Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Diatas Langit Masih Ada Langit


__ADS_3

Mendengar suara dari Panji Watugunung, pasukan Garuda Panjalu segera merangsek ke pertempuran sengit di gerbang timur istana.


"Balapati, pimpin orang mu menuju gerbang selatan.


Cepat!!", teriak Panji Watugunung yang segera balas anggukan kepala dari Balapati.


Pria muda itu segera menggebrak kuda nya bergerak cepat menuju ke gerbang selatan.


"Paman Saketi,


Pimpin orang kita disini. Aku dan ketiga istri ku akan ke gerbang barat", titah Panji Watugunung segera.


Ki Saketi segera mengangguk tanda mengerti dan melompat turun dari kudanya. Wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu Selatan itu langsung mengamuk.


Panji Watugunung dan ketiga selir nya segera melompat ke atas tembok istana Kadipaten Lasem dan melesat cepat menuju ke arah gerbang barat.


Perang sengit segera terjadi.


Dengan bantuan pasukan Garuda Panjalu, pasukan Daha dengan cepat mampu mendesak pasukan Jenggala di bawah pimpinan Tumenggung Suralaya.


Jarasanda langsung menyambar leher seorang prajurit Jenggala yang ada di dekat nya. Dengan keris Kyai Klotok nya dia mencoblos leher sang prajurit.


Creeppp


Argh!


Sang prajurit Jenggala itu langsung tewas dengan mata melotot menahan sakit. Jarasanda terus mengamuk. Baju nya semakin merah oleh darah musuhnya.


Ludaka terus melempar senjata rahasia nya kearah prajurit Jenggala sambil menyabetkan pedang pendek nya.


Sringgg sring sringggg!!


Crep creeppp creppp..


Arghhh!!


Tiga prajurit Jenggala langsung roboh tak bernyawa, saat senjata rahasia Ludaka menancap pada batang leher mereka. Jerit memilukan hati terdengar dari mereka.


Landung melompat tinggi ke udara dan dengan cepat menjejak kepala seorang prajurit Jenggala.


Kreeekk


Suara leher patah di barengi tubuh roboh ke tanah segera terdengar. Seorang prajurit Jenggala ingin membokong Landung yang baru turun menjejak tanah. Namun Rajegwesi yang sedang berada di dekatnya langsung menarik busur panah nya dan...


Singgg...


Creeppp!!


Sang prajurit pembokong langsung terpental saat anak panah Rajegwesi tepat menghajar dada kiri nya. Dia tewas seketika.


Landung yang tahu di bantu langsung mengacungkan jempol nya. Rajegwesi hanya tersenyum tipis.


Gumbreg yang paling belakang, langsung turun dari kudanya dan menggebuk punggung seorang prajurit Jenggala yang hendak mengeroyok Weleng. Pentung sakti nya berkelebat cepat.


Bukkk


Oughhh


Si prajurit langsung tewas dengan tulang punggung remuk.


Phuihhh


"Mau membokong anak buah ku? Kau lawan dulu aku", Gumbreg meludah ke arah prajurit Jenggala yang tewas itu.


Gumbreg terus mengayunkan pentungan nya. Beberapa orang prajurit Jenggala sudah menjadi bulan-bulanan pentung sakti milik Gumbreg.


Seorang prajurit Jenggala berwajah tompel langsung mengayunkan pedang nya kearah leher Gumbreg.


Pria tambun itu sedikit menunduk menghindari sabetan pedang. Dengan segenap tenaga nya, tangan kiri nya menghajar perut prajurit Jenggala itu.


Deshhhhh


Jeritan keras terdengar dari mulut sang prajurit. Rasa sakit akibat pukulan Gumbreg membuatnya sulit bernafas. Dia terhuyung huyung. Gumbreg dengan cepat segera menghantam kepala sang prajurit dengan pentungan nya.


Brakkk


Kepala sang prajurit Jenggala berwajah tompel itu langsung pecah. Dia tewas bersimbah darah.


Melihat itu Gumbreg makin bersemangat. Dia terus merangsek maju bagai kerbau gila.


Marakeh dan Rakai Sanga tak mau kalah, dengan gaya bertarung berpasangan, mereka dengan cepat sudah membantai beberapa prajurit Jenggala yang mencoba mengeroyok mereka.


Tumenggung Suralaya yang baru menebas leher seorang prajurit Daha sangat geram melihat pasukannya di bantai pasukan Garuda Panjalu.


Tumenggung sepuh itu langsung melesat ke arah Ki Saketi sambil menebas leher seorang prajurit Daha yang menghalangi jalan nya.


Melihat pemimpin pasukan Jenggala mendekati nya, Ki Saketi segera bersiap.


"Jadi kau pemimpin pasukan bantuan Daha?", tanya Tumenggung Suralaya.


"Kalau iya kenapa?


Apa ingin menjajal kemampuan ku?", jawab Ki Saketi waspada.


Phuihhh....


"Jangan sok hebat kau,


Melihat kemampuan mu, kau benar-benar tidak layak menghadapi ku", Tumenggung Suralaya meludah ke tanah.


"Kau lebih tua dari ku,


Apa kau tidak pernah diajari tata krama bangsawan oleh gurumu?


Atau jangan-jangan seperti ini semua watak pejabat di Kahuripan?", Ki Saketi mengejek Tumenggung Suralaya. Tumenggung sepuh itu langsung marah besar.


"Anjing Daha,

__ADS_1


Kalau aku tidak merobek mulutmu hari ini, jangan panggil aku Tumenggung Suralaya!".


Usai berkata demikian, Tumenggung Suralaya langsung melompat cepat hendak menebas leher Ki Saketi dengan pedangnya yang sudah berlumuran darah.


Ki Saketi mundur selangkah, lalu dengan cepat menangkis sabetan pedang dari Tumenggung Suralaya.


Tranggg!!!


Benturan pedang beraliran tenaga dalam tingkat tinggi itu menimbulkan suara nyaring dan bunga api kecil.


Dua perwira sepuh yang berlawanan pihak itu terus bertarung dengan gagah berani. Sama sama sakti, sama sama beringas.


Sudah 15 jurus mereka mengadu ilmu.


Tumenggung Suralaya mencoba untuk menebas pinggang Ki Saketi, tapi wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu itu melompat tinggi ke udara dan mendarat 2 tombak agak jauh. Dengan gerakan cepat, perwira tinggi prajurit Jenggala itu langsung menyabetkan pedang nya kearah leher.


Ki Saketi segera menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menumpu berat badan nya dengan tangan kiri sambil menebas perut sang Tumenggung.


Sreeetttttt


Aughhhhh..


Meski sudah mencoba menghindar, tapi Tumenggung Suralaya terlambat sekejap mata. Sabetan pedang dari Ki Saketi tetap melukai perut perwira tinggi prajurit Jenggala itu meski tidak terlalu dalam.


Tumenggung sepuh itu segera melompat mundur sambil membekap perutnya yang berdarah.


"Kurang ajar!


Akan ku buat kau menyesal karena telah berani melukai ku", teriak Tumenggung Suralaya sambil mengikat lukanya dengan bajunya. Dia melempar pedangnya ke tanah.


Tumenggung itu langsung memasang kuda-kuda Ajian Cadas Geni. Dua tangannya langsung diliputi sinar merah menyala.


Seketika Tumenggung Suralaya menghantamkan tangan kanan nya ke arah Ki Saketi.


Siuuuttttt


Sinar merah menyala menerabas cepat kearah Ki Saketi. Ki Saketi langsung melompat ke udara menghindari sinar merah menyala itu yang menyambar tubuh seorang prajurit Daha.


Blammmm!!


Si prajurit langsung tewas dengan tubuh hancur berantakan. Ki Saketi segera melesat cepat menuju ke arah Tumenggung Suralaya. Tangan kiri sang wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu telah di liputi cahaya biru redup.


Ki Saketi segera menebaskan pedangnya ke arah leher Tumenggung Suralaya, perwira itu cepat menunduk.


Tangan kiri Ki Saketi langsung menghantam ke arah dada Tumenggung Suralaya. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu terkejut dengan serangan pukulan tangan kiri Ki Saketi dan langsung memapas dengan tangan kanan nya.


Dhuarrrr


Ledakan keras terdengar dari benturan dua ajian Kanuragan mereka. Dua perwira berumur itu terlempar dua tombak ke belakang menghantam tanah di arah yang berlawanan.


Ki Saketi muntah darah segar tapi segera bisa berdiri. Dia menatap lawannya yang berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.


Saat Tumenggung Suralaya berhasil berdiri, Ki Saketi segera melempar pedangnya ke arah dada sang perwira prajurit Jenggala.


Creeppp


Aughhhhh


tewas dengan mata mendelik menahan sakit. Badannya kejang sebentar, kemudian diam untuk selamanya.


Jarasanda yang melihat kejadian itu langsung mendekati Ki Saketi dan memapah nya ke pinggir arena pertempuran.


Pertarungan semakin mendekati akhir. Jumlah pasukan Jenggala berkurang dengan cepat.


Sementara itu Panji Watugunung dan ketiga selir telah sampai di gerbang barat istana Kadipaten Lasem setelah melompati atap atap bangunan besar di istana.


Diluar pintu gerbang, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Jenggala dan Panjalu.


Mpu Tandi, sang pemimpin pasukan Jenggala terus merangsek ke arah Tumenggung Lokananta yang terdesak hebat. Tendangan keras sang Senopati Jenggala membuat Tumenggung dari Kalingga itu terlempar dua tombak. Darah segar mengalir dari sudut bibir tumenggung muda itu.


Mpu Tandi melesat cepat hendak menghabisi nyawa Tumenggung Lokananta yang duduk bersimpuh akibat luka dalam yang di deritanya.


Saat pedang hampir menyentuh leher, tiba tiba sebuah batu sebesar telur ayam melesat cepat menuju tangan kanan Mpu Tandi.


Bakkk!


Mpu Tandi menjerit keras saat tangan nya dilempar batu itu. Itu bukan lemparan batu biasa melainkan batu yang di lempar dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Pedang yang nyaris memenggal kepala Tumenggung Lokananta terlepas dari tangannya.


"Kurang ajar!


Siapa berani membokong ku?


Keluar! Tunjukkan batang hidung mu!", Mpu Tandi berteriak lantang.


"Aku yang membokong mu,


Terus kenapa?", Panji Watugunung melompat turun dari atas tembok istana Kadipaten Lasem di sertai ketiga selir nya.


"Bangsat!


Siapa kau berani mencampuri urusanku?


Kau tidak tau siapa aku ha?", teriak Mpu Tandi marah.


"Tau, kau perwira tua yang sombong", Panji Watugunung tersenyum sinis. Dewi Srimpi dan Sekar Mayang segera memapah Tumenggung Lokananta menuju tepi arena pertempuran.


"Keparat!


Berani menantang senopati Kahuripan. Sudah bosan hidup rupanya", Senopati Mpu Tandi segera mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah.


"Bosan hidup sih tidak, cuma aku mengingatkan mu bahwa diatas langit masih ada langit", Panji Watugunung tersenyum tipis sambil terus memandangi pergerakan Mpu Tandi.


Senopati Jenggala itu langsung melesat cepat sambil mengayunkan pedang nya kearah Panji Watugunung.


Angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi yang menyertai ayunan pedang membuat bulu kuduk berdiri.


Sreeetttttt

__ADS_1


Panji Watugunung hanya menggeser posisi tubuhnya dan angin sabetan pedang menerabas cepat di sisinya.


Mendapati serangan nya menghajar udara kosong, Mpu Tandi memutar tubuhnya sambil tangan kiri nya mencakar dada sang pemimpin pasukan Daha. Panji Watugunung segera mundur selangkah, namun tebasan pedang Mpu Tandi mengincar leher nya.


Panji Watugunung merendahkan tubuhnya dengan melebarkan kakinya kemudian dengan cepat memukul perut Mpu Tandi.


Bukkk


Oughhh


Tubuh gempal senopati itu langsung mundur dua tombak. Lambung nya terasa sakit seperti berpindah tempat.


"Brengsek!


Punya isi juga kau rupanya. Aku tidak perlu bermurah hati lagi", ujar Mpu Tandi segera.


Mpu Tandi segera merapal Ajian Kala Sebha. Tangan kanan dan kiri nya berubah warna kehijau-hijauan dengan sinar merah melingkari.


Panji Watugunung segera merapal mantra Ajian Tameng Waja. Tubuhnya segera diliputi sinar kuning keemasan.


Tangan Mpu Tandi segera menghantam ke depan. Sinar merah kehijauan menerabas cepat kearah Panji Watugunung.


Siuttttt


Blammmm!!


Ledakan keras terjadi. Mpu Tandi menyeringai lebar penuh kemenangan ajian andalan nya telak menghajar Panji Watugunung.


"Mampus kau bocah tengik!", teriak Mpu Tandi sambil mendelik.


Asap mengepul dari tubuh Panji Watugunung.


Perlahan asap menghilang bersama senyum Mpu Tandi yang sirna dari wajahnya.


Panji Watugunung tidak apa-apa. Dia tersenyum sinis memandang kearah Mpu Tandi yang melongo keheranan.


Mpu Tandi segera mengayunkan tangan nya lagi ke depan bertubi tubi.


Blammm! Blammm!


Blammmm!!!


Ledakan keras beruntun terdengar saat serangan Mpu Tandi menghajar Panji Watugunung. Namun pria itu malah semakin mendekat ke arah Mpu Tandi.


Mpu Tandi lalu mengubah aliran tenaga dalam nya untuk mengeluarkan Ajian Cakar Neraka. Seketika jari tangan nya mengeluarkan panas menyengat.


Mpu Tandi melompat ke arah Panji Watugunung dan segera mencakar dada laki laki itu.


Crakkkk


Cakar tangan Mpu Tandi seperti menghantam logam keras. Panji Watugunung yang telah merapal Ajian Waringin Sungsang langsung mengeluarkan sinar hijau kebiruan dari mulut nya. Begitu sinar itu menyentuh kulit Mpu Tandi perlahan sinar itu menghisap daya hidup sang pemimpin pasukan Jenggala.


Mpu Tandi bersusah payah melepaskan diri dari Ajian Waringin Sungsang yang terus menyedot daya hidup dan tenaga dalam nya.


Rasa sakit mulai menyerang seluruh urat dan sendi Mpu Tandi.


"Aaaarrrggghhh!!!!!"


Teriak kesakitan sang Senopati Jenggala terdengar memilukan.


Perlahan tubuh Mpu Tandi menghitam dan mengering. Tangan kanan Watugunung segera menghantam dada Mpu Tandi.


Jlarrrr!!!


Tubuh Mpu Tandi hancur berantakan. Dia tewas seketika.


Melihat sang pemimpin pasukan Jenggala tewas, nyali prajurit yang tersisa langsung buyar. Mereka berusaha untuk melarikan diri. Apalagi Jurumeya, sang Demung juga baru tewas bersimbah darah di tangan Ratna Pitaloka. Bekel Kasya diam diam menjauh dari medan tempur kemudian melompat masuk ke dalam hutan. Beberapa ratus prajurit bergegas mengikuti langkah nya.


Bunyi bende dua kali menghentikan pertarungan.


"Dengar semuanya,


Senopati kalian sudah mati!


Sebaiknya kalian menyerah, kalau tidak akan kami habisi nyawa kalian semua!", teriak Panji Watugunung lantang.


Seorang prajurit Jenggala langsung melempar senjata nya tanda menyerah, ribuan lainnya segera mengikuti langkah nya.


Panji Watugunung tersenyum melihat pasukan Jenggala menyerah.


"Akhirnya Lasem kembali ke Panjalu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Selamat beraktifitas, jaga kesehatan 👍👍👍


Selamat membaca guys 😁😁😁😁


__ADS_2