Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Musnahnya Kelompok Macan Wulung


__ADS_3

Dompal yang melihat Garu tewas mengenaskan melesat ke arah tubuh Garu. Sementara Dewi Srimpi menatap dengan penuh kewaspadaan.


"Garu bangun Garu..", Dompal menggoyangkan tubuh Garu yang sudah tak bernyawa.


Raut wajah Dompal yang sedih melihat nasib saudara jauh nya seketika berubah bengis saat melihat wanita bercadar hitam.


"Kau setan betina!


Kau harus mampus di tangan ku".


Usai berteriak Dompal merangsek maju membabatkan pedang kearah leher Dewi Srimpi. Wanita itu hanya bergerak mundur selangkah, kemudian memutar tubuhnya dengan sedikit menunduk dan melancarkan tendangan keras ke arah perut Dompal.


Bukkk!


Dompal melihat serangan Dewi Srimpi menangkis dengan pukulan tangan kiri. Tubuh Dompal terdorong 2 langkah ke belakang akibat kerasnya tendangan dari gadis bercadar hitam itu.


Tangan kiri Dompal ngilu seperti ada tulang yang retak. Dompal memutar mutar pedang nya sambil berjalan ke samping. Tatapan matanya berkilat marah.


Setelah merasa siap, Dompal menjejak tanah dengan keras dan melesat cepat menyabet kaki Dewi Srimpi dengan pedang nya. Dewi Srimpi dengan tenang melompat ke atas, dan bersalto ke belakang tubuh Dompal.


Seketika Dompal memutar badannya, dan mengincar pinggang Dewi Srimpi.


"Mati kau", teriak Dompal yang merasa serangan nya berhasil.


Dewi Srimpi memutar tubuhnya di udara saat melihat serangan Dompal, dan melayangkan satu tendangan kaki kanan keras kearah dada Dompal.


Pria setengah umur itu terhuyung huyung ke belakang sampai menurunkan kaki kanan agar tubuh nya tidak limbung. Dadanya sesak bukan main.


Setelah menata nafasnya, Dompal berdiri kembali.


Sementara di sisi lain, Panji Watugunung yang berhadapan dengan Macan Wulung melayani setiap serangan pria itu dengan tenang.


"Bedebah!


Sampai kapan kau akan menghindari serangan ku?", teriak Macan Wulung geram melihat Panji Watugunung seolah hanya bermain-main dengan nya.


Macan Wulung lalu merogoh balik bajunya dan mengambil sepasang sarung tangan berwarna hitam dari kulit. Ujung sarung tangan terdapat kuku buatan dari besi baja berwarna hitam.


Setelah itu Macan Wulung mengambil kuda kuda layaknya harimau. Lalu melesat cepat menyambar pinggang Panji Watugunung dengan cakar tangan kanannya.


Watugunung hanya melompat ke samping kanan. Macan Wulung dengan gesit merubah gerakan tubuhnya, menyapu kaki Watugunung.


Panji Watugunung melompat ke udara, namun Macan Wulung yang melihat celah, menyambar punggung Panji Watugunung dengan cakar tangan kiri nya.


"Robek punggung mu", geram Macan Wulung..


Bakkkk!!


Cakar kiri Macan Wulung seperti menghajar logam keras saat menyentuh kulit Panji Watugunung. Dari robekan baju, terlihat sinar kuning keemasan.


"Ajian Tameng Waja, iya ini Ajian Tameng Waja", teriak Macan Wulung gugup melihat lawan nya memiliki ajian Tameng Waja.


Panji Watugunung hanya tersenyum tipis melihat kegugupan Macan Wulung.


Sementara itu Dompal bersiap menghadapi Dewi Srimpi di kejutkan teriakan Dewi Anggarawati yang kesal.


"Srimpi mundur, sekarang giliran ku".


Dewi Srimpi mundur 3 langkah ke belakang.


Dompal yang memandang tajam kearah suara yang di kenalinya. Seketika raut muka Dompal mencibir ke arah Dewi Anggarawati.


"Perempuan tengik, kita bertemu lagi. Apa sekarang kau sudah hebat berani menantang ku?".


"Hebat atau tidak aku tidak tau, tapi sekarang saatnya aku membalas sakit hati ku".

__ADS_1


Dewi Anggarawati melesat cepat menuju ke arah Dompal sambil menghunus pisau terbang nya. Dompal yang tak menduga perubahan Anggarawati, segera menyabetkan pedang kearah gadis itu.


Tringg


Benturan pedang dan pisau menciptakan bunga api kecil. Dewi Anggarawati segera menyabetkan pisau di tangan kanannya, mengincar perut Dompal.


Dompal melompat mundur, tapi Dewi Anggarawati yang bernafsu membalas perlakuan Dompal segera melesat ke samping kanan Dompal dan menusuk dada kanan Dompal dengan cepat.


Creeepp.. Aarrgghhh!


Dompal menjerit kesakitan, terhuyung mundur sambil memegang dada kanannya.


Dewi Anggarawati tersenyum meninggalkan Dompal yang kesaktian lalu melempar pisau terbang nya menyambar leher Dompal.


Tubuh Dompal limbung dan roboh ke tanah. Dompal tewas bersimbah darah.


Sementara itu, Macan Wulung yang menyadari tidak mungkin menang melawan Panji Watugunung diam diam merencanakan kabur.


"Tak usah berpikir kabur. Malam ini adalah saat kau berangkat ke neraka", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Macan Wulung.


Lelaki berumur itu hampir saja mengumpat mengetahui rencana kabur nya ketahuan. Kini pilihan hanya bertarung sampai mati atau menyerah.


Macan Wulung mendengus pelan. Tiba tiba muncul asap merah bercampur hitam mengepul dari tangan Macan Wulung. Dia rupanya mengeluarkan puncak kanuragan nya, Ajian Macan Setan.


Panji Watugunung segera bersiap menghadapi. Ajian Tameng Waja nya kembali bersinar. Dan Panji Watugunung mengeluarkan jurus Tapak Dewa Api di tangan kanan nya.


Dengan gerakan secepat kilat, Macan Wulung menyambar dada Panji Watugunung. Dan Panji Watugunung pun tidak berusaha menghindar.


Saat cakar Macan Wulung menghajar dada kanan, saat itu pula Panji Watugunung mengantam dada kiri Macan Wulung.


'Cakar Macan Setan'


'Tapak Dewa Api tingkat 5'


Dhuarrrr!!!


Watugunung sama sekali tidak terluka hanya terdorong 2 langkah ke belakang namun tidak dengan Macan Wulung. Tubuh pria berpakaian hitam itu terlempar 3 tombak ke belakang dan menghantam pohon besar. Dada kiri Macan Wulung hangus terbakar. Macan Wulung yang terkenal sebagai pengacau yang meresahkan wilayah Kahuripan tewas seketika.


Melihat pemimpin mereka tewas, anak buah Macan Wulung yang tinggal 10 orang memilih untuk menyerah. Mereka meletakkan senjata masing-masing dan meletakkan tangan di belakang kepala.


"Rasakan ini, dasar perampok sial".


Gumbreg yang masih kesal dengan mereka, menendang wajah salah satu anggota Macan Wulung yang menyerah.


"Gumbreg..."


Suara pelan Panji Watugunung segera membuka Gumbreg menoleh dan menunduk tak berani.


"Ingat, musuh yang sudah takluk tidak boleh dianiaya. Paham kamu Mbreg??".


"Paham Gusti Panji paham", jawab Gumbreg takut takut.


"Makanya jangan sok. Kalau sampai ada salah lagi lehermu bisa di keeekkkkk", bisik Ludaka yang ada disebelah Gumbreg. Tangan Ludaka membentuk garis di leher, membuat Gumbreg bergidik ngeri.


"Kau ini, sedikit sedikit pancung sedikit sedikit penggal. Bikin orang kena sakit jantung tau", Gumbreg mendelik sewot ke arah Ludaka.


"Hehehehe, sudah diam. Tuh Gusti Panji mau bicara", potong Ludaka.


Panji Watugunung memerintahkan tawanan dari kelompok Macan Wulung menggali lubang untuk mengubur mayat mayat kawannya. Hanya satu lobang besar yang muat untuk semua anggota Macan Wulung yang tewas.


Usai menguburkan, mereka di ikat oleh pengikut Panji Watugunung. Dan semua orang anggota rombongan Panji Watugunung bersiap melanjutkan perjalanan ke kota Kadipaten Seloageng karna hari sudah menjelang pagi.


Langit timur sudah mulai merah. Suara ayam hutan jantan bersahutan di tambah kicau burung burung hutan membuat suasana terasa damai.


Panji Watugunung sedang mencuci mukanya. Baju nya akan ganti, sebab baju lamanya robek robek akibat pertarungan tadi malam.

__ADS_1


"Kakang pakai baju ini saja", Ratna Pitaloka menyodorkan baju berwarna hitam bergaris merah.


"Kangmbok Pitaloka, sebaiknya Kakang Watugunung memakai busana bangsawan. Aku tidak mau ya nanti dia di cap tidak menghargai adat istiadat kadipaten Seloageng", potong Dewi Anggarawati tersenyum sambil menyerahkan seperangkat busana kebangsawanan.


Sumping telinga emas berukir daun pakis, kalung kolong panjang, ikat pinggang beludru hitam, gelang bahu emas dengan ukiran kepala garuda, selempang kain sutra biru, jarit berwarna hitam, celana pendek biru selutut. Tak lupa gelang pelindung lengan dari emas.


Setelah memakai semua itu Panji Watugunung benar benar terlihat seperti seorang pangeran.


Para pengikut nya bahkan melongo melihat ketampanan dan kegagahan Panji Watugunung dengan pakaian bangsawan.


Gumbreg langsung berlari ke arah Panji Watugunung.


"Kalau begini, baru benar Gusti Panji", ujar Gumbreg sambil mengacungkan dua jempol nya.


Panji Watugunung hanya tersenyum tipis saja.


"Semuanya, ayo ke kota Seloageng. Jangan ada barang yang tertinggal".


Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya di ikuti calon calon istri nya. Ludaka memimpin di depan, Gumbreg di belakang para wanita dan Arimbi. Tawanan berjalan kaki di tengah, sedangkan Marakeh dan Rakai Sanga mengawal di belakang para tawanan.


Sebelum tengah hari, mereka tiba di gapura istana kadipaten Seloageng. Dewi Anggarawati mengutus prajurit penjaga untuk mengurus para tawanan. Sedangkan mereka bergegas menuju bangsal paseban Kadipaten Seloageng.


Tejo Sumirat, Adipati Seloageng tersenyum lebar melihat anak dan calon menantunya datang.


"Selamat datang di Istana Seloageng"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tambah seru ya guys??😁😁


Nantikan terus kelanjutannya..


Author berterima kasih kepada semua readers yang sudah memberikan dukungannya.👍👍


Jangan lupa untuk terus dukung author menulis dengan like, vote dan komentar nya.🙏🙏


Happy reading guys 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2