
"Orang tua?
Apa maksud mu berkata demikian Dinda Srimpi? Bukankah ayah mu adalah Kelabang Koro?", tanya Panji Watugunung yang kebingungan dengan omongan selir ketiga nya itu.
Mendengar pertanyaan itu tangis Dewi Srimpi langsung pecah. Cempluk Rara Sunti langsung mendekati perempuan cantik itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ada apa ini Gusti Prabu?
Kenapa Kangmbok Srimpi menangis?", berondong pertanyaan Cempluk Rara Sunti membuat Panji Watugunung garuk-garuk kepala.
"Aku tidak tahu Dinda Sunti..
Tadi dia bilang ingin mencari orang tua nya. Setahu ku, ayah Dinda Srimpi adalah Paman Kelabang Koro. Makanya aku bingung dengan omongan nya", ujar Panji Watugunung segera.
"Ya sudah, biarkan Kangmbok Srimpi tenang dulu. Aku yang akan menemaninya. Gusti Prabu silahkan menyelesaikan urusan dengan para prajurit Panjalu lebih dulu", tukas Cempluk Rara Sunti sambil tersenyum manis. Panji Watugunung segera mengerti. Raja Panjalu itu segera melangkah menuju para perwira tinggi prajurit nya yang sudah berkumpul bersama.
Panji Watugunung mengedarkan pandangannya ke para perwira tinggi prajurit Daha di hadapannya. Beberapa orang seperti Tumenggung Ludaka dan Senopati Warigalit nampak mengalami luka cukup serius.
"Kita buat perkemahan di sebelah sana.. Keadaan kita tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.
Gumbreg,
Dirikan tenda tenda dengan posisi berdekatan. Jangan terlalu jauh jaraknya.
Landung,
Kau urusi mayat-mayat saudara saudara kita. Kuburkan dengan layak. Untuk mayat-mayat para prajurit musuh, kumpulkan lalu bakar saja", titah Panji Watugunung segera.
Demung Gumbreg dan Tumenggung Landung langsung menyembah pada Panji Watugunung dan bergegas melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka.
"Lalu bagaimana dengan cecunguk ini, Gusti Prabu?", tanya Tumenggung Jarasanda sambil melemparkan tubuh Akuwu Martayuda yang sudah terikat dengan tali. Wajah Akuwu Pakuwon Cempaka itu terlihat penuh lebam dan memar akibat di pukuli Gumbreg dan Jarasanda tadi. Ada bekas darah mengering di sudut bibir penguasa Pakuwon Cempaka itu. Akuwu Martayuda tergolek tak berdaya di tanah.
Hemmmmmmm...
"Paksa dia untuk mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia tutup mulut, siksa dia sampai mati. Kalau dia bicara jujur, nanti aku yang akan menentukan hukuman apa yang pantas ku berikan kepada dia", perintah Panji Watugunung yang mendapat anggukan kepala dari Jarasanda dan Tumenggung Ludaka. Jarasanda segera menjambak rambut Akuwu Martayuda dan membawanya menjauh dari tempat itu.
"Sementara yang tengah sakit dan luka, di persilahkan untuk beristirahat. Hemat tenaga kalian karena perjalanan pulang ke Daha masih jauh", ucap Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar para perwira tinggi prajurit Daha bersamaan. Mereka segera membubarkan diri.
Bekel prajurit Pakuwon Semanding, Kontring, segera menyembah pada Panji Watugunung.
"Mohon ampun Gusti Prabu Jayengrana,
Maaf jika kami sedikit terlambat datang ke tempat ini", ujar Bekel Kontring dengan penuh hormat kepada Panji Watugunung.
"Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih atas bantuan mu, Bekel Pakuwon Semanding.
Tanpa bantuan mu para pengacau ini pasti bisa kabur dan membuat kekacauan lagi di wilayah Panjalu.
Aku minta padamu untuk memanggil Akuwu Palgunadi kemari. Aku ingin bicara dengan nya", perintah Panji Watugunung yang membuat membuat Bekel Kontring segera menyembah pada Panji Watugunung dan berlalu dari hadapan nya.
Siang itu para prajurit perbekalan di bawah arahan Demung Gumbreg juga di bantu oleh para prajurit Pakuwon Semanding mendirikan tenda tenda di tepi Hutan Soka namun sedikit menjauh dari tempat pertarungan. Dengan bahu membahu dalam bekerja, mereka cepat menyelesaikan tugas itu agar para prajurit Panjalu yang terluka bisa di rawat dengan baik.
Sedangkan untuk Tumenggung Landung memimpin para prajurit Panjalu yang masih sehat menggali lobang besar untuk menguburkan ribuan prajurit Panjalu yang gugur dalam penyergapan itu. Ada tangis haru dan kesedihan yang mendalam melihat kawan yang baru menjadi pahlawan dalamsegera penumpasan pemberontakan Adipati Mpu Pamadi harus menjadi korban dari niat busuk seorang lelaki yang memiliki dendam kepada Wangsa Isyana.
Usai menguburkan mayat teman-teman nya, para prajurit Panjalu segera mengumpulkan mayat mayat para anggota pasukan penyergap dan membakarnya di salah satu sudut Hutan Soka agar tidak menjadi sarang penyakit dan wabah. Bau menyengat hidung dari pembakaran jasad manusia itu membuat udara di tempat mereka jadi terganggu. Kobaran api terus berkobar hingga seluruh jasad anggota pasukan penyergap menjadi abu.
Saat sore menjelang, rombongan Akuwu Palgunadi datang ke tempat perkemahan para prajurit Panjalu bersama dengan Bekel Kontring dan beberapa orang prajurit Pakuwon Cempaka yang mengawalnya.
Panji Watugunung menerima mereka di tenda besar yang terpisah dengan tempat istirahat nya agar tidak menggangu kenyamanan Dewi Srimpi yang tengah kacau pikiran nya karena terungkapnya jati diri yang selama ini menjadi rahasia hidup yang dibawa mati oleh Kelabang Koro.
Akuwu Palgunadi segera menyembah pada Panji Watugunung usai memasuki tenda besar. Penguasa istana Pakuwon Semanding itu segera duduk bersila di atas tanah yang di lapisi dengan tikar daun pandan. Bekel Kontring segera mengikuti langkah sang pemimpin.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Mohon petunjuk dari Gusti Prabu Jayengrana mengenai hal apa yang membuat hamba diminta untuk menghadap pada Gusti Prabu", ujar Akuwu Palgunadi sembari menghormat pada Panji Watugunung yang duduk di kursi kayu berlapis kulit harimau.
"Aku sangat berterimakasih atas dukungan mu, Akuwu Palgunadi.
Bantuan yang kau berikan kepada ku sungguh sangat berguna. Aku sangat menghargainya", Panji Watugunung segera tersenyum simpul menatap ke arah Akuwu Semanding itu.
"Sudah sepantasnya hamba membantu Gusti Prabu Jayengrana untuk menertibkan hukum dan keamanan Kerajaan Panjalu.
Palgunadi hanya bisa memberikan bantuan kecil untuk Gusti Prabu", jawab Akuwu Palgunadi dengan penuh hormat.
"Aku tidak meragukan kesetiaan mu Ki Kuwu..
Para prajurit Panjalu banyak yang terluka hingga dalam 2 atau 3 hari ke depan tidak bisa untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Daha. Karena itu aku ingin meminta bantuan mu sekali lagi.
Tolong kau berikan padaku bahan makanan untuk keperluan para prajurit Panjalu juga tabib dari Semanding beserta obat-obatan. Sebagai gantinya kau tidak perlu membayar pajak bumi dan upeti kepada pemerintah Daha selama 2 surya sengkala.
Apa kau bersedia membantu ku, Ki Kuwu?", Panji Watugunung menatap wajah Akuwu Palgunadi segera.
__ADS_1
"Tanpa imbalan yang hamba terima, Pakuwon Semanding siap membantu semua kebutuhan para prajurit Panjalu yang berkemah di sini Gusti Prabu..
Ini adalah wujud kesetiaan kami kepada Kerajaan Panjalu", jawab Akuwu Palgunadi segera.
Panji Watugunung tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari Akuwu Palgunadi. Dia semakin yakin bahwa wilayah Kembang Kuning akan kembali tentram usai pemberontakan Adipati Mpu Pamadi.
Usai menerima pisowanan Akuwu Palgunadi, Panji Watugunung segera bergegas menuju ke tenda besar yang menjadi tempat peristirahatan nya.
Di dalam tenda besar itu, Dewi Srimpi nampak bermuram durja. Ucapan Nyi Sekar Selasih benar benar mengobrak abrik pikiran nya. Cempluk Rara Sunti hanya bisa menghibur Dewi Srimpi yang sudah di anggap sebagai kakak oleh putri Warok Surapati itu. Melihat kedatangan Panji Watugunung, Dewi Srimpi segera berlari dan menubruk tubuh Panji Watugunung. Karena satu-satunya tempat untuk mencurahkan isi hatinya hanyalah Raja Panjalu itu.
Panji Watugunung segera mengelus rambut Dewi Srimpi yang hitam legam.
Sambil tetap memeluk tubuh Dewi Srimpi, Panji Watugunung mendudukkan dirinya di tempat tidurnya.
"Dinda Srimpi tidak perlu bersedih..
Takdir hidup manusia tidak ada yang tahu. Dalam aturan permainan nasib dari Sang Hyang Tunggal, kita hanya wayang yang mengikuti setiap jalan cerita yang sudah di tentukan oleh dalang nya.
Aku berjanji, setelah kita sampai di Daha akan ku cari tahu tentang keberadaan orang tua Dinda Srimpi.
Dinda senang sekarang?", Panji Watugunung menatap wajah cantik Dewi Srimpi.
Selir ketiga Panji Watugunung yang setia menemani setiap perjalanan Sang Maharaja Panjalu itu tersenyum dan mengangguk.
"Denmas Prabu janji?", tanya Dewi Srimpi segera. Kelingking tangan kanannya mengacung di depan Panji Watugunung.
"Iya aku berjanji Dinda", jawab Panji Watugunung sambil mengait jari kelingking selir ketiga nya itu segera.
Cempluk Rara Sunti tersenyum melihat tingkah suami dan madu nya itu.
Malam itu para prajurit Panjalu beristirahat dengan tenang setelah melalui siang hari yang berat dengan bertaruh nyawa.
**
Nun jauh di timur, Pasukan Senopati Narapraja yang menguasai Kota Kahuripan bergerak pulang ke arah Daha usai mendapat surat dari Panji Watugunung usai membuat kesepakatan dengan Dewi Kilisuci.
Kini mereka telah memasuki wilayah Kadipaten Matahun yang menjadi daerah kekuasaan Adipati Maitreya.
Kedatangan mereka di Kota Matahun mendapat sambutan meriah dari Adipati Maitreya yang merupakan bekas teman seperjuangan Senopati Narapraja.
"Selamat datang di istana Kadipaten Matahun, Kakang Senopati Narapraja..
Akhir akhir ini ku lihat kau semakin berisi saja hehehehe...", ujar Adipati Maitreya sambil terkekeh kecil melihat penampilan Senopati Narapraja yang sedikit gemuk tak seperti biasanya.
Senopati pekerjaan nya berperang melawan para pemberontak sedangkan aku di tugaskan untuk makan dan tidur saja di Kota Kahuripan oleh Gusti Prabu Jayengrana. Bagaimana aku tidak bengkak coba?", tukas Senopati Narapraja yang disambut dengan gelak tawa oleh Adipati Maitreya.
"Mari mari Kakang, ayo kita berbincang di ruang pribadi saja. Aku ingin bicara banyak hal penting dengan Kakang Narapraja", ujar Adipati Maitreya sambil tersenyum. Dua orang kawan lama itu segera melangkah menuju ruang pribadi adipati yang ada di samping balai paseban agung Kadipaten Matahun.
Setelah mereka berdua duduk bersila di ruang pribadi adipati, penguasa daerah Matahun Adipati Maitreya segera membuka percakapan.
"Begini Kakang,
Aku sebenarnya kurang setuju dengan tindakan Gusti Prabu Jayengrana untuk menarik Kakang Narapraja dari kota Kahuripan. Walau bagaimanapun, aku tetap tidak bisa percaya sepenuhnya kepada keturunan Mapanji Garasakan. Mereka itu orang-orang licik", ujar Adipati Maitreya sambil menatap wajah Senopati Narapraja.
"Aku pun demikian, Adhi Maitreya..
Aku pun yakin bahwa tindakan Gusti Prabu Jayengrana menarik pasukan Panjalu ini karena permintaan dari Dewi Kilisuci, bukan keinginan beliau pribadi.
Walau kita kurang setuju, tapi setidaknya ada jaminan perdamaian yang mungkin akan kita nikmati meski aku tidak tahu sampai berapa lama", ucap Senopati Narapraja sambil menghela nafas panjang.
"Dengan penarikan pasukan Panjalu dari Kahuripan, Matahun akan menjadi daerah paling timur yang berbatasan langsung dengan Jenggala Kakang..
Mau tidak mau, aku harus meningkatkan kemampuan para prajurit Matahun jika sewaktu-waktu Jenggala menyerang lagi ke arah Panjalu", Adipati Maitreya mengelus kumis nya yang mulai menebal.
"Hehehe...
Itulah sebabnya Gusti Prabu Jayengrana mengangkat mu menjadi Adipati Matahun adik Maitreya. Disinilah kepintaran beliau menata langkah dalam bertindak", Senopati Narapraja tersenyum penuh arti.
"Apa maksud mu Kakang Narapraja? Aku sama sekali tidak mengerti", Adipati Maitreya menatap wajah Senopati Narapraja dengan penuh pertanyaan.
"Aduh kau ini.. Sekian lama mengikuti langkah Gusti Prabu Jayengrana tapi masih belum juga hafal dengan pemikirannya.
Sekarang coba kau dengar adik Maitreya. Gusti Prabu Jayengrana bersedia melepaskan Kahuripan karena kau di tempat kan di sini. Gusti Prabu hanya seperti bermain catur. Mundur selangkah tapi juga menyiapkan benteng pertahanan besar untuk berjaga. Aku di suruh mundur, ganti kau yang berjaga. Gusti Prabu Jayengrana sangat mempercayai kau dan aku sebagai benteng pertahanan Panjalu.
Masak kau tidak paham dengan taktik ini?", mendengar ucapan Senopati Narapraja, Adipati Maitreya melongo.
"Jadi jadi Gusti Prabu Jayengrana sudah menyiapkan langkah seperti ini jauh jauh hari Kakang?
Aku saja tidak menyadari nya", ucap Adipati Maitreya sambil garuk-garuk kepala.
"Itulah hebatnya Gusti Prabu Jayengrana, adik Maitreya. Kau yang biasanya cerdas menelaah berbagai hal justru tidak menyadari pemikiran Gusti Prabu.
Panjalu benar benar beruntung memiliki seorang raja yang memiliki pandangan jauh ke depan", ujar Senopati Narapraja yang disambut dengan anggukan kepala oleh Adipati Maitreya.
__ADS_1
Usai puas berbincang dengan Adipati Maitreya, Senopati Narapraja pamit mundur untuk beristirahat. Besok pagi dia harus meneruskan perjalanan ke arah Ibukota Dahanapura.
**
Mpu Rikmajenar mengepal erat dengan penuh amarah. Gigi nya gemeretuk menahan gejolak dendam yang membara saat mendengar berita dari orang yang dia tugaskan untuk mengamati situasi penyergapan di Pakuwon Cempaka.
Dia tahu cepat atau lambat Panji Watugunung pasti akan segera menangkap nya usai Martayuda buka mulut mengenai keterlibatannya dalam usaha pembunuhan terhadap Prabu Jayengrana di tepi Hutan Soka.
"Keparat!
Dasar tidak berguna! Mengerjakan tugas seperti ini saja tidak becus! Menyesal aku membayar mahal untuk para sampah seperti kalian", ujar Mpu Rikmajenar dengan penuh amarah. Dengan kesal dia menendang meja kecil di samping kursi kayu tempat duduknya di serambi kediaman nya.
Bruuuuaaaakkkkhhh!!
Meja kayu jati itu langsung hancur berantakan terkena tendangan Mpu Rikmajenar. Baik pembawa berita maupun Bajong sang pengalasan menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menghindari tatapan mata Mpu Rikmajenar yang seperti ingin melampiaskan kekesalannya.
Hening sejenak.
Bajong dengan takut-takut berucap perlahan tanpa berani memandang wajah sepuh Mpu Rikmajenar.
"Lantas apa langkah kita selanjutnya Gusti Mahamantri? Prabu Jayengrana pasti tidak akan melepaskan kita karena hamba yakin Akuwu Martayuda pasti buka mulut soal kita", ucap Bajong sambil menunduk.
Hemmmmmmm..
"Itu juga yang tengah menjadi pikiran ku Jong. Aku harus ke selatan. Adipati Kalang adalah kawan lama ku. Pasti dia bersedia membantu ku. Paling tidak dia bisa mencarikan tempat persembunyian yang aman untuk ku.
Atau aku bisa ke Singhapura. Aku punya saudara yang bisa menjadi tempat ku untuk bersembunyi. Prabu Jayengrana tidak mungkin juga kesana karena itu wilayah Jenggala, sedangkan dia sudah membuat kesepakatan dengan Dewi Kilisuci untuk berdamai dengan keturunan Mapanji Garasakan.
Ya, sepertinya ke Singhapura adalah pilihan terbaik untuk ku seterusnya.
Bajong,
Siapkan semua keperluan. Bawa benda berharga yang bisa kita bawa ke Singhapura. Lakukan diam-diam, jangan sampai menarik perhatian Mapatih Jayakerti. Besok malam kita berangkat ke Singhapura.
Tapi untuk mengalihkan perhatian Mapatih Jayakerti, aku sudah menyiapkan rencana yang bisa membuat kita kabur tanpa ketahuan", senyum seringai lebar terukir di wajah Mpu Rikmajenar.
Bajong dan Gombang saling berpandangan sejenak sebelum berbicara.
"Rencana apa Gusti Mahamantri?", tanya Bajong dengan cepat.
Mpu Rikmajenar matanya berkilat sebelum berbicara.
"Kita bakar Istana Daha"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tetap semangat ya reader setia BNL
Jaga kesehatan untuk menghadapi hari hari selanjutnya 😁😁
Salam hangat dari author 🙏🙏🙏
__ADS_1
Oiya ada yang mau berteman dengan author bisa follow IG author : ebez2812