
Tumenggung Janadi dan Bekel Wimuka beserta puluhan prajurit Kalingga bergerak cepat menuju kediaman Coa Bu Teng di barat pelabuhan Halong. Meski hujan masih mengguyur, semangat para prajurit Kalingga masih membara.
Lepas tengah malam, bantuan Pasukan Kalingga yang di pimpin langsung oleh Senopati Lokananta datang ke tempat yang yang dijadikan titik pertemuan. Dengan jumlah 200 prajurit, mereka bergerak mengepung kediaman keluarga Coa.
Keluarga Coa adalah salah satu keluarga Tionghoa yang berhasil membangun usaha di wilayah Kalingga, terutama di sekitar Pelabuhan Halong yang menjadi pelabuhan besar di masa itu. Mereka datang ke Jawa Dwipa untuk mengadu nasib bersama beberapa keluarga Tionghoa lain saat hubungan Kalingga yang masih menjadi kerajaan merdeka sangat baik dengan dinasti politik di Tiongkok. Diantara 5 keluarga besar Tionghoa yang ada di Kalingga, keluarga Coa adalah yang paling kaya. Usaha perdagangan hasil bumi dan barang barang dari Tiongkok seperti sutra, aneka porselen, dan senjata membuat mereka menjadi saudagar kaya raya.
Pemimpin mereka saat ini, Coa Bu Teng adalah generasi keempat keluarga Coa. Dia sangat pintar menjalin kerjasama dengan para kepala daerah di wilayah Daha, terutama Paguhan dan Rajapura.
Melihat ratusan prajurit Kalingga yang mengepung rumah kediaman keluarga Coa, para centeng yang menjaga rumah segera bersiap. Salah seorang centeng berlari masuk ke dalam rumah.
"Bangunkan tokai,
Ratusan prajurit Kalingga mengepung rumah ini", ujar si centeng berkepala plontos itu pada seorang pelayan wanita.
Mendengar ucapan si centeng, sang pelayan itu buru buru menuju ke kamar tidur Coa Bu Teng yang ada di tengah rumah.
Tok tok tok
Tok tok tok
Si pelayan wanita itu mengetok pintu kamar Coa Bu Teng dengan tergesa-gesa.
"Tokai Coa,
Mohon bangunlah", teriak si pelayan wanita itu dengan nada ketakutan.
Kriettttt
Pintu kamar terbuka dan Coa Bu Teng dengan muka masam berdiri di depan pintu.
"Ada apa kau mengganggu istirahat ku? Awas kalau sampai tidak ada hal penting", hardik Coa Bu Teng.
"Maaf tokai, baru saja centeng di depan memberi tahu.
Katanya ratusan prajurit Kalingga mengepung rumah ini", ujar si pelayan wanita itu dengan cepat.
Kepala keluarga Coa itu terkejut mendengar ucapan sang pelayan. Dia sudah menduga bahwa ini akan terjadi, tapi secepat ini membuat nya gelagapan juga.
"Brengsek, ada yang membocorkan rahasia rupanya.
Kau bangunkan Ling Ling dan A Huan. Suruh mereka kabur lewat jalan rahasia. Aku akan mencoba mengulur waktu di depan.
Cepat", ujar Coa Bu Teng yang segera kembali ke dalam kamar, mengambil pedangnya dan bergegas menuju pintu gerbang kediaman keluarga Coa.
Sementara itu, si pelayan wanita itu membangunkan Ling Ling istri Coa Bu Teng dan anaknya. Segera mereka masuk jalan rahasia yang sudah di siapkan untuk kabur.
Para centeng segera membuka pintu gerbang saat Coa Bu Teng memberi isyarat kepada mereka. Coa Bu Teng berniat menyuap para prajurit Kalingga, namun dia tidak tahu bahwa Senopati Lokananta yang pernah berselisih paham dengan nya ada dalam pengepungan itu.
Kriettttt
Di depan pintu gerbang sudah menunggu Tumenggung Janadi.
"Haiya.. Saudara Janadi rupanya,
Ada apa ini malam malam ke rumah owe? Kenapa bawa banyak pasukan ke rumah owe?", ucap Coa Bu Teng pura pura bodoh.
Phuihhh
"Pintar sekali kau berpura-pura saudagar Coa. Sebaiknya kau menyerah. Belang mu sudah ketahuan", Tumenggung Janadi tersenyum sinis.
"Owe tidak tau apa maksud saudara Tumenggung, owe hanya pedagang", Coa Bu Teng masih berkelit.
"Dasar laknat.
Surat ini sudah cukup menjadi bukti keterlibatan mu membantu Adipati Gandakusuma", Tumenggung Janadi merogoh kantong bajunya dan memperlihatkan surat dari daun lontar yang terbungkus kain merah itu.
Coa Bu Teng terkejut. Lalu dengan cepat dia langsung berkata pelan.
"Saudara Tumenggung,
Kita tidak perlu ribut-ribut. Owe kasih 500 kepeng emas asal saudara Tumenggung lepaskan owe dan berikan itu surat pada owe", ujar Coa Bu Teng mencoba menawarkan sogokan pada Tumenggung Janadi. 500 kepeng emas itu jumlah yang besar, setara dengan pajak 2 pakuwon selama 1 Warsa.
Chuihhhh..
Terdengar bunyi orang meludah dan Senopati Lokananta muncul dari kegelapan malam.
"Mencoba menyuap prajurit? Sudah ku duga kau akan berbuat seperti ini Coa Bu Teng.
Menyerah atau kami tindak tegas!", ujar Senopati Lokananta sambil melotot ke arah saudagar kaya raya itu.
__ADS_1
Coa Bu Teng yang terkejut mundur selangkah ke belakang. Dia tidak menduga bahwa Senopati Lokananta yang datang ke rumah nya.
Dia tau tidak mungkin dia lolos dengan mudah. Dia memutuskan untuk mengadu nyawa dengan para perwira Kalingga. Perlahan dia mencabut pedang nya.
Melihat Coa Bu Teng melawan, Tumenggung Janadi langsung berteriak lantang.
"Tangkap mereka, hidup atau mati!".
Para prajurit Kalingga yang mengepung rumah itu langsung menerjang maju. 50 centeng Coa Bu Teng langsung menyongsong mereka.
Pertarungan sengit segera terjadi.
Awal mula nya, centeng Coa Bu Teng yang berilmu tinggi dengan mudah menghabisi para prajurit Kalingga, namun lama kelamaan karena kalah jumlah, satu persatu centeng Coa Bu Teng mulai tewas berjatuhan.
Melihat keadaan semakin gawat, Coa Bu Teng melompat ke udara dan menyerang ke arah Senopati Lokananta.
Sreeetttttt
Tebasan pedang Coa Bu Teng mengancam nyawa Senopati Kalingga itu. Tumenggung Janadi langsung menghadang dengan pedangnya.
Tranggg..
Keduanya langsung bertukar jurus dengan cepat. Coa Bu Teng, pemimpin keluarga Coa generasi keempat, memainkan kungfu warisan keluarga nya, Jurus 18 Pedang Ular Bumi.
Namun Tumenggung Janadi bukan perwira prajurit biasa. Murid Perguruan Pedang Awan dari Gunung Merbabu itu adalah satu dari 7 ksatria Kalingga yang tersohor dengan kemampuan memainkan pedang nya.
Meski dalam kondisi setengah gelap karena hari mulai terang, pertarungan sengit diantara mereka mulai menuju babak akhir. Satu sabetan pedang Tumenggung Janadi berhasil merobek baju serta dada Coa Bu Teng.
Laki laki itu segera melompat mundur, dadanya terasa perih. Dia melirik ke arah centengnya, tinggal 5 orang yang tersisa dan itupun pasti tidak akan bertahan lama.
Ada raut muka putus asa di wajah Coa Bu Teng.
Dengan berteriak keras, dia kembali menyerang maju kearah Tumenggung Janadi. Namun karena luka yang di deritanya, membuat gerakan nya menjadi banyak celah.
Sabetan pedang nya yang mengincar leher Tumenggung Janadi, dengan cepat di hindari oleh Tumenggung Kalingga itu. Kemudian Tumenggung Janadi dengan tangan kiri nya menghantam dada kanan Coa Bu Teng.
Blarrrrr!
Coa Bu Teng terhuyung mundur. Belum sempat dia berdiri tegak, pedang Tumenggung Janadi langsung menebas leher nya.
Crashhhh
Leher Coa Bu Teng nyaris putus. Dia tewas bersimbah darah. Di saat melihat juragan mereka tewas, 4 centeng yang tersisa segera melempar senjatanya.
Senopati Lokananta segera memerintahkan kepada para prajurit untuk mengumpulkan mayat-mayat teman teman mereka, dan menguburkannya dengan layak. Sementara itu mayat para centeng dan Coa Bu Teng di bakar.
Saat pagi tiba, pelabuhan Halong geger dengan berita penyerbuan itu.
**
Jauh di Daha.
5 ribu prajurit Daha pimpinan Senopati Narapraja dan Warigalit berangkat menuju ke Kalingga.
Separuh dari pasukan Garuda Panjalu ikut serta dalam kegiatan itu. Mereka di pilih berdasarkan tingkat kemampuan beladiri dan keahlian khusus yang mereka miliki.
Ki Saketi, Marakeh, Rakai Sanga dan Manahil mendapat tugas menjaga keamanan perbatasan di wilayah Panjalu Selatan terutama di kawasan Watugaluh dan Kunjang yang menjadi daerah kekuasaan langsung mereka.
Sementara Ludaka, Jarasanda, Gumbreg, Rajegwesi dan Landung mengiringi Warigalit membantu pasukan Daha yang hendak menindak Adipati Gandakusuma dari Paguhan.
"Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di Kalingga, Gusti Senopati?", tanya Warigalit sopan.
"Paling cepat, kita bisa sampai dalam setengah purnama, saudara Warigalit. Eh maaf bukan kah kau sudah mendapat jabatan sebagai Tumenggung ya bersama Paman Saketi?", Senopati Narapraja tersenyum tipis.
"Ah saya lebih suka jika Gusti Senopati memanggil saya dengan sebutan saudara Warigalit, terasa lebih akrab", ujar Warigalit seraya tersenyum.
Rombongan pasukan Daha terus bergerak menuju ke arah Kalingga.
**
Sementara itu, di penginapan Nyi Karti di Kota Kadipaten Gunatiga.
Panji Watugunung bangun tidur dengan menggeliat perlahan. Sekar Mayang yang menemani nya tidur sudah bangun dari tadi dan sepertinya sudah beranjak ke kamar mandi di belakang penginapan.
Pagi itu cuaca nya lumayan cerah. Burung burung berkicau riang di ranting pohon membuat suasana menjadi lebih hangat.
Usai berkemas dan sarapan, Sekar Mayang membayar biaya menginap untuk mereka berenam.
Rombongan Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda mereka, dan menggebrak kuda mereka menuju ke selatan menuju ke wilayah Kadipaten Madangkara sebelum menuju ke Istana Kawali, ibukota Kerajaan Galuh. Mereka berenam terus menyusuri jalan besar menuju kadipaten yang terletak di barat Paguhan itu.
__ADS_1
Memasuki wilayah perbatasan, mereka berhenti sejenak untuk melepas lelah.
Suasana yang sejuk, dengan sawah dan ladang yang subur di timur Sungai Citanduy itu benar benar menyegarkan pandangan mereka. Para pahuma (petani peladang) tampak sibuk memanen padi di sawah tadah hujan mereda.
Setelah cukup lama beristirahat, rombongan Panji Watugunung segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke ibukota Galuh, dengan menyusuri sungai Citanduy karena Kawali terletak di hulu sungai Citanduy.
Menjelang sore, mereka berhenti di sebuah wanua di jalan menuju ke Kawali. Trajutrisna yang sudah beberapa kali ke sini, langsung menuju ke rumah Lurah Wanua Karang Kamulyan.
Namanya Ki Buyut Permana.
"Sampurasun...", ucap Trajutrisna sambil mengetok pintu rumah Lurah Wanua Karang Kamulyan itu.
"Rampes...", jawab suara seorang lelaki dari dalam rumah.
Kriettttt
Seorang lelaki muda membuka pintu rumah. Trajutrisna yang tidak mengenal lelaki muda itu langsung bertanya.
"Punten Akang, saya mencari rumah Ki Buyut Permana. Ini betul rumah Ki Buyut?", tanya Trajutrisna dengan sopan.
"Benar Kang, ini mah betul rumah Ki Buyut Permana.
Akang siapa yah?", tanya lelaki muda itu sambil menatap wajah Trajutrisna. Dalam ingatan nya, dia belum pernah sekalipun bertemu dengan Trajutrisna.
"Saya Trajutrisna. Dulu pernah singgah di sini waktu hendak berkelana.
Kalau Ki Buyut Permana mah, pasti mengenali saya", ujar Trajutrisna sambil tersenyum.
"Oh sekedap atuh nya..
Saya panggilkan Ki Buyut. Silahkan akang duduk ya. Dirantos ya Kang", ujar lelaki muda itu yang segera bergegas masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama kemudian, si lelaki muda itu kembali bersama seorang kakek tua berjenggot panjang.
"Sampurasun Ki Buyut,
Kumaha damang?", ujar Trajutrisna dengan sopan.
"Rampes..
Aki sehat ini mah. Hemmmmm.. Kalau tidak salah ini Trajutrisna ya?", ujar Ki Buyut Permana sambil tersenyum.
"Iya Ki, syukur Ki Buyut masih mengenali saya
Begini Ki, kedatangan saya dan teman-teman kemari ingin merepotkan Ki Buyut. Kami ingin numpang menginap barang semalam Ki", Trajutrisna segera menyampaikan permintaan nya.
"Hehehehe boleh saja,
Ada seorang pangeran bersama mu. Bukankah ini kehormatan untuk gubuk ku ini?", Ki Buyut Permana langsung tersenyum saat menatap wajah Panji Watugunung yang duduk di belakang Trajutrisna.
Semua orang kaget mendengar ucapan Ki Buyut Permana.
"Pangeran?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf jika ada bahasa Sunda yang salah dalam penulisan maupun penempatan letak tata bahasa ya 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya atas cerita ini ❤️❤️❤️
Selamat membaca guys 😁😁😁