Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Rencana Balas Dendam


__ADS_3

"Apa maksud Gusti Pangeran berkata demikian?


Bukankah itu sama dengan kita mencari masalah dengan Panjalu? Sedangkan kekuatan kita saat ini tengah porak poranda akibat perang ini?", tanya Mpu Baratwana seraya menatap heran kearah Mapanji Alanjung yang masih tersenyum menyeringai.


"Soal itu kau tidak usah khawatir, Paman Mpu Baratwana..


Paman Samarotsaha jelaskan pada Paman Mpu Baratwana biar dia mengerti apa yang akan kita lakukan", jawab Mapanji Alanjung dengan cepat. Segera dia menoleh ke arah Rakryan Samarotsaha yang duduk di sebelah kanannya.


Rakryan Samarotsaha segera menyembah pada Mapanji Alanjung sesaat sebelum berbicara.


"Begini Kakang Baratwana,


Rencana balas dendam pada Samarawijaya akan di lakukan oleh Iblis Seribu Muka dan pasangan nya itu. Wulupaksi yang akan menjadi penghubung kita selama mereka berdua menjalankan tugas nya. Tidak perlu melibatkan banyak orang dari pihak kita.


Aku ingin menobatkan Nakmas Pangeran Mapanji Alanjung sebagai Maharaja Jenggala dalam waktu dekat ini. Sebuah kerajaan tidak boleh dibiarkan kosong tanpa raja dalam waktu yang lama. Meskipun kita masih di pengasingan tapi beberapa Adipati di wilayah timur sudah bersedia hadir di tempat ini untuk menyaksikan upacara penobatan Nakmas Pangeran Mapanji Alanjung", ujar Rakryan Samarotsaha sambil tersenyum simpul.


"Saya setuju dengan pendapat mu, Gusti Pangeran..


Bagaimanapun juga suatu wilayah tidak boleh kosong tanpa pemimpin terlalu lama. Kita juga harus membuktikan bahwa Jenggala masih ada, meski kita kalah perang melawan Panjalu", ucap Mpu Baratwana sambil mengelus jenggotnya yang mulai di tumbuhi uban.


Saat mereka tengah asyik berbincang, dari arah luar terdengar derap langkah kaki kuda berhenti. Pandangan semua orang beralih ke arah halaman. Nampak dua orang berpakaian serba hitam yang mengenakan caping dari anyaman bambu turun dari kuda mereka masing-masing. Dua orang pekatik segera menuntun dua kuda itu ke arah geladak kuda di samping kiri halaman rumah besar yang menjadi tempat pengasingan Mapanji Alanjung dan para pengikutnya.


Mereka segera melepaskan caping bambu yang hampir menutupi seluruh wajah. Sinar matahari pagi yang cerah membuat semua orang segera mengenali mereka.


Ya, mereka berdua ada Sarwono dan Langsur. Dua orang mata-mata yang di tugaskan oleh Mapanji Alanjung untuk mengawasi pergerakan prajurit Panjalu di kota Kahuripan.


Segera mereka melangkah masuk menuju serambi rumah pengasingan itu dengan cepat. Usai menyembah pada Mapanji Alanjung, mereka segera duduk bersila di hadapan Mapanji Alanjung.


"Ada hal penting apa yang hendak kalian laporkan padaku?", tanya Mapanji Alanjung dengan penuh rasa penasaran.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Pangeran Jayengrana sudah meninggalkan kota Kahuripan. Meninggalkan seorang Senopati dan beberapa perwira tinggi untuk menjaga kota Kahuripan", jawab Sarwono dengan cepat. Pria bertubuh gempal itu nampak begitu hormat kepada Mapanji Alanjung.


"Ini berita bagus.


Dengan begitu kita bisa dengan mudah merebut kembali kota Kahuripan", senyum lebar terkembang di bibir Mapanji Alanjung.


"Paman Baratwana,


Segera siapkan pasukan Jenggala untuk merebut ibukota Jenggala. Aku sudah tidak sabar untuk kembali kesana", perintah Mapanji Alanjung pada Mpu Baratwana yang duduk di samping kiri nya.


Belum sempat Mpu Baratwana menjawab perintah Mapanji Alanjung, Rakryan Samarotsaha segera berbicara dengan cepat.


"Tunggu Nakmas Pangeran,


Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak. Tidak mungkin Panji Watugunung meninggalkan kota Kahuripan tanpa persiapan. Jangan terburu nafsu untuk kembali ke Kahuripan. Keadaan pasukan Jenggala yang tersisa, belum sepenuhnya bisa di gunakan untuk menghadapi pasukan Panjalu yang ada di sana.


Kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak mati sia-sia", ujar Rakryan Samarotsaha sambil menghormat pada Mapanji Alanjung.


"Benar ucapan Gusti Pangeran sepuh,


Kita boleh ceroboh dalam bertindak Gusti Pangeran. Ingat kekuatan Jenggala belum terkumpul sepenuhnya", timpal Mpu Baratwana sambil menatap ke arah Putra Mahkota Kerajaan Jenggala itu.


Hemmmm


Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Mapanji Alanjung. Pemuda itu mencoba untuk mencerna setiap ucapan dari dua orang pengikutnya itu.


"Lantas apa saran kalian berdua untuk ke depannya?


Aku tidak mau berlama-lama di tempat ini", tanya Mapanji Alanjung segera. Dia menatap wajah Rakryan Samarotsaha dan Mpu Baratwana bergantian.


"Kalau menurut Paman,


Sebaiknya Nakmas Pangeran segera mengirim Sepasang Iblis Hitam dari Mahameru itu untuk berangkat ke Daha. Jika rencana balas dendam berjalan lancar, maka mereka tidak akan sempat mengirim bantuan ke Kahuripan saat kita merebut kembali kota itu.


Sedangkan kita juga harus melakukan penobatan Gusti Pangeran sebagai Maharaja Jenggala secepatnya agar Adipati Adipati wilayah membantu kita untuk menguasai kembali kota Kahuripan", jawab Rakryan Samarotsaha sambil tersenyum tipis.


"Tapi aku tidak mau di nobatkan sebagai Raja Jenggala di tempat pengasingan seperti ini, Paman..


Aku ingin penobatan ku sebagai Raja Jenggala di lakukan di istana Kahuripan", potong Mapanji Alanjung dengan nada kesal.


"Gusti Pangeran harus legowo..


Kalau Gusti Pangeran tidak segera menjadi Raja, para Adipati wilayah Jenggala pasti setengah hati membantu perjuangan kita dalam merebut kembali kota Kahuripan.


Ingat Gusti Pangeran,


Maharaja Airlangga pun di nobatkan menjadi raja Medang saat di pertapaan para brahmana. Namun hasilnya beliau mampu menyatukan bumi Jawadwipa dengan kekuatan nya", sahut Mpu Baratwana yang membuat Mapanji Alanjung terdiam sejenak.


"Baiklah,


Aku turuti semua saran kalian berdua. Kalau ku pikir ada benarnya juga apa yang kalian utarakan.


Wulupaksi,


Dan kalian Sepasang Iblis Hitam dari Mahameru,


Berangkatlah kalian bertiga ke Daha. Lakukan apa yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan baik. Kalau kalian berhasil, jabatan Senopati Jenggala akan ku berikan kepada kalian bertiga. Apa kalian mengerti?", Mapanji Alanjung mengalihkan pandangan nya ke arah ketiga orang yang duduk bersila di sebelah Rakryan Samarotsaha itu dengan tatapan mata penuh arti.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Wulupaksi, Iblis Seribu Muka dan Dewi Pedang Hitam bersamaan. Mereka bertiga segera menyembah pada Mapanji Alanjung sesaat sebelum undur diri dari serambi rumah pengasingan itu.


Pandangan semua orang terarah pada tiga orang itu saat mereka mulai memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah selatan.


Hari segera berganti.


Keesokan harinya, Mapanji Alanjung menerima kedatangan Adipati Pasuruhan, Dinoyo, Singhapura, Keling, Lamajang dan Blambangan yang menyatakan kesetiaannya kepada Jenggala. Sedangkan Kadipaten Matahun dan Bojonegoro yang sudah di kuasai sepenuhnya oleh Panjalu, tidak berbuat hal yang sama.


Sepekan berikutnya, Mapanji Alanjung di nobatkan sebagai Raja Jenggala oleh para pendukungnya di rumah pengasingan itu dengan upacara yang khidmat. Bersamaan dengan itu, Mapanji Alanjung dinikahkan dengan keponakan Rakryan Samarotsaha yang bernama Dewi Sekar Bawana. Meski di tempat pengasingan, namun upacara pernikahan itu berlangsung meriah dengan dukungan para penguasa daerah yang masih setia dengan wangsa Isyana dari keturunan Mapanji Garasakan.


Perlahan kekuatan Jenggala terkumpul bersamaan dengan datangnya para prajurit yang dikirim para Adipati yang menyatakan kesetiaannya kepada Mapanji Alanjung.


Mereka semua terus melakukan persiapan untuk merebut kembali ibukota Jenggala yang dipimpin oleh Senopati Narapraja.


**


Rombongan Panji Watugunung terus bergerak menuju ke arah Daha. Setelah melewati perjalanan sepekan yang melelahkan, mereka tiba di dekat Bukit Lanjar yang merupakan markas Padepokan Anggrek Bulan.

__ADS_1


"Kakang Watugunung,


Bukankah itu Bukit Lanjar?", tanya Ratna Pitaloka sambil menunjuk ke arah sebuah bukit yang menjulang di kejauhan. Selir pertama Panji Watugunung itu berkuda di samping sang Yuwaraja Panjalu usai mereka melewati Pakuwon Lantir.


"Benar Dinda Pitaloka,


Apa sebaiknya kita mampir ke Padepokan Anggrek Bulan lebih dulu? Kita sudah lama tidak bertemu dengan nenek ku itu", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Tidak ada salahnya jika kita mampir kesana Kakang,


Sekalian memperkenalkan istri istri mu ini pada Dewi Anggrek Bulan. Pasti beliau akan senang sekali jika kita kesana", ujar Sekar Mayang yang kebetulan berkuda di samping kiri sang suami.


"Kalau menurut kalian seperti itu, aku juga tidak keberatan", ucap Panji Watugunung yang segera mengangkat tangan kanannya. Seorang lelaki bertubuh gempal berjambang lebat yang bertugas meniup terompet tanduk kerbau segera mengangguk mengerti.


Thuuuuuuuuutttttthhhh!!!!


Mendengar suara itu, seluruh pergerakan prajurit Panjalu langsung berhenti seketika. Tumenggung Landung yang berkuda di depan, langsung menarik tali kekang kudanya lalu segera mendekati Panji Watugunung dan keempat istri nya.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Ada hal penting yang perlu disampaikan kepada hamba?", tanya Tumenggung Landung usai menghormat pada Panji Watugunung.


"Melewati tikungan jalan depan, arahkan pasukan kita ke Bukit Lanjar.


Malam ini kita bermalam di sana", titah Panji Watugunung dengan tegas.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Tumenggung Landung yang segera kembali ke depan barisan pasukan Panjalu. Rombongan pasukan Panjalu kembali bergerak usai perintah di terima. Mereka mengikuti langkah Tumenggung Landung dan Tumenggung Ludaka yang menjadi ujung tombak pergerakan prajurit Panjalu.


Anggrek Perak tengah bersenda gurau di balai utama dengan adik seperguruannya saat seorang perempuan muda yang bertugas menjaga gerbang Padepokan Anggrek Bulan berlari cepat kearah nya.


"Kangmbok Perak, huft hufttt...


Itu.. Itu di depan gerbang Kangmbok", ujar si perempuan muda itu dengan nafas tersengal sengal.


"Ada apa dengan mu, Seroja?


Seperti baru melihat setan saja kau ini", tanya Anggrek Perak dengan tatapan mata penuh keheranan.


"Ada.. Ada pasukan besar yang bergerak kemari Kangmbok..


Mereka hampir mendekati pintu gerbang padepokan kita", lapor Bunga Seroja yang merupakan adik seperguruan Anggrek Perak.


APAAAAAA..!!!!


Anggrek Perak terkejut bukan main mendengar laporan Bunga Seroja. Perempuan cantik itu segera menoleh ke arah seorang wanita muda yang duduk di sebelahnya.


"Anggrek Wungu,


Cepat kau laporkan hal ini kepada guru di kediaman nya. Aku ingin melihat siapa yang datang kemari. Cepat!", perintah Anggrek Perak pada Anggrek Wungu dengan cepat. Perempuan cantik berbaju ungu itu segera mengangguk mengerti dan berlari menuju ke arah rumah utama Padepokan Anggrek Bulan.


Sedangkan Anggrek Perak di temani Bunga Seroja dan 2 orang wanita muda lainnya segera berlari menuju ke arah pintu gerbang padepokan.


Di depan pintu gerbang Padepokan Anggrek Bulan, pasukan Panjalu telah sampai. Tumenggung Landung dan Tumenggung Ludaka melompat turun dari kuda mereka masing-masing. Dua perwira tinggi prajurit Daha itu berjalan mendekati pintu gerbang padepokan yang di jaga oleh 8 orang perempuan muda.


"Pimpinan kami ingin bertemu dengan Dewi Anggrek Bulan, mohon di beritahukan", ujar Tumenggung Landung dengan sopan.


"Siapa pimpinan kalian? Apa urusannya dengan padepokan kami?", sahut Anggrek Perak dengan lantang.


Tumenggung Landung segera menoleh ke arah Anggrek Perak. Ada raut wajah kesal dengan ketidaksopanan Anggrek Perak.


"Hai perempuan,


Kasar sekali omongan mu. Apa tidak bisa mulut mu berbicara dengan lembut ha?", hardik Tumenggung Landung dengan keras. Mata perwira tinggi prajurit Daha itu mendelik tajam ke arah Anggrek Perak.


"Kalau tidak bisa, kau mau apa?", tantang Anggrek Perak dengan tangan kanan memegang gagang pedang nya.


"Kurang ajar!


Rupanya mulut mu perlu di beri pelajaran", teriak Tumenggung Landung yang segera melesat cepat kearah Anggrek Perak sambil tangannya terayun bermaksud menampar mulut murid kedua Dewi Anggrek Bulan itu.


Melihat itu, Anggrek Perak segera mencabut pedangnya kemudian mengayunkannya pada tangan Tumenggung Landung.


Shreeeeettttthhh...


Merasa tangan kanannya terancam, Tumenggung Landung urungkan serangan dengan menarik cepat tangan kanannya yang hendak di tebas oleh pedang Anggrek Perak.


Perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dengan merendahkan tubuhnya lalu menyapu kaki Anggrek Perak dengan kaki kanan nya.


Whuuussshh..


Anggrek Perak yang melihat itu, buru buru melompat tinggi ke udara dan mendarat mundur beberapa langkah dari Tumenggung Landung.


Saat Tumenggung Landung hendak melesat maju, sebuah tangan mencekal lengan nya.


"Tahan dulu, Landung!"


Mendengar suara itu, Tumenggung Landung segera menoleh ke arah sumber suara yang sangat di kenali nya. Panji Watugunung sudah berdiri di sampingnya.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Hamba terlalu cepat naik darah. Perempuan itu mulutnya tajam sekali", ujar Tumenggung Landung sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Sudahlah, jangan di perpanjang. Cukup sampai disini saja salah paham nya.


Anggrek Perak,


Apa kau lupa dengan ku?", Panji Watugunung menatap ke arah Anggrek Perak.


"Kau...Kauu bukankah kau Pendekar Pedang Naga Api?


Kau Panji Watugunung bukan?", tanya Anggrek Perak yang lupa lupa ingat dengan Panji Watugunung.


"Lancang sekali mulut mu perempuan,


Apa kau tidak tahu bahwa kau sedang berhadapan dengan Gusti Pangeran Jayengrana, Yuwaraja Panjalu?", potong Tumenggung Landung dengan sengit.


Mendengar ucapan Tumenggung Landung, Anggrek Perak terkejut untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Sudahlah Tumenggung Landung, kami adalah kawan lama. Tidak perlu bersopan santun segala.


Anggrek Perak,


Kau masih tidak menyambut ku?", Panji Watugunung tersenyum tipis pada Anggrek Perak.


"Maafkan sikap ku Pendekar Pedang Naga Api, eh maksud ku Gusti Pangeran Jayengrana..


Mari silahkan masuk", ujar Anggrek Perak dengan ramah. Panji Watugunung dengan diiringi Anggrek Perak dan keempat istri nya berjalan masuk ke dalam Padepokan Anggrek Bulan. Sementara itu, Gumbreg di perintahkan agar mendirikan tenda untuk bermalam di sekitar padepokan itu karena luas Padepokan Anggrek Bulan tidak mampu menampung jumlah pasukan Panjalu yang ada.


Di balai utama Padepokan Anggrek Bulan, nampak seorang wanita muda cantik yang berpakaian serba putih tengah berdiri menyatakan kedatangan mereka.


Panji Watugunung buru buru menghaturkan sembah bakti pada perempuan muda cantik itu yang tak lain adalah Dewi Anggrek Bulan, pemimpin tertinggi Padepokan Anggrek Bulan.


"Sembah bakti Watugunung untuk Eyang Putri", ujar Panji Watugunung segera.


"Bocah gemblung berdirilah..


Kau membuat aku terlihat tua dengan sebutan Eyang Putri hehehe", Dewi Anggrek Bulan terkekeh kecil sambil mengangkat bahu Panji Watugunung.


"Sembah bakti kami Eyang Putri", ujar Ratna Pitaloka sambil menyembah pada Dewi Anggrek Bulan diikuti Dewi Srimpi, Sekar Mayang dan Dewi Naganingrum.


"Eyang Putri?


Siapa mereka Watugunung?", tanya Dewi Anggrek Bulan sambil menatap ke arah Panji Watugunung.


"Mereka semua adalah istri istri ku Eyang", jawab Panji Watugunung seraya tersenyum penuh arti.


"Sebanyak ini?


Dasar bocah edan...


Hai kalian semua, cepat berdiri. Jangan terlalu lama bersujud. Ayo cepat berdiri", perintah Dewi Anggrek Bulan segera. Keempat istri Panji Watugunung segera menuruti perintah nenek suaminya itu. Mereka berdiri berjajar rapi di samping sang suami.


"Eyang tidak usah kaget. Selain kami, Kakang Watugunung masih punya 3 istri lainnya", ujar Sekar Mayang yang membuat Dewi Anggrek Bulan melongo mendengar nya.


"Jagat Dewa Batara..


Aku memang menyuruh ayahmu untuk segera mengawinkan mu untuk meneruskan keturunan wangsa Isyana kita, tapi tidak dengan perempuan sebanyak ini juga.


Ya sudahlah, yang paling penting kau berlaku adil kepada para istri mu. Ingatlah, jangan pernah melukai hati wanita karena kau lahir dari seorang wanita juga.


Ayo sekarang kita duduk di sini. Aku ingin sekali berbincang dengan mu, sudah sekian lama akhirnya kita dipertemukan kembali.


Anggrek Perak,


Sediakan jamuan makan malam untuk cucu dan cucu mantu ku", perintah Dewi Anggrek Bulan pada Anggrek Perak yang segera menghormat pada gurunya kemudian berlalu dari tempat itu.


Malam itu suasana meriah tercipta di Padepokan Anggrek Bulan dengan kehadiran Panji Watugunung dan pasukannya.


**


Nun jauh di selatan, di tapal batas kota Daha, tiga orang berpakaian serba hitam turun dari kudanya masing-masing.


"Wulupaksi,


Apa kita akan bermalam di tempat itu?", tanya Dewi Pedang Hitam sambil menunjuk ke arah sebuah penginapan yang ada di dekat gapura masuk kota Daha.


"Iya, Kangmbok Rara Wiru..


Rencana ku kita susun rencana di tempat itu. Kita harus mengamati situasi kota Daha untuk menentukan arah pelarian kita begitu Kakang Dadung Awangga berhasil menyelesaikan tugas nya", jawab Wulupaksi sambil berjalan menuntun kudanya menuju ke arah penginapan sederhana yang ada disana.


"Benar ucapan Wulupaksi, adik..


Walaupun kita berilmu tinggi tapi Daha adalah gudang ksatria pilih tanding. Aku juga tidak mau mati konyol di sini", timpal Dadung Awangga alias Iblis Seribu Muka sambil mengekor di belakang Wulupaksi.


Usai mendapat kamar untuk beristirahat, malam itu mereka merencanakan rencana balas dendam pada Prabu Samarawijaya atas kematian Mapanji Garasakan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah


Selamat membaca 🙏🙏😁🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2