
Begawan Wanayasa di ikuti oleh murid murid Padepokan Bukit Penampihan mendekati Panji Watugunung dan kelompoknya. Dengan berjalan pelan, pandita tua itu terus berjalan mendekati mereka.
"Wanayasa dari Bukit Penampihan berterima kasih atas bantuannya pendekar muda", ujar sang pandita tua sambil membungkuk hormat kepada Panji Watugunung di ikuti oleh seluruh murid murid Padepokan Bukit Penampihan yang tersisa.
Begawan Wanayasa yang semula sudah hampir menyerah dan mengira Padepokan Bukit Penampihan akan musnah hari itu, ternyata justru menjadi pihak yang bertahan setelah di bantu Panji Watugunung dan ketiga selir nya, serta Warigalit dan Ratri.
"Resi Begawan Wanayasa jangan begitu. Sesama pendekar persilatan aliran putih kita wajib saling membantu", Panji Watugunung segera bergegas mendekati Begawan Wanayasa. Pandita sepuh itu tersenyum.
"Ijinkan aku mengucapkan terima kasih pendekar muda, walau sebatas jamuan yang tidak berarti. Mari ikut kami ke Bukit Penampihan", pinta sang pandita tua dengan hormat. Panji Watugunung segera mengikuti langkah sang pandita tua sementara itu ketiga selir nya dan Warigalit serta Ratri kembali ke tepi hutan kecil untuk mengambil kuda kuda mereka.
Sementara itu, 6 murid laki-laki Bukit Penampihan mengubur mayat mayat saudara mereka yang tewas pada hari itu, dan membakar mayat mayat murid murid Padepokan Goa Siluman agar tidak menjadi sarang penyakit.
Panji Watugunung duduk bersila di serambi kediaman Begawan Wanayasa. Pandita sepuh itu tampak begitu kagum pada jiwa besar dan rendah hati pendekar muda ini.
"Pendekar muda, kalau tidak salah dengar tadi nama mu Watugunung, bukan?".
"Benar Resi Begawan, nama saya Panji Watugunung dari Padepokan Padas Putih di lereng gunung Penanggungan", jawab Watugunung sopan.
Hemmmm
"Siapa guru mu Pendekar muda?", tanya Begawan Wanayasa kemudian.
"Saya, Kakang Warigalit, Dinda Pitaloka dan Sekar Mayang adalah murid murid Mpu Sakri, Resi Begawan. Apakah Resi Begawan mengenal guru kami?", Watugunung menyelidik.
"Hehehehe, tak kusangka. Hari ini Bukit Penampihan masih ada karena bantuan dari murid murid Kakang Sakri.
Benar pendekar muda, gurumu dan aku adalah saudara angkat saat kami masih muda dulu.
Sebenarnya aku tadi mengenali Ajian Tapak Dewa Api mu. Itu andalan Kakang Sakri saat berjuluk si Tangan Api dari Padas Putih dulu", Begawan Wanayasa menjelaskan semuanya.
Saat mereka berbincang hangat, Warigalit, Ratri dan ketiga selir Panji Watugunung sampai ke kediaman Begawan Wanayasa dengan diantar seorang murid.
"Sebenarnya apa yang membawanya kalian semua jauh jauh kesini, Nakmas Watugunung?", tanya Begawan Wanayasa.
"Maaf Resi Begawan, sebenarnya kami ini utusan dari istana Daha. Tugas kami mengantar surat ke Kadipaten Kurawan", Panji Watugunung menjelaskan maksud kedatangannya.
Hemmmm
"Rupanya begitu. Kurawan sedang tidak sehat. Adipati Wangsakerta sedang sakit, sedangkan pemerintahan di jalankan oleh Putra Adipati Wangsaatmaja di bantu oleh Patih Rakeh Paksi.
Berhati-hatilah dalam perjalanan nanti, Nakmas Watugunung", ujar Begawan Wanayasa yang segera di balas anggukan kepala dari Panji Watugunung dan semua pengikut nya.
Malam itu mereka beristirahat di Padepokan Bukit Penampihan.
Pagi menjelang tiba, suara kokok ayam jantan bersahutan. Sinar matahari yang hangat mengusir dingin malam yang menyebabkan jagat raya.
Usai menghormati pada Begawan Wanayasa, Panji Watugunung, ketiga selir, Warigalit dan Ratri segera melompat ke atas kuda mereka dan memacu kudanya melesat ke arah barat menuju ke Kadipaten Kurawan.
Kurawan adalah wilayah lama Kahuripan. Ibukota Kadipaten Kurawan dulu merupakan bekas ibukota Kahuripan lama, Wuwatan. Sebagai bekas ibukota kerajaan, kota itu masih terlihat ramai dikunjungi pedagang dan pengelana dari berbagai daerah.
Rombongan Panji Watugunung memasuki kota Wuwatan saat hari mulai menjelang sore. Setelah menunjukkan lencana Chandrakapala pada prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Kurawan, mereka di antar masuk menemui Wangsaatmaja sebagai pemegang kekuasaan sementara di Keputran Kurawan.
Wangsaatmaja mengerutkan keningnya setelah membaca surat dari Raja Daha itu.
"Mohon maaf jika hamba lancang Gusti Pangeran, kalau boleh hamba tau apa isi surat dari Raja Panjalu itu Gusti Pangeran?", tanya Rakeh Paksi selaku Patih Kurawan.
"Raja Daha meminta kita mengirim 500 prajurit pilihan dan bahan makanan untuk sebulan bagi prajurit yang kita kirim Paman Patih. Ini keputusan besar, Romo Adipati sendiri pasti juga bingung menentukan jawaban", ujar Wangsaatmaja.
"Utusan dari Daha, kalian beristirahat dulu. Aku perlu bicara dengan Paman Patih dan punggawa kadipaten.
Penjaga,
Antar mereka ke bangsal peristirahatan tamu".
Dua orang penjaga segera menghormat pada Wangsaatmaja dan mundur dari keputran Kurawan. Mereka mengantar Panji Watugunung dan rombongannya ke bangsal peristirahatan tamu.
Malam itu mereka beristirahat di bangsal peristirahatan tamu di Kadipaten Kurawan. Namun di kejutkan kepanikan di dalam istana Kadipaten Kurawan.
"Penjaga, ada masalah apa? Kenapa semua orang menjadi panik?", tanya Panji Watugunung pada penjaga yang berlari di lorong serambi bangsal peristirahatan.
__ADS_1
"Maaf utusan, Gusti Adipati Wangsakerta kejang kejang. Semua tabib istana diperintahkan untuk kesana", Penjaga itu menghormat dan segera bergegas keluar.
Panji Watugunung segera memandang Dewi Srimpi yang ada di sebelah nya.
"Srimpi, kau tahu ilmu pengobatan bukan?".
Dewi Srimpi mengangguk tanda mengerti.
"Bagaimana kalau kita lihat kesana??", ajak Panji Watugunung sambil berdiri.
"Ayo Denmas".
Mereka berdua segera bergegas menuju ruang pribadi Adipati Wangsakerta.
Di dalam kamar pribadi Adipati Wangsakerta, seorang lelaki paruh baya sedang tergeletak dengan wajah pucat. Di sekitar nya Wangsaatmaja sang putra mahkota sedang duduk cemas memandang ke arah Adipati Kurawan itu.
Tiga tabib istana Kadipaten Kurawan sudah duduk di sudut kamar dengan menunduk. Mereka tidak bisa menyembuhkan penyakit sang Adipati. Wangsaatmaja memandang geram ke arah mereka.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi yang hadir hanya bisa melihat dari luar karna gapura masuk di jaga ketat penjaga. Puluhan orang berkerumun di depan gapura. Selain orang dalam istana, dilarang masuk.
Seorang tabib istana yang merupakan tabib terakhir berlari masuk ke kamar pribadi Adipati Wangsakerta. Penjaga segera membuka jalan untuk sang tabib.
"Cepat periksa ayahku", teriak Wangsaatmaja saat tabib memasuki kamar.
Sang tabib istana segera mendekati sang Adipati. Denyut nadi Wangsakerta tidak teratur, nafas nya cepat. Segala kemampuan nya di keluarkan namun tidak ada sedikit pun perubahan.
"Bagaimana?", Wangsaatmaja tak sabar menunggu jawaban dari sang tabib istana.
Pria paruh baya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menyerah.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan??", Wangsaatmaja kusut memandang kearah ke empat tabib istana itu. Semua menunduk.
"Penjaga, umumkan sayembara ke seluruh Kadipaten Kurawan.
Barang siapa yang bisa menyembuhkan ayahku, akan ku berikan hadiah besar", titah Wangsaatmaja. Suaranya terdengar sampai luar tembok ruang pribadi Adipati. Seorang penjaga kamar pribadi segera berlari keluar.
Ucapan Panji Watugunung membuat penjaga itu mengerutkan keningnya. Tapi tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu bisa berhasil, pikir sang penjaga.
"Ayo masuk ke dalam".
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera bergegas mengikuti langkah sang penjaga menuju kamar tidur Adipati Wangsakerta.
"Utusan dari Daha,
Ada apa kemari?", tanya Wangsaatmaja melihat Panji Watugunung dan Dewi Srimpi masuk ke dalam.
"Ampun Gusti Pangeran, mereka ingin mencoba mengobati Gusti Adipati", penjaga gapura menghaturkan sembah.
Wajah Wangsaatmaja seketika menjadi cerah. Berhasil atau tidak asal ada yang mau mengobati, setidaknya memberikan harapan hidup untuk sang Adipati.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera menghormat pada Wangsaatmaja dan mendekati Adipati Wangsakerta di ranjang nya.
"Denmas, sepertinya dia di racun orang", bisik Dewi Srimpi melihat tanda-tanda kecil di tubuh Adipati Kurawan itu.
"Kau bisa mengobati nya?", tanya Panji Watugunung melihat ke arah Dewi Srimpi.
"Bisa Denmas", jawab Dewi Srimpi yakin.
"Lakukanlah", Panji Watugunung mengangguk pelan.
Perlahan, tangan lentik Dewi Srimpi bergerak menekan ulu hati Wangsakerta. Kemudian dia menyalurkan tenaga dalam nya.
Mulut Wangsakerta segera membuka. Dewi Srimpi segera merogoh kantong bajunya nya, mengeluarkan sebutir obat berwarna hijau. Dengan cepat dia memasukkan obat itu ke mulut Wangsakerta.
Tak berapa lama kemudian, tubuh Wangsakerta bergetar. Panji Watugunung segera mendudukkan tubuh Adipati Kurawan itu.
Kemudian..
Huoooggghhh
__ADS_1
Wangsakerta muntah darah kehitaman tanda keracunan. Dewi Srimpi segera meraih kendil tanah liat di sebelah tempat tidur untuk menampung muntahan. Kemudian menotok urat nadi di tubuh Adipati Kurawan dan berpindah mengurut punggung sang Adipati dengan tenaga dalam nya.
Adipati Wangsakerta terus menerus muntah darah kehitaman. Panji Watugunung yang berpindah tempat terus memegang kendil.
Wangsaatmaja memandang kearah mereka dengan tatapan takjub.
Setelah hampir 20 kali muntah, Dewi Srimpi segera melepaskan totokan nya. Kemudian dengan tenang menidurkan kembali Sang Adipati Kurawan.
Tak berapa lama kemudian Wangsakerta membuka matanya. Wajah tua nya masih terlihat pucat meski tidak seputih tadi. Wangsaatmaja segera bergegas mendekati ayahnya.
"Kanjeng Romo, Kanjeng Romo sudah sadar", ucap Wangsaatmaja gembira.
Wangsakerta tersenyum tipis.
Wangsaatmaja mengalihkan pandangannya pada Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.
"Terimakasih atas bantuannya, Utusan Daha..
Tanpa kalian, aku tidak tahu apa yang akan terjadi", Wangsaatmaja terharu.
"Kami hanya membantu sebisanya Gusti Pangeran, hasil akhir tetap pada Sang Hyang Tunggal. Kebetulan saja kami yang menjadi jalan untuk kesembuhan Gusti Adipati", Panji Watugunung merendah.
Wangsaatmaja memandang mereka dengan kagum. Mereka masih merendah sedang tabib istana yang sudah puluhan tahun menjadi kepercayaan istana Kadipaten Kurawan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalian terlalu merendah. Kalian orang hebat. Kalau boleh tau, apa sakit ayahku sebenarnya?".
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi saling berpandangan sejenak, lalu Dewi Srimpi dengan pelan berkat,
"Gusti Adipati tidak sakit,
Dia di racun orang"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Syukur lah bisa up..
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya
Selamat membaca 😁😁
__ADS_1