Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Keluarga Adalah Segalanya


__ADS_3

Belum sempat Panji Watugunung menjawab, Cempluk Rara Sunti sudah mendahuluinya.


"Paman Surajaya,


Kenapa kau menyerang keponakan mu sendiri?", teriak Cempluk Rara Sunti yang melesat cepat kearah Panji Watugunung sembari menatap tajam ke arah Warok Surajaya.


"Keponakan ku sendiri?


Apa maksud mu Cempluk?", tanya Warok Surajaya yang terkejut melihat Cempluk Rara Sunti yang segera memeluk tubuh Panji Watugunung.


"Ini adalah suami ku Paman Surajaya. Kenapa seenaknya saja kau menyerangnya?", Cempluk Rara Sunti segera mengusap darah yang keluar sudut bibir Panji Watugunung.


"Suami mu? Bukankah suami mu adalah Prabu Jayengrana? Raja dari Kerajaan Panjalu?", Warok Surajaya masih kebingungan dengan omongan Cempluk Rara Sunti.


"Lantas Paman Surajaya pikir siapa dia?


Dia itu adalah Gusti Prabu Jayengrana, dari kerajaan Panjalu", sahut Singo Manggolo dengan cepat.


Hampir copot jantung Warok Surajaya mendengar penuturan Singo Manggolo. Wajah Akuwu Sunggingan itu langsung pucat pasi seketika. Dia sudah berani menyerang Prabu Jayengrana, kalau sampai Prabu Jayengrana tidak terima, Pakuwon Sunggingan akan musnah dalam hitungan hari.


Pria paruh baya berbadan besar itu langsung berlutut di hadapan Panji Watugunung.


"Hamba bersalah Gusti Prabu Jayengrana.


Orang tua bodoh ini benar-benar buta. Tidak bisa melihat bahwa ada Raja Besar yang mengunjungi tempat terpencil kami. Mohon tidak menghukum rakyat Sunggingan, cukup hamba saja yang menerima nya.


Surajaya siap menerima hukuman", ujar Warok Surajaya sambil menyembah pada Panji Watugunung.


"Saya tidak akan membela seseorang jika dia bersalah. Sekalipun dia keluarga ku, jika dia melakukan kesalahan, maka Dhimas Prabu Jayengrana berhak menghukum nya", Singo Manggolo ikut berbicara.


Mendengar itu semua, Panji Watugunung terdiam sejenak sebelum berbicara.


"Bagaimanapun juga, Paman Surajaya adalah paman ku. Mana mungkin aku menghukum nya untuk kesalahan sekecil ini.


Berdirilah Paman", ujar Panji Watugunung segera.


"Terimakasih atas pengampunan dari mu Nakmas Prabu Jayengrana", Warok Surajaya segera bangkit dari sujud nya.


"Tapi,


Ada yang ingin aku pinta dari Paman Surajaya", imbuh Panji Watugunung sambil tersenyum lebar.


"Apa itu Nakmas Prabu?", tanya Warok Surajaya segera.


"Hari ini juga Paman Surajaya ikut aku ke Wanua Pulung. Aku ingin membicarakan tentang kerukunan dalam keluarga ku di Kadipaten Wengker ini.


Bagaimana Paman? Apakah paman bersedia?", Panji Watugunung menatap wajah Warok Surajaya.


"Aku siap Nakmas Prabu.


Lagipula aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Surapati", jawab Warok Surajaya sambil tersenyum tipis. Dalam hati dia mengakui bahwa Panji Watugunung benar-benar pintar memaksa nya untuk berangkat ke Wanua Pulung dengan memanfaatkan kecerobohan nya.


Hari itu juga, Panji Watugunung, Cempluk Rara Sunti, Dewi Srimpi, Singo Manggolo dan Warok Surajaya serta 4 orang sesepuh Pakuwon Sunggingan berangkat menuju ke arah Wanua Pulung untuk menemui Adipati Warok Suragati.


Begitu sampai di Wanua Pulung, senja telah turun ke wilayah Kadipaten Wengker. Warok Surapati selaku tuan rumah menyambut kedatangan kakak keduanya dengan penuh sukacita.


Dua saudara yang lama tidak bertemu itu meluapkan kegembiraan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Ku lihat kau semakin gemuk saja, Adhi Surapati", ujar Warok Surajaya sambil tersenyum tipis.


"Kakang juga terlihat lebih berisi hehehehe..


Aku gemuk begini karena adik ipar mu selalu memberikan makanan enak setiap hari Kakang Surajaya hahaha", Warok Surapati tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan kakak nya itu.


Kakak beradik itu terus berbincang dengan santai sementara Panji Watugunung dan kedua istrinya lebih memilih untuk tidak menggangu kenyamanan mereka berdua.


Lepas senja, serombongan orang berkuda dari Kadipaten Wengker datang ke kediaman Warok Surapati. Ini memang sudah di rencanakan oleh Panji Watugunung sejak tadi pagi. Dia berbagi tugas dengan mertua nya untuk memanggil dua pihak yang berseteru di Kadipaten Wengker.


Kedatangan Warok Suragati langsung di sambut dengusan dingin dari Warok Surajaya. Warok Surapati mengajak mereka berdua berbicara di serambi kediaman nya di temani Panji Watugunung sebagai penengah antara mereka.


"Aku ingin bertanya kepada Nakmas Prabu Jayengrana.


Apa maksud mempertemukan aku dan Kakang Suragati di tempat ini? Apa ingin aku menyerah dengan keinginan rakyat Sunggingan bebas dari wilayah Wengker?", tanya Warok Surajaya sambil menatap ke arah Panji Watugunung.


"Bukan begitu maksud ku Paman Surajaya. Aku hanya keadaan yang aman dan sentosa di wilayah Kadipaten Wengker.


Jika ada permasalahan sebaiknya kita bicarakan baik-baik", jawab Panji Watugunung sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Kakang Suragati, Nakmas Prabu..


Sunggingan tidak akan mau menghormat lagi pada Kadipaten Wengker", ujar Warok Surajaya dengan keras.


"Itu namanya kau memberontak terhadap pemerintah Panjalu, Adhi Surajaya. Karena sejak dari dulu Sunggingan adalah bagian dari Tanah Wengker", potong Warok Suragati sambil menghela nafas berat.


"Aku tidak memberontak terhadap pemerintah pusat di Daha, Kakang Suragati..


Raja ku tetap Maharaja Jayengrana, bukan yang lain. Tapi untuk menunduk lagi pada orang Wengker, kami tidak mau!", Warok Surajaya semakin merasa geram dengan omongan Warok Suragati.


"Tetap saja itu namanya memberontak terhadap pemerintah sah, Adhi Surajaya.


Itu sudah keluar dari peraturan yang berlaku di Kerajaan Panjalu", Warok Suragati semakin marah melihat sifat keras kepala Warok Surajaya.


"Aku tegaskan sekali lagi, Sunggingan tetap menjadi bagian dari Panjalu tapi bukan di bawah kekuasaan Wengker!", teriak Warok Surajaya tak mau kalah dengan Warok Suragati.


"Dasar keras kepala!", Adipati Warok Suragati yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, melesat cepat kearah Warok Surajaya usai keduanya sama-sama berdiri.


Warok Surajaya segera melompat dari serambi kediaman Warok Surapati untuk menunggu kedatangan Warok Suragati. Mereka bersiap untuk mengadu nyawa. Para pengiring kedua orang itu bersiap untuk bertarung namun hunusan senjata dari para pengawal pribadi Raja membuat mereka mengurungkan niatnya. Mereka hanya bisa diam saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap agar junjungan mereka unggul dalam pertarungan itu.


Kedua orang kakak beradik itu langsung beradu ilmu beladiri.


Tangan Warok Suragati melayang cepat kearah Warok Surajaya. Dia mengincar perut sang adik.


Breeeetttth..


Warok Surajaya berkelit ke samping lalu menyikut punggung Adipati Wengker itu dengan keras.


Bhuuukkkhhh...


Warok Suragati hanya mendengus dingin sembari menyambar tangan Warok Surajaya dengan cekalan tangan kanannya. Sikutan keras Warok Surajaya seakan tak terasa di tubuh penguasa Kadipaten Wengker ini.


Usai mencekal lengan Warok Surajaya, Adipati Wengker itu langsung menarik tangan Warok Surajaya sambil memajukan kepalanya, bermaksud membenturkan kepalanya pada dada Warok Surajaya.


Dhhhuuuuggggghh!


Warok Surajaya terhuyung mundur beberapa langkah. Dia segera melepaskan tali tambang berwarna putih yang mengikat di perutnya. Dengan mengeluarkan tenaga dalam tingkat tinggi, Warok Surajaya menarik kedua ujung tali tambang putih sebesar rongga genggam orang dewasa. Ajaibnya, tali tambang berwarna putih itu langsung mengeras seperti sebuah tongkat kayu.


Dengan cepat, Warok Surajaya memutar tongkat tali tambang itu. Deru angin kencang berhawa dingin langsung berputar di sekitar tubuh Warok Surajaya.


Usai merubah tampilan tali tambang berwarna putih yang semula lemas menjadi keras, Warok Surajaya melesat ke arah Adipati Wengker itu sembari mengayunkan tongkat tambang nya.


Whhuuuuuuuggggh...


Warok Suragati pun segera menyambut serangan adik keduanya dengan trengginas.


Semua orang menahan nafas melihat pertarungan sengit antara dua kakak beradik itu. Warok Surapati nampak murung menatap kedua saudaranya yang tengah berlaga mempertahankan harga diri dan pendapat yang mereka anggap benar.


Panji Watugunung terus mengamati pertarungan sengit itu. Meski hanya di terangi cahaya bulan purnama, namun terlihat jelas mereka sedang mengadu nyawa.


"Kangmas Prabu,


Aku minta kau memikirkan cara untuk menghentikan pertarungan antara Paman Suragati dan Paman Surajaya.


Bopo sangat sedih karena mereka berkelahi Kangmas", ujar Cempluk Rara Sunti sambil memegang lengan kiri Panji Watugunung.


Tanpa menjawab, Panji Watugunung melihat ke arah sosok guru nya, Warok Surapati yang terlihat murung sambil menatap ke arah Warok Suragati dan Warok Surajaya yang adu pukul di halaman rumah nya. Panji Watugunung segera mengerti apa yang tengah di rasakan oleh Warok Surapati. Segera dia berpikir keras bagaimana caranya agar mereka berdua bisa berdamai.


Sementara itu di tengah halaman rumah Warok Surapati, pertarungan sengit antara kakak beradik itu masih terus berlangsung.


Hantaman keras tongkat tali tambang Warok Surajaya di sambut dengan hadangan dari Warok Suragati dengan tongkat nya yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi.


Whhhuuuusssssshhhhhh


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar saat dua tongkat mereka berbenturan. Warok Surajaya terdorong mundur sejauh 2 tombak. Pun begitu dengan Warok Suragati yang menerima hal yang sama.


Adipati Wengker itu segera memegang ujung kedua tongkat nya. Tongkat nya langsung berubah kembali seperti semula. Warok Suragati dengan cepat mengikat tali tambang itu ke pinggang nya.


Kedua tangan Warok Suragati langsung bersedekap di depan dada. Mata Adipati Wengker itu terpejam dan mulutnya komat-kamit membaca mantra. Dia berniat untuk menggunakan Ajian Cadas Geni andalannya. Tak berapa lama kemudian selarik sinar merah kekuningan langsung muncul di kedua lengan Warok Suragati yang besar.


Dengan segera, sinar merah kekuningan bergulung gulung dan berkumpul di kedua kepalan tangan penguasa Kadipaten Wengker ini.


Melihat itu, Warok Surajaya pun tak mau ketinggalan. Akuwu Sunggingan itu segera memejamkan matanya usai mengikat tali tambang yang sudah kembali ke bentuk semula pada pinggang. Dengan cepat, mata Warok Surajaya terpejam dan mulutnya komat-kamit membaca mantra Ajian Tapak Angin Pesisir Selatan yang merupakan ilmu kedigdayaan andalannya. Selarik sinar biru redup berhawa dingin dengan cepat melingkupi seluruh lengan kedua tangan Warok Surajaya kemudian berkumpul pada kedua telapak tangan nya.


Para prajurit pengawal pribadi Panji Watugunung, pengawal Adipati Wengker dan pengikut Akuwu Sunggingan masing-masing segera menjauh dari tempat mereka mengadu ilmu. Dua ilmu kanuragan tingkat tinggi itu menciptakan suasana panas dan dingin secara bersamaan.

__ADS_1


Warok Suragati segera melesat cepat kearah Warok Surajaya dengan tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api. Warok Surajaya pun tak ketinggalan melesat cepat kearah kakaknya dengan telapak tangan tangan kanannya berwarna biru redup berhawa dingin serta angin yang menderu kencang.


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!


Saat mereka hampir beradu, sebuah bayangan berwarna kuning keemasan berkelebat cepat kearah mereka berdua dan menghantamkan kedua tangan menangkis hantaman mereka berdua.


Mata Warok Suragati maupun Warok Surajaya melotot lebar saat melihat kedatangan Panji Watugunung yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Karena jarak yang tak mungkin menghindar, serangan mereka membentur tubuh Panji Watugunung yang berwarna kuning keemasan.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Warok Surajaya dan Warok Suragati terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Warok Surajaya langsung muntah darah kehitaman begitu pula dengan Warok Suragati. Adipati Wengker itu langsung menotok beberapa jalan darah nya setelah muntah darah kehitaman.


Sedangkan Panji Watugunung yang masih di tengah halaman tidak kelihatan tubuhnya karena tertutup asap tebal yang terjadi akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi antara mereka bertiga.


Saat asap menghilang, Panji Watugunung masih berdiri tegak di halaman rumah Warok Surapati dengan tubuh yang berwarna kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja.


"Paman Adipati Suragati dan Paman Akuwu Surajaya..


Maaf aku menyela pertarungan kalian. Aku sebagai Raja Panjalu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menghentikan semua pertikaian antara kalian. Sekarang mari kita duduk bersama untuk membicarakannya", titah Panji Watugunung dengan penuh wibawa. Mendengar itu Warok Suragati maupun Warok Surajaya mengangguk setuju. Di bantu oleh Singo Manggolo, Warok Suragati berjalan menuju ke arah serambi kediaman Warok Surapati. Sedangkan Warok Surajaya di papah oleh Warok Surapati.


Usai mereka telah berkumpul bersama di serambi kediaman Lurah Wanua Pulung itu, Panji Watugunung segera membuka percakapan.


"Paman sekalian,


Aku mengerti dengan maksud dari kalian bertarung mati-matian seperti ini. Tapi paman sekalian juga harus ingat, bahwa di atas keinginan pribadi paman berdua, ada keluarga kalian yang kebingungan menentukan arah.


Paman berdua harus ingat bahwa keluarga adalah segalanya, paman", ujar Panji Watugunung yang seketika langsung membuat Warok Surajaya dan Warok Suragati terdiam. Mereka menatap ke arah adik bungsu mereka, Warok Surapati yang hanya menunduk tanpa bicara apa-apa.


"Sekarang aku yang memutuskan untuk permasalahan ini.


Paman Adipati Suragati, kau harus merelakan Sunggingan untuk berdiri sendiri sebagai wilayah Pakuwon yang berhubungan langsung dengan Istana Daha.


Paman Warok Suragati, aku meminta wilayah kecil Sunggingan sebagai salah satu bagian dari Panjalu, memberikan upeti yang sepadan dengan luas wilayah mu. Kau akan bergelar sebagai Bupati. Dan daerah mu bukan lagi bernama Sunggingan tapi aku ubah namanya menjadi Pacitan.


Apa kalian mengerti?", Panji Watugunung menatap wajah dua paman nya itu segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu, kami siap menjalankan perintah", ujar Warok Surajaya dan Warok Suragati bersamaan.


Dan demikianlah, mulai dari saat itu wilayah Sunggingan berubah nama menjadi Kabupaten Pacitan dengan Warok Surajaya menjadi Bupati pertama nya.


Keesokan harinya, saat Panji Watugunung dan kedua istrinya tengah bercengkerama di serambi kediaman Warok Surapati bersama Singo Manggolo, Warok Suragati dan Warok Surajaya, serombongan pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Warigalit datang ke tempat itu.


Kedatangan mereka mengejutkan semua orang yang ada kecuali Panji Watugunung. Namun satu ucapan Senopati Warigalit membuat Panji Watugunung naik pitam.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Ada pergerakan pemberontakan di Lwaram"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Semangat semuanya..


Tetap semangat jangan mudah menyerah.


IG author : ebez 2812

__ADS_1


__ADS_2