama.


Hemmmmm


"Tidak bisa diampuni. Garasakan si putra selir itu benar-benar tidak tahu diri. Aku mendukung penuh Gusti Prabu Samarawijaya. Sepekan lagi prajurit dari kadipaten Wengker akan berangkat ke Daha", tutur sukma Adipati Wengker Warok Surogati.


"Mewakili Gusti Prabu Samarawijaya, hamba mengucapkan terima kasih atas dukungannya Gusti Adipati", ucap sukma Panji Watugunung.


Mereka berdua lalu kembali ke jasad mereka masing-masing. Tubuh mereka yang kaku, kembali berubah pulih seperti sedia kala.


"Kalian sebaiknya beristirahat barang semalam di Kadipaten Wengker. Akan kuberikan keramahan kami kepada kalian.


Penjaga,


Antar mereka ke bangsal tamu kadipaten Wengker", titah sang Adipati Wengker Warok Surogati.


Penjaga segera menyembah kepada Adipati Surogati, dan bergegas menuju ke bangsal tamu kadipaten Wengker di ikuti Panji Watugunung dan rombongannya.


Malam itu mereka beristirahat di bangsal tamu dengan tenang.


Pagi menjelang tiba di istana Kadipaten Wengker. Panji Watugunung membuka matanya saat kokok ayam jantan bersahutan pertanda pagi telah datang.


Saat hendak bangun, tangan ramping Ratna Pitaloka menahan tubuh nya.


"Masih pagi Kakang, jangan bangun dulu", ujar Ratna Pitaloka dengan mata tertutup. Mereka berdua sama sama polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh. Hanya selimut menutupi hampir separuh tubuh mereka.


"Sudah pagi Dinda Pitaloka, kita harus segera melanjutkan perjalanan ke Tanggulangin. Cepat lepaskan aku, nanti kesiangan".


Ratna Pitaloka dengan senyum manis nya segera melepaskan pelukan nya. Lalu Panji Watugunung segera bergegas turun, memakai pakaiannya dan menuju ke tempat mandi.


Usai menghadap ke Adipati Wengker di ruang pribadi Adipati, mereka segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Tanggulangin.


Rombongan Panji Watugunung segera memacu kuda mereka meninggalkan Istana Kadipaten Wengker menuju ke timur. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda kuda mereka.


**


Sementara itu, di wilayah Pakuwon Sengkapura.


Rombongan Ayu Galuh dari istana Daha berkunjung ke tempat pembangunan markas pasukan Garuda Panjalu.


Dengan di kawal Tumenggung Adiguna, Ayu Galuh tiba di markas besar pasukan Garuda Panjalu.


Semenjak kepergian Panji Watugunung, putri sulung Prabu Samarawijaya itu menyibukkan diri dengan berlatih ilmu kanuragan untuk membela diri. Juga melakukan perjalanan kunjungan ke beberapa tempat di sekitar istana Daha.


Ki Saketi selaku wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu segera menyambut mereka.


"Pekerjaan mu bagus Paman, sebentar lagi pembangunan ini selesai. Kangmas Panji Watugunung pasti suka tempat ini", ujar Ayu Galuh memandang sekeliling markas besar pasukan Garuda Panjalu.


"Markas besar ini mencontoh beberapa bagian Puri Agung Gelang-gelang Gusti Putri, hamba yakin Gusti Panji pasti menyukainya", ujar Ki Saketi.


"Semoga saja begitu,


Usahakan agar secepatnya selesai Paman. Aku yakin Kangmas Panji Watugunung sebentar lagi pulang", titah sang Putri Daha.

__ADS_1


"Sendiko dawuh Gusti Putri", Ki Saketi memberi hormat.


Hampir satu purnama pembangunan itu, semua bagian tempat di markas besar mereka hampir selesai. Tinggal beberapa bangunan para anggota pasukan Garuda Panjalu yang belum selesai.


Rumah Ki Saketi ada di sebelah kanan rumah Panji Watugunung yang juga merupakan pusat kegiatan mereka, sudah selesai dibangun.


Tempat tinggal Gumbreg ada di belakang rumah utama, berdamping dengan rumah Laras dan Arimbi.


Siang itu Ludaka, Landung dan Rajegwesi sedang membantu Gumbreg memasang ijuk untuk atap tempat tinggal nya. Gumbreg yang berbadan tambun jelas tidak bisa memanjat atap. Si Juminten sedang duduk-duduk sambil memandang mereka bekerja.


"Kang Gumbreg, kenapa jatah tempat tinggal kakang di belakang? Katanya kesayangannya Gusti Pangeran Panji", tanya si Juminten.


"Lha ini aku sendiri yang milih Dhek Jum, sebagai kepala bagian perbekalan tugas ku itu menjaga keamanan perbekalan. Nah itu gudang perbekalan kan pas dekat tempat tinggal ku", ujar si Gumbreg sambil menunjuk lumbung pangan yang ada di depan tempat tinggal nya.


"Oh begitu ya? Berarti tugas Kang Gumbreg itu sangat penting ya", Si Jum menatap kagum wajah bulat Gumbreg.


"Ya iyalah Dhek, sejak aku menjadi kepala perbekalan, persediaan bahan makanan aman. Tidak pernah lagi ada kemalingan dhek Jum", Gumbreg tersenyum pongah. Si Jum begitu kagum mendengar ucapan Gumbreg.


Ludaka dan Landung tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Gumbreg.


"Apa ada yang lucu Kang Lu?", tanya si Jum polosnya.


"Ya jelas ada lah Jum. Ya tidak mungkin lah perbekalan yang di jaga Gumbreg hilang, lha wong yang biasa maling makanan dia sendiri", Ludaka tertawa terbahak-bahak.


Si Juminten melongo, sedangkan Gumbreg wajahnya memerah karena malu. Dalam hati dia menggerutu.


"Dasar mulut ember"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Wkwkwkwk 😂😂😂😂


Ikuti terus kisah selanjutnya guys

__ADS_1


Jangan lupa dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya


Selamat membaca 😁😁😁


__ADS_2