
Usai mengikat kudanya di geladakan yang ada di samping penginapan, Wulupaksi berjalan masuk menuju penginapan sederhana itu. Seorang wanita paruh baya berkonde emas dengan bibir merah karena terkena mengunyah pinang dan sirih menyambut kedatangan Wulupaksi yang diikuti oleh Dadung Awangga alias Iblis Seribu Muka dan Dewi Pedang Hitam.
"Selamat datang di penginapan kami, kisanak..
Kalian butuh berapa kamar?", tanya perempuan tua itu dengan ramah.
"Kami butuh 3 kamar Nyi,
Juga makanan yang di antar ke kamar. Apakah ada?", Wulupaksi mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Nampak hanya dua orang tengah menikmati makanan di salah satu sudut ruangan.
"Oh ada kisanak, akan segera di siapkan. Silahkan kalian duduk dulu sebentar ya..
Gampeng,
Siapkan 2 kamar untuk tamu kita ini. Cepat!", teriak perempuan paruh baya itu dengan keras. Seorang lelaki bertubuh gemuk dengan ikat kepala hitam yang duduk di dekat pintu segera berdiri dan dengan cepat mengangguk hormat kepada perempuan tua itu lalu berlari menuju ke dalam penginapan.
Sambil menunggu kamar tidur disiapkan, Wulupaksi, Dadung Awangga dan Rara Wiru duduk di meja makan yang ada di ruangan itu. Sedangkan perempuan paruh baya itu segera menuangkan air kendi pada tiga cangkir yang tersedia di meja.
Wulupaksi, Dadung Awangga dan Rara Wiru segera meminum air putih yang di tuangkan perempuan paruh baya itu sebagai pelepas dahaga.
Tak berapa lama kemudian, si lelaki bertubuh gemuk yang di panggil dengan sebutan Gampeng itu kembali dan mendekati perempuan paruh baya berkonde emas itu dengan tergesa-gesa.
"Sudah Nyi,
Kamar tidur nya sudah aku siapkan", lapor si Gampeng dengan nafas ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Bagus sekali kerja mu Gampeng..
Kisanak sekalian, silahkan ke kamar yang sudah di siapkan. Gampeng akan mengantar kalian", ujar perempuan paruh baya berkonde emas itu segera. Wulupaksi, Dadung Awangga dan Rara Wiru segera beranjak mengikuti langkah Gampeng menuju kamar penginapan yang mereka pesan. Perempuan paruh baya berkonde emas itu menatap kepergian mereka dengan tatapan mata yang aneh.
Sore segera berganti malam. Suara burung malam berkicau di tambah suara jangkrik dan belalang semakin membuat suasana menjadi sepi. Bulan baru yang muncul di langit barat laksana sabit berwarna kuning di angkasa yang gelap.
Di dalam kamar tidur Dewi Pedang Hitam, terlihat 3 orang sedang bercakap-cakap pelan agar suara mereka tidak terdengar oleh pihak lain.
"Wulupaksi,
Bagaimana langkah kita selanjutnya? Apa kita malam ini bergerak?", tanya Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam sambil menatap ke arah Wulupaksi yang tengah duduk bersila di lantai kamar tidur yang di alasi tikar daun pandan.
"Malam ini kita tidak boleh bergerak dulu, Kangmbok. Kotaraja Daha itu kota dengan pengawalan ketat. Kita jangan gegabah. Besok siang kita amati situasi di sekitar istana.
Aku yakin ada pengawalan ketat di sekitar istana Maharaja Panjalu", jawab Wulupaksi sambil mengelus kumis tipis nya. Lelaki itu tampak seperti berpikir keras.
"Aku bisa mudah masuk ke dalam istana, Wulupaksi. Jangan remehkan kemampuan Ajian Malih Rupa ku", sahut Iblis Seribu Muka sedikit tidak senang dengan ucapan Wulupaksi.
"Bukan aku meremehkan kemampuan kanuragan mu, Kakang..
Senopati dan para perwira tinggi istana Daha aku dengar berilmu tinggi. Kakang mungkin sanggup mengalahkan satu, dua atau bahkan tiga sekaligus dari mereka. Tapi jika jumlahnya mencapai ratusan orang, apa Kakang yakin sanggup lolos dari kepungan mereka?", Wulupaksi menatap Dadung Awangga dengan penuh pertanyaan.
"Benar juga omongan mu, Wulupaksi..
Kakang kita harus menjalankan tugas dengan baik dan kembali hidup berpangkat tinggi di Kahuripan. Kita harus berhati-hati dalam bertindak", sahut Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam sambil tersenyum tipis.
Hemmmm
Iblis Seribu Muka mendengus dingin dan mengangguk pelan mendengar ucapan Dewi Pedang Hitam.
"Sekarang kita tidur. Besok pagi kita harus meninggalkan tempat ini untuk menjalankan rencana kita", ujar Dadung Awangga sambil berdiri dari tempat duduknya. Wulupaksi dan Rara Wiru mengangguk mengerti. Mereka segera membubarkan diri.
Berjarak 3 kamar tidur dari tempat mereka berbincang-bincang, perempuan paruh baya berkonde emas terus terdiam. Sesekali mengusap peluh yang menetes di dahinya. Rupanya dia tengah menguping pembicaraan antara Wulupaksi dan Sepasang Iblis Hitam dari Mahameru.
Perempuan paruh baya berkonde emas itu adalah Nyi Sarpakenaka. Dia adalah telik sandi yang sengaja dipasang Tumenggung Adiguna untuk memata-matai para penyusup yang hendak berbuat onar di kota Daha. Nyi Sarpakenaka bersedia melakukan tugasnya sebagai telik sandi sebagai balas jasa karena Tumenggung Wiguna mengampuni nyawanya karena suaminya ikut bergabung bersama Ranggawangsa berkhianat terhadap Prabu Samarawijaya tempo hari. Oleh Tumenggung Adiguna, dia di bangunkan sebuah penginapan di tapal batas kota Daha agar bisa mencuri dengar pembicaraan setiap penyusup. Apalagi perempuan itu berilmu kanuragan cukup tinggi, ditambah dia memiliki Ajian Teleng Karna yang mampu mendengar suara dari jarak jauh.
Nyi Sarpakenaka keluar dari kamar itu usai mendengar ketiga kamar terdengar sepi. Perempuan paruh baya berkonde emas itu perlahan menuju ke arah belakang penginapan.
Disana dua orang yang terlihat tengah makan tadi sore di serambi depan penginapan.
"Bagaimana Kangmbok?
Apa benar kecurigaan mu tentang tiga orang itu? Sepertinya mereka pendekar berilmu tinggi", tanya seorang lelaki bertubuh kurus dengan kumis tebal melintang.
"Benar Gono,
Sepertinya mereka merencanakan sesuatu di istana Daha. Tapi sepertinya mereka berhati-hati sekali dalam berbicara. Sama sekali tidak menyinggung tugas yang mereka jalankan. Aku khawatir jika mereka berniat jahat pada istana Daha.
Segera laporkan ini ke Tumenggung Adiguna, minta dia berhati-hati dalam bertindak", jawab Nyi Sarpakenaka seraya melemparkan sekantong kecil kepeng perak pada lelaki bertubuh kurus itu yang dengan cepat menangkap nya.
Dua orang itu segera berjalan cepat kearah rimbun pepohonan yang ada di kebun yang ada di belakang penginapan. Mereka segera melepaskan tali kekang kuda yang tertambat disana. Dengan cepat mereka melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kudanya menuju ke arah kota pusat kota Daha.
"Rupanya kau telik sandi Daha, perempuan tua!"
Ucapan itu seketika mengagetkan Nyi Sarpakenaka. Rupanya Rara Wiru yang mencurigai adanya mata-mata di penginapan menggunakan ilmu meringankan tubuh agar gerakan tubuhnya tidak terdengar oleh Nyi Sarpakenaka saat perlahan keluar dari kamar tidur nya. Dia yang sedikit terlambat sempat melihat kepergian dua orang utusan Nyi Sarpakenaka untuk menghadap Tumenggung Adiguna.
Nyi Sarpakenaka segera membalikkan badannya dan melihat Rara Wiru berkacak pinggang. Perempuan paruh baya berkonde emas itu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Bukan hanya aku yang jadi telik sandi Daha, wanita tua.
Banyak sekali orang yang di sebar oleh pemerintah Daha untuk mengamankan wilayah dari pengacau keamanan macam kalian. Jangan kira bisa mudah mengacau di wilayah Kotaraja Daha ini. Para cecunguk seperti kalian akan sangat mudah untuk di taklukkan", ucap Nyi Sarpakenaka sambil meraba pinggang nya.
"Bedebah!
Sebelum ku jalankan tugas ku, akan ku bantai kau lebih dulu", teriak Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam sambil melesat cepat kearah Nyi Sarpakenaka.
Nyi Sarpakenaka tidak tinggal diam. Tangan perempuan paruh baya itu segera mencabut dua pisau kecil yang terselip di pinggangnya dan melemparkannya ke arah Rara Wiru.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Dua pisau melesat cepat kearah Rara Wiru yang menuju kearah Nyi Sarpakenaka.
Melihat serangan senjata rahasia itu, Rara Wiru urungkan niat serangan dengan memutar gerakan tubuhnya. Gerakan lincah perempuan berbaju hitam itu mampu menghindari serangan Nyi Sarpakenaka. Usai menjejak tanah dengan keras, Rara Wiru segera mencabut sebilah pedang bergagang kepala tengkorak dengan bilah kehitaman. Aroma busuk menyengat hidung tercium saat pedang itu keluar dari sarungnya menandakan pedang hitam itu beracun keji.
Dengan cepat, Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam menyabetkan pedang nya kearah Nyi Sarpakenaka. Serangkum angin dingin berbau busuk menerabas cepat kearah perempuan paruh baya berkonde emas itu.
Whuuussshh...!!
Nyi Sarpakenaka segera berkelit ke samping menghindari serangan angin itu. Perempuan paruh baya itu segera mencabut sepasang pedang pendek lentur yang tersembunyi rapi di pinggangnya. Dengan cepat ia melesat cepat kearah Rara Wiru sambil membabatkan pedang nya.
Melihat serangan berbahaya itu, Rara Wiru segera memutar pedangnya dan menangkis sabetan pedang Nyi Sarpakenaka.
Thrrriiinnnggggg!
Bunga api kecil tercipta saat dua senjata mereka beradu. Masing-masing melompat mundur beberapa langkah setelah benturan senjata terjadi. Dilihat dari sisi tenaga dalam, Nyi Sarpakenaka setara dengan Dewi Pedang Hitam.
Dengan cepat, Nyi Sarpakenaka kembali melesat kearah Rara Wiru. Kembali mereka beradu jurus dengan bersenjatakan pedang.
Suara keributan itu memancing perhatian Dadung Awangga dan Wulupaksi, juga Gampeng yang sedari tadi berdiam di dapur penginapan.
Mereka segera mendekat ke arah pertarungan antara Nyi Sarpakenaka dan Rara Wiru.
Saat Nyi Sarpakenaka menghantam dada Rara Wiru dengan gagang pedang pendek nya, perempuan itu terdorong mundur beberapa langkah.
Nyi Sarpakenaka yang melihat kesempatan dengan lengahnya lawan, dengan cepat menyabetkan pedang pendek nya kearah leher Dewi Pedang Hitam.
Whhhuuuggghhhh...
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Dua buah potongan kayu melesat cepat kearah Nyi Sarpakenaka saat pedang pendek nya hendak menebas batang leher Dewi Pedang Hitam. Dengan cepat perempuan paruh baya berkonde emas itu mengurungkan niatnya untuk membunuh Rara Wiru dengan menghindari serangan bokongan yang dia terima. Dewi Pedang Hitam selamat dari maut, dan Nyi Sarpakenaka melompat mundur beberapa langkah ke belakang.
"Bangsat!
"Bantu aku habisi perempuan itu Kakang. Dia adalah mata mata Daha.
Cepat!
Sebelum rencana kita terbongkar", teriak Dewi Pedang Hitam yang membuat Iblis Seribu Muka melesat cepat kearah Nyi Sarpakenaka. Sambaran angin tenaga dalam tingkat tinggi menderu kencang saat laki laki paruh baya mengibaskan tangannya.
Whuuussshh!!
Dengan sekuat tenaga Nyi Sarpakenaka berusaha menghadang laju angin kencang itu namun perempuan paruh baya berkonde emas itu terdorong mundur beberapa langkah.
Huuuuooogggghhh!!
Nyi Sarpakenaka muntah darah segar akibat terpaan angin kencang yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi. Iblis Seribu Muka melesat cepat kearah Nyi Sarpakenaka sambil mengayunkan tangan kanannya yang membentuk cakar ke arah dada lawan nya.
Meski dalam keadaan luka dalam, Nyi Sarpakenaka masih mampu menghindari serangan lawan yang datang bertubi-tubi. Jurus demi jurus berlalu namun Nyi Sarpakenaka masih bisa meladeni permainan silat Dadung Awangga yang mengancam nyawa.
Dengan cepat, Dadung Awangga alias Iblis Seribu Muka menyapu kaki Nyi Sarpakenaka. Perempuan paruh baya itu menghindar dengan cara melompat tinggi ke udara. Namun saat mendarat, tiba tiba saja sebuah tendangan keras dari Dewi Pedang Hitam telak menghantam punggungnya.
Dhiiieeeessshh....!!
Ouuuuggghhhh..
Terdengar jerit keras dari bibir Nyi Sarpakenaka. Perempuan paruh baya berkonde emas itu terjungkal ke depan dan menyusruk tanah dengan keras. Rara Wiru menyeringai lebar melihat itu semua.
Nyi Sarpakenaka berusaha untuk bangkit dan berdiri tegak. Melihat lawan masih sanggup untuk bertarung, Iblis Seribu Muka melesat ke arah Nyi Sarpakenaka. Bersamaan dengan itu, Gampeng berlari menyongsong kearah Iblis Seribu Muka dan merangkul tubuh lelaki bertubuh kurus itu segera.
"Lari Nyi, cepat lari!", teriak Gampeng yang segera menyadarkan Nyi Sarpakenaka untuk melarikan diri. Menyadari usaha Gampeng untuk menghalangi gerakan nya, Iblis Seribu Muka menghantam dada kanan Gampeng dengan tenaga dalam tingkat tinggi nya.
Bhuuukkkhhh...
Aauuggghhhh!!
Gampeng melengguh keras. Tubuh pria gemuk itu segera roboh ke tanah. Sebentar kemudian Gampeng muntah darah karena tulang dadanya remuk terkena hantaman pukulan Dadung Awangga.
Melihat Nyi Sarpakenaka sudah menghilang di kegelapan malam, Gampeng tersenyum tipis dengan bibir nya yang memucat. Pria gemuk itu lalu tewas dengan dada kanan menghitam.
"Bedebah!
__ADS_1
Dia berhasil kabur Kakang. Wulupaksi, bagaimana ini? Perempuan itu bisa membahayakan tugas kita", Dewi Pedang Hitam menoleh ke arah Wulupaksi yang berdiri tak jauh dari arena pertarungan.
"Malam ini juga, kita berpindah tempat Kangmbok..
Jalankan rencana kita seperti yang kita bicarakan", ucapan Wulupaksi membuat Dadung Awangga dan Rara Wiru mengangguk mengerti.
Malam itu juga, Wulupaksi, Dadung Awangga dan Rara Wiru meninggalkan penginapan Nyi Sarpakenaka untuk mencari tempat baru yang akan di jadikan sebagai tempat mereka menyusun rencana.
**
Pagi menjelang tiba di Padepokan Anggrek Bulan. Suara kicau burung pagi berbaur dengan kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang yang berada di wilayah tersebut.
Sang Surya perlahan mulai menampakkan diri di langit timur. Sinar hangat nya seakan menjadi pelita kehidupan yang mengusir gelap sang malam yang dingin.
Panji Watugunung terbangun dari tidurnya saat merasakan sentuhan lembut di pipinya. Yuwaraja Panjalu itu segera membuka mata dan melihat bahwa Dewi Naganingrum yang semalam menemani tidur nya tengah asyik mengelus wajah nya.
"Ee-eehh Maaf atuh Akang Kasep,
Abdi teh henteu maksud cucungah sama Akang. Hanya mengagumi kasep na akang", ujar Dewi Naganingrum yang sedikit kaget melihat Panji Watugunung membuka mata nya.
Panji Watugunung hanya tersenyum simpul menatap wajah cantik permaisuri ketiganya itu. Kulit wajahnya yang putih terlihat merona saat menahan malu karena ketahuan Panji Watugunung.
"Tidak apa-apa Dinda Naganingrum, aku tidak merasa terganggu kok.
Sudah pagi ya?
Ayo kita mandi dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan", ucapan lembut Panji Watugunung membuat Dewi Naganingrum justru memeluk tubuh sang suami.
"Lamun sakedap deui kunaon atuh Akang Kasep?
Naganingrum teh masih ingin bermanja-manja dengan Akang", pinta Naganingrum sambil tersenyum manja.
Belum sempat Panji Watugunung menjawab, dari arah pintu kamar tidur terdengar suara langkah kaki yang berhenti di depan pintu kamar. Dan...
Kriiiieeeeeetttttthhhh...
Pintu kamar tidur terbuka dari luar. Nampak Ratna Pitaloka sudah selesai berdandan layaknya seorang bangsawan membawa senampan makanan yang masih hangat. Diikuti oleh Dewi Srimpi yang membawakan air cuci muka yang sudah di beri daun sirih. Sedangkan Sekar Mayang, sang selir kedua tampak membawa nampan berisi wedang jahe dalam cangkir dari tanah liat.
"Naganingrum,
Cepat bangun. Sudah siang ini. Cepat mandi sana.
Lihatlah saudari saudari mu sudah rapi", ucap Ratna Pitaloka sambil meletakkan nampan nya di meja samping tempat tidur Panji Watugunung.
Dengan ogah-ogahan, Dewi Naganingrum melepaskan pelukannya pada Panji Watugunung dan menyambar selendang yang tergeletak di lantai. Sambil bersungut-sungut, putri Prabu Darmaraja itu keluar dari kamar Panji Watugunung.
"Dasar pengganggu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author semangat untuk terus menulis cerita ini 😁
Selamat membaca kak 😁🙏🙏😁