
"Apa kau bilang Kakang Warigalit?!
Ada pergerakan pemberontakan di Lwaram? Darimana kau dapat berita itu?", tanya Panji Watugunung segera.
Semua orang yang ada di tempat itu terkejut mendengar ucapan Senopati Warigalit.
"Menurut laporan para telik sandi, sekitar sepuluh ribu prajurit yang menggunakan pakaian khas Pakuwon Lwaram, membangun benteng pertahanan di sekitar kota Pakuwon Lwaram.
Menurut laporan, sebagian kecil dari mereka bukan berasal dari Tanah Jawadwipa. Ada logat bahasa asing seperti orang-orang Suwarnadwipa, Dhimas Prabu", lapor Senopati Warigalit sembari menghormat pada Panji Watugunung.
"10 ribu prajurit?
Lwaram hanya Pakuwon kecil yang bahkan penduduk nya tak lebih dari 10 ribu orang. Darimana mereka bisa memiliki 10 ribu prajurit dalam waktu sesingkat ini?", Panji Watugunung mengelus dagunya. Ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiran Raja Panjalu itu.
"Menurut surat yang di kirim oleh Adipati Maitreya dari Matahun, belakangan ini ada pergerakan orang mencurigakan dari arah Jenggala.
Mereka dalam jumlah 500 sampai seribu orang melintas di wilayah Kadipaten Matahun. Para prajurit Kadipaten Matahun tidak bisa menahan mereka karena mereka tidak membawa senjata maupun perlengkapan perang", ujar Senopati Warigalit sembari menghormat pada Panji Watugunung.
"Sepertinya, Maharaja Jenggala memang tidak ingin terang-terangan menyatakan perang terbuka melawan mu, Nakmas Prabu Jayengrana.
Ini pasti di atur oleh oleh Akuwu Lwaram agar bantuan dari pemerintah Jenggala bisa dengan mudah memasuki wilayah Kadipaten Matahun", sahut Adipati Warok Suragati sambil mengusap jenggotnya yang mulai memutih.
"Siasat licik!
Orang orang Jenggala ini memang tidak pernah kapok merongrong wilayah Panjalu. Aku siap membantu mu menumpas mereka Nakmas Prabu", ujar Warok Surajaya sambil menghormat pada Panji Watugunung segera.
Hemmmmmmm..
"Walaupun demikian, kita juga tidak bisa menyerbu ke arah Kahuripan tanpa bukti yang kuat. Lagipula aku masih terikat perjanjian dengan Bibi Dewi Kilisuci untuk tidak berperang melawan Jenggala, Paman..
Baiklah,
Yang namanya tindakan makar terhadap pemerintahan yang sah, tidak perlu aku ampuni.
Kakang Warigalit,
Besok kita kembali ke Kadiri. Para anggota pasukan mu biarkan beristirahat sejenak", titah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Dhimas Prabu", ujar Senopati Warigalit sembari menghormat pada Sang Maharaja Panjalu.
"Bagaimana Nakmas Prabu Jayengrana? Apa aku diijinkan untuk membantu Nakmas Prabu menghabisi para pemberontak ini?", tanya Warok Surajaya sambil tersenyum simpul. Dia berharap agar Panji Watugunung sedikit mau menerima bantuan tenaga darinya.
"Bukan aku tidak menghargai keinginan Paman Surajaya untuk membantu ku, tapi sebaiknya Paman pulang ke Kabupaten Pacitan untuk menata alur pemerintahan yang baru.
Sebagai wilayah yang baru saja mendapat hak pemerintahan sendiri, Paman harus cepat merubah tampilan dan tata kerja pemerintahan Kabupaten Pacitan agar sejajar dengan wilayah Panjalu yang lain.
Aku harap Paman mengerti apa yang aku maksudkan", Panji Watugunung menatap wajah Warok Surajaya.
"Aku mengerti dengan maksud mu Nakmas Prabu Jayengrana.
Mewakili seluruh rakyat Kabupaten Pacitan, kami berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada Nakmas Prabu atas dukungannya terhadap keinginan rakyat. Dan aku berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar Nakmas Prabu senantiasa mampu menjaga keutuhan wilayah Panjalu dari rongrongan yang menginginkan kekuasaan berdasarkan kepentingan pribadi mereka", ujar Warok Surajaya sambil menghormat pada sang mantu keponakan nya.
Panji Watugunung mengangguk mengerti.
Malam itu seluruh prajurit Daha yang dipimpin oleh Senopati Warigalit bermalam di wilayah Wanua Pulung sesuai perintah dari Panji Watugunung.
Keesokan paginya nya, rombongan Panji Watugunung dan kedua istrinya meninggalkan rumah Warok Surapati untuk kembali ke Kadiri.
Nyi Ratih tak henti hentinya meneteskan air mata melihat putri bungsu nya berkuda di samping Sang Maharaja Panjalu.
"Kau kenapa Nyi?", tanya Warok Surapati sambil menoleh ke arah istrinya itu.
"Putri ku sudah bukan milik ku lagi Kakang. Dia sudah memiliki kehidupan nya sendiri", jawab Nyi Ratih sambil menyeka air matanya yang menetes.
"Itu sudah kodrat manusia, Nyi. Kewajiban kita adalah mendidik dan membesarkan nya. Saat dia dewasa, dia akan memilih jalan hidup nya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa berdoa, semoga putri kita akan selalu berbahagia", nasehat Warok Surapati sembari menatap pasukan Panjalu yang perlahan mulai menghilang dari pandangan.
Pasukan Panjalu bergerak cepat menuju ke arah Kota Kadiri. Setelah melintasi perbatasan antara Kadipaten Wengker dan Tanggulangin, mereka terus bergerak menuju ke timur. Pada senja mulai turun, mereka sampai di wilayah Kadipaten Karang Anom. Panji Watugunung memutuskan untuk bermalam di kota Pakuwon Teluk Agung sebelum menyeberangi Sungai Brantas.
Akuwu Teluk Agung, Mpu Gendrowahono menerima kedatangan mereka dengan penuh suka cita.
Pagi menjelang tiba di wilayah Pakuwon Teluk Agung. Sinar matahari pagi perlahan mulai menerobos celah celah awan yang menghiasi langit timur dengan warna kelabu.
Panji Watugunung menggeliat bangun dari tempat tidur nya. Mata Raja Panjalu itu mengerjap melihat keadaan sekelilingnya. Tangan kanan Cempluk Rara Sunti masih melingkar di perut Panji Watugunung. Ranjang tidur mereka berantakan akibat pertarungan mereka merengkuh kenikmatan surgawi bersama.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh..
Pintu kamar tidur terbuka dan Dewi Srimpi masuk sembari membawa nampan yang berisi gendok tanah liat. Selir ketiga Panji Watugunung itu tak pernah sekalipun melupakan kewajibannya sebagai istri.
"Kau sudah bangun, Denmas Prabu?", tanya Dewi Srimpi sambil tersenyum manis.
"Sudah Dinda Srimpi..
__ADS_1
Kau ini tetap saja tidak berubah. Kau itu bukan pelayan ku lagi Dinda, kenapa harus repot setiap pagi seperti ini?", ujar Panji Watugunung sembari beranjak dari tempat tidur nya setelah memindahkan tangan Cempluk Rara Sunti.
"Sudah kewajiban ku Denmas Prabu..
Biarkan aku tetap melayani mu seperti dulu. Denmas Prabu adalah belahan jiwa ku, merawat Denmas Prabu Jayengrana rasanya seperti merawat diriku sendiri", jawab Dewi Srimpi meletakkan gendok tanah liat berisi air hangat dan daun sirih itu keatas meja.
Mendengar jawaban itu Panji Watugunung yang sedang mencuci muka, segera memeluk tubuh Dewi Srimpi dari belakang. Dewi Srimpi nyaris berteriak karena kaget dengan ulah suaminya itu, namun Panji Watugunung dengan cepat membungkam mulutnya dengan tangan kiri nya.
"Sssssttttttttt...
Jangan berisik Dinda Srimpi. Nanti Cempluk Rara Sunti bangun", bisik Panji Watugunung yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Dewi Srimpi.
"Denmas Prabu mau apa? Jangan macam-macam deh", balas Dewi Srimpi setengah berbisik pada Panji Watugunung. Raja Panjalu itu tak menjawab tapi langsung memutar tubuh Dewi Srimpi dengan cepat.
Tanpa basa-basi, Panji Watugunung segera mencium bibir mungil Dewi Srimpi. Putri Mpu Kerta itu mulanya menolak cumbuan Panji Watugunung karena khawatir Cempluk Rara Sunti bangun. Namun lama kelamaan dia terhanyut oleh sentuhan lembut Sang Maharaja Panjalu.
Pagi itu mereka memadu cinta di samping tempat tidur Cempluk Rara Sunti.
Selepas menyelesaikan hasrat mereka, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera menuju ke arah tempat mandi yang ada di belakang tempat peristirahatan mereka.
Usai menerima jamuan sarapan pagi dari Akuwu Teluk Agung, pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung segera berangkat menuju ke arah dermaga penyeberangan. Sedikit demi sedikit, para prajurit Panjalu berpindah dari wilayah Karang Anom ke wilayah Gelang-gelang.
Selepas mereka berkumpul bersama, Senopati Warigalit memimpin mereka bergerak menuju ke arah Istana Katang-katang di Kadiri. Melewati wilayah kota Kabupaten Gelang-gelang, mereka terus bergerak menuju ke arah Utara.
Saat rombongan Panji Watugunung sampai di istana Katang-katang, hari telah menjelang sore. Sebentar lagi senja akan turun di wilayah Kota Kadiri.
Begitu memasuki Istana Katang-katang, Panji Watugunung segera memerintahkan kepada Patih Saketi untuk memanggil seluruh pejabat Istana Katang-katang dan beberapa perwira tinggi prajurit Panjalu untuk datang ke ruang pribadi Raja.
Satu persatu pejabat Istana Katang-katang mulai hadir di ruang pribadi Raja. Mapatih Jayakerti, Senopati Warigalit, Senopati Narapraja, Patih Saketi, Senopati Tunggul Arga, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung, Tumenggung Sindupraja juga Demung Gumbreg dan Demung Rajegwesi sudah duduk bersila dengan rapi di ruang pribadi Raja.
Panji Watugunung yang sudah berganti pakaian nya dengan pakaian kebesaran ala Raja Panjalu datang ke tempat itu. Usai Panji Watugunung duduk di kursi nya, para pejabat dan perwira tinggi prajurit Panjalu segera menyembah pada Panji Watugunung.
"Sembah bakti kami kepada Gusti Prabu Jayengrana", ucap mereka bersamaan.
"Sembah bakti kalian aku terima", Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya.
"Langsung saja,
Aku ingin mendengar laporan dari kalian semua tentang berita yang disampaikan oleh Kakang Warigalit mengenai pemberontakan yang di lakukan oleh Akuwu Lwaram", imbuh Panji Watugunung segera.
Semua pejabat dan perwira tinggi prajurit Panjalu satu persatu mulai melaporkan berita yang mereka dengar dari para telik sandi maupun dari pedagang lintas daerah. Inti laporan mereka sama, yakni adanya pergerakan mencurigakan yang terjadi di Pakuwon Lwaram bahkan sampai adanya benteng pertahanan yang mengelilingi kota Lwaram dari kayu-kayu besar.
"Mohon ampun Gusti Prabu jika hamba lancang sebelumnya.
"Tidak apa-apa Paman Jayakerti, itu memang tugas mu sebagai warangka praja Panjalu.
Upaya Lwaram ini tidak mungkin kita biarkan begitu saja. Setiap upaya untuk makar terhadap Kerajaan Panjalu akan aku tindak tegas.
Senopati Tunggul Arga,
Kau bawa 2 ribu prajurit untuk berangkat ke Lwaram lewat Anjuk Ladang bersama Tumenggung Sindupraja. Minta Adipati Gunawarman untuk membantu kita dengan prajurit Kadipaten Anjuk Ladang.
Apa kau mengerti?", Panji Watugunung menatap ke arah Senopati Tunggul Arga.
"Tunggul Arga siap menjalankan perintah Gusti Prabu Jayengrana", jawab Senopati Tunggul Arga sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Paman Mapatih Jayakerti dan Paman Saketi,
Kalian berdua aku minta meningkatkan kewaspadaan terhadap segala sesuatu yang mungkin terjadi di wilayah Kota Kadiri. Tangkap semua orang yang mencurigakan, jika melawan beri hukuman mati.
Jarasanda, Tumenggung Ludaka..
Persiapkan pasukan kalian untuk bergerak lebih dulu untuk mengamati situasi di sekitar Lwaram. Jangan bergerak sendiri tanpa aba-aba dari ku.
Kakang Warigalit dan Senopati Narapraja,
Persiapkan para prajurit Panjalu untuk bersiap berangkat menggempur pertahanan para pemberontak ini. Kita akan menggempur Lwaram dengan kekuatan penuh.
Apa kalian sudah mengerti dengan tugas kalian masing-masing?", Panji Watugunung segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar para pejabat dan perwira tinggi prajurit Panjalu bersamaan.
Keesokan harinya, para prajurit Panjalu mulai bergerak menuju Pakuwon Lwaram sesuai dengan arahan Panji Watugunung.
Sang Raja Panjalu tengah bersiap untuk berangkat menuju ke medan tempur. Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh terus membantu persiapan sang suami dengan menyiapkan pakaian kebesaran nya.
"Sampai kapan kita akan terus terpisah seperti ini Kangmas Prabu?", tanya Dewi Anggarawati sambil mengikat tali yang mengikat sabuk Panji Watugunung.
"Sampai Panjalu benar-benar aman dari rongrongan orang-orang yang tidak ingin melihat kedamaian di kerajaan ini Dinda..
Kau tenang saja, selepas ini aku akan lebih banyak meluangkan waktu untuk kalian semua", jawab Panji Watugunung segera.
__ADS_1
"Kau harus pulang dengan selamat dan membawa kemenangan Kangmas Prabu..
Aku, Kangmbok Anggarawati, Naganingrum, Kangmbok Pitaloka dan Kangmbok Mayang menantikan kepulangan mu..
Ingatlah, putra-putra mu membutuhkan sosok ayah mereka untuk tumbuh dewasa", ujar Ayu Galuh dengan senyum manis nya.
"Aku berjanji Dinda", Panji Watugunung tersenyum lebar sembari menatap ke dua istri cantik nya itu.
Di temani oleh Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti, Panji Watugunung masuk ke dalam barisan pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Warigalit dan Senopati Narapraja. Mereka mengambil jalur ke Utara melewati Pakuwon Watugaluh.
Selepas sehari menyeberangi sungai Brantas, Pasukan Panjalu semakin bertambah banyak karena tambahan prajurit dari Kadipaten Matahun dan Bojonegoro. Mereka terus bergerak cepat menuju ke arah Utara. Usai menyeberangi Sungai Wulayu, Pasukan Panjalu bergerak menuju ke arah barat menyusuri jalan sepanjang tepian Sungai Wulayu untuk menuju ke arah Lwaram.
Sedangkan Pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Tunggul Arga dan Tumenggung Sindupraja yang bertugas mengepung, mendapat bantuan pasukan dari Anjuk Ladang dan Kurawan yang bergerak cepat dari sisi yang berlawanan dengan pasukan Panjalu pimpinan Panji Watugunung.
****
Di benteng pertahanan prajurit Lwaram yang terletak di tepi Sungai Wulayu, para prajurit sudah bersiap menyambut kedatangan para prajurit Panjalu karena mereka mengetahui tentang keberangkatan pasukan Panjalu di bawah pimpinan Panji Watugunung yang bergerak dalam jumlah besar. Seorang telik sandi telah memberitakannya perihal kedatangan mereka pada Dyah Wijayawarman dan Akuwu Wiryamukti.
Meski tidak menduga kalau tanggapan dari pihak Panjalu akan secepat ini, tapi mereka telah bersiaga sebaik mungkin.
"Gusti Pangeran Wijayawarman,
Sebaiknya kita juga mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu hal yang tidak kita harapkan", ujar Akuwu Wiryamukti sembari menghormat pada Dyah Wijayawarman.
"Apa maksud mu, Akuwu Wiryamukti? Jelaskan pada ku", tanya Dyah Wijayawarman segera.
"Hamba sudah menyiapkan puluhan perahu untuk meninggalkan tempat ini jika pasukan kita tidak mampu untuk bertahan menghadapi pasukan Panjalu.
Bukan hamba tidak percaya dengan kekuatan pasukan kita, tapi berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan adalah hal baik", ucap Akuwu Wiryamukti dengan membungkuk hormat kepada Dyah Wijayawarman.
Hemmmmmmm..
"Kau tenang saja, Akuwu Wiryamukti..
Orang orang yang aku bawa dari Sriwijaya bukan orang sembarangan. Mereka adalah para pesilat berilmu tinggi yang mampu mengalahkan sepasukan prajurit dengan mudah", Dyah Wijayawarman menyeringai lebar.
"Tapi Gusti Pangeran, para perwira tinggi prajurit Panjalu juga bukan orang yang bisa dianggap enteng.
Pasukan Jenggala saja mampu mereka taklukkan dengan mudah. Itu karena mereka berilmu tinggi", ucap Akuwu Wiryamukti mengingatkan. Mendengar ucapan itu, Dyah Wijayawarman tersenyum sinis ke arah Akuwu Lwaram itu segera.
"Kau jangan takut Akuwu Wiryamukti..
Orang-orang ku pasti bisa menghancurkan Pasukan Panjalu!", ujar Dyah Wijayawarman sambil mengepalkan tangannya.
Akuwu Wiryamukti tersenyum simpul mendengar omongan Dyah Wijayawarman yang penuh kepercayaan diri tinggi.
"Aku percaya dengan Gusti Pangeran"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk bersyukur agar lupa cara mengeluh.
Salam kompak dari author 🙏🙏😁😁