Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Keputusan Besar


__ADS_3

Esok pagi nya, rombongan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati melanjutkan perjalanan


Tumenggung Pajarakan sangat berterima kasih pada Panji Watugunung yang menghabisi Gerombolan Bajing Ireng. Tak lupa Sang Tumenggung memberikan sejumlah uang untuk bekal di perjalanan.


Dewi Anggarawati tidak mau naik kereta kuda lagi. Terlalu lambat katanya. Kereta mereka di jual pada saudagar kaya yang memiliki penginapan tempat mereka bermalam..


Selepas semua beres, mereka bergegas menggebrak kuda meninggalkan Pajarakan.


Sepasang mata menatap geram kepergian mereka.


" Akan ku laporkan kematian Bajing Ireng pada guru"


**


Di lingkungan keraton baru Dahanapura, nampak Mpu Barada dan rombongan utusan ke Bedahulu menghadap Prabu Airlangga di Bangsal Siti Hinggil


Istana baru ini sangat megah berhias pilar kayu jati dengan ukiran naga pada setiap sisinya.


Sang Prabu Airlangga tampak gagah diatas singgasana kencana di apit dua istri nya.


"Bagaimana Resi Guru?


Apa tanggapan Ayahanda Prabu Udayana?"


"Ampun beribu ampun Nakmas Prabu, lelaki tua ini tidak mampu membawa harapan indah Nakmas Prabu.


Gusti Prabu Udayana sudah menunjuk adik landes Nakmas Prabu, Pangeran Marakata untuk menggantikan posisi beliau menjadi Nararya Bedahulu" jawab Mpu Barada seraya memberi hormat


Hmmmmmm


'Ini akan semakin sulit' batin Sang Prabu Airlangga sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing


"Lantas apa saran Guru Resi untuk memecahkan masalah putra putra ku?"


ujar Prabu Airlangga


Mpu Barada sejenak menghela nafas


lalu berkata


"Mohon ampun Nakmas Prabu bila ucapan lelaki tua ini nanti menyinggung perasaan semua orang yang ada di bangsal ini.


Sepertinya jalan satu-satunya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini adalah dengan membagi kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian sama besar"


Deggg..


Semua orang di Bangsal Siti Hinggil terkejut setengah mati tak terkecuali Prabu Airlangga.


Semua tak bisa bersuara selama beberapa saat, lalu kemudian gaduh


"Bagaimana bisa seperti itu.."


"Menyatukan Kahuripan ini susah payah, kenapa sekarang harus di bagi.."


"Apa tidak ada jalan lain?"


Berbagai macam sanggahan dari para pembesar istana muncul serentak tanpa di perintah


Mpu Barada masih terdiam


Lalu tiba-tiba terdengar suara berwibawa dari Prabu Airlangga.


"Dengarkan aku bicara"


Semua suara langsung hilang


"Suka tidak suka, mungkin ini adalah pemecahan masalah terbaik untuk situasi sekarang.


Aku tidak mau putra putra ku berperang berebut takhta.


Aku juga tau kalian saling dukung ke salah satu putra ku"


Semua pembesar istana tertunduk diam tidak mampu berkata apa apa.

__ADS_1


"Sekarang aku telah memahami apa yang di maksud Guru Resi Mpu Barada. Demi ketenangan di Kahuripan, ini harus dilakukan.


Memang sulit menerima bahwa dulu kita bersusah payah menyatukan kembali warisan Ayahanda Dharmawangsa , sekarang kita harus membaginya.


Tapi ini jalan terbaik dan satu satunya agar kedamaian tetap terjaga di Jawadwipa."


ucap sang Prabu Airlangga bijaksana walau dengan nada bergetar tanda kesedihan mendalam.


"Guru Resi.."


"Hamba Nakmas Prabu" jawab Mpu Barada


"Aku minta guru resi yang menentukan batas pembagian kerajaan Kahuripan ini,


Mohon Guru Resi adil dalam pembagian jangan sampai berat sebelah" titah Sang Prabu Airlangga


"Ampun beribu ampun Nakmas Prabu, lelaki tua ini bersedia membantu niat Nakmas Prabu. Namun sebelum melaksanakan, mohon bantuannya Nakmas Prabu meminjamkan kendi air minum di dalam istana" jawab Mpu Barada


Sang Prabu Airlangga tersenyum. Raja Kahuripan itu tau apa maksud dari gurunya.


"Dayang, ambilkan kendi air minum ku di sebelah tempat tidur ku"


Seorang dayang segera beringsut mundur dan bergegas menuju tempat tidur Raja Airlangga.


Tak berapa lama, dayang itu kembali membawa sebuah kendi air minum dari tanah liat yang di bakar lalu menghaturkan kepada Prabu Airlangga


"Ini guru, terimalah"


Semua orang di Bangsal Siti Hinggil masih kebingungan dengan permintaan dari Maharesi Mpu Barada


Mpu Barada segera menerima kendi air minum itu dan menyimpan nya


"Kapan Guru Resi Mpu Barada menentukan batas nya?" tanya Prabu Airlangga


Mpu Barada memejamkan mata sejenak


lalu berkata


"Anggarakasih pada Wuku depan Gusti Prabu"


"Dengarkan titahku,


Mulai hari ini aku akan membangun sebuah tempat memuja Wisnu di kaki gunung Penanggungan",


"Dang Acarya ring Kasaiwan, kau kutugaskan membangun pertapaan itu",


"Waktu mu 6 purnama dari sekarang". titah sang Prabu Airlangga


"Hamba siap melaksanakan titah Gusti Prabu"


Dang Acarya ring Kasaiwan membungkuk hormat


"Mapanji Garasakan,


kau ku angkat menjadi putra mahkota kerajaan Kahuripan timur. Istana lama di Kahuripan akan menjadi tempat tinggal mu. Setelah aku mengundurkan diri dari kedudukan ku, maka kau akan langsung menjadi raja Kahuripan timur".


Mapanji Garasakan tersenyum senang mendengar titah Ayahanda nya


"Titah Ayahanda Prabu Airlangga akan Mapanji laksanakan"


"Samara Wijaya,


kau kuangkat menjadi putra mahkota kerajaan Kahuripan barat. Istana Dahanapura ini, akan menjadi istana mu setelah aku mengundurkan diri. Selanjutnya kau akan menjadi raja Kahuripan barat".


Samara Wijaya menghela nafas panjang kemudian berkata "Titah Ayahanda Prabu Airlangga, akan Samara Wijaya patuhi"


"Mulai hari ini, pisowanan agung akan di bagi dua.


Lamajang, Ujung Galuh, Dinoyo, Kanjuruhan akan melakukan pisowanan agung ke Keraton Kahuripan. termasuk bupati Pamotan dan Kapulungan


Seloageng, Wengker, Anjuk Ladang, Karanganom, Tanggulangin tetap melaksanakan pisowanan agung di Dahanapura. Bupati Gelang-gelang dan Saradan juga ikut pisowanan agung di Dahanapura. Apa semua mengerti?" Prabu Airlangga memandang seluruh pembesar istana


"Kami mengerti Gusti Prabu" sahut semua pembesar istana kompak

__ADS_1


Hari itu, secara terbuka Kahuripan bersiap membelah diri menjadi dua bagian yaitu Kahuripan timur atau di sebut juga Kerajaan Jenggala dan Kahuripan barat atau di sebut juga Kerajaan Panjalu


**


Sementara itu di Padepokan Padas Putih


Sudah hampir sepekan Panji Watugunung meninggalkan Padepokan Padas Putih


Ratna Pitaloka masih termenung memandang kearah pintu gerbang Padepokan


Tatapan matanya kosong


Di dalam benaknya, bayangan Panji Watugunung masih menari nari


Sejenak pun tak bisa lepas


'Kakang Watugunung, kau sedang apa?


Pitaloka merindukan mu kakang'


Sekar Mayang berjalan mendekati Ratna Pitaloka


"Kangmbok Pitaloka, sedang apa"


Tak ada jawaban


"Kangmbok?"


Tetap Ratna Pitaloka membisu tak menjawab


"Kangmbok Pitaloka!!!!!"


teriak Sekar Mayang dengan suara keras


Ratna Pitaloka tersadar dari lamunannya,


seketika mendelik ke Sekar Mayang


"Ada apa teriak teriak? Kamu pikir aku budeg ya?"


"Lha dari tadi di panggil berulang kali tetap saja diam" ucap Sekar Mayang


Lagi melamunkan apa Kangmbok?", lirik Sekar Mayang menyelidik


"Ah tidak, aku aku hanya..." Ratna Pitaloka tergagap


"Hanya apa Kangmbok??


Hanya memikirkan Kakang Watugunung ya?"


sergah Sekar Mayang


Wajah Ratna Pitaloka pias


Tak tau harus berkata apa


"Bukan Kangmbok Pitaloka saja yang kangen Kakang Watugunung, aku juga sangat merindukan nya", Sekar Mayang menggumam sambil memandang kearah pepohonan hutan hijau di barat Padepokan Padas Putih


"Pasti putri istana licik itu sekarang berduaan dengan Kakang Watugunung,


Ahhh brengsek...


Aku kesal sekali membayangkan itu terjadi"


Ratna Pitaloka terhenyak mendengar itu, kata kata Sekar Mayang seolah terjadi di depan matanya.


Wajah Ratna Pitaloka kusut


"Kenapa dengan mu Sekar?,


Kenapa kau kesal sekali pada putri istana licik itu??" tanya Ratna Pitaloka lirih sambil menatap kearah halaman Padepokan


Pelan suara Sekar Mayang namun terdengar jelas di telinga Ratna Pitaloka

__ADS_1


"Karna aku juga mencintainya"


*bersambung*


__ADS_2