
"Sudah saya dengar keputusan Gusti Adipati Gandakusuma. Akan saya sampaikan kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung semua yang Gusti Adipati katakan.
Saya mohon pamit Gusti Adipati", ujar Senopati Narapraja sambil menyembah kepada Adipati Paguhan itu sambil mundur dari balai paseban Kadipaten Paguhan.
Saat Senopati Narapraja dan Warigalit berjalan keluar, Tumenggung Rumpaksana segera menghormat pada Adipati Gandakusuma.
"Maaf Gusti Adipati,
Apa sebaiknya kita habisi mereka?", ujar Tumenggung Rumpaksana menunggu perintah.
"Tahan dirimu Rumpaksana,
Masih banyak waktu untuk menghabisi orang orang Daha itu. Membunuh utusan dari wilayah lain itu hanya akan mencemari nama baik kita", ucapan Sang Adipati Paguhan seketika mengundurkan niat Tumenggung Rumpaksana.
Perwira prajurit muda berkumis tebal dan berjambang lebat itu segera duduk kembali ke tempat nya.
"Dengarkan aku,
Senopati Sembu,
Begitu mereka sampai di Kalingga, pasukan Daha akan segera menyerbu Paguhan. Sebelum mereka memasuki kota Kadipaten Paguhan, hadang mereka di padang rumput Setubanda.
Rumpaksana, Gempi, Kandaga dan kau Tumenggung Kalayaksa.
Bantu Senopati Sembu menjalankan tugas nya.
Aku menunggu berita kekalahan pasukan Daha dari kalian", titah sang Adipati Paguhan.
Senopati Sembu segera menyembah kepada Adipati Gandakusuma kemudian mundur dari balai paseban Kadipaten Paguhan. Laki laki paruh baya berbadan besar itu segera bergegas menuju ke kesatrian Paguhan diikuti oleh Tumenggung Rumpaksana, Tumenggung Kalayaksa, Demung Gempi dan Demung Kandaga.
Sore itu juga, pasukan Paguhan dengan 10.000 prajurit bergerak meninggalkan kesatrian Paguhan menuju ke Padang rumput Setubanda yang terletak di utara kota Kadipaten Paguhan.
Adipati Gandakusuma melepas kepergian mereka dengan tatapan mata penuh harapan.
Sebagai seorang pangeran yang tersingkir dari hak atas tahta Galuh Pakuan, Gandakusuma sangat berambisi untuk menjadi seorang raja. Ayahnya adalah putra sulung dari Prabu Sanghyang Ageng yang seharusnya berhak atas tahta Galuh Pakuan, namun Hyang Wamana menderita cacat tangan. Seorang raja harus memiliki tubuh sempurna tanpa cacat, sesuai aturan adat kitab Rajaniti sehingga dia tidak berhak menjadi Raja Galuh Pakuan selanjutnya. Maka tahta Galuh Pakuan jatuh pada sang menantu, Jayabhupati yang berasal dari Medang Kamulan, yang memperistri putri bungsu Sanghyang Ageng.
Hyang Wamana yang memperistri putri sulung Adipati Paguhan, akhirnya menjadi Adipati Paguhan yang menurunkan Gandakusuma. Karena itu lah Gandakusuma yang merasa dia berhak menjadi Raja. Ambisi nya yang besar telah membutakan matanya yang haus akan kekuasaan.
"Aku akan menjadi raja meskipun tidak di Galuh Pakuan", ucap Adipati Gandakusuma sambil mengepalkan tangannya.
Sementara itu, Senopati Narapraja dan Warigalit serta 10 prajurit pengiringnya terus menggebrak kuda mereka menuju ke arah Pakuwon Banjar. Meski malam mulai turun, dengan membawa obor mereka terus memacu kuda mereka.
Saat hampir pagi, mereka sampai di istana Pakuwon Banjar.
Mentari pagi bersinar cerah di ufuk timur. Perlahan langit menjadi terang setelah gelap malam menyelimuti langit Pakuwon Banjar.
Panji Watugunung hanya tersenyum tipis saat keempat istrinya berebut mendandaninya dengan baju prajurit.
Dewi Naganingrum sedang mengikat baju zirah di punggung sang suami, sedang Sekar Mayang memakaikan sumping telinga yang berbentuk sulur pakis dari emas. Ratna Pitaloka memasang tali di sarung Pedang Naga Api sementara Dewi Srimpi memakaikan gelang bahu kiri dari emas yang melingkar di lengan atas. Mereka semua tampak teliti dalam melakukan tindakan nya.
Setelah selesai berdandan layaknya seorang bangsawan keraton Daha, Panji Watugunung segera keluar dari kamar tidur nya diikuti oleh keempat istrinya.
Di luar balai peristirahatan Pakuwon Banjar, para perwira tinggi prajurit Daha sudah menunggu kedatangan Panji Watugunung.
"Ampun Gusti Pangeran,
Semua prajurit sudah bersiap di tapal batas wilayah Kalingga", lapor Tumenggung Janadi sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Bagaimana dengan jawaban Adipati Paguhan, Senopati Narapraja?", Panji Watugunung memandang kearah Senopati Narapraja dan Warigalit.
"Dia berkata bahwa Paguhan siap untuk berperang melawan Daha, Gusti Pangeran", jawab Senopati Narapraja yang segera mendapat anggukan kepala dari Warigalit.
Hemmmm
"Aku tidak suka berperang, karena perang selalu menimbulkan penderitaan untuk rakyat.
Tapi jika hanya dengan perang bisa menentramkan kekacauan, maka sebagai prajurit, aku dengan senang hati melakukannya.
Kita serbu Paguhan!", teriak lantang Panji Watugunung sambil mengacungkan keris pusaka Kyai Naga Panjalu sebagai tanda perang di mulai.
Sorak sorai para perwira tinggi prajurit Daha terdengar riuh rendah.
__ADS_1
Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh keempat istrinya juga para perwira tinggi prajurit Daha. Mereka bergerak menuju ke pasukan Panjalu yang sudah bersiap di tapal batas wilayah Kalingga dan Paguhan.
Terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring. Pasukan Daha yang berjumlah 9300 prajurit bergerak laksana air bah menuju ke arah kota Kadipaten Paguhan. Bendera biru langit dengan hiasan sulaman benang emas bergambar burung Garuda di pegang Landung sambil menaiki kuda. Bendera merah bergambar kembang cempaka mewakili pasukan Kalingga, bendera kuning dengan hiasan bergambar bunga melati dari pasukan Kembang Kuning, bendera hijau berhias gambar gapura dari Rajapura, bendera biru bergambar bintang dari Bhumi Sambara dan bendera merah bergambar Chandrakapala dari pasukan Daha turut berkibar di sepanjang perjalanan mereka. Rakyat Paguhan memilih untuk menyingkir dari jalan, tidak berani keluar rumah.
Selepas tengah hari, seorang prajurit telik sandi bergegas mendekati Tumenggung Janadi. Usai mendapat berita, Tumenggung Janadi langsung memecut kudanya mendekati Panji Watugunung.
"Ampun Gusti Pangeran,
Prajurit telik sandi baru saja mengabarkan bahwa pasukan Paguhan menyiapkan pertahanan di Padang rumput Setubanda di utara kota Kadipaten.
Setelah melewati bukit kecil itu, kita akan sampai di Padang rumput Setubanda Gusti Pangeran", ujar Tumenggung Janadi sambil menunjuk ke arah bukit kecil hijau di hadapan mereka.
Hemmmm
"Terimakasih atas laporan mu Tumenggung Janadi. Kembalilah ke pasukan mu segera.
Senopati Narapraja,
Perintahkan kepada semua prajurit untuk berhenti di kaki bukit kecil itu begitu kita sampai disana. Malam ini kita bermalam disini", Panji Watugunung menoleh ke Senopati Narapraja yang berkuda di samping nya.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar Senopati Narapraja yang segera memutar kudanya mendengar prajurit peniup terompet tanduk kerbau.
Suara bunyi nyaring terdengar dari terompet itu segera. Para pasukan perbekalan segera menata tenda untuk bermalam pasukan Daha.
Semua nya bahu membahu membangun tenda di kaki bukit kecil.
Senopati Narapraja segera mengatur giliran jaga malam untuk malam itu.
Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya di ikuti oleh semua orang. Dia berjalan mendekati Rajegwesi dan Ludaka.
"Rajegwesi,
Bawa pemanah dari pasukan Garuda Panjalu untuk menyebar di sekitar bukit ini.
Ludaka,
Pasukan pengintai mu segera atur untuk melihat keadaan pasukan Paguhan. Setelah matahari terbenam, kita berkumpul di tenda ku", perintah Panji Watugunung segera. Dua perwira prajurit itu segera menghormat dan bergerak sesuai arahan dari pemimpin mereka.
Di dalam istana Kadipaten Paguhan, Adipati Gandakusuma sedang duduk di kursi ruang pribadi nya. Patih Nala Gupita dan penasehat Mpu Sukra tampak duduk bersila di hadapan nya.
Seorang perwira menengah dengan pangkat bekel prajurit ikut duduk di depan Adipati Paguhan.
"Jadi mereka sudah sampai di kaki Bukit Randu, Wratsangka?", tanya Adipati Gandakusuma sambil menatap wajah Bekel Wratsangka.
"Benar Gusti Adipati,
Menurut telik sandi jumlah mereka sebanding dengan jumlah pasukan kita. Beberapa bendera yang dikibarkan terlihat dari bendera Kadipaten di sekitar Paguhan", Bekel Wratsangka segera menghormat pada sang Adipati.
Hemmmm
Adipati Gandakusuma mendengus keras. Dengan gusar dia memilin kumisnya yang tebal.
"Rupanya Adipati Adipati bodoh itu ingin meruntuhkan kekuasaan ku di Paguhan.
Bangsat!
Kalau sampai pasukan ku selesai menghancurkan pasukan Daha, akan ku gempur mereka satu persatu", teriak Adipati Gandakusuma dengan keras.
"Nala Gupita,
Berapa sisa pasukan kita yang ada di istana?", Adipati Gandakusuma menoleh kearah Patih Nala Gupita.
"800 prajurit Gusti Adipati.. Itu termasuk para penjaga gerbang istana. Apa maksud Gusti Adipati menanyakan hal ini?", Patih Nala Gupita menghormat pada Adipati Gandakusuma.
"Kirim 500 pasukan yang tersisa di istana untuk membantu pasukan di Setubanda", perintah Adipati Paguhan itu sambil menggeram marah. Dia ingin pasukan nya menang dengan mengandalkan kekuatan.
"Ampun Gusti Adipati.
Mengosongkan istana kadipaten itu sangat berbahaya. Kalau sewaktu-waktu ada serangan ke istana, maka kejatuhan Paguhan akan berlangsung cepat", Mpu Sukra memberikan nasehat bijak nya.
"Diam kau Mpu Sukra,
__ADS_1
Jangan banyak bicara atau ku pancung leher mu karena berani menentang perintah ku", Adipati Gandakusuma mendelik tajam kearah Mpu Sukra. Penasehat sepuh itu hanya mengelus dadanya tanpa berkata lagi.
Malam itu, 500 prajurit Paguhan yang dipimpin Bekel Wratsangka bergabung dengan pasukan yang sudah lebih dulu berkemah di Padang rumput Setubanda.
Di sisi lain Padang rumput Setubanda, Panji Watugunung sedang mengatur rencana peperangan besok di dalam tenda besar. Para perwira tinggi prajurit semuanya berkumpul disana.
"Ampun Gusti Pangeran,
Dari teman teman pengintai, jumlah pasukan mereka sekitar 10.000 prajurit. Dengan perincian sekitar 3 ribu pasukan berkuda, 5 ribu pasukan berjalan kaki, 1 pasukan pemanah dan 1 prajurit perbekalan", ujar Ludaka sambil menghormat.
Hemmmm
"Karena mereka jenis pasukan bergerak lambat, mereka kemungkinan akan menggunakan wyuha Wukirsegara.
Gunung dan laut bisa ditaklukkan oleh angin dan petir. Kita gunakan wyuha chandra di depan dengan dua lapis pasukan. Pasukan lapis pertama terdiri pasukan dengan tombak dan tameng. Pasukan lapis kedua terdiri dari pasukan pemanah. Usai 3 tembakan panah, siasat kedua segera berubah menjadi wyuha vajra.
Kakang Warigalit memimpin ujung vajra tengah. Senopati Narapraja memimpin di sisi kiri dan Senopati Lokananta di kanan.
Apa kalian mengerti?", tanya Panji Watugunung segera.
"Kami mengerti Gusti Pangeran", seluruh perwira tinggi prajurit Daha bersamaan menjawab dengan tegas.
Malam itu mereka beristirahat dengan tenang.
Pagi menjelang tiba di Padang rumput Setubanda. Meski cuaca sedikit mendung, tapi tidak menurunkan suhu panas dari semangat para prajurit yang hendak berlaga hari ini.
Panji Watugunung nampak sudah bersiap untuk berangkat menuju ke medan tempur. Dengan dandanan layaknya pangeran Daha, dia berteriak lantang memompa semangat pasukannya.
"Saudara ku para prajurit Daha semua,
Hari ini kita akan mencatatkan nama kita pada sejarah Kerajaan Panjalu. Hari ini kita akan menghancurkan para pemberontak yang hendak merongrong kewibawaan negara.
Sebagai seorang prajurit Daha, tugas kita untuk mengalahkan setiap upaya musuh yang ingin merobohkan negara.
Biar semua penduduk Jawa Dwipa tahu, bahwa jika ada yang ingin mengacaukan tatanan kehidupan kita, maka pasukan Daha akan berdiri di garis depan sebagai pelindung kedaulatan Panjalu.
Hari ini, tidak ada ampun untuk pemberontak.
Ayo, kita kalahkan Gandakusuma!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Jangan lupa kasih rate lima bintang 🌟 agar author terus semangat menulis yah
__ADS_1
Selamat membaca kak 😁😁😁