Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pangling


__ADS_3

Setelah menginap di penginapan kecil di tepi kota kabupaten Gelang-gelang, rombongan Panji Watugunung sampai di depan istana Bupati Gelang-gelang.


Dari sini, mereka menemui penjaga gerbang istana.


"Maafkan kami tuan penjaga,


Kami rombongan dari Kadipaten Seloageng.


Ingin menghaturkan surat surat untuk Gusti Bupati Gelang-gelang", ucap Panji Watugunung.


Penjaga gapura terlihat memeriksa rombongan kecil itu, kemudian berkata, "Apa ada bukti nya kalau kalian utusan Seloageng?.


Dewi Anggarawati segera maju dan merogoh kantong bajunya. Sebuah lempengan perak bergambar burung merak tanda kebangsawanan di ulurkan pada penjaga.


Mahesa Rangkah dan Parwati takjub dengan lencana perak itu, karna mereka tau bahwa itu adalah bukti Anggarawati kerabat istana Seloageng.


Penjaga gapura itu lalu masuk sambil membawa lencana perak ke dalam Puri Agung Gelang-gelang.


Saat itu hanya Dewi Pancawati, ibu tiri Panji Watugunung sedang memberi perintah pada juru taman.


Penjaga bergegas mendekat.


"Ampun Gusti Dewi,


Ada orang mengaku utusan dari Seloageng ingin menghadap" , ujar penjaga sambil menyerahkan lencana perak berlambang burung merak.


Melihat lencana perak, Dewi Pancawati segera memerintahkan kepada penjaga untuk membawa utusan Seloageng.


Lalu Dewi Pancawati segera masuk ke Puri Agung, menemui Sang Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari.


"Kangmas,


Ada utusan dari Seloageng mencari mu.


Mereka ada di Serambi Puri Agung"


Panji Gunungsari segera bergegas menuju Serambi Puri Agung di ikuti Dewi Pancawati.


Penjaga gapura segera mengantar utusan ke dalam Puri, setelah mengembalikan lencana perak.


Rombongan sudah di tunggu oleh Panji Gunungsari.


Bupati Gelang-gelang benar benar terkejut melihat seseorang yang datang memakai


Kalung Taring Macan.


Dia hampir tidak bisa berkata apa-apa, namun segera sadar setelah mendengar suara dari Anggarawati.


"Utusan Adipati Seloageng Tejo Sumirat menghaturkan sembah untuk Bupati Gelang-gelang"


Panji Gunungsari segera tersenyum.


"Terimakasih. Silahkan duduk para utusan."


Panji Watugunung masih menunduk.


Lalu suara bergetar Panji Gunungsari menyadarkannya.


"Ngger Cah Bagus, kamu tidak kangen dengan Romo mu?.


Semua orang terkejut kecuali Anggarawati.


Mahesa Rangkah dan Parwati, apalagi pelayan Tantri melongo. Tak menyangka bahwa pemuda tampan yang tak banyak bicara itu adalah putra Bupati Gelang-gelang.


Panji Watugunung segera berjalan mendekati Ayahnya, dan berkata , "Sembah sungkem Kanjeng Romo".


Panji menghormat pada ayahnya, lalu menghormat pada bibi sekaligus ibu tirinya.


"Berdirilah Ngger Cah Bagus, Romo pangling. Romo hampir tidak mengenali mu kalau tidak melihat kalung taring macan".


Dewi Pancawati segera mendekat ke arah suaminya.


"Ini benar putra ku Kangmas?"


Panji Gunungsari mengangguk.


"Jagat Dewa Batara,


Maafkan Kanjeng Ibu nak, Ibu benar benar pangling. Kamu tumbuh menjadi pria gagah dan tampan seperti ini", Dewi Pancawati segera memeluk tubuh Panji Watugunung.


"Tidak apa-apa Kanjeng Ibu, sudah 5 tahun lebih, sudah sewajarnya kalau ibu pangling dengan penampilan saya", ujar Watugunung setelah Dewi Pancawati melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Oh iya Romo, ini teman seperjalanan Watugunung. Namanya Mahesa Rangkah dan Parwati".


Mahesa Rangkah dan Parwati segera berdiri dan memberikan hormat.


"Nah kalau yang ini, utusan khusus Adipati Tejo Sumirat untuk Romo".


Dewi Anggarawati tersenyum simpul dan segera berdiri, memberikan hormat.


"Siapa namamu Nduk Cah Ayu?", tanya Panji Gunungsari.


"Saya Anggarawati Gusti Bupati, untuk lebih jelasnya, surat yang di bawa putra Gusti Bupati yang menjawab", jawab Anggarawati.


Panji Gunungsari melirik ke arah Watugunung.


'Utusan nya dia, tapi kenapa suratnya di anak ku'


Buru-buru Watugunung menyerahkan sepucuk surat dari daun lontar kepada Panji Gunungsari.


Bunyi surat


"Adi Panji Gunungsari,


Jika surat ini sudah sampai di tangan mu,


Aku ingin Adi mengingat janji perjodohan 17 tahun yang lalu,


Putri ku Dewi Anggarawati,


Sudah layak menjadi menantu mu,


Aku dan Dinda Nararya Candradewi sudah menerima Panji Watugunung sebagai calon menantu kami,


Ku harap kau tidak mengecewakan aku,


Kakang mu,


Tejo Sumirat"


Deggg..


Hati Panji Gunungsari seperti terketuk palu.


Air mata segera menetes. Dia begitu terharu.


"Ada apa Kangmas?", tanya Dewi Pancawati.


"Yayi, Kakang Tejo Sumirat tidak lupa janji kami yayi", jawab Panji Gunungsari gembira.


Panji Gunungsari segera tersenyum dan memanggil Dewi Anggarawati.


"Yayi, ini calon menantu kita, putri bungsu Adipati Seloageng"


Dewi Pancawati segera memeluk tubuh Anggarawati.


"Cantik sekali ya Kakang calon menantu kita"


Anggarawati tersenyum malu. Walaupun dia sangat bahagia.


Lagi lagi Mahesa Rangkah dan Parwati terkejut, apalagi pelayan Dewi Anggarawati. Mereka benar benar merasa tidak tau apa apa dengan dua orang teman seperjalanan mereka.


"Yayi, ajak calon menantu kita masuk, biarkan mereka istirahat. Mereka pasti lelah setelah perjalanan jauh", ucap Panji Gunungsari.


Wajah Tantri memelas saat Anggarawati di tarik Dewi Pancawati masuk, tapi Anggarawati segera sadar dan berkata,


"Maaf Kanjeng Ibu, saya membawa pelayan. Kalau di ijinkan, saya ingin dia yang melayani semua kebutuhan saya" .


"Iya gak apa apa, ayo ajak masuk saja"


Tantri seketika berdiri setelah melihat isyarat dari Anggarawati, dan mengikuti langkah Ndoro Putri nya masuk ke keputren.


"Romo, saya ingin mereka di ijinkan menginap"


Panji Gunungsari mengangguk dan memanggil prajurit yang berjaga, untuk mengantarkan Mahesa Rangkah dan Parwati menuju bangsal tamu.


Setelah memberikan hormat, Mahesa Rangkah dan Parwati mundur mengikuti langkah sang prajurit.


Panji Gunungsari lalu mengajak putranya masuk ke keputran Gelang-gelang. Sebagai tempat tinggal untuk putra kesayangannya.


Setelah mengantar Panji Watugunung ke keputran Gelang-gelang, Bupati Gelang-gelang memerintahkan kepada para pengawal dan emban istana Gelang-gelang untuk menyiapkan pesta besar penyambutan putra dan calon mantu nya.


**

__ADS_1


Rombongan Juragan Karsa yang di kawal Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang memasuki kota Gelang-gelang saat senja.


Gara gara roda kereta kuda Juragan Karsa patah, perjalanan mereka jadi terhambat.


Sebenarnya mereka sudah di minta meninggalkan rombongan, agar lebih cepat sampai namun Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang menolak.


Di sebuah penginapan besar, mereka berhenti.


Mereka setelah membayar biaya menginap, langsung ke kamar masing-masing. Capeknya badan membuat mereka ingin cepat istirahat.


Bahkan untuk sekedar makan, mereka memilih makanan diantar ke kamar.


Tok tok tok


tok tok tok..


"Siapa??", Ratna Pitaloka bangun dari tempat tidur nya.


"Karsa nona pendekar, saya Karsa", sahut suara dari luar.


Sekar Mayang segera berjalan membuka pintu.


Memang Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang satu kamar selama perjalanan.


Kriettttt..


Pintu kamar terbuka dan Juragan Karsa yang di ikuti oleh Ki Sarwana masuk.


"Silahkan duduk Juragan", ujar Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.


Juragan Karsa kemudian duduk di kursi dekat meja kecil. Ki Sarwana tetap berdiri.


"Ada apa Juragan Karsa malam malam menemui kami?", tanya Sekar Mayang.


Juragan Karsa kemudian mengeluarkan kantong kepeng perak.


"Nona pendekar, ini sekedar tanda mata dari kami. Kami mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan nona pendekar berdua selama perjalanan.


"Kami yang seharusnya berterima kasih juragan", jawab Ratna Pitaloka.


Setelah itu, Juragan Karsa dan Ki Sarwana pamit seraya mendoakan agar tujuan mereka tercapai.


Pagi hari menjelang.


Setelah mengucapkan selamat tinggal pada rombongan Juragan Karsa, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera melompat ke atas kuda yang sudah di siapkan.


Mereka berdua memacu pelan kudanya sambil melihat-lihat kawasan kota Gelang-gelang.


'Kota ini lumayan ramai, walau belum lama di dirikan'


Sepanjang jalan, ada banyak janur kuning terpasang di beberapa sudut jalan.


Mereka lalu berhenti di sebuah warung makan kecil di salah satu sudut jalan dekat pintu gerbang istana.


Setelah menambatkan kuda, mereka masuk.


Seorang wanita muda tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Silahkan masuk nona,, mari saya antar" ujar wanita muda dengan ramah, sambil menunjuk ke sebuah meja kosong.


"Mau pesan apa nona?"


"Sediakan makan dan minum untuk kami", jawab Ratna Pitaloka.


"Eh tunggu dulu," ujar Sekar Mayang begitu wanita muda itu hendak pergi, " Aku lihat seperti nya ada keramaian di sini, ada perayaan apa?"


Pelayan wanita muda tersenyum dan berkata,


"Gusti Bupati merayakan kedatangan putranya"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


*bersambung*


__ADS_2