
Sambaran cakar Biksu Hong Ki mengancam wajah Panji Watugunung. Dengan cepat, Panji Watugunung mundur setengah langkah kemudian memutar tubuhnya dan segera menyapu kaki Biksu Hong Ki.
Deshhhh
Kuda kuda kokoh dari Biksu Hong Ki sama sekali tidak goyah, malah kaki Pangeran Daha itu seperti membentur batang kayu.
Tangan Biksu Hong Ki berputar kemudian dia melayangkan cakar tangan kiri nya mengincar dada Panji Watugunung.
Shhaaakkk!!
Panji Watugunung merendahkan tubuhnya dengan membuka lebar kakinya dan dengan cepat menghantam perut Biksu Hong Ki.
Bukkkkk
Biksu Hong Ki terdorong mundur dua langkah akibat pukulan keras Panji Watugunung tapi pelatihan tubuh besi Kuil Shaolin Selatan benar benar berguna melindungi tubuhnya.
Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Biksu Hong Ki yang segera melayangkan tendangan keras kearah dagu Panji Watugunung.
Mengetahui serangan nya di hadang, Panji Watugunung segera menarik tangan dan memotong tendangan dari Biksu Hong Ki dengan kaki kanan nya.
Dashhh!!
Panji Watugunung dan Biksu Hong Ki sama sama menjauh setelah benturan tenaga dalam mereka.
Dari benturan tadi Biksu Hong Ki tau bahwa tenaga dalam Panji Watugunung 1 tingkat lebih tinggi darinya.
Merasa pemuda itu masih terlalu muda untuk memiliki tenaga dalam sehebat kepala Kuil Shaolin Selatan, Biksu Hong Ki menerjang maju sambil kembali mengayunkan cakar tangan kanan nya mengincar bahu Panji Watugunung.
Srakkk!!
Panji Watugunung yang lengah sekejap, hanya bisa sedikit menunduk saat cakar tangan biksu Hong Ki merobek baju nya, menggores kulit bahu kiri nya.
Dengan cepat, Panji Watugunung menunduk sembari merubah gerakan tubuhnya dan dengan bertumpu pada tangan memutar tubuh lalu melayangkan tendangan keras kearah perut Biksu Hong Ki.
Bukkkkk
Tendangan yang di lambari tenaga dalam itu menghantam perut Biksu Hong Ki. Biksu paruh baya bermata sipit itu terdorong 3 langkah ke belakang dan Panji Watugunung sudah berdiri tegak untuk melanjutkan pertarungan kembali.
Biksu Hong Ki menepuk bajunya yang kotor terkena tendangan Panji Watugunung.
'Pendekar muda ini benar-benar hebat. Kalau aku gegabah, pasti dia akan mudah mengalahkan ku', batin biksu Hong Ki sambil menatap wajah Panji Watugunung.
Dengan melebarkan kakinya, Biksu Hong Ki bersiap mengeluarkan Ilmu Tapak Budha tingkat lanjut yang bernama Budha Seribu Tangan.
Dengan memusatkan tenaga dalam pada kedua tangan, bayangan ratusan tercipta di kedua tangan sang biksu.
Melihat lawan sudah memakai ilmu andalannya, Panji Watugunung segera merapal Ajian Halimun yang digabung dengan Ajian Tapak Dewa Api tingkat akhir.
Biksu Hong Ki segera melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil menghantamkan tangan kiri dan kanan nya secara bertubi-tubi.
Whuuuuttt!
Whuuuuttt!
Whuuussshh!
Panji Watugunung menyongsong serangan dengan Ajian Tapak Dewa Api. Dengan bantuan Ajian Halimun, pergerakan Panji Watugunung sangat sulit diterka yang berpindah tempat tanpa meninggalkan bayangan.
Satu tapak menghadapi ratusan bayangan tangan cukup membuat perhatian Panji Watugunung terpecah.
Saat Tapak Dewa Api menghantam serangan tapak Biksu Hong Ki, satu tapak tangan lain menghantam dada Panji Watugunung.
Blammmmm!!!
Dua orang itu terpental ke belakang sejauh dua tombak. Keduanya sama sama menghantam tanah dengan keras.
Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu menahan nafas. Para prajurit yang disana sudah bersiap untuk menyerang apabila junjungan mereka dikalahkan.
"Lu,
Menurut mu Gusti Pangeran Jayengrana bisa menang tidak?", bisik Demung Gumbreg pada Tumenggung Ludaka, sahabat karibnya.
"Namanya juga pertarungan. Belum bisa ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah kalau tidak melihat sampai akhir", jawab Tumenggung Ludaka sambil terus menatap ke arena pertarungan.
"Mau taruhan tidak?
Yang kalah traktir makan di warung Nyi Domas. Makan sepuasnya, dan yang kalah yang bayari", tantang Demung Gumbreg pada Tumenggung Ludaka.
Ludaka mendelik tajam ke arah Gumbreg.
"Hei kau sudah bosan hidup ya Mbreg?
Gusti Pangeran Jayengrana kau pakai taruhan? Kalau ketahuan bisa di pancung kau", bisik Tumenggung Ludaka sambil melotot ke arah Demung Gumbreg.
"Ya jangan sampai tahu Lu,
Ini kan antara kita berdua. Ayolah kau pegang siapa?", desak Gumbreg pada Ludaka.
Hemmmm
"Baiklah, sebagai perwira yang baik aku tentu mendukung Gusti Pangeran Jayengrana", jawab Tumenggung Ludaka sambil kembali menatap arena pertarungan.
"Kalau begitu aku dukung biksu botak itu. Siapkan uang mu Lu, untuk traktir makan aku", ujar Demung Gumbreg dengan penuh semangat. Mereka terus menatap ke arena pertarungan antara Panji Watugunung dan Biksu Hong Ki.
Panji Watugunung segera berdiri dan mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Dia tersenyum tipis.
__ADS_1
Biksu Hong Ki pun tak jauh berbeda. Tetua Kuil Shaolin Selatan itu muntah darah segar namun segera bangkit setelah menata nafas nya.
"Kau sungguh hebat biksu Hong Ki..
Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi", ujar Panji Watugunung yang segera bersiap untuk bertarung.
Yuwaraja Panjalu itu segera merapal Ajian Tameng Waja yang merupakan puncak ilmu pertahanan diri dari segala ilmu Kanuragan.
Sinar kuning keemasan langsung melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung.
Biksu Hong Ki terkejut bukan main melihat lawan yang mengeluarkan ilmu beladiri yang serupa dengan ilmu beladiri legendaris Kuil Shaolin Selatan yang sudah menghilang selama ratusan tahun, yaitu Lonceng Emas.
Diam diam Biksu Hong Ki mulai menyadari bahwa kekalahannya akan segera terjadi. Namun sebagai penantang, dia tidak boleh mundur walaupun tahu akan kalah.
Biksu Hong Ki dengan seluruh tenaga dalam nya melesat maju sambil menghantamkan tangan kanan dan kirinya dengan cepat kearah Panji Watugunung.
Whuuussshh!
Whuuuggghhh!
Ratusan bayangan tangan tercipta dan menghantam tubuh Panji Watugunung yang diliputi oleh sinar kuning keemasan.
Blammmmm!
Blammmmm!!
Ledakan keras bertubi-tubi terdengar saat Ilmu Budha Seribu Tangan menghajar telak Panji Watugunung. Asap mengepul dari tubuh Panji Watugunung.
Para prajurit sudah mencabut pedangnya masing-masing. Mereka sudah mengira bahwa Panji Watugunung tewas terkena hantaman ilmu yang begitu hebat.
Asap mulai menghilang dan Panji Watugunung masih tegak berdiri di tengah arena pertarungan.
Semua orang terpana melihat itu semua kecuali Warigalit dan beberapa punggawa Kayuwarajan Panjalu yang sudah pernah menyaksikan kemampuan Panji Watugunung secara langsung.
Biksu Hong Ki yang terperangah, langsung melompat tinggi ke udara kemudian melesat turun sambil kembali menghantamkan tangan nya bertubi-tubi kearah Panji Watugunung, berharap menemukan celah dari pertahanan sempurna Ajian Tameng Waja.
Whuuuuttt
Whuuussshh!!
Namun kali ini Panji Watugunung tidak berdiam diri. Putra mantu Maharaja Samarawijaya itu merapal Ajian Brajamusti nya.
Sambil memasang senyum tipis, dia menangkis serangan Biksu Hong Ki dengan tangan kiri nya, kemudian tangan kanannya yang berubah warna menjadi biru keputihan menyongsong serangan Ilmu Budha Seribu Tangan dari Biksu Hong Ki.
Plasshhhh!
Biksu Hong Ki yang terkaget, berusaha menangkis pukulan Ajian Brajamusti yang mengandung udara panas luar biasa. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya, dia menghalau Ajian Brajamusti dengan tapak nya.
Dhuuuaaaaarrrrrr!!!
Biksu paruh baya itu kembali muntah darah segar. Dia mencoba untuk berdiri, namun kakinya tak mampu menahan beban tubuh. Biksu Hong Ki roboh. Dengan tertatih dua orang murid Biksu Hong Ki berusaha untuk mendekati guru mereka.
Panji Watugunung yang baru selesai menata nafas, segera mendekati tiga biksu dari negeri seberang itu.
"Mau apa kau pendekar? Apa kau ingin membunuh kami?", tanya Biksu Hong Jian sambil meringis menahan sakit pada dadanya.
Panji Watugunung tersenyum tipis mendengar ucapan biksu muda itu.
"Kalian adalah tamu di negeri kami. Seorang tamu tak boleh untuk disakiti kecuali jika dia berbuat hal yang tidak pantas.
Kalian sudah sopan disini, sebagai tuan rumah aku wajib menyambut kedatangan kalian.
Sekarang, biarkan aku membantu guru mu biksu muda", jawab Panji Watugunung segera.
Mendengar ucapan itu, Biksu Hong Jian segera memberi jalan kepada Panji Watugunung. Dengan bantuan Biksu Hong Yi, Biksu Hong Ki bisa duduk bersila. Panji Watugunung segera menotok beberapa jalan darah biksu paruh baya itu.
Lalu dengan cepat, Panji Watugunung segera menyalurkan tenaga dalam nya pada Biksu Hong Ki. Lalu dengan sedikit mengurut punggung biksu paruh baya itu, Panji Watugunung menekan darah yang menggumpal di tenggorokan Biksu Hong Ki.
Huuuoooogggghhh
Biksu Hong Ki muntah darah segar yang sedikit kental. Usai memuntahkan cairan itu, perlahan raut muka Biksu Hong Ki memerah wajahnya, pertanda peredaran darah nya kembali lancar.
"Prajurit,
Ambil tandu dan antar para biksu ini ke balai tamu. Cepat!!", perintah Panji Watugunung yang membuat 6 prajurit penjaga bertubuh kekar segera berlari masuk. Tak lama kemudian mereka sudah kembali dengan membawa 3 tandu yang diminta oleh Panji Watugunung.
Mereka segera mengangkat tubuh ketiga biksu dari negeri Tiongkok itu ke balai tamu Kayuwarajan Panjalu.
"Gumbreg,
Panggil tabib istana Katang-katang. Suruh mereka mengobati para biksu itu", titah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Gumbreg sambil menyembah pada Panji Watugunung dan berlalu menuju kediaman tabib istana Katang-katang.
Saat melewati Tumenggung Ludaka, Gumbreg melihat senyum lebar Ludaka.
"Jangan lupa Mbreg, warung makan Nyi Domas nanti siang. Siapkan uang mu ya", bisik Tumenggung Ludaka sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Iya iya, aku tidak lupa dengan taruhan kita. Jangankan makan, Nyi Domas pun boleh kau bawa pulang kalau mau", sungut Demung Gumbreg pada Ludaka sambil terus berlalu menuju kediaman tabib istana.
'Apes banget sih. Sudah kalah taruhan, masih disuruh memanggil tabib untuk mengobati orang yang membuat ku kalah taruhan', gerutu Demung Gumbreg dalam hati.
Sementara itu, Warigalit yang mendekati Panji Watugunung memeriksa keadaan Panji Watugunung.
"Kau tidak apa-apa Dhimas Pangeran?", tanya Warigalit segera.
__ADS_1
"Kakang tenang saja, ini hanya luka kecil. Nanti aku minta Dinda Srimpi memberi ku obat luka dalam dan bersemedi setengah hari juga sudah pulih kembali.
Ayo kita kembali ke istana pribadi ku Kakang", ajak Panji Watugunung pada kakak seperguruannya itu.
"Maaf Dhimas Pangeran,
Bukan maksud ku menolak ajakan mu tapi aku ingin pulang sekarang kalau diijinkan. Aku tiba tiba kangen Kangmbok mu", jawab Warigalit sambil tersenyum malu.
Panji Watugunung segera tersenyum simpul, dia mengangguk mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Warigalit.
Senopati Kadiri itu segera menyembah pada Panji Watugunung kemudian melangkah menuju kediaman pribadi nya di luar tembok istana Kadiri.
Panji Watugunung sendiri segera bergegas menuju ke istana pribadi nya. Siang itu, Dewi Srimpi merawat luka dalam sang suami dengan penuh kasih sayang.
Hampir tiga hari, para biksu dari negeri Tiongkok itu tinggal di balai tamu Kayuwarajan Panjalu.
Selama disana, mereka mendapat perawatan dari para tabib istana Katang-katang, juga pelayanan yang ramah dari para abdi dalem Istana Katang-katang. Seolah mereka adalah sahabat karibnya Sang Putra Mahkota Kerajaan Panjalu.
Hati mereka benar benar tersentuh oleh kebaikan Panji Watugunung.
Pagi menjelang tiba di istana Katang-katang, suara kokok ayam jantan bersahutan saat langit malam mulai berubah warna menjadi merah. Perlahan, sang Surya mulai terbit di ufuk timur menghangatkan seisi bumi.
Pagi itu, Panji Watugunung yang baru bangun di kagetkan oleh Dewi Srimpi yang memberi tahu bahwa tiga biksu dari negeri seberang itu mohon waktu untuk menghadap kepada nya.
"Mereka sudah menunggu di ruang pribadi mu Denmas", imbuh Dewi Srimpi segera.
"Baiklah Dinda Srimpi,
Aku akan mandi dulu. Tolong kau siapkan pakaian ku", jawab Panji Watugunung yang segera melangkah ke tempat mandi.
Usai mandi dan berdandan layaknya seorang Yuwaraja Panjalu, Panji Watugunung segera melangkah menuju ruang pribadi nya di istana Katang-katang.
"Amithaba,
Selamat pagi Tuan Watugunung atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Jayengrana", ujar Biksu Hong Ki sambil menghormat khas negeri asalnya.
"Selamat pagi Biksu Hong Ki.
Silahkan duduk", jawab Panji Watugunung dengan sopan.
"Kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan perawatan dari Tuan Pangeran Jayengrana selama kami ada disini.
Dan kami juga mengakui bahwa ilmu beladiri kami masih di bawah ilmu beladiri Tuan Pangeran Jayengrana", ujar Biksu Hong Ki segera.
"Sudahlah Biksu Hong Ki..
Belajar ilmu beladiri bukan untuk menjadi jagoan yang suka menindas orang lain. Atau untuk mengunggulkan diri sebagai yang terbaik.
Ilmu beladiri kita unggul atau tidak itu tergantung dari cara apa kita memandangnya. Jadi aku menyatakan bahwa ilmu beladiri kami dan ilmu beladiri biksu berimbang. Masing-masing punya kelebihan dan kelemahannya", Panji Watugunung tersenyum tipis diatas kursi kebesarannya.
Tiga biksu dari negeri seberang itu tersenyum simpul. Mereka tak menduga kalau jawaban Panji Watugunung akan seperti ini. Dengan hormat, mereka serempak membungkuk pada Panji Watugunung.
Setelah itu, mereka berpamitan kepada Panji Watugunung untuk kembali ke Kalingga. Panji Watugunung mengantar mereka sampai di pintu gerbang istana Katang-katang. Tak lupa sekantong kepeng perak ia berikan biksu Hong Ki sebagai bekal perjalanan mereka.
Panji Watugunung terus menatap kepergian mereka hingga menghilang di balik keramaian kota Kadiri.
Saat Panji Watugunung hendak berbalik masuk ke dalam istana Kadiri, seorang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian brahmana menghentikan langkahnya.
"Om Swastyastu..
Maaf mengganggu. Apa benar ini istana Katang-katang?", tanya si brahmana itu dengan sopan.
"Benar Brahmana,
Ada keperluan apa anda datang kemari?", tanya Panji Watugunung sambil menatap ke arah brahmana muda itu. Sekilas wajah nya seperti Warigalit.
Brahmana muda itu membungkuk dan berkata,
"Aku kemari ingin bertemu dengan adikku, Warigalit".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1