Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Tantangan Dari Pendekar Negeri Kulon


__ADS_3

Ki Ranu tergopoh-gopoh keluar dari rumah nya mendengar teriakan Lurah Wanua Cenggini. Laki laki paruh baya itu terkejut saat melihat sepuluh orang centeng Lurah Harja berdiri di halaman rumah nya.


"Ada apa ini Ki Lurah? Mengapa banyak membawa orang ke rumah ku?", tanya Ki Ranu sedikit takut.


"Hehehehe..


Ada tiga wanita cantik di rumah mu bukan??


Serahkan mereka pada ku cepat", ujar Lurah Harja sambil tersenyum licik.


"Jangan Ki, mereka tamu ku.. Aku mohon lepaskan mereka..", tatap Ki Ranu sedikit memelas. Sebisa mungkin dia akan habis-habisan melindungi tamu yang bermalam di rumah nya.


"Kau berani menentang kebijakan ku?


Sudah bosan hidup kau rupanya ha?", hardik Lurah Harja sambil mendelik tajam pada Ki Ranu.


Saat Lurah Harja berteriak keras itu, Panji Watugunung dan ketiga selir nya keluar dari dalam rumah Ki Ranu.


"Kenapa kalian malah keluar, cepat masuk ke rumah", ucap Ki Ranu sedikit cemas.


Melihat tiga wanita cantik itu, air liur Lurah Wanua Cenggini itu nyaris menetes. Mereka bertiga jauh lebih cantik dari semua istri istri nya yang berjumlah lebih dari 10 orang.


"Kalian semua,


Tangkap mereka hidup hidup. Jangan sampai tergores kulit nya sedikit pun", teriak Ki Lurah Harja pada centeng centengnya.


"Ki Lurah, aku mohon Ki..


Jangan Ki", mohon Ki Ranu menghalangi jalan si centeng badan gempal.


"Banyak bacot", umpat si centeng badan gempal yang langsung menendang perut Ki Ranu.


Bukkkkk


Tubuh tua itu melayang akibat kuatnya tendangan dari si centeng badan gempal. Saat hendak menyentuh tanah, sekelebat bayangan hitam melesat cepat dan menangkap tubuh kurus Ki Ranu.


Ki Ranu terbatuk-batuk saat itu. Perutnya sakit sekali. Bayangan hitam yang tak lain Ratna Pitaloka itu segera mendudukkan Ki Ranu pada teras rumah nya.


"Terimakasih atas bantuannya, tapi sebaiknya kalian cepat pergi dari sini", ujar Ki Ranu sambil terbatuk-batuk.


"Ki Ranu tenang saja. Masalah ini biar kami selesaikan", Ratna Pitaloka tersenyum manis lalu berjalan menuju ke tengah halaman rumah. Sekar Mayang dan Dewi Srimpi segera menyusul Ratna Pitaloka.


"Hei Lurah cabul,


Kau ingin menjadikan kami sebagai gundik mu?


Phuihhh...


Kalahkan kami bertiga jika bisa, baru kau bisa mendekati kami", tantang Ratna Pitaloka dengan senyum mengejek Lurah Harja.


"Hehehehe, kucing liar rupanya.


Tangkap mereka bertiga. Yang bisa menangkap nya akan dapat hadiah besar dari ku", Lurah Wanua Cenggini itu menyeringai mesum.


10 centeng Lurah Harja langsung melompat maju. Hadiah yang dijanjikan Lurah Wanua Cenggini itu memantik semangat mereka untuk menangkap tiga wanita cantik itu.


Tiga selir Panji Watugunung menyongsong serangan dari sepuluh centeng itu dengan mudah. Gerakan lincah dan gesit mereka membuat para centeng Lurah Harja kesulitan menyentuh kulit mereka.


Gigi Lurah Wanua Cenggini itu gemerutuk menahan marah melihat anak buahnya tidak berdaya menghadapi tiga selir Panji Watugunung.


"Bangsat!


Cepat tangkap. Kenapa dari tadi main main saja? Dasar tidak becus, mengurus perempuan saja tidak bisa", teriak Lurah Harja sambil berkacak pinggang.


"Aku mulai mengantuk, cepat selesaikan!".


Ucapan Panji Watugunung seketika membuat tiga selir nya bersemangat. Kalau tadi mereka hanya main-main, sekarang mereka meladeni permainan silat para centeng Lurah Harja itu dengan serius.


Ratna Pitaloka segera melesat cepat menuju si badan gempal sambil menghantam dada laki laki itu. Pria berwajah seram itu gelagapan saat pukulan Ratna Pitaloka telak menghajar nya.


Deshhhhh


Si centeng badan gempal itu meraung keras dan terpental ke belakang serta menabrak seorang kawannya.


Sedang Sekar Mayang langsung menendang pangkal paha seorang lelaki kurus yang mengeroyoknya.


Bukkkkk


Aughhhhh


Si lelaki kurus itu melotot menahan sakit akibat tendangan bebas dari Sekar Mayang. Dia pingsan.


Sementara itu, Dewi Srimpi dengan Ajian Langkah Kelabang Sewu nya, seketika memukuli tiga orang centeng Lurah Harja dengan cepat.


Bukk


Bukk


Deshhh..

__ADS_1


Tiga orang centeng langsung tersungkur dengan muka lebam dan gigi rompal.


Tak sampai 5 jurus, 10 orang centeng Lurah Wanua Cenggini itu tumbang di hajar 3 selir Panji Watugunung.


Melihat anak buahnya berjatuhan, Lurah Harja berniat untuk melarikan diri. Namun belum genap 10 langkah, Lawana sudah menghadang laju larinya dengan tendangan keras nya.


Deshhhhh


"Mau kemana kau, Lurah mesum?", hardik Lawana.


Lurah Harja langsung terhuyung huyung ke belakang sambil memegangi perutnya yang sakit luar biasa. Melihat peluang untuk kabur sudah tidak ada, buru buru dia berlutut kepada Lawana.


"Ampuni aku, pendekar muda.


Aku janji tidak akan berbuat semena mena lagi.


Ampuni aku. Anak ku masih kecil-kecil pendekar", ujar Lurah Harja sambil menghiba.


"Huhh tadi lagakmu seperti jawara saja, sekarang mengkerut seperti ayam.


Akan kuberi kau pelajaran yang kau ingat seumur hidup mu, lurah mesum", Lawana memegang tangan lurah itu kemudian melemparkannya. Saat badan Lurah Wanua Cenggini itu menyusruk tanah, Lawana menginjak betis kaki kiri nya dengan keras.


Kreeekk


Aarrgghhh


Terdengar raungan keras dari mulut Lurah Harja saat betis kirinya berubah bentuk lantaran patah tulang nya. Walaupun rasa sakit luar biasa, namun setidaknya dia masih hidup. Dua centang nya yang masih sadar, segera membopong tubuh Lurah Harja meninggalkan tempat itu.


Malam itu, seputar dermaga penyeberangan Wanua Cenggini kembali tenang. Apalagi angin dingin yang bertiup dari Gunung Agung membawa hujan deras lagi malam itu.


Pagi menjelang tiba, udara terasa sedikit hangat saat matahari terbit di ufuk timur. Hilir mudik orang mulai terasa, apalagi saat kapal besar menyebrang sungai Kali Agung mulai melakukan tugasnya.


Usai sarapan, rombongan Panji Watugunung meninggalkan rumah Ki Ranu. Laki laki paruh baya itu terlihat sedikit sedih saat menatap perahu penyeberangan mulai bergerak menuju dermaga di seberang sungai.


Setelah menyeberangi Kali Agung, rombongan Panji Watugunung segera memasuki wilayah Rajapura, wilayah paling barat Daha sebelum memasuki wilayah kerajaan Galuh Pakuan.


Mereka berenam terus berkuda bersama menuju wilayah barat. Sesampainya di tepi Sungai Pemali, mereka berenam berhenti di sebuah dermaga penyeberangan. Diseberang sungai Pemali adalah wilayah Kerajaan Galuh Pakuan.


"Di seberang sungai ini, kita sudah masuk wilayah Kerajaan Galuh.


Sebaiknya kita tidak ceroboh dalam melakukan tindakan. Hukum kerajaan Galuh Pakuan berbeda dengan wilayah Panjalu", ujar Trajutrisna sang pemandu perjalanan.


Panji Watugunung dan ketiga selir serta Lawana mengangguk tanda mengerti.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan ikat kepala hitam, mendekati mereka.


"Punten Akang,


"Kami mau menyeberang Kang, ingin ke Kawali melihat keramaian ibukota Galuh", ujar Trajutrisna sambil tersenyum tipis.


"Sok atuh, ikut kapal saya..


Masih banyak tempat kosong. Untuk akang kasep dan neng geulis, 6 kepeng perak saja", ujar pria bertubuh gempal itu menawarkan jasa menyeberang.


Melihat anggukan kepala Panji Watugunung, Trajutrisna segera mengiyakan. Sekar Mayang yang memegang bekal perjalanan, segera membayar biaya yang di butuhkan.


Dengan adanya Trajutrisna, semua terasa lebih mudah.


Mereka berenam segera naik ke atas kapal penyeberangan. Setidaknya ada 15 penumpang dan 8 kuda yang di angkut kapal besar itu.


"Punten Akang,


Ini sekedar peringatan saja. Hati hati dalam perjalanan menuju Kawali selama melewati wilayah Kadipaten Gunatiga ini. Ada orang orang dari wilayah Pakuwon Bantarangin yang sering cari masalah", ujar si lelaki gempal itu setengah berbisik pada Trajutrisna. Ada aroma takut pada wajah nya.


"Memang kenapa kang? Mereka sedang bermusuhan?", tanya Trajutrisna penasaran.


"Aduh,


Maaf akang, saya tidak bisa bicara banyak. Ini saya kasih tau karena saya lihat akang dan kawan kawan orang baik", ujar si pria gempal itu yang segera berlalu ke haluan kapal.


Usai kapal besar itu merapat ke dermaga, Panji Watugunung dan rombongannya segera memacu kudanya meninggalkan dermaga penyeberangan itu menuju ibukota Kadipaten Gunatiga yang terletak di timur Kerajaan Galuh.


Sebelum tengah hari, mereka memasuki wilayah Pakuwon Bantarangin. Karena lapar, mereka berhenti di sebuah warung makan yang ada di tepi kota Pakuwon Bantarangin.


Saat mereka masuk ke warung makan itu, semua mata pengunjung melirik ke arah rombongan Panji Watugunung.


Seorang lelaki muda yang berpakaian layaknya seorang pendekar, terus menatap ke arah Panji Watugunung yang juga menyandang pedang di punggungnya.


"Permisi Akang,


Ada yang bisa di bantu?", ujar seorang pelayan yang segera bergegas mendekati mereka.


"Kami ingin makanan untuk mengganjal perut. Tolong kau sediakan", ujar Panji Watugunung segera.


"Akang bukan orang sini ya? Tutur kata akang berbeda dari orang sini", si pelayan itu penasaran.


"Kami dari Kalingga. Hendak menuju ke Kawali", sahut Trajutrisna segera.


"Oh sok di tunggu ya akang,

__ADS_1


Saya permisi untuk ambil makanan", ujar pelayan dengan santun dan segera mundur ke dalam. Sementara itu rombongan Panji Watugunung segera duduk di meja makan yang kosong.


Saat pelayan itu kembali masuk sambil membawa nampan, laki laki muda yang sedari tadi menatap ke arah Panji Watugunung menyentil tulang ayam yang baru dia makan kearah kaki sang pelayan saat dia mendekati meja makan Panji Watugunung.


Bakkkk


Pelayan itu kehilangan keseimbangan nya. Dan makanan terlempar ke udara. Namun dengan cepat Panji Watugunung segera berdiri dan menangkap nampan berisi makanan itu.


Tidak ada satupun makanan yang tertumpah.


Sang pelayan yang baru menyusruk lantai warung makan itu melongo melihat kehebatan Panji Watugunung, begitu juga orang orang yang ada di warung makan itu.


"Maaf Aden,


Saya ceroboh", ujar pelayan itu segera. Dia ketakutan setengah mati. Melihat sekilas saja, dari kejadian makanan tadi, sudah kelihatan kalau Panji Watugunung bukan orang sembarangan.


"Tidak apa-apa pelayan. Terimakasih sudah mengantar makanan kemari", ujar Panji Watugunung segera.


Plok plok plok..


Sebuah tepuk tangan terdengar dari belakang. Lelaki muda itu berdiri sambil tersenyum mengejek.


"Wah wah wah..


Rupanya ada seorang jagoan yang sedang makan di tempat ini. Sungguh hebat sungguh hebat", ujar laki laki muda sambil mendekat.


"Aden Sukmajaya, mohon maaf.


Tolong jangan buat keributan di tempat kami. Saya mohon den", si pelayan membungkuk ketakutan pada laki-laki muda yang di sebut nya dengan Sukmajaya itu.


Phuihhh


"Tutup mulutmu,


Kalau tidak akan ku hajar kau", mendengar ancaman Sukmajaya, si pelayan itu langsung diam seketika. Sudah kelihatan kalau Sukmajaya hendak mencari gara gara dengan Panji Watugunung dan rombongannya.


"Hei kau orang Kalingga,


Kelihatannya ilmu kanuragan mu lumayan. Mari bermain beberapa jurus dengan ku. Kita buktikan, ilmu kanuragan mana yang lebih baik. Aku Sukmajaya, yang di panggil Pendekar Elang Kulon ingin mencoba kehebatan pendekar dari negeri timur ", tantang Sukmajaya sambil tersenyum sinis.


"Maaf jawara,


Kami hanya pengelana yang kebetulan lewat. Ingin mencicipi makanan di warung makan ini. Tidak ingin mencari masalah.


Mohon jawara tidak mempersulit kami", ujar Trajutrisna dengan sopan.


"Hahahaha..


Ternyata nyali pendekar Kalingga hanya seujung kuku tangan. Pengecut", ujar Sukmajaya.


Sekar Mayang yang sudah tidak bisa menahan diri karena hinaan Sukmajaya, langsung melempar ceker ayam yang ada di piring nya.


Srettt


Bakkk


Ceker ayam melesat cepat menghantam pipi kiri Sukmajaya. Laki laki yang sedang tertawa terbahak-bahak itu langsung terhuyung mundur sambil memegangi pipinya yang gosong akibat lemparan ceker ayam dari Sekar Mayang.


Melihat Sukmajaya kesakitan, 5 orang berpakaian serba hitam yang duduk semeja dengan Sukmajaya langsung berdiri. Sementara para pengunjung warung makan segera berhamburan keluar dari situ.


"Kurang ajar!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁

__ADS_1


Yang belum meninggalkan jejak, ayo tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis 😁😁😁


Selamat membaca guys 😁😁😁😁


__ADS_2