Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Centeng


__ADS_3

Seluruh Pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing mendengar ucapan sang pemimpin tertinggi.


Panji Watugunung segera menoleh ke arah Senopati Mpu Yudhana yang masih terduduk dengan muka pucat.


"Senopati Karang Anom,


Sebaiknya kau beristirahat di sini dulu. Obati dulu luka dalam mu, agar tidak semakin parah", ujar Panji Watugunung segera.


Mpu Yudhana hanya mengangguk mengerti.


"Aku minta 2 orang prajurit Karang Anom menjadi caraka ke pemukiman Gagak Merah.


Siapa dari kalian yang bersedia memandu?", tanya Panji Watugunung sambil menatap ke arah para prajurit Kadipaten Karang Anom.


Dua orang prajurit bertubuh tegap segera maju ke depan Panji Watugunung.


"Ijinkan kami menjadi cucuk langkah, Gusti Pangeran", ujar mereka sambil menyembah pada Panji Watugunung.


Hemmmm


"Bagus kalau begitu.


Sekarang ayo kita berangkat", perintah Panji Watugunung yang segera membuat mereka menepuk bahu kuda mereka menuju ke arah pemukiman Gagak Merah.


Seorang lelaki bertubuh tegap terus melesat cepat kearah pemukiman Gagak Merah. Ada raut ketakutan pada wajah pria itu.


Setelah melewati gerbang pemukiman, dia terus berlari menuju ke rumah besar yang ada di tengah pemukiman itu.


"Rara Murni,


Rara Murniii", teriak lelaki itu dengan keras.


Putri Gagak Merah itu segera mendekati sumber suara yang berasal dari serambi depan kediaman Rambusoka.


"Kenapa siang hari bolong begini kau berteriak keras disini, Manggar?


Kau pikir aku budek apa?", hardik Rara Murni dengan nada ketus.


"Celaka Rara Murni celaka.


Gagak Merah sudah di bunuh orang orang Kadipaten Karang Anom", ujar lelaki yang dipanggil Manggar itu dengan cepat.


Bagai disambar petir di tengah hari, Rara Murni kaget bukan main mendengar ucapan si Manggar.


"Apa katamu?


Bopo ku sudah di bunuh?? Tidak, tidak mungkin Manggar. Romo ku orang sakti mandraguna.


Tidak mungkin orang orang Kadipaten Karang Anom bisa membunuhnya dengan mudah.


Kau pasti bohong Manggar, kau pasti bohong pada ku", teriak Rara Murni dengan keras.


"Buat apa aku menipu mu, Murni?


Gagak Merah sudah dibantai oleh seorang pendekar muda yang memimpin pasukan Karang Anom. Dia tadi sempat meminta ayah mu melepaskan Ganajaya, tapi ayah mu menolak.


Akhirnya mereka bertarung dan ayah mu tewas di tangan pendekar muda itu", ujar Manggar dengan penuh perasaan haru. Dia sendiri serasa tak percaya bahwa pemimpin Gerombolan Gagak Merah harus tewas mengenaskan.


Rara Murni menatap wajah serius Manggar. Di wajah pria itu sama sekali tidak ada raut kebohongan. Perlahan air mata Rara Murni jatuh dan membasahi pipinya. Semakin lama semakin deras.


"Murni,


Sudah waktunya untuk pergi. Simpan kesedihan mu untuk nanti. Mereka sebentar lagi akan segera tiba. Ayo cepat!", teriak Manggar sambil menarik tangan Rara Murni.


"Bagaimana dengan Kakang Ganajaya, Nggar?


Kita harus membawanya", Rara Murni menatap wajah Manggar.


"Tapi Murni,


Membawa Ganajaya hanya akan memperlambat perjalanan kita", Manggar mengingatkan Rara Murni.


"Aku tidak peduli!


Kita tetap akan membawanya. Bopo ku mati hanya demi mempertahankan dia. Dia harus bertanggung jawab", Rara Murni bersikeras untuk membawa Ganajaya.


Perempuan itu segera masuk ke ruang tahanan Ganajaya. Dengan terburu-buru, dia membuka pintu tahanan dan segera melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Ganajaya.


Putra Akuwu Jungbiru itu benar benar mengenaskan. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka lebam dan memar akibat hantaman kayu dan tangan Rara Murni. Bibir nya pun bengkak dan 2 gigi nya tanggal.


"Mau kau bawa kemana aku?", tanya Ganajaya dengan suara lirih.


"Tutup mulut mu!


Kau harus ikut bersama ku", ujar Rara Murni sambil memapah tubuh Ganajaya yang lemah di bantu Manggar. Putra Akuwu Jungbiru itu hanya bisa pasrah saja.


Dari arah Utara, terdengar derap langkah kaki kuda yang terdengar semakin jelas mendekat ke arah pemukiman mereka. Wajah Manggar pucat seketika.


"Celaka!


Mereka sudah datang kesini Murni. Kita lewat jalan samping saja", ucap Manggar yang langsung merubah arah perjalanan mereka menuju pintu samping pagar pemukiman mereka.


Dengan terburu-buru, mereka segera menuju kesana.


Dengan cepat, Manggar segera menutup pintu samping pagar pemukiman dari luar. Tiga orang itu setengah berlari melintasi jalan setapak yang memang disiapkan untuk melarikan diri jika ada penyerbuan terhadap pemukiman Gagak Merah.


Rombongan Panji Watugunung segera memasuki pintu gerbang pemukiman Gagak Merah.


Suasana begitu lengang. Dengan tidak mengurangi kewaspadaan terhadap sergapan yang mungkin terjadi, mereka memasuki pemukiman itu dengan perlahan.


Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi anak buah Gagak Merah yang tersisa di tempat itu, mereka mulai memeriksa keadaan di sekitar mereka.


"Temukan Ganajaya!


Periksa setiap sudut pemukiman ini, jangan ada yang terlewati", perintah Panji Watugunung pada prajurit Pasukan Garuda Panjalu sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", 19 prajurit pasukan Garuda Panjalu segera menghormat pada Panji Watugunung dan menyebar di seluruh tempat itu.


Mereka memeriksa setiap sudut tempat itu dengan seksama. Di dalam rumah besar yang merupakan kediaman Gagak Merah mereka menemukan bekas bekas penganiayaan yang dilakukan, juga sebuah sumping telinga yang terbuat dari perak.

__ADS_1


Mereka segera menyerahkan itu pada Panji Watugunung.


Hemmmm


"Ini pasti sumping telinga Ganajaya.


Cari terus mereka di setiap sudut tempat ini. Perhatikan jika ada hal hal yang mencurigakan. Periksa juga kemungkinan tempat bawah tanah", ujar Panji Watugunung segera. Warigalit dan Warigagung ikut memeriksa setiap sudut kediaman Gagak Merah.


Namun hasilnya nihil.


Seorang prajurit memeriksa pagar, menemukan sebuah pintu yang tersamar di antara pagar pemukiman yang terbuat dari kayu gelondongan.


"Gusti Senopati,


Ada pintu disini", teriak sang prajurit pada Warigalit yang segera bergegas menuju ke arah nya.


Warigalit mencoba untuk mendorong nya namun tidak bisa.


"Ini dikunci dari luar.


Pasti ada yang sengaja mengunci nya. Minggir kalian", ujar Warigalit pada dua prajurit Pasukan Garuda Panjalu yang ada di dekat pintu samping pagar pemukiman.


Warigalit segera memusatkan tenaga dalam nya pada tangan kanannya, kemudian dengan cepat dia menghantam pintu samping pagar.


Blarrrr!!!


Terdengar suara ledakan keras yang membuat Panji Watugunung dan ketiga istrinya juga Jarasanda dan Warigagung menoleh ke arah Warigalit.


Pintu samping pagar pemukiman langsung hancur berantakan.


Terlihat sebuah jalan setapak yang sedikit mengitari tempat itu yang terlindung oleh rimbun pepohonan dan semak belukar.


"Rupanya ada yang kabur membawa Ganajaya lewat jalan itu.


Kakang Warigalit, Jarasanda,


Bawa 10 orang prajurit untuk mengejar mereka dengan jalan kaki. Kuda tidak bisa lewat di jalan itu. Yang lain ikut aku kembali ke tempat Senopati Mpu Yudhana.


Cepat!", ujar Panji Watugunung segera.


Warigalit, Jarasanda dan 10 orang prajurit Pasukan Garuda Panjalu segera menghormat pada Panji Watugunung dan langsung berlari


mengikuti jalan setapak rahasia itu.


Sementara itu, Panji Watugunung dan ketiga istrinya serta Warigagung juga 9 prajurit Pasukan Garuda Panjalu serta dua pemandu jalan dari prajurit Karang Anom kembali ke tempat mereka meninggalkan Mpu Yudhana.


Warigalit dan Jarasanda dengan cepat melintasi jalan setapak itu dengan diikuti oleh 10 orang prajurit yang mengiringinya.


Rara Murni dan Manggar terus berlari menembus jalan setapak yang ada di antara semak belukar berduri di timur Rawa Mas sembari memapah Ganajaya. Meski kaki mereka telah banyak berdarah akibat tersangkut duri tajam, namun mereka tetap saja berusaha untuk berlari.


"Tahan sebentar Murni,


Sebentar lagi kita sampai di tempat anak buah Nyi Lampet", ujar Manggar yang melihat nafas Rara Murni ngos-ngosan karena berlari terus menerus.


Di depan mereka ada sebuah pondok kayu yang ada di tepi hutan Kaliwungu.


5 orang berbaju hitam yang sedang duduk duduk di dipan kayu, segera meloncat dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Rara Murni dan Manggar.


Ayo cepat", ujar Manggar yang segera di balas anggukan kepala dari 5 orang berbaju hitam itu.


Dengan di bantu oleh 5 orang itu, Rara Murni dan Manggar serta Ganajaya segera dinaikkan ke atas kuda.


Gerakan cepat Warigalit dan Jarasanda ternyata mampu mengejar langkah Rara Murni. Dari kejauhan terlihat Rara Murni dengan bantuan beberapa orang, mulai menaiki kuda.


"Itu mereka!


Jangan sampai lolos", teriak Jarasanda pada para prajurit Garuda Panjalu segera.


Melihat itu, Manggar segera menggebrak kudanya diikuti Rara Murni yang berkuda bersama Ganajaya.


Kuda mereka langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Lima orang berbaju hitam itu segera mencabut pedangnya dan tanpa banyak bicara langsung menyerang Warigalit dan Jarasanda.


Sreeeetttt


Sebuah sabetan pedang mengincar leher Warigalit yang baru saja sampai ke tempat itu.


Senopati Kadiri itu segera menundukkan kepalanya menghindari sabetan pedang dan segera berkelit ke samping.


Melihat serangan nya berhasil di hindari, si penyerang segera memutar tubuhnya dan kembali menyerang Warigalit dengan sabetan pedang ke arah dada.


Warigalit dengan tenang menekuk lutut.


Sabetan pedang hanya menyambar angin kosong diatas kepala Warigalit. Saat si penyerang hendak mengayunkan pedangnya lagi, sebuah hantaman tangan yang menimpa perut melemparnya ke arah belakang.


Deshhhh


Si penyerang berbaju hitam itu menjerit saat tubuhnya menghantam tanah dengan keras.


Saat dia hendak bangkit lagi, sebuah pedang sudah ada di depan batang tenggorokan nya.


"Maju selangkah, hilang nyawamu keparat!", teriak seorang prajurit Pasukan Garuda Panjalu dengan mata melotot pada si penyerang.


Si penyerang berbaju hitam itu langsung diam tak bergerak. Empat kawan nya pun mengalami nasib yang sama. Para prajurit Pasukan Garuda Panjalu menghajar mereka. Mereka di kumpulkan di satu tempat.


Jarasanda mendekati mereka dan menarik kerah baju salah satu diantaranya penyerang berbaju hitam itu sambil menampar pipi nya.


Plakkkkk


Sebuah gigi si penyerang langsung tanggal terkena tamparan keras dari Jarasanda. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Aku hanya bertanya sekali. Jawab dengan benar, jika tidak aku tidak akan segan-segan untuk mengirim kau ke neraka.


Kemana mereka pergi?", ujar Jarasanda dengan mendelik tajam ke arah orang yang baru di tamparnya.


Si lelaki berbaju hitam itu menatap ke temannya yang ada di dekat nya, si teman yang bengkak wajah nya itu perlahan mengangguk.


"Mereka pergi ke tempat Nyi Lampet, perwira", ujar si lelaki berbaju hitam itu dengan tatapan ketakutan.

__ADS_1


"Nyi Lampet?


Tunggu..


Bukankah itu nama istri Patih Sengguruh yang tempo hari kabur dari Kepatihan?", tanya Warigalit yang segera menatap wajah si lelaki berbaju hitam.


"Be-benar Perwira,


Dia adalah bekas istri Patih Sengguruh. Kami semua adalah anak buah nya", si lelaki berbaju hitam itu bergidik ngeri melihat tatapan mata Warigalit yang menakutkan.


Hemmmm


"Lalu dimana tempat Nyi Lampet? Katakan secepatnya, aku tidak punya banyak waktu", tanya Warigalit segera.


"A-ada di pinggiran Utara kota Kadipaten Karang Anom, Gusti Perwira", jawab si lelaki berbaju hitam itu dengan takut.


Mendengar jawaban itu, Warigalit segera menoleh ke arah tiga ekor kuda yang tertambat tak jauh dari tempatnya.


Warigalit, Jarasanda dan seorang prajurit segera melompat ke atas kuda, dan dengan tangan terikat tali, 5 anak buah Nyi Lampet di giring ke Kota Pakuwon Gempol untuk di penjarakan. Salah seorang dari mereka, di bawa ke kota Kadipaten Karang Anom untuk menunjukkan tempat persembunyian Rara Murni dan Manggar yang ada di dekat tempat pelacuran Nyi Lampet.


Begitu sampai di kota Kadipaten Karang Anom, Jarasanda segera menghubungi Panji Watugunung yang sudah menunggu kedatangan nya.


Usai mendapatkan laporan dari Jarasanda, dengan dikawal 200 prajurit Kadipaten Karang Anom, Panji Watugunung dan ketiga istrinya juga Warigagung bergerak menuju tempat Nyi Lampet. Setelah itu Warigalit dan 9 prajurit Pasukan Garuda Panjalu bergabung bersama mereka.


Kedatangan mereka membuat kehebohan di tempat pelacuran yang di kelola Nyi Lampet.


Para centeng pelacuran Nyi Lampet yang sedang berpesta arak, langsung menghadang mereka.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian.


Cepat minggir!


Aku ingin bertemu dengan Nyi Lampet", teriak Warigalit yang berada di depan pasukan Karang Anom.


"Maaf Gusti Perwira,


Disini tidak ada yang bernama Nyi Lampet. Kau salah tempat. Disini hanya ada orang yang sedang bersenang-senang", ujar seorang centeng bermuka seram dengan kumis tebal nya.


Jarasanda segera menggelandang orang berbaju hitam yang dibawanya dari pinggir Hutan Kaliwungu tadi. Segera dia melempar lelaki itu ke hadapan centeng bermuka seram.


Brukkkk


"Katakan dimana tempat Nyi Lampet?", tanya Jarasanda sambil mendelik tajam ke arah centeng bermuka seram.


"Nyi Nyi Lampet ada di belakang Gusti Perwira,


Dia ada di bangunan belakang rumah besar ini", jawab si lelaki berbaju hitam yang di ikat tangan nya itu segera.


"Dasar pengkhianat!", teriak centeng bermuka seram itu sambil melayangkan tendangan keras kearah dagu si lelaki berbaju hitam.


Deshhhh


Si lelaki berbaju hitam itu meraung keras dan terpental sejauh 3 langkah kebelakang. Dia pingsan seketika.


Warigalit langsung menatap tajam ke arah centeng bermuka seram.


"Sekarang kau mau berkelit bagaimana lagi?


Sekarang, panggil Nyi Lampet sekarang sebelum kami bertindak lebih jauh", ujar Warigalit pada centeng bermuka seram.


Lelaki itu segera menoleh kearah kawan-kawanya yang ada di belakangnya. Seorang lelaki bertubuh gempal mengangguk pada centeng bermuka seram.


Si centeng bermuka seram itu segera mencabut golok di pinggangnya. Dia menyeringai lebar.


"Sudah lama aku ingin menghabisi nyawa prajurit. Sekarang adalah waktunya.


Kawan-kawan,


Serang pasukan Karang Anom!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁

__ADS_1


Selamat membaca kak 🙏🙏🙏


__ADS_2