
Akuwu Kunjang, Rakeh Kepung begitu bergembira melihat pasukan Garuda Panjalu tiba di Pakuwon Kunjang.
Pasukan yang sudah tersohor dengan kemampuan menumpas gerombolan pengacau itu begitu di nanti Akuwu Kunjang. Karna banyak sekali laporan perampokan pedagang dari Tamwelang yang menuju Seloageng maupun sebaliknya.
"Selamat datang di Pakuwon Kunjang, Gusti Panji Watugunung.
Hamba Akuwu Kunjang Rakeh Kepung memberi hormat", ujar Rakeh Kepung sambil menghormat.
"Jangan begitu Ki Kuwu,
Jangan terlalu merendah. Kita sama sama abdi Daha. Saling membantu untuk menjaga keamanan itu adalah tugas kita bersama. Mohon maaf jika kedatangan kami merepotkan istana Pakuwon Kunjang", sahut Panji Watugunung.
"Sama sekali tidak Gusti Panji. Kami masyarakat pakuwon Kunjang sangat berterima kasih atas dukungan dari pasukan Garuda Panjalu", Akuwu Rakeh Kepung tersenyum. Ternyata benar berita dari orang orang yang mengatakan pimpinan pasukan Garuda Panjalu orang hebat yang rendah hati.
Mulai hari itu, istana Pakuwon Kunjang menjadi ramai. Sesuai perintah Maharaja Samarawijaya, setiap pakuwon perbatasan menyerahkan seorang prajurit untuk menjadi anggota pasukan Garuda Panjalu. Tapi untuk Pakuwon perdikan seperti Kunjang dan Watugaluh, mereka wajib menyerahkan 5 orang yang akan masuk ke pasukan Garuda Panjalu.
"Apa calon pasukan Garuda Panjalu dari pakuwon Kunjang sudah ada Ki Kuwu?", tanya Panji Watugunung.
"Sudah hamba persiapkan Gusti, mari kita temui mereka", ajak Rakeh Kepung.
Di paseban Pakuwon, sudah ada 2 orang wanita dan 3 orang pemuda duduk bersila menanti kedatangan Panji Watugunung dan Akuwu Kunjang di ikuti Ki Saketi.
Para wanita muda itu terkejut melihat pimpinan pasukan Garuda Panjalu yang masih muda dan begitu tampan. Sementara para pemuda nya, yang rata berusia 25 tahun kaget melihat pimpinan pasukan yang tersohor usianya lebih muda dari mereka.
"Apa kelebihan khusus mereka Ki Kuwu?", tanya Panji Watugunung.
Akuwu Rakeh Kepung tersenyum, dan menerangkan bahwa mereka ahli pengobatan, ahli panah, ahli mata mata dan ahli serangan jarak dekat.
"Paman Saketi,
Tempat kan mereka sesuai bidang keahlian masing-masing", perintah Panji Watugunung pada Wakil Pemimpin.
"Sendiko dawuh Gusti Panji", Ki Saketi segera mengajak anggota baru Pasukan Garuda Panjalu.
**
Seorang gadis cantik berjalan di temani seorang emban dan dua orang prajurit berjalan menyusuri hutan di utara pakuwon Palah.
Mereka tiba di sebuah rumah yang kelihatan tidak terawat di tengah hutan. Aroma mistis terasa kental di tempat itu.
"Ini tempat nya?", tanya si gadis cantik.
Si emban mengangguk.
"Ayo temani aku masuk", ujar si gadis cantik menarik tangan emban nya.
Tiba tiba pintu rumah itu terbuka dengan sendirinya..
Kriettttt...
Wajah cantik gadis itu berubah pucat, tapi demi tekat balas dendam nya, dia memberanikan diri untuk masuk.
"Silahkan duduk Ndoro Putri Surtikanti, tidak usah takut. Ehehehehe...",suara tawa seram seorang nenek tua mengagetkan mereka berempat.
Para prajurit memilih berjaga di depan pintu rumah, mereka benar-benar ketakutan.
Surtikanti dan emban semakin masuk ke dalam rumah. Berbagai benda aneh dan menyeramkan tergantung di dinding rumah tua itu.
Surtikanti melihat seorang nenek tua berambut putih panjang dan acak acakan sedang duduk di tengah rumah di kelilingi benda aneh seperti tengkorak manusia dan berbagai barang menyeramkan. Wajah keriput dan mata bengis menghiasi wajah nek tua yang baru saja memakan jambe dan sirih itu.
Anglo tanah liat, di depan nenek tua itu terus mengebul dan bau kemenyan memenuhi seluruh ruangan.
Dengan ketakutan, Surtikanti terus mendekati nenek tua itu.
"Ehehehehe, silahkan duduk Ndoro Putri Surtikanti.
Aku sudah tau apa maksud mu datang kemari. Apa kau sudah membawakan persyaratan yang aku minta", ucap nenek tua itu seram.
"Ini Nyi Kolot. Semua sudah ada di bungkusan kain itu", jawab Surtikanti dengan sedikit ketakutan.
"Bagus bagus Ehehehehe..
Sudah tau berapa kau harus membayar kematian orang itu?", tanya Nyi Kolot mendelik tajam kearah Surtikanti.
Surtikanti merogoh kantong kepeng emas di bajunya, dan menaruh nya di depan Nyi Kolot.
"Sekarang kau pulang. Tunggu hasilnya nanti malam", usir Nyi Kolot.
Surtikanti segera bergegas keluar dari dalam rumah di ikuti emban nya. Para prajurit di pintu segera bergegas mengikuti langkah Surtikanti begitu perempuan itu keluar dari dalam rumah tua.
__ADS_1
Setelah agak jauh, mereka menoleh dan tiba tiba pintu rumah itu menutup dengan sendirinya.
Kriettttt brak!
Wajah mereka berempat pucat melihat itu semua dan dengan sedikit berlari menuju keluar hutan. Menjelang senja, Surtikanti dan emban nya sudah sampai di istana Pakuwon Palah. Segera perempuan itu mandi dan berganti baju. Seolah tak sabar mendengar kabar.
**
Panji Watugunung sedang duduk bersama Ki Saketi kelilingi para anggota pasukan Garuda Panjalu.
"Ludaka dan kau yang ahli mata mata, siapa namamu?".
"Hamba Manahil Gusti Panji", anggota baru Pasukan Garuda Panjalu yang bernama Manahil memberi hormat.
"Ya ya, Manahil. Ku tugaskan kau bersama Ludaka menyelidiki beberapa tempat di seputar Pakuwon Kunjang yang di curigai sebagai markas gerombolan perampok"
Manahil dan Ludaka segera memberikan hormat.
"Kami siap melaksanakan tugas".
"Jarasanda, Landung dan Rajegwesi..
Amati setiap pergerakan di sekitar kota pakuwon ini. Jangan terburu buru menyerang. Laporan saja kepada ku atau paman Saketi", titah Sang pemimpin.
"Kami mengerti Gusti Panji", ucap Jarasanda, Landung dan Rajegwesi kompak.
Belum sempat Watugunung menyelesaikan omongan nya, sebuah sinar kemerahan seperti bola api melayang cepat menghantam tubuh Watugunung.
Blarrr!
Ledakan keras terjadi. Baju Watugunung hancur berantakan, tapi tubuh lelaki tampan itu terlihat baik baik saja.
Sebuah rajah berbentuk bulat seperti roda bergerigi dengan tulisan kuno seperti berputar di punggung kanan Watugunung. Rajah Kala Cakra Buana melindungi Panji Watugunung dari serangan teluh Nyi Kolot.
Semua orang terkejut melihat kejadian itu, dan bermaksud mendekat ke arah Panji Watugunung.
"Kalian jangan mendekat pada ku, panggilkan Acharya kesini. Cepat!", teriak Panji Watugunung. Para selir dan istri Panji Watugunung tidak berani mendekat, melihat tubuh Panji Watugunung di liputi sinar putih kekuningan yang saling menekan dengan sinar kemerahan.
Landung dan Ludaka segera berlari menemui Ki Kuwu yang berlari menuju tempat peristirahatan. Ledakan keras itu yang memanggil nya. Setelah mendengar perintah Panji Watugunung, Akuwu Rakeh Kepung segera bergegas menuju ke tempat Acharya Pakuwon.
Tak berapa lama, Acharya Pakuwon datang di sertai beberapa murid nya. Melihat tubuh Panji Watugunung yang di selimuti cahaya putih kekuningan, lelaki tua itu segera duduk bersila.
"Yang bisa berdoa Puja Jagat Dewa Batara, segera bersila dan mulai berdoa".
Setelah beberapa saat, sinar merah menyala itu menghilang.
Muncul serangan kedua tapi kekuatan Rajah Kala Cakra Buana yang di bantu doa Acharya Pakuwon membuat sinar kemerahan seperti bola api itu berhenti di udara tanpa bisa mendekat.
Sementara Nyi Kolot yang marah besar karna serangan teluh nya gagal, mengirim teluh keduanya.
"Keparat!
Bagaimana bisa pemuda itu tidak mempan dengan teluh ku?
Akan ku kirim lagi biar dia cepat mampus", teriak Nyi Kolot geram.
Tangan nenek tua itu meraih bara api dari arang di anglo nya. Mulut nya berkomat kamit membaca mantra. Kemudian nenek tua itu meniup bara api yang terbang melayang ke arah Pakuwon Kunjang.
Panji Watugunung duduk bersila,mata nya terpejam rapat. Ajaran Mpu Soma tentang membalikkan teluh dia ingat.
Semua mantra ajaran Mpu Soma dia baca.
Serangan ketiga datang, namun seperti serangan kedua, bola api teluh itu hanya mampu berputar mengelilingi tubuh Panji Watugunung.
Kedua mata Panji Watugunung terbuka.
"Atas nama Jagat Dewa Batara, kembali ke tuan dan penyuruh mu".
Panji Watugunung mengibaskan tangannya dan 2 bola api teluh berbalik menuju rumah tua Nyi Kolot.
Dharrr dharrr..
Nyi Kolot muntah darah segar di hantam teluh nya sendiri.
"Surtikanti, bedebah kau!
Kalau aku mati, kau juga harus mati".
Nyi Kolot meraih bara api dari anglo nya. Berkomat kamit sebentar kemudian meniup nya dengan semua sisa tenaganya. Bola api teluh melayang ke istana Pakuwon Palah.
__ADS_1
Nyi Kolot tewas dengan mata melotot menahan sakit.
Surtikanti yang berada di kamarnya, tidak menyangka teluh yang dia pesan untuk membunuh Watugunung berbalik menghantam dirinya sendiri.
Perempuan cantik itu langsung tewas dengan dada seperti terbakar api. Matanya melotot sesaat kemudian tubuhnya diam tak bergerak lagi.
Pakuwon Palah geger seketika.
Sementara itu di bangsal peristirahatan Pakuwon Kunjang, Panji Watugunung menarik nafas lega. Sinar putih kekuningan perlahan menghilang. Rajah Kala Cakra Buana perlahan memudar dan lenyap di dalam kulit Panji Watugunung.
Semua orang di balai peristirahatan melepas nafas panjang. Wajah mereka yang semula tegang, berangsur normal.
Dewi Anggarawati segera berlari dan memeluk Panji Watugunung. Isak tangis haru terdengar dari mulut mungil nya. Semua wajah di balai peristirahatan segera menunduk.
"Sudahlah Dinda Anggarawati, Kakang tidak apa-apa. Jangan menangis lagi", ujar Panji Watugunung sambil mengelus rambut hitam Anggarawati.
"Putri Manja, apa kau tidak malu bermesraan di depan semua orang?", teriak Sekar Mayang dari arah belakang.
Panji Watugunung segera menghapus air mata Dewi Anggarawati begitu istrinya itu melepaskan pelukannya.
Wajah cantik Anggarawati merah karena jengah, dan segera menunduk.
"Terimakasih atas bantuannya Acharya, dan semua orang yang ada di tempat ini", ucap Panji Watugunung.
Setelah itu, semua orang membubarkan diri, menjalani kewajiban masing-masing.
Di depan tenda perbekalan, Gumbreg dan Ludaka berdiang di depan api unggun.
"Kira kira siapa yang mengirim teluh untuk Gusti Panji Lu?, tanya Gumbreg sambil mengira.
"Mana aku tahu Mbreg? Kalau tahu, pasti sudah aku habisi orang itu", jawab Ludaka yang mendapat tugas jaga malam bersama Gumbreg.
"Untung Gusti Panji Watugunung sakti mandraguna, kalau aku yang kena..", Gumbreg tidak melanjutkan kata-katanya.
"Pasti kamu sudah jadi mayat", sahut Ludaka.
Gumbreg langsung bergidik ngeri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Nantikan episode selanjutnya ya
Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍
__ADS_1
Untuk yang sudah memberikan dukungannya author mengucapkan terima kasih banyak.
Selamat membaca guys 😁😁😁😁😁*