
Kalamaruta mendengus keras sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Kakek tua berpakaian jubah hitam compang camping itu segera bangkit dari tempat jatuhnya.
"Bangsat!
Aku belum kalah Jayengrana!", teriak Kalamaruta alias Demit Hitam dari Pesisir Selatan dengan lantang. Segera dia menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Tiba tiba saja angin dingin berhembus kencang. Dari tubuh Kalamaruta keluar asap hitam tebal. Keringat dingin sebesar biji kedelai perlahan muncul di kening keriputnya.
Dari kumpulan asap tebal muncul dua sosok yang berwujud menyerupai Kalamaruta dengan mata merah menyala. Usai kemunculan mereka Kalamaruta menyeringai lebar menatap wajah Panji Watugunung yang sedikit kaget dengan kemampuan kakek tua itu.
Itu adalah Ajian Sigar Penjalin, yang membuat pengguna Ajian itu mampu menciptakan wujud serupa dengan kemampuan tarung yang setara dengan sang pemakai ilmu hitam ini. Dengan Ajian ini nama Kalamaruta dikenal dengan julukan Demit Hitam dari Pesisir Selatan. Ajian yang mampu membunuh lawan tanpa harus bertarung secara langsung.
Dua mahluk itu menyerang Panji Watugunung dari dua sisi yang berbeda dengan sangat cepat. Kedua tangan kanan mahkluk ciptaan Ajian Sigar Penjalin berwarna merah menyala layaknya menggunakan Ajian Cadas Geni milik Kalamaruta.
Keduanya bersamaan menghantam dada Panji Watugunung dari depan dan belakang.
Blaaammm blllaaammmmmmmm!!
Dua ledakan beruntun terdengar dari dua pukulan dua mahkluk ciptaan Kalamaruta. Usai menyerang dua mahkluk aneh itu mundur seolah ingin melihat hasil serangan mereka.
Panji Watugunung yang belum sempat merapal Ajian Tameng Waja, hanya mampu menyilangkan kedua tangan di depan dada dan mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya untuk bertahan. Dada raja Panjalu itu sedikit sesak dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Meski tidak jauh, tapi Panji Watugunung terdorong mundur 2 tombak ke belakang.
Kalamaruta menggeram keras melihat itu semua. Selama ini tidak pernah ada seorang pendekar pun yang mampu menahan gempuran dua makhluk ciptaan Ajian Sigar Penjalin kecuali Warok Surapati walaupun ayah Cempluk Rara Sunti itu harus menderita luka dalam yang cukup serius. Dua mahkluk ciptaan nya langsung melesat cepat kearah Panji Watugunung dan kembali menyerang Raja Panjalu itu dengan hantaman bertubi-tubi.
Namun kali ini Panji Watugunung sudah kembali mengguncang Ajian Tameng Waja.
Whuuussshh whuuussshh whuuussshh..
Blammmmm blammmmm..
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Para prajurit Panjalu dan para penyergap pimpinan Akuwu Martayuda memilih mengambil jarak dari arena pertarungan sengit antara Panji Watugunung dan Kalamaruta. Takut mati konyol karena terkena serangan nyasar.
Panji Watugunung yang mendapat serangan bertubi-tubi dari dua mahkluk hitam itu terus bertahan dari gempuran mereka pun akhirnya menyadari sesuatu pada Ajian Sigar Penjalin milik Kalamaruta, tersenyum simpul lalu menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna biru terang pada Kalamaruta.
Whhhuuuggghhhh..
Sinar biru terang melayang cepat kearah Kalamaruta. Demit Hitam dari Pesisir Selatan itu terkejut bukan main melihat serangan Panji Watugunung yang meluncur deras kearahnya.
Satu makhluk hitam ciptaan Ajian Sigar Penjalin langsung menghadang sinar biru terang Ajian Brajamusti tepat di depan tubuh Kalamaruta.
Blllaaammmmmmmm!!!
Mahkluk hitam itu langsung hancur lebur menjadi debu akibat sinar biru terang Ajian Brajamusti yang memang bisa menghancurkan mahkluk jadi-jadian. Walaupun dirinya selamat, tapi kakek tua itu terdorong mundur sejauh 1 tombak ke belakang. Dia muntah darah kehitaman.
Huuueeeeeegggghhh...
Karena Ajian Sigar Penjalin bersatu dengan sukma Kalamaruta, maka setiap serangan dan luka yang dirasakan mahkluk itu akan dirasakan oleh sang pengguna Ajian itu.
Menggunakan Ajian Sepi Angin, Panji Watugunung segera melesat ke arah mahkluk ciptaan Ajian Sigar Penjalin dan langsung melayangkan tendangan keras kearah perut mahkluk itu.
Dhiiieeeessshh...
Makhluk hitam itu terpental jauh karena kecepatan tinggi Panji Watugunung nyaris tak terlihat oleh mata biasa.
Oouugghhhh!!!
Kalamaruta meraung keras. Perutnya seperti di timpa balok kayu berukuran besar. Meskipun bukan dia yang terpukul oleh serangan Panji Watugunung tapi rasa sakit tetap di rasakan oleh nya.
Setiap pukulan dan tendangan dari Panji Watugunung yang diterima makhluk hitam itu, membuat Kalamaruta merasakan sakit yang teramat sangat. Ajian Sigar Penjalin yang semestinya menjadi andalannya justru di jadikan alat oleh Panji Watugunung untuk menghajar Kalamaruta meski tidak secara langsung.
Usai melayangkan dengkulnya pada perut mahkluk ciptaan Ajian Sigar Penjalin, Panji Watugunung melompat mundur lalu menjejak tanah dengan keras. Tubuh Raja Panjalu itu melenting tinggi ke udara. Lalu dengan cepat, Panji Watugunung melesat turun sembari menghantamkan tangan kanannya yang berwarna biru terang Ajian Brajamusti ke arah dada si mahkluk hitam.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Mahkluk itu meledak dan hancur menjadi abu. Sedangkan Kalamaruta kembali muntah darah kehitaman.
Huuuuooogggghhh!!!
Luka dalam yang di derita Kalamaruta sudah sangat parah. Dari semua lobang tubuh nya darah telah mengalir. Dengan tenaga tersisa, kakek tua bertubuh kurus dengan pakaian hitam compang camping itu merapal Ajian Cakar Geni nya. Kuku jari memanjang dan seluruh telapak tangan nya bersinar kemerahan. Kalamaruta melesat cepat kearah Panji Watugunung sembari mengayunkan Ajian Cakar Geni nya.
Shrraaaakkkkhhhh...
Thhraaaangggggggg!
Kalamaruta lupa kalau Panji Watugunung memiliki Ajian Tameng Waja yang tidak mempan serangan senjata dan ilmu kedigdayaan. Cakar tangan kanannya seperti membentur logam yang keras.
Dengan kesal, Panji Watugunung yang tidak mau berlama-lama menghadapi Kalamaruta langsung menghantamkan tangan kiri nya yang dilambari Ajian Brajamusti ke arah perut Kalamaruta.
Blaaammm!!
Aaaarrrgggggghhhhh!
Kalamaruta terpelanting jauh ke belakang. Perutnya bolong tembus pinggang nya. Dia tewas bersimbah darah.
Usai melihat tewasnya Kalamaruta, Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti yang di keroyok oleh 4 pendekar golongan hitam yang bersenjatakan sabit panjang.
Dengan cepat Panji Watugunung hantamkan tangan kanannya kearah pengeroyok yang berniat membokong Cempluk Rara Sunti yang lengah.
Shiiiuuuuuuuuttttt...
Mereka merasakan bahaya mengancam langsung berguling ke tanah untuk menghindari sinar biru terang yang berhawa panas itu.
__ADS_1
Blllaaammmmmmmm!!
Panji Watugunung segera berdiri di samping Cempluk Rara Sunti. Putri Warok Surapati itu terengah-engah menata nafasnya.
"Kau tidak apa-apa Dinda Sunti?", tanya Panji Watugunung segera.
"Aku baik-baik saja Gusti Prabu. Terimakasih sudah membantu ku", jawab Rara Sunti sambil tersenyum tipis.
"Mari kita hadapi mereka bersama-sama", ujar Panji Watugunung yang mendapat anggukan kepala dari Cempluk Rara Sunti.
Panji Watugunung segera hantamkan tangan kanannya ke arah musuh. Dua orang lawan langsung melompat tinggi ke udara menghindari sinar biru terang yang menerabas cepat kearah mereka. Namun Cempluk Rara Sunti yang menggunakan Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan langsung melenting tinggi ke arah lawan dan menebaskan pedangnya kearah mereka. Perpaduan gerakan mereka menciptakan gabungan kemampuan beladiri yang menakutkan.
Di sisi lain, Iblis Mata Satu bertarung sengit melawan Senopati Warigalit. Sudah puluhan jurus berlalu namun dua orang itu nampaknya belum ada tanda tanda kelelahan.
Warigalit melesat cepat kearah Iblis Mata Satu sembari memutar gagang pendek Tombak Angin senjata andalannya. Angin dingin berseliweran mengikuti setiap putaran Tombak Angin.
Memakai jurus jurus dari Kitab Tombak Suci pemberian Mpu Sakri, dan menggabungkannya dengan Ajian Sepi Angin, Senopati Warigalit benar benar menunjukkan kelasnya sebagai pendekar pilih tanding.
Beberapa bagian baju Iblis Mata Satu telah robek terkena sambaran mata Tombak Angin yang tipis. Tokoh besar aliran hitam yang selama ini di takuti oleh para pendekar dunia persilatan harus jungkir balik menghindari keganasan serangan perwira tinggi prajurit Daha itu.
Satu hujaman Tombak Angin mengarah ke paha Iblis Mata Satu, membuat pria bertubuh gempal itu mencoba menghindar seraya menebaskan Golok Api senjata andalannya kearah kepala Warigalit.
Namun Senopati Panjalu itu dengan cepat merendahkan tubuhnya lalu memutar tubuhnya. Satu tendangan keras menghajar pinggang Iblis Mata Satu.
Dheesssshhh...
Oouugghhhh!
Iblis Mata Satu terhuyung huyung kesamping kanan nyaris terjatuh andai saja tidak cepat menjadikan Golok Api nya sebagai penyangga tubuhnya. Pendekar golongan hitam bermata satu mendengus keras.
Baru kali ini dia mendapat lawan tangguh seperti Senopati Warigalit.
Iblis Mata Satu langsung memompa tenaganya untuk melompat tinggi ke udara. Begitu di udara, dia memusatkan tenaga dalam nya ke lengan dan menyalurkannya pada Golok Api nya. Senjata itu langsung mengeluarkan api membara.
Dengan cepat Iblis Mata Satu meluncur turun ke arah Senopati Warigalit sembari membabatkan Golok Api ke kepala perwira tinggi prajurit Daha itu.
Hiyyyyaaaaaaaatttttt....
Dengan kecepatan tinggi, Senopati Warigalit melesat menjauh hingga tebasan Golok Api hanya menghajar tanah dengan keras.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Ledakan keras saat Golok Api menimpa tanah hingga menciptakan lobang besar di sana.
Melihat lawan berhasil menghindar, Iblis Mata Satu membuka tutup mata kirinya. Dari mata itu sebuah sinar kemerahan melesat cepat kearah Senopati Warigalit.
Shiiiuuuuuuuuttttt shiiiuuuuuuuuttttt..
Warigalit harus melompat kesana kemari untuk menghindari sinar mata kiri Iblis Mata Satu yang terus memburunya.
Ledakan demi ledakan keras terdengar saat sinar mata Iblis Mata Satu menghantam tanah, pohon dan tubuh anggota pasukan penyergap.
Melihat serangan Iblis Mata Satu yang terus memburunya, Senopati Warigalit terus bergerak lincah menghindari amukan sinar mata Iblis Mata Satu.
Saat Senopati Warigalit kerepotan melawan Iblis Mata Satu, suara gemuruh prajurit terdengar dari arah barat.
Awalnya pasukan penyergap di bawah pimpinan Akuwu Martayuda dan Sumantri unggul dalam pertarungan. Ratusan prajurit Panjalu tewas karena tingkat kepandaian ilmu beladiri mereka jauh di bawah para anggota pasukan penyergap.
Meskipun Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung, Tumenggung Sindupraja dan Demung Gumbreg sekuat tenaga menahan gempuran para penyergap yang merupakan para pendekar golongan hitam, namun mereka juga harus menghadapi Akuwu Martayuda, Sumantri, dan para pendekar sewaan yang rata-rata berilmu tinggi.
Para pucuk pimpinan prajurit Panjalu seperti Panji Watugunung, Senopati Warigalit, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti juga sibuk menghadapi lawan yang tangguh.
Namun kedatangan para prajurit Garuda Panjalu di bawah perintah Tumenggung Jarasanda dan Demung Rakai Sanga membuat semangat para prajurit Panjalu yang sempat menurun langsung membara kembali.
Senopati Warigalit terus berjumpalitan kesana kemari. Serangan sinar mata kiri Iblis Mata Satu sangat berbahaya. Namun Warigalit mulai menemukan bahwa serangan sinar mata kiri Iblis Mata Satu memiliki jeda waktu beberapa saat sebelum bisa menyerang kembali.
Segera dia menyambar sebuah tameng besi yang tergeletak di tanah. Dengan gerakan cepat tak beraturan, Senopati Warigalit mendekati Iblis Mata Satu lalu membuat gerakan sedekat mungkin dengan pendekar tua itu.
Keberanian Senopati Warigalit membuat Iblis Mata Satu terkejut. Sabetan Golok Api berhasil di hindari oleh Warigalit, lalu sinar mata kiri nya ditangkis dengan tameng besi.
Jlllaaaarrrrrr
Ledakan terdengar dan satu tusukan cepat Tombak Angin langsung menusuk mata kiri Iblis Mata Satu.
Chhreepppppph..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Raungan keras terdengar. Iblis Mata Satu kini benar benar kehilangan mata kirinya. Darah mengalir keluar dari luka pada mata pendekar golongan hitam itu.
Warigalit tidak membuang kesempatan. Tombak Angin dia lemparkan ke arah perut Iblis Mata Satu yang masih memegang mata kirinya yang berdarah.
Jleeeeppppph
Ougghhh oghh ohhhhh...
Lenguhan panjang terdengar dari mulut Iblis Mata Satu. Dia tewas dengan Tombak Angin menancap di perutnya.
Di sisi barat, Tumenggung Ludaka menghapus darah yang merembes dari luka dada kirinya. Mata pimpinan Pasukan Lowo Bengi itu menatap tajam ke arah Sumantri alias Pendekar Pedang Tunggal.
"Rupanya benar dugaan Gusti Pangeran Jayengrana.
Kalian akan berkumpul di tempat ini untuk menghadang kami. Sudah waktunya aku bersungguh sungguh menghadapi mu", ujar Tumenggung Ludaka sambil menyeringai lebar. Sumantri sedikit terkejut mendengar ucapan Ludaka. Namun pendekar aliran hitam itu tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Lagak mu seperti masih punya ilmu pamungkas saja, antek Daha..
Ayo keluarkan semuanya", tantang Sumantri sambil menepuk dadanya dengan sombong.
Tumenggung Ludaka segera merogoh bajunya dengan kedua tangannya. Saat tangan itu keluar masing-masing sela jari terdapat satu pisau kecil.
"Hehehehe..
Aku jarang menggunakan nya, tapi kali ini kau harus tersanjung karena ilmu yang aku pakai ini", senyum terkembang di bibir Tumenggung Ludaka.
"Hujan Pisau Dewa Kematian...
Hiyyyyaaaaaaaatttttt...!!!
Kedua tangan Ludaka mengibas kearah Sumantri. Delapan pisau kecil melesat cepat kearah Sumantri yang telah bersiaga penuh.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg shriingg!
Tumenggung Ludaka yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi meski masih di bawah Panji Watugunung dan Dewi Srimpi, langsung berlari mengelilingi Sumantri sambil terus melemparkan pisau pisau kecil hingga terlihat seperti hujan pisau berkecepatan tinggi dari segala penjuru kearah Sumantri.
Pendekar Pedang Tunggal terus memutar pedangnya untuk menangkis hujan pisau kecil yang nyaris tak ada habisnya menyerangnya.
Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg tringgg!!
Satu persatu luka akibat sayatan pisau kecil yang menggores kulit Sumantri mulai menghiasi seluruh tubuh nya. Juga beberapa yang menancap di beberapa bagian tubuhnya membuat gerakan Sumantri menjadi lambat.
Saat pisau kecil terakhir di lemparkan, Tumenggung Ludaka segera mencabut sepasang pedang pendek dari pinggang dan melesat cepat mencari pertahanan tubuh Sumantri yang paling lemah.
Saat menemukan nya, Tumenggung Ludaka segera mengayunkan pedang pendek nya kearah lengan kanan Sumantri yang sudah banyak mengeluarkan darah.
Chrraaasssshhh!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Sumantri menjerit keras saat tangan kanan nya terpisah dari badannya. Pendekar Pedang Tunggal itu dengan sempoyongan mencoba menjauh dari Ludaka.
Demung Gumbreg yang baru saja menghabisi nyawa seorang anggota pasukan penyergap, melihat Sumantri yang mendekati nya langsung menghantam kepala Sumantri dengan pentung sakti.
Prrraaaakkkkkkk!!!
Kepala Sumantri langsung pecah seketika. Cairan otak dan darah nya langsung berhamburan kemana-mana.
Tumenggung Ludaka segera mengacungkan jempol nya pada sahabat karibnya itu.
"Bagus Mbreg...
Ingat Dhek Jum menunggu di rumah", ujar Tumenggung Ludaka yang membuat Demung Gumbreg langsung tersenyum lebar.
"Benar Lu..
Kita tidak boleh membuang waktu untuk menghadapi sampah masyarakat seperti mereka. Ayo habisi semuanya", jawab Gumbreg sambil berlari menuju ke tengah pertempuran di tepi Hutan Soka.
Tumenggung Ludaka tak mau kalah langsung melompat menyusul Gumbreg yang menggebukan pentung saktinya kearah kepala para prajurit penyergap.
Di sisi selatan, Dewi Srimpi yang melawan Setan Betina dari Gunung Kapur tidak bisa membuat jarak dekat dengan perempuan berdandan menor itu.
Sekalipun jarum Racun Kelabang Neraka memang ampuh untuk jarak jauh, namun perempuan itu selalu bisa menghindarkan dirinya dengan kibasan angin bajunya. Nyi Sekar Selasih bahkan berulang kali mengancam nyawa Dewi Srimpi dengan Pecut Ekor Naga nya. Jika tidak memiliki Ajian Langkah Dewa Angin yang merupakan pengembangan dari Ajian Langkah Kelabang Sewu warisan ayahandanya mungkin Dewi Srimpi sudah tewas di ujung pecut yang memiliki besi bergerigi tajam itu.
"Hayo maju perempuan cantik..
Coba serang aku jika kau mampu hehehe", ujar Nyi Sekar Selasih sambil memutar Pecut Ekor Naga. Cambuk sepanjang dua tombak itu berputar-putar di sekeliling tubuh Nyi Sekar Selasih seperti membuat perisai yang melindungi perempuan berdandan menor itu.
Dewi Srimpi mendengus dingin. Selir ketiga Panji Watugunung itu segera mencabut Pedang Kelabang Neraka dari sarungnya.
"Kau terlalu jumawa".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 🙏😁😁🙏