
Nyi Pundi menggeram penuh kemarahan. Empat mahkluk halus yang dikirim Nyi Polok ternyata tidak mampu menghentikan rombongan Panji Watugunung.
Wanita cantik itu segera membenahi tusuk konde nya dan dengan cepat berjalan menuju ke arah serambi.
"Selamat datang di Wanua Padelegan, Gusti Pangeran. Maaf hamba baru dari belakang tidak tahu ada tamu agung yang berkunjung kemari", ujar Nyi Pundi sambil tersenyum manis.
Panji Watugunung segera menoleh ke arah sumber suara itu, begitu pula ketiga istrinya dan para pengikutnya.
"Siapa dia Ki Lurah?", tanya Panji Watugunung yang segera menatap wajah Mpu Guritno.
"Maaf lupa memperkenalkan, Gusti Pangeran. Dia Nyi Pundi, istri hamba", jawab Mpu Guritno dengan cepat.
"Oh begitu.
Ya ya ya, tidak apa-apa Nyi Pundi. Terimakasih sudah menyambut kedatangan ku", ujar Panji Watugunung seraya tersenyum tipis.
"Dinda Mayang,
Kau tidak menyapa ibu tiri mu?", Panji Watugunung menatap wajah cantik selir keduanya itu.
Cihhhhh
"Buat apa Kakang? Toh dia juga tidak suka kehadiran ku disini", Sekar Mayang melengos tanpa memandang kearah Nyi Pundi.
'Awas kau perempuan tengik. Tunggu saja pembalasan ku nanti', gerutu Nyi Pundi dalam hati. Tapi wajah istri kedua Mpu Guritno itu tetap tersenyum simpul mendengar ucapan Sekar Mayang yang begitu pedas.
"Tidak apa-apa, Gusti Pangeran. Sebagai ibu sambungnya, sikap Sekar Mayang memang seperti itu. Hamba sudah tidak kaget", ujar Nyi Pundi dengan tetap tersenyum.
"Nyi,
Minta pada Rempon dan Gowang untuk menyembelih ayam. Hari ini adalah hari istimewa kepulangan Sekar Mayang dan Gusti Pangeran Panji Jayengrana, aku ingin menjamu mereka", perintah Mpu Guritno pada Nyi Pundi.
"Baik Kangmas Lurah,
Aku ke belakang dulu", jawab Nyi Pundi yang segera bergegas menuju ke arah dapur.
Sementara Panji Watugunung dan rombongannya ditemani Lurah Mpu Guritno, di dapur kediaman Lurah tampak 2 pelayan dan 2 orang lelaki sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu agung.
Menjelang senja, Panji Watugunung memanggil Mpu Guritno ke serambi. Dengan didampingi Warigalit, Mpu Soma dan Mpu Sukrasana mereka berbincang mengenai masalah pagebluk yang melanda wanua itu.
Mpu Guritno lalu menceritakan awal mula pagebluk yang melanda wilayah nya itu. Sambil manggut-manggut, Panji Watugunung terus mendengarkan cerita Mpu Guritno sampai selesai.
"Jadi semua nya berawal dengan titik hitam yang muncul di tubuh, Ki Lurah?", tanya Mpu Sukrasana segera.
"Benar Resi,
Titik hitam itu akan menyebar cepat dalam waktu sehari. Dan yang terkena bisa dipastikan mereka pasti mati esok harinya.
Kami sudah mencari puluhan dukun dan tabib untuk mengatasi masalah ini, tapi tak satupun yang berhasil mengobatinya", jawab Mpu Guritno dengan raut muka sedih.
Hemmmm
"Ilmu Pangiwa", ujar Mpu Sukrasana sambil mendengus panjang.
"Apa maksudnya itu Resi?", tanya Panji Watugunung segera.
"Itu ilmu sihir hitam Gusti Pangeran. Dulu semasa Prabu Airlangga memerintah Kahuripan, para penduduk di wilayah selatan mendapat serangan wabah pagebluk seperti ini.
Bahkan Prabu Airlangga terpaksa meninggalkan istana Wuwatan karena pagebluk yang di sebabkan oleh Ratu Ilmu Hitam dari Selatan yang bernama Nyi Calon Arang.
Setelah mendapat bantuan dari Maharesi Mpu Barada dari Gunung Penanggungan, barulah Nyi Calon Arang bisa dikalahkan. Namun murid-murid nya beberapa orang berhasil kabur dari kejaran prajurit Kahuripan waktu itu.
Kalau sampai ilmu pangiwa ini muncul lagi, bisa dipastikan ini adalah murid Nyi Calon Arang, Gusti Pangeran", Mpu Sukrasana mengelus jenggotnya sambil menatap langit di keheningan malam.
Tiba tiba terdengar lolongan serigala yang bersahutan dari hutan angker.
Huk huk Aauuuuuuuww.....
Semua orang terkejut mendengar itu dan menoleh kearah hutan lebat yang ada di timur wanua. Suara lolongan serigala semakin membuat bulu kuduk merinding.
Dua buah bola api sebesar telur ayam melayang cepat dari arah hutan angker menuju Wanua Padelegan.
Mpu Soma yang tanggap, segera menunjuk ke arah bola api itu.
"Adhi Sukrasana,
Lihat itu", ucapan Mpu Soma membuat Mpu Sukrasana dan yang lainnya segera menoleh ke arah yang ditunjuk Mpu Soma.
Mpu Sukrasana segera melompat ke arah bola api itu dengan diikuti oleh semua orang.
Dengan cepat, bola api itu menuju ke rumah salah satu warga Wanua Padelegan. Begitu sampai di atas atap rumah, bola api itu meledak dan menghilang.
Dharrrrr!
Tak lama kemudian, terdengar suara jerit minta tolong dari dalam rumah.
Rupanya itu adalah rumah Gowang, salah seorang abdi Lurah Wanua Padelegan. Istri Gowang menjerit keras saat melihat Gowang tiba-tiba badannya kejang-kejang dan mata nya membeliak lebar seperti sangat tersiksa.
Atas seijin Lurah Wanua Padelegan, Mpu Sukrasana menerobos masuk ke dalam rumah Gowang. Mpu Soma, Panji Watugunung, Warigalit dan Mpu Guritno mengekor di belakang nya.
Di bawah lampu minyak jarak, Mpu Sukrasana segera mendekati Gowang yang tengah kejang-kejang di ruang tamu rumah nya.
Mulut kakek tua itu komat-kamit membaca mantra mantra penyucian jiwa, lantas membaca mantra perlindungan Dewa Siwa. Mpu Soma lantas memercikkan air suci ke dahi Gowang.
Lelaki bergigi jarang itu mengerang keras saat tiba-tiba muncul asap pekat kehitaman dari tubuhnya.
__ADS_1
Aaarghhh
Tubuh Gowang terus kejang. Saat sebuah bola api muncul dari tubuh Gowang, Mpu Sukrasana segera menepis bola api itu dengan tangan kanan nya.
"Kembalilah ke pengirim mu!", teriak Mpu Sukrasana segera.
Bola api itu melesat cepat menuju ke arah hutan angker di timur wanua.
Siuttttt..
Dhuarrrr!!
Anglo berisi arang kayu dan kemenyan langsung meledak akibat hantaman bola api teluh.
Nyi Polok terkejut bukan main. Mata perempuan itu mendelik tajam kearah anglo arang nya yang hancur berantakan.
"Kakang Sukrasana bangsat,
Awas kau!", teriak Nyi Polok dengan penuh amarah. Perempuan bertudung merah darah itu geram, karena teluh nya bisa dikembalikan oleh Mpu Sukrasana. Tanpa darah perawan yang di jadikan tumbal, kesaktian teluh nya semakin berkurang daya rusak nya.
Malam itu Gowang bisa selamat, tapi seorang warga lainnya tidak tertolong. Muka Mpu Sukrasana merah padam karena dia mengenali ilmu pangiwa ini adalah perbuatan bekas istri nya, Nyi Polok.
Keesokan harinya....
Dengan berdalih akan membeli bumbu dapur, pagi itu Nyi Pundi berjalan meninggalkan rumah Mpu Guritno dengan langkah tergesa-gesa.
Di ujung Wanua Padelegan, Surenggono sudah menunggu kedatangan Nyi Pundi sambil menggendong seorang gadis muda yang tidak sadarkan diri.
"Dia gadis perawan nya Kang?", tanya Nyi Pundi sambil menatap gadis muda di gendongan Surenggono.
"Benar Nyi. Dia orang nya. Aku terpaksa membuatnya pingsan. Kalau tidak, kita akan kerepotan membawa nya ke tempat Nyi Polok", jawab Surenggono sambil tersenyum tipis. Mereka berdua segera bergegas melangkah masuk ke dalam hutan angker itu.
Seorang warga yang melihat perbuatan mereka, segera berlari menuju ke rumah Lurah Wanua Padelegan itu.
"Ki Lurah Kiii...
Ki Lurah, katiwasan Ki...", ujar lelaki bertubuh ceking itu dengan nafas ngos-ngosan.
"Katiwasan kenapa?", tanya Mpu Guritno yang segera berdiri dari duduknya. Pagi itu dia sedang menemani para tamu agung nya untuk sarapan pagi bersama.
Laki laki sepuh itu segera mendekati ke lelaki bertubuh ceking itu.
"Saya melihat Surenggono, menggendong anak gadis Ki Benu masuk hutan angker itu. Dia tidak tidak sendirian Ki", lapor lelaki bertubuh ceking itu dengan sedikit ketakutan.
"Apa maksud mu dengan tidak sendirian? Dia bersama siapa?", tanya Mpu Guritno penuh penasaran.
"Dia bersama itu.. eh bersama Nyi Pundi Ki", ujar si lelaki bertubuh ceking itu dengan gugup.
"Jangan sembarangan kamu bicara. Jaga omongan mu", teriak Mpu Guritno dengan marah.
"Dengar Ki Lurah,
Omongan orang ini tidak salah. Aku teringat dengan omongan Nini Sumbi yang mengatakan bahwa istri muda mu itu bersekutu dengan setan. Jangan jangan sekarang dia membawa gadis itu untuk persembahan", potong Panji Watugunung segera.
Mpu Sukrasana dan Mpu Soma saling berpandangan sejenak lalu mendekati Panji Watugunung.
"Kalau begitu, kita tidak bisa menunggu lagi Nakmas Pangeran. Kita harus cepat menyusul Nyi Pundi", ujar Mpu Soma segera.
"Ayo Guru Resi..
Dinda bertiga kalian disini saja. Tidak usah ikut. Tunggu saja kabar baik dari ku", Panji Watugunung segera menoleh pada ketiga istrinya itu, dan tiga perempuan itu segera mengangguk tanda mengerti. Jika mereka memaksa ikut, maka hanya akan menjadi pengganggu saja karena ilmu kebatinan mereka lemah.
Panji Watugunung, Warigalit, Mpu Soma, Mpu Sukrasana dan Mpu Guritno bergegas menuju ke arah hutan angker itu mengikuti langkah si lelaki bertubuh ceking yang menjadi penunjuk jalan, sementara 4 pengawal di tugaskan menjaga keselamatan 3 selir Panji Watugunung.
Mereka terus masuk ke dalam hutan angker.
Di dalam hutan angker, Nyi Polok menghunus sebilah pisau tajam dan segera menghujamkan ke leher anak gadis Ki Benu yang baru diantar Surenggono dan Nyi Pundi.
Crashhhh
Darah segar langsung dari perempuan itu dan dengan cepat, Nyi Polok membawa kuali untuk wadah darah segar yang keluar.
Setelah dirasa cukup, Nyi Polok segera melempar tubuh gadis perawan yang sudah tak bernyawa itu dan duduk bersila di depan kuali darah segar. Mulut nya komat kamit membaca mantra.
Panji Watugunung dan rombongannya yang sudah melihat keberadaan pondok kayu Nyi Polok, seketika menghentikan langkahnya saat tiba-tiba angin kencang berhembus dari pondok itu.
Whussss
Kerasnya hembusan angin membuat Panji Watugunung dan para pengiringnya terdorong mundur beberapa langkah.
Mpu Soma segera membaca mantra perlindungan Dewa Siwa sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Angin kencang tiba tiba menghilang. Panji Watugunung menarik nafas lega, tapi tanah kemudian bergetar hebat.
Deeeerrrggghhhh!!
Dari dalam tanah, muncul puluhan makhluk hitam dengan wajah menyerupai tengkorak manusia. Mereka langsung menerjang maju ke arah Panji Watugunung dan para pengikutnya.
Pertarungan sengit segera terjadi.
Warigalit segera menyambar dada makhluk hitam itu dengan Tombak Angin nya.
Crashhhh
Tombak Angin menembus dada mahluk hitam itu, si mahkluk hitam langsung roboh. Namun begitu menyentuh tanah, dia segera bangkit lagi dan mengepung Warigalit. Panji Watugunung pun sama, menyadari bahwa Ajian Tapak Dewa Api hanya membuat mahkluk hitam itu roboh sebentar lalu bangkit lagi, dengan cepat dia merapal mantra perlindungan Rajah Kala Cakra Buana.
__ADS_1
Resi Mpu Soma segera melempar tasbih kayu stigi nya. Tasbih melayang di udara dan berputar cepat. Mulut guru Pertapaan Ranja itu terus membaca mantra mantra perlindungan Dewa Siwa.
Perlahan mahkluk hitam itu tersedot ke dalam putaran tasbih kayu stigi Mpu Soma.
Hoaarrggghhhh
Lengkingan suara mengerikan terdengar dari mahkluk hitam itu segera. Satu persatu makhluk hitam masuk ke dalam putaran tasbih kayu stigi dan selanjutnya hilang tak berbekas.
"Polok!!
Keluarlah! Jangan bersembunyi di balik pintu pondok kayu mu", teriak Mpu Sukrasana sambil memutar tasbih biji genitri nya dengan cepat.
Hihihihii..
Terdengar suara tawa menyeramkan memenuhi hutan angker itu.
Kriettttt
Pintu pondok kayu terbuka lebar, sesosok bayangan merah berkelebat cepat di depan Mpu Sukrasana.
"Kakang Sukrasana,
Lama tidak bertemu. Kenapa kau kemari? Apa kau merindukanku? Ih hihihihii....", tawa Nyi Polok terdengar menakutkan.
"Hentikan perbuatan mu Polok, kau sudah mencelakai banyak nyawa orang tidak berdosa.
Jangan menjadi picik hanya karena ingin membantu orang yang berbuat keji", ujar Mpu Sukrasana segera.
"Simpan ceramah mu Kakang,
Lebih baik kau tidak ikut campur urusan ini. Nyi Pundi sudah membayar ku mahal untuk melakukan tugas ini", jawab Nyi Polok dengan lantang.
Dari dalam pondok kayu, Nyi Pundi keluar bersama dengan Surenggono.
"Warga Wanua Padelegan harus mati. Mereka harus membayar kematian Ki Prasojo ayah ku", teriak Nyi Pundi sambil menunjuk ke arah Mpu Guritno.
"Apa maksud mu Nyi? Kenapa warga Padelegan harus membayar kematian Ki Prasojo? Apa hubungan mu dengan pencuri itu?", tanya Mpu Guritno dengan penasaran.
Phuihhh
"Bandot tua!
Aku adalah Warinten, putri Ki Prasojo dan Nyi Mirah. Kalian sudah membunuh ayah ku dan mencelakai ibu ku. Hari ini akan ku balas dendam kematian orang tua ku. Akan ku musnahkan wanua Padelegan", teriak Nyi Pundi alias Warinten dengan penuh amarah.
"Ja-jadi kau anak Prasojo dan Nyi Mirah?
Keparat..
Aku benar-benar bodoh menyukai anak seorang maling", Mpu Guritno terkejut bukan main.
"Tua bangka bajingan!
Sudah bau tanah tapi masih juga jumawa. Nyi Polok, habisi nyawa tua bangka Guritno itu lebih dulu Nyi", ujar Nyi Pundi yang segera menoleh kearah Nyi Polok.
Perempuan bertudung merah darah itu menyeringai lebar mendengar ucapan Nyi Pundi. Mulut perempuan itu segera merapal mantra mantra ilmu pangiwa nya.
Angin dingin berdesir kencang dan berbau busuk bergulung-gulung menerjang kearah Mpu Guritno.
Mpu Sukrasana segera melompat menghadang angin dingin itu sambil mengucapkan mantra ilmu kebatinan nya. Tangan kakek tua berjenggot putih itu mengibas cepat kearah angin dingin dari Nyi Polok.
Sreeetttttt
Blammmm!!
Ledakan keras terdengar memenuhi hutan angker itu.
Mpu Sukrasana tersenyum simpul memandang kearah Nyi Polok yang kaget serangan ilmu pangiwa nya di tangkis dengan mudah oleh Mpu Sukrasana.
"Apa kau lupa kalau aku masih ada disini, Polok?!".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏