
Dewi Naganingrum menggerakkan jemari tangannya sebagai perintah si pendekar botak untuk maju.
Si pendekar botak meringis menahan sakit pada bahunya yang terluka. Dengan penuh benci, si pendekar botak mendelik tajam kearah Naganingrum.
"Apa lihat lihat?
Anjeun pikir eneng takut dengan pelototan mata? Hayu maju, jawara gundul", tantang Dewi Naganingrum sambil tersenyum mengejek.
Merasa di hina, si pendekar botak langsung melesat cepat menuju Dewi Naganingrum sambil mengayunkan cakar besinya.
Whussss
Naganingrum segera mundur selangkah, kemudian memutar tubuhnya dan menghantam bahu si pendekar botak dengan kepalan tangan kiri nya.
Deshhhhh
Si pendekar botak meraung keras saat lukanya kembali menjadi sasaran empuk pukulan Naganingrum. Rasanya bahunya seperti hancur. Melihat kawannya terluka, seorang pendekar berambut keriting bergegas membantu dengan menyabetkan pedang nya kearah leher Dewi Naganingrum.
Sreeetttttt
Melihat tebasan pedang mengancam nyawa, Dewi Naganingrum menekuk lutut nya menghindari bahaya seraya menghantam perut si pendekar rambut keriting.
Deshhhhh
Si pendekar rambut keriting terhuyung huyung ke belakang sambil memegangi perutnya yang sakit akibat hantaman tangan kanan Naganingrum.
"Mau main keroyokan?
Mangga kang, eneng sudah siap", ujar Dewi Naganingrum sambil membalikkan badannya.
Dua anak buah Padepokan Bukit Gandarwa itu saling berpandangan sejenak. Setelah saling mengangguk tanda mengerti, mereka berdua langsung melompat maju sambil membabatkan senjata masing-masing ke arah leher Dewi Naganingrum.
Sreeetttttt sreeet!!
Angin dingin tenaga dalam dari dua senjata mengincar leher Dewi Naganingrum. Namun perempuan cantik itu segera menekuk lututnya dan tangan kanan kiri yang sudah di liputi sinar kuning kebiruan langsung menghantam rusuk dua orang penyerang nya itu.
Blammmm!!!
Dua orang itu langsung terpental ke arah yang berlawanan. Mereka muntah darah segar akibat hancurnya tulang rusuk mereka karena hantaman Ajian Chandra Buana ajaran Resi Buyut Gunung Galunggung.
Sebentar kemudian dua orang itu roboh dan tewas dengan luka menghitam pada rusuknya.
"Rasakeun balukarna lamun ngaganggu awewe Sunda", ujar Naganingrum sambil menatap kearah dua orang pengeroyok nya itu.
Di lain sisi, pertarungan sengit terus terjadi di perbatasan Kadipaten Bojonegoro dan Pakuwon Lwaram.
Meski jumlah pasukan Kadipaten Bojonegoro lebih banyak, namun secara kemampuan mereka masih di bawah para pendekar Padepokan Bukit Gandarwa. Pertarungan berjalan seimbang.
Maharesi Mpu Lingga terus mengayunkan tongkatnya dengan cepat. Namun Panji Watugunung masih sedikit lebih cepat menghindari serangan serangan kakek tua itu.
Whuttttt
Ayunan tongkat Mpu Lingga menyambar dada Panji Watugunung, namun Pangeran Daha itu dengan cepat mundur selangkah kemudian menyapu kaki Mpu Lingga dengan sapuan kaki memutar.
Dengan bantuan tongkat nya, Maharesi Mpu Lingga melenting tinggi ke udara dan melayangkan serangan tapak bertubi-tubi dari tangan kanan nya.
Panji Watugunung segera menyambut gerakan itu dengan serangan yang sama.
Plak plak plak!!
Dua tapak tangan bertenaga dalam beradu dan menciptakan gelombang kejut yang membuat mereka saling melompat mundur dua langkah.
Terlihat kedua tenaga dalam mereka berimbang meski Panji Watugunung seutas tali lebih tinggi.
'Pemuda bercaping ini rupanya memiliki kesaktian tinggi. Aku tidak boleh gegabah', batin Maharesi Mpu Lingga sambil memutar tongkat nya.
"Pemuda bercaping,
Siapa sebenarnya guru mu?", tanya Maharesi Mpu Lingga sambil memutar-mutar tongkat di tangan kanan nya.
"Aku murid Mpu Sakri dari Padas Putih, Pertapa Tua", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
Hemmmm
"Mpu Sakri di kenal sebagai Si Tangan Api. Pantas serangan Tapak Setan Putih ku tak berpengaruh pada mu.
Kali ini aku akan lebih serius menghadapi mu pemuda bercaping", teriak Maharesi Mpu Lingga sambil melesat cepat menuju Panji Watugunung sambil mengayunkan tongkatnya.
Kecepatan kakek tua itu bertambah dua kali lipat dari serangan sebelumnya.
Meski sempat kaget, namun dengan Ajian Sepi Angin, Panji Watugunung dengan cepat mengimbangi permainan tongkat guru besar Padepokan Bukit Gandarwa itu.
Panji Watugunung sedikit menunduk menghindari gebukan tongkat yang mengincar kepalanya. Pukulan tangan kanan nya mengarah pada dada Maharesi Mpu Lingga namun kakek tua itu rupanya melihat serangan Panji Watugunung dan segera menangkis dengan hadangan tongkat yang sudah berpindah ke tangan kiri.
Blarrrrr!!
Dua orang sakti itu terdorong mundur dua tombak saat benturan tenaga dalam tingkat tinggi terjadi di antara mereka.
'Aku tidak bisa berlama-lama meladeni permainan silat kakek tua ini', batin Panji Watugunung sambil meraih gagang Pedang Naga Api yang disandang pada punggung.
Hawa panas seketika menyelimuti seluruh udara di sekitar tempat itu saat Pedang Naga Api tercabut sempurna dari sarungnya.
Para pendekar yang bertarung memilih menjauhi arena pertarungan mereka berdua karena hawa panas Pedang Naga Api membuat tubuh mereka seperti berdiang pada api unggun.
Mpu Lingga mundur selangkah melihat pusaka ampuh di tangan Panji Watugunung.
'Brengsek...
Pemuda itu mewarisi Pedang Naga Api itu juga', gerutu Maharesi Mpu Lingga sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra. Tongkat di tangan nya segera berubah warna menjadi ungu pekat akibat sinar ungu yang baru disalurkan ke tongkat besi itu.
Panji Watugunung dengan Ajian Sepi Angin langsung melesat cepat kearah Maharesi Mpu Lingga sambil membabatkan Pedang Naga Api nya.
Sreeetttttt
Hawa panas menyengat mengikuti sabetan pedang yang datang pada Mpu Lingga. Dengan segera, kakek tua itu menangkis sabetan Pedang Naga Api dengan tongkatnya.
Tringgg
__ADS_1
Blammmm!!
Benturan dua senjata pusaka itu langsung membuat ledakan keras. Dua orang berilmu tinggi itu terdorong ke belakang kemudian melompat maju untuk saling mengalahkan lawan.
Trang tranggg!!
Bunyi nyaring kembali terdengar saat mereka beradu senjata pusaka.
Panji Watugunung dengan Pedang Naga Api nya menggunakan jurus Pedang Tanpa Bentuk, sedang Maharesi Mpu Lingga dengan tongkat besi nya menggunakan jurus Tongkat Setan Neraka nya.
Kedua ilmu itu sangat baik dalam bertahan dan menyerang. Baru kali ini Panji Watugunung menemui lawan tangguh setelah melawan Iblis Bukit Jerangkong dan Dewa Maut dari Gunung Kematian.
Jual beli serangan dengan senjata pusaka andalan masing-masing terus terjadi.
Panji Watugunung menyabetkan Pedang Naga Api kearah leher Maharesi Mpu Lingga, kakek tua itu segera menangkis dengan tongkat besi nya, kemudian dengan gerak tipu cepat, dia memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan keras ke arah punggung kanan Watugunung.
Bukkkkk
Panji Watugunung nyaris terjungkal akibat tendangan Maharesi Mpu Lingga namun sebelum jatuh ke tanah, tangan kiri nya menahan tubuh nya sambil mengayunkan pedangnya ke arah Maharesi Mpu Lingga yang hendak memanfaatkan peluang.
Angin panas dari Tebasan Pedang Dewa, salah satu jurus puncak Kitab Pedang Tanpa Bentuk menerabas cepat kearah Maharesi Mpu Lingga yang hendak menyerang Panji Watugunung. Kakek tua itu terkejut dan langsung menyilangkan tongkat nya di depan dada untuk menahan angin panas itu.
Maharesi Mpu Lingga sampai 2 tombak terdorong mundur kebelakang.
Panji Watugunung segera berdiri. Sambil menatap tajam ke arah Maharesi Mpu Lingga, dia mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Seketika dia merapal Ajian Tameng Waja untuk melindungi diri nya. Sinar kuning keemasan segera melingkupi seluruh tubuh sang Pangeran Daha.
Maharesi Mpu Lingga yang baru terdorong mundur, langsung meloncat tinggi ke udara dan menghantamkan tongkat besi dengan kedua tangannya kearah kepala Panji Watugunung.
Whhuuuugghh
Melihat lawan yang tidak mungkin menghindar, Maharesi Mpu Lingga tersenyum lebar.
Blammmm!!
Ledakan keras terdengar saat tongkat besi Mpu Lingga menghantam kepala Panji Watugunung. Namun justru kakek tua itu yang terlempar ke belakang dan jatuh menghantam tanah. Sambil memuntahkan darah segar, Mpu Lingga segera berdiri dan menatap Panji Watugunung yang tubuhnya berwarna kuning keemasan.
'Keparat busuk.
Rupanya dia punya Ajian Tameng Waja. Setau ku, Mpu Sakri tidak punya ilmu itu', gumam Maharesi Mpu Lingga.
Mpu Lingga segera menancapkan tongkatnya ke tanah. Tangan kakek tua itu menangkup di depan dada.
Sinar biru kemerahan dari Ajian Kartika Agni yang merupakan puncak ilmu kanuragan nya, segera menggulung di kedua tangannya.
Dengan cepat, Maharesi Mpu Lingga menghantamkan tangan kanan nya kearah Panji Watugunung.
Shiiiuuuutttt....
Sinar biru kemerahan meluncur cepat menuju Panji Watugunung. Dan..
Blarrrrr!!!
Panji Watugunung sama sekali tidak terluka meski badannya sedikit terdorong mundur. Melihat lawan nya tidak apa-apa, Maharesi Mpu Lingga kembali menghantamkan kedua tangannya bertubi tubi kearah Panji Watugunung.
Siuuuttttt!
Puluhan sinar biru kemerahan kembali meluncur cepat menuju Panji Watugunung. Kali ini Panji Watugunung dengan berlari, menangkis sinar biru kemerahan itu dengan Pedang Naga Api nya.
Blarrrrr!
Blarrrrr!
Setiap satu tebasan pedang menangkis sinar biru kemerahan, ledakan keras terdengar. Tangan kiri Watugunung sudah berubah warna menjadi biru terang tanda Ajian Brajamusti sudah dirapalkan.
Saat sudah mendekati Maharesi Mpu Lingga, Panji Watugunung segera menyabetkan Pedang Naga Api kearah leher Sang Guru Besar Padepokan Bukit Gandarwa.
Maharesi Mpu Lingga menunduk namun gelung rambutnya terpangkas Pedang Naga Api. Kakek tua itu mencoba untuk melompat menjauh tapi tangan kiri Panji Watugunung langsung menghantam dada kanan Mpu Lingga.
Dhuarrrr
Maharesi Mpu Lingga terlempar sejauh 4 tombak ke belakang dan menabrak pohon besar.
Kakek tua itu langsung diam dan tak bergerak lagi karena dada kanan nya hancur berantakan.
Maharesi Mpu Lingga, salah satu tokoh golongan hitam yang tersohor di bumi Jawa tewas hari itu di tangan Panji Watugunung.
Melihat pemimpin mereka tewas, anggota Padepokan Bukit Gandarwa yang tersisa segera berusaha melarikan diri.
Namun itu tidak mudah karena Dewi Srimpi melempar puluhan jarum beracun kearah mereka. Ada yang lolos, tapi kebanyakan tewas keracunan.
Ratna Pitaloka yang baru menebas leher seorang pendekar Padepokan Bukit Gandarwa, segera menoleh ke arah Panji Watugunung yang terhuyung huyung. Rupanya sepakan keras Mpu Lingga sempat melukai tubuh nya yang belum menggunakan Ajian Tameng Waja.
Ratna Pitaloka segera melompat ke arah sang suami dan memapah tubuh nya yang hendak ambruk.
"Kakang,
Kau tidak apa-apa? Bertahanlah!
Srimpi, bantu aku", teriak Ratna Pitaloka sambil berusaha mendudukkan tubuh Panji Watugunung.
Mendengar teriakan Ratna Pitaloka, Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum segera melesat ke arah Panji Watugunung. Dewi Srimpi segera menotok urat nadi Sang Pangeran Daha, sementara Ratna Pitaloka segera menyalurkan tenaga dalam nya.
Dewi Naganingrum melihat ke arah Panji Watugunung dengan cemas sambil mewaspadai setiap gerakan di sekeliling mereka.
Hooooooeeggghhh
Panji Watugunung muntah darah kehitaman. Dewi Srimpi terus menotok beberapa nadi Panji Watugunung dengan cepat.
Setelah muntah darah dua kali, Panji Watugunung tersenyum tipis dengan bibir pucat melihat kegugupan ketiga istrinya.
Sementara itu, para prajurit Bojonegoro yang merasa menang bersorak gembira melihat anggota Padepokan Bukit Gandarwa melarikan diri termasuk Adipati Tunggaraja yang masih memegang keris pusaka nya.
Melihat Ratna Pitaloka tengah mengobati Panji Watugunung, Adipati Tunggaraja segera mendekat. Nyai Sati segera menyarungkan pedangnya dan ikut mendekat ke arah Panji Watugunung diikuti Rara Wulan yang terlihat ikut cemas.
"Kangmbok Pitaloka,
__ADS_1
Bagaimana keadaan suami mu?", tanya Adipati Tunggaraja harap harap cemas. Kalau bukan karena Panji Watugunung, mungkin dia sudah mampus di tangan Mpu Lingga.
"Dia sudah tidak apa-apa, tapi butuh istirahat barang semalam Tunggaraja", jawab Ratna Pitaloka yang terus memperhatikan wajah Panji Watugunung.
"Kalau begitu, malam ini kita beristirahat di istana Pakuwon Nangkan saja Kangmbok.
Kau bisa merawat suami mu disana", ujar Adipati Tunggaraja yang segera bergegas berdiri dan memimpin pasukan Bojonegoro.
Mereka menuju istana Pakuwon Nangkan.
**
Gumbreg mondar mandir di depan rumah nya.
Beberapa sahabat nya terlihat menemani si Bekel prajurit perbekalan itu sambil mengobrol.
"Sudah, tenang dulu Mbreg..
Nanti kalau sudah lahir kau pasti tahu", ujar Ludaka sambil tersenyum tipis.
"Ya tidak bisa begitu Lu,
Ini aku bapaknya, wajib khawatir. Kau kan belum merasakan rasanya punya istri mau melahirkan", sungut Gumbreg sambil terus bolak balik di depan teman-temannya.
Ya, hari itu sepertinya Juminten hendak melahirkan. Sejak tadi pagi perempuan manis asal wanua Klakah itu sudah merasakan mulas teratur pada perutnya.
Nyai Sinem, dukun bayi dari Wanua Sanggur sudah menangani Juminten sejak tadi. Walaupun kehamilan nya baru menginjak 9 bulan kurang sehari, namun sepertinya inilah saatnya si Juminten melahirkan.
"Mbreg, jangan panik.
Sebaiknya kau persiapkan upacara kelahiran untuk anak mu. Kau punya tabungan untuk biaya nya kan?", tanya Landung yang ikut nimbrung di sore itu.
Mendengar kata biaya, Gumbreg langsung berhenti mondar mandir kemudian menepuk jidatnya.
"Aduh biyung,
Kog aku sampai melupakan hal ini ya?
Kawan kawan,
Tolong lah kawan mu ini. Pinjami aku beberapa kepeng perak untuk biaya persalinan anak ku", ujar Gumbreg sambil memelas.
"Jadi kau tidak punya persiapan sama sekali?", tanya Jarasanda seakan tak percaya.
Gumbreg langsung menggeleng perlahan.
"Bapak macam apa kau ini?
Anak lahir tapi persiapan nya tidak ada", gerutu Ludaka sambil merogoh kantong bajunya. Dari Ludaka, Landung, Jarasanda, Rajegwesi dan Marakeh terkumpul 30 kepeng perak dan di berikan kepada Gumbreg. Jumlah yang besar untuk acara selamatan.
Oooeeeekkkkk
OEEEKKKK!!!!
Terdengar suara tangis bayi dari dalam rumah Gumbreg. Tak berapa lama kemudian, Nyai Sinem membuka pintu rumah Gumbreg dan berkata dengan keras.
"Ndoro Gumbreg,
Anakmu laki-laki", teriak Nyai Sinem yang langsung kembali ke dalam rumah.
Mendengar suara itu, semua orang bersyukur kepada Hyang Tunggal.
"Mbreg,
Duit yang kau bawa tidak usah kau kembalikan. Anggap saja itu hadiah dari kami untuk kelahiran putra mu", ujar Jarasanda sambil tersenyum.
Gumbreg langsung tersenyum bahagia mendengar ucapan Jarasanda.
'Wah, anak memang pembawa rejeki. Besok kalau si Besur sudah berumur sewarsa, aku harus cepat buat hamil Dhek Jum lagi.
Aku bisa cepat kaya'.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏