
Mendengar teriakan keras itu, semua orang yang naik kapal penyeberangan itu langsung menoleh pada sumber suara tak terkecuali Panji Watugunung, Dewi Naganingrum, Dewi Srimpi dan Warigalit.
Usai saling berpandangan sejenak, 4 orang itu segera melompat tinggi ke udara. Ilmu meringankan tubuh mereka yang tinggi, membuat gerakan mereka seperti terbang. Dengan memanfaatkan rumput dan kayu yang hanyut di sungai Brantas, mereka melompat diatas sampah itu dengan gerakan cepat bagai terbang diatas air.
Whuuussshh!!
Para penumpang di perahu nampak terperangah melihat kehebatan mereka.
Sreeeetttt
Tapp!
Tap!
Taph!
Taphh!!
Begitu mendarat di dermaga penyeberangan, keempat pendekar itu segera melesat ke arah suara pertarungan yang ada di samping halaman sebuah warung makan.
Sambil menjejak tanah dengan keras, tubuh Panji Watugunung segera melenting tinggi ke udara kemudian mendarat pada salah atap rumah warga yang ada di dekat warung makan.
Plashhh
Tapph!
Dewi Srimpi, Dewi Naganingrum dan Warigalit segera mengikuti langkah Panji Watugunung dan ikut mendarat di atap rumah warga.
Dari atas atap bangunan rumah warga yang terbuat dari alang-alang kering, mereka mengamati jalannya pertarungan.
Dua orang wanita muda, satu berdada besar dan satu berkulit sawo matang sedang bertarung melawan dua orang lelaki yang memakai baju merah.
Si perempuan muda berdada besar yang tak lain adalah Dewi Seruni terus memburu lawan dengan mengayunkan pedangnya.
Sreeeetttt
Namun si lelaki berbaju merah itu tampak nya juga memiliki kemampuan beladiri yang lumayan mumpuni.
Dengan cepat, pria berbaju merah segera melompat ke samping, menghindari sabetan pedang Dewi Seruni lalu memutar tongkat besi nya mengincar pinggang perempuan berdada besar itu.
Whuuuuttt..!
Dewi Seruni jejakkan kaki kiri ke tanah, tubuh nya melayang mundur menghindari gebukan tongkat besi lawan. Murid Perguruan Racun Kembang itu segera membabatkan pedang sambil tangan kiri merogoh kantong baju.
Tringgggg!
Srhiiinnnggg!
Sringg!!
Bunyi nyaring terdengar saat terjadi saat benturan dua senjata bersamaan 2 pisau kecil berwarna biru gelap melesat ke arah si pria berbaju merah.
Mendapat serangan senjata rahasia, si lelaki berbaju merah berusaha untuk mundur sambil menghalau dengan putaran tongkat besi nya.
Tranggg!!
Satu pisau kecil berhasil di tangkis tapi satu pisau lain langsung menancap di lengan si pria berbaju merah.
Creeppp!
Arrgghhhh!!!
Si pria berbaju merah menjerit keras. Tusukan pisau kecil menimbulkan rasa panas dan gatal yang menyakitkan. Pria berbaju merah itu buru buru melompat mundur dan segera menotok urat nadi lengan kiri nya yang sebentar saja sudah menjadi kebiruan akibat Racun Kumbang Api yang sudah mulai menjalar di tubuh nya.
Dewi Seruni tersenyum mencibir pada lelaki berbaju merah itu.
"Percuma kau menotok jalan darahmu!
Sekali terkena Racun Kumbang Api, nyawa mu tidak akan sampai esok pagi", ujar Dewi Seruni dengan penuh percaya diri.
"Iblis betina!
Berikan penawar nya. Kalau tidak akan ku bunuh kau disini", teriak pria berbaju merah itu dengan geram.
Phuihhhh!
"Mau mampus masih mengancam orang. Ambil saja kalau kau bisa, lelaki bajingan", ujar Dewi Seruni menantang pria berbaju merah.
Dengan muka merah padam, si pria berbaju merah segera melesat ke arah Dewi Seruni.
Lain Dewi Seruni, lain pula Dewi Melati.
Perempuan sama sekali tidak kerepotan melawan seorang pria kurus berbaju merah yang mempersenjatai diri dengan dua golok pendek.
Bila dilihat, pertarungan mereka seperti kucing mempermainkan seekor tikus.
Dengan gaya genit nya, Dewi Melati berulang kali menghajar pria kurus berbaju merah itu dengan tendangan dan pukulan tangan kosong.
Deshhhh
Kembali sebuah tendangan keras menghantam perut si pria kurus itu. Tubuhnya melayang ke belakang, dan menabrak dinding warung makan dengan keras.
Si pria kurus langsung muntah darah akibat tendangan keras dari Dewi Melati yang mematahkan tulang rusuk nya. Dia kemudian roboh.
Setelah memastikan lawan nya tak berkutik, Dewi Melati segera melesat cepat kearah pria berbaju merah yang bersenjatakan tongkat besi saat tongkat besi nya hendak memukul kepala Dewi Seruni. Perempuan itu segera melepaskan tali yang membelit pinggang nya dan melecutkan nya kearah ujung tongkat besi.
Whuuuuttt
Ujung tali berwarna putih itu langsung membelit tongkat besi. Melihat itu, Dewi Seruni segera menghantam dada lelaki itu dengan pukulan tangan kiri yang sudah di lambari tenaga dalam.
Deshhhh
Blarrrr!!
Si lelaki berbaju merah itu terpental ke belakang dan jatuh menyusruk tanah dengan keras. Pria itu tewas seketika dengan mulut terus mengeluarkan darah.
Panji Watugunung terus mengamati jalannya pertarungan antara dua kubu itu.
Hemmmm
"Racun Kembang dan Alas Larangan. Mau apa mereka disini?", gumam Panji Watugunung sambil melihat Dewi Seruni dan Dewi Melati yang segera melompat meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru.
"Kakang Warigalit,
__ADS_1
Minta prajurit di dermaga penyeberangan itu untuk mengabari Ayu Galuh di keputran Istana Daha agar tidak khawatir. Malam ini kita bermalam disini.
Firasat ku mengatakan bahwa akan ada lagi masalah diantara mereka", perintah Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Warigalit.
Warigalit segera melompat turun dari atap bangunan dan melesat ke arah dermaga penyeberangan. Sementara Panji Watugunung dan kedua istrinya mencari tempat menginap di seputar dermaga penyeberangan. Akhirnya mereka mendapatkan tempat menginap di salah satu rumah warga, yang letaknya tak jauh dari satu satunya penginapan yang ada di dekat dermaga.
Malam semakin larut. Angin semilir membawa dingin yang terasa menusuk tulang. Bulan purnama bergantung indah di langit malam yang gelap.
Saat bulan purnama tepat diatas kepala, serombongan bayangan hitam bergerak cepat menuju ke arah penginapan di dekat dermaga penyeberangan.
Panji Watugunung yang sedang bersemedi, merasakan hawa pekat pembunuh yang mendekat ke arah nya. Perlahan dia membangunkan Dewi Srimpi setelah meletakkan Pedang Naga Api di punggungnya.
"Dinda Srimpi,
Bangun Dinda", bisik Watugunung dengan perlahan.
Merasa ada yang menyentuh tangan nya, Dewi Srimpi langsung membuka mata nya.
"Ada apa Denmas?", tanya Dewi Srimpi segera.
Panji Watugunung segera meletakkan jari telunjuk pada tengah bibirnya. Dewi Srimpi yang paham langsung bangun dari ranjang. Setelah Panji Watugunung berbisik di telinga nya, Dewi Srimpi segera mengangguk dua kali.
Setelah Panji Watugunung keluar dari pintu, Dewi Srimpi segera membangunkan Dewi Naganingrum.
Panji Watugunung segera merapal Ajian Sepi Angin dan melesat cepat bagai terbang ke atap bangunan rumah yang ada di dekat penginapan.
Whuuuuttt
Taphh!
Gerakan nya begitu ringan hingga membuat para bayangan hitam itu tidak menyadari bahwa mereka sedang diawasi oleh Panji Watugunung.
Dengan sangat rapi, para bayangan hitam itu memasukkan asap berwarna kuning beraroma wangi yang merupakan racun tidur ke kamar kamar penginapan dengan menggunakan pipa dari bambu wuluh yang tipis dan ringan.
Tapph!
Panji Watugunung menoleh dan melihat Dewi Srimpi dan Naganingrum sudah mendarat di sampingnya. Sementara Warigalit di sisi lain atap rumah.
Sekelompok orang itu terus menjalankan tindakan nya. Namun saat sampai di sebuah kamar, tiba tiba sebuah tangan menangkap pipa bambu dan kemudian menepaknya dengan keras.
Plakkkkk!
Aughhhh..!!
Salah satu bayangan hitam menjerit kecil dan terlempar akibat tepakan dengan tenaga dalam itu.
"Perempuan binal!
Kau mau mencoba meracuni ku ya?", teriakan keras terdengar dari kamar itu, selanjutnya sebuah bayangan hitam berambut merah melesat cepat keluar dari kamar penginapan.
Phuihhhh
"Setan betina!
Sadar juga kau rupanya. Hari ini kita selesaikan dendam antara kita", ujar suara dari bayangan hitam yang tak lain adalah Dewi Kembang Wengi.
"Baik Selasih.
Setelah membunuhmu aku akan tenang menjalani hidup ku", teriak Dewi Api menyebut nama asli Dewi Kembang Wengi.
Kau hanya seorang perebut suami orang, jangan jumawa di hadapan ku", ejek Dewi Kembang Wengi sambil mulai meraih gagang pedang nya.
"Keparat!
Aku robek mulut mu", teriak Retnowati alias Dewi Api sambil melesat cepat kearah Dewi Kembang Wengi. Dengan memutar sepasang pedang pendek, Dewi Api menerjang maju.
Sreeeetttt
Sambaran pedang pendek Dewi Api mengincar leher Dewi Kembang Wengi, namun pimpinan Perguruan Racun Kembang itu mundur selangkah sambil menebaskan pedangnya kearah lengan Dewi Api.
Perempuan itu tidak mundur namun memutar tubuhnya dan menangkis sabetan pedang Dewi Kembang Wengi dengan cepat.
Tringgggg!
Tidak berhenti sampai disitu, Dewi Api terus memutar tubuhnya dan membabat kaki Dewi Kembang Wengi dengan pedang pendek di tangan kanannya.
Gerakan memutar tubuhnya yang begitu cepat, mau tidak mau membuat Dewi Kembang Wengi mundur sambil terus menangkis sabetan pedang pendek beruntun dari Dewi Api.
"Bedebah!", maki Dewi Kembang Wengi sambil melompat mundur, kemudian melempar 2 pisau kecil berwarna biru terang pada Dewi Api.
Sringg..!!
Shinggg!!
Serangan senjata rahasia itu membuat pola serangan Dewi Api berubah. Dengan cepat dua pedang pendek Dewi Api menangkis serangan dua pisau kecil beracun.
Tranggg traakk!!
Pisau kecil mental dan menancap di dinding kayu penginapan.
Dua wanita tua itu sama saling menatap satu sama lain kemudian kembali melanjutkan pertarungan mereka di bawah cahaya bulan purnama.
Panji Watugunung dan kedua istrinya serta Warigalit terus mengamati jalannya pertarungan antara Dewi Kembang Wengi dan Dewi Api.
Perlahan tempat itu menjadi ramai dengan kehadiran para murid Alas Larangan. Namun mereka tidak berani bergerak, hanya bersiaga menunggu perintah Dewa Tanah yang masih tetap diam melihat pertarungan.
Dewi Kembang Wengi melompat mundur menghindari sabetan pedang pendek beruntun dari Dewi Api. Pimpinan Perguruan Racun Kembang itu kemudian melompat ke udara sambil melempar 3 pisau kecil beracun nya.
Sringg sringg sringg!!
Bersamaan dengan itu, dia melesat cepat kearah Dewi Api yang mencoba untuk menangkis serangan senjata rahasia itu. Dia berhasil melakukan nya, tapi sabetan pedang Dewi Kembang Wengi yang memanfaatkan waktu lengahnya merobek baju kesayangan sekaligus melukai kulit pinggang nya.
Dewi Api murka seketika.
Perempuan tua itu segera merapal Ajian Rambut Geni nya. Tiba tiba api muncul dari ujung rambut Dewi Api yang kemerahan.
Dengan cepat, Dewi Api mengibaskan rambutnya yang panjang kearah Dewi Kembang Wengi.
Whuuussshh
Rambut yang diliputi api menyala itu seperti hidup, mengejar setiap gerakan Dewi Kembang Wengi yang berjumpalitan kesana kemari menghindari rambut api yang menyala.
Diam diam Dewi Kembang Wengi merapal Ajian Upas Sukma nya
__ADS_1
Sambil melompat mundur, Dewi Kembang Wengi menghantamkan tangan kirinya kearah rambut api yang memburu nya.
Hiyaaaaaaaaattttt!!
Sinar biru yang diikuti angin dingin berbau amis menyongsong serangan rambut api dari Dewi Api.
Blammmmm!!
Ledakan keras terdengar dari benturan dua ajian andalan mereka. Dua perempuan jagoan aliran hitam itu sama sama terlempar ke belakang sejauh dua tombak.
Dewi Kembang Wengi muntah darah segar begitu pula Dewi Api. Perempuan berambut api itu bahkan menghantam tanah dengan keras.
Dewi Kembang Wengi segera di dekati Dewi Kantil, sedang Dewa Tanah langsung menolong adik seperguruannya itu.
Karena asyik melihat pertarungan, kaki Dewi Naganingrum terperosok ke dalam atap yang kelihatan nya setengah lapuk.
Krreeeek!
Meski hanya pelan namun itu sudah cukup terdengar di telinga Dewi Kenanga yang peka.
"Pengintip", dengus Dewi Kenanga sambil melempar 3 pisau kecil berwarna biru kekuningan kearah Naganingrum.
Sring sringg sringg!!
Melihat serangan itu, Dewi Srimpi segera menangkis dengan 3 jarum beracun nya.
Trangg trraakkk!!
Melihat serangan senjata rahasia nya bisa di tangkis, Dewi Kenanga marah besar.
"Pengintip,
Keluar kau keparat!", teriak Dewi Kenanga dengan lantang.
Dari atap bangunan rumah, 4 bayangan melompat turun ke arena pertarungan. Para murid Perguruan Racun Kembang terkejut melihat siapa yang datang. Mereka tidak akan pernah lupa dengan wajah dua lelaki yang menolong nyawa mereka waktu pertarungan di Wanua Klakah tempo hari.
"Pendekar Pedang Naga Api?
Kenapa kau ada disini?", tanya Dewi Kenanga dengan raut muka ketakutan.
"Ini wilayah Panjalu, semua orang bebas datang dan pergi asal tidak menggangu orang lain.
Kalian membuat keributan disini, apa ingin berhadapan dengan para prajurit Daha?", Panji Watugunung menatap tajam ke arah anggota Racun Kembang.
Dewi Kenanga langsung pucat mendengar ancaman dari Panji Watugunung.
"Jadi kau orang yang berjuluk Pendekar Pedang Naga Api?
Kebetulan sekali, aku tidak perlu repot-repot mencari mu", ujar Dewa Tanah yang langsung membuat Panji Watugunung menoleh kearah kakek tua bertubuh gendut itu segera.
"Kalau memang benar, kau mau apa?", Panji Watugunung menatap ke arah Dewa Tanah yang memegang sebuah gada.
"Akan ku balas kematian kakak seperguruan ku Dewa Angin dan Dewa Langit hari ini.
Pemuda tengik,
Bersiaplah!!", teriak pria tua gendut itu sambil memutar gada nya. Pria gemuk itu segera berlari sambil mengayunkan gada nya kearah kepala Panji Watugunung.
Dengan gerakan cepat, Panji Watugunung menghindari gebukan gada Dewa Tanah sambil menendang punggung Dewa Tanah dengan keras.
Deshhhh
Dewa Tanah nyaris terjatuh, tapi kakek tua gendut itu segera berbalik dan melesat ke arah Panji Watugunung. Seperti nya tendangan keras Panji Watugunung tidak berpengaruh pada nya.
Kembali Dewa Tanah mengayunkan gada nya mengincar dada sang Yuwaraja Panjalu, namun lagi lagi Panji Watugunung segera menghindari gebukan gada. Kali ini dia melayangkan pukulan keras kearah dada Dewa Tanah.
Bukkkkk
Dewa Tanah terhuyung mundur saat terkena hantaman Panji Watugunung. Kakek gendut itu segera mengusap dadanya kemudian dia berdiri tegak.
Dengan senyum pongah nya, dia menepuk dadanya.
"Ayo Pendekar Pedang Naga Api,
Pilih bagian mana yang hendak kau serang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wah ngidam di hajar ni orang 😄
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏