
"Kakang Watugunung, kami butuh penjelasan", teriak Ratna Pitaloka. Matanya merah Panji Watugunung. Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang pun sama.
Huft..
'Sudah ku duga akan begini', batin Panji Watugunung.
"Apa maksudmu Kakang? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak memperistri wanita lain lagi?", tanya Sekar Mayang menimpali.
"Kangmas Panji tega ya? Kurang apa coba kami Kangmas?", Dewi Anggarawati ikut ikutan bertanya.
Panji Watugunung menghela nafasnya dalam-dalam.
"Aku tidak berdaya", ucap Panji Watugunung sedikit keras.
Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang terkejut dengan jawaban Panji Watugunung. Mereka bertiga saling berpandangan sejenak.
"Apa maksudnya Kangmas Panji?", tanya Dewi Anggarawati yang sedang menyelidik suami nya.
"Sedikit rumit tapi aku minta kalian coba untuk memahami nya. Akan ku jelaskan semuanya pada kalian. Jangan ada yang menyela sebelum aku selesai bicara", ujar Panji Watugunung yang di jawab anggukan kepala dari ketiga istrinya.
"Saat aku di panggil ke Daha, aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan surat dari Prabu Samarawijaya.
Ternyata benar. Prabu Samarawijaya mempertanyakan kesetiaan ku pada Daha. Sebagai sesama keturunan Lokapala, dia mengkhawatirkan tuntutan ku atas tahta.
Aku dari awal sama sekali tidak punya niat menjadi raja. Aku lebih suka hidup bebas di luar istana. Tapi rupanya ini dianggap permasalahan oleh Gusti Prabu Samarawijaya", Panji Watugunung menghela nafasnya sambil memandang langit malam yang gelap.
"Dia lalu menggunakan taktik halus. Dia menjodohkan Ayu Galuh dengan ku, dengan maksud untuk mengikat kesetiaan ku kepadanya. Aku tidak punya pilihan lain. Menolak sama dengan aku mencari mati", Panji Watugunung lantas memandang kearah ketiga gadis nya.
"Sekarang kalian semua pilih.
Kalian tetap bersuami aku dan menerima kehadiran Ayu Galuh,
Atau kalian lebih suka aku hanya menikahi kalian dan mati di tangan Prabu Samarawijaya?".
Degg..
Wajah Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang seketika berubah pucat. Semarah-marahnya hati mereka, tentu mereka tidak mau suami mereka mati.
"Maafkan kami Kakang, kami tidak tau kalau masalah nya serumit ini. Kami tidak paham dengan beban hati Kakang Watugunung", Ratna Pitaloka menunduk. Dia merasa benar benar bersalah. Tidak seharusnya dia marah tanpa mendengar penjelasan dari Panji Watugunung.
Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang pun sama. Mereka merasa bersalah karena keegoisan mereka.
Ketiga gadis itu segera melompat ke arah Panji Watugunung dan memeluk tubuh lelaki itu kuat kuat.
"Kakang Watugunung, maafkan kami".
Panji Watugunung menarik nafas lega melihat ketiga istrinya memahami perasaan nya.
Sesaat kemudian, Ayu Galuh datang ke tempat peristirahatan Panji Watugunung. Saat di lorong, Dewi Srimpi sudah menghalangi jalan Ayu Galuh namun gadis itu tetap bersikukuh untuk bertemu dengan Panji Watugunung.
Kriettttt
Pintu kamar terbuka dari luar dan Ayu Galuh masuk. Dia melihat Panji Watugunung dan ketiga gadis nya sedang berpelukan.
Wajah cantik Dewi Anggarawati yang semula bersedih karena perasaan Watugunung, langsung berubah geram melihat perempuan itu. Ingin sekali dia menghajar perempuan yang merebut suami nya itu.
"Mau apa kau kemari?", teriak Anggarawati ketus.
"Tentu saja ketemu calon suami ku lah",u
jawab Ayu Galuh enteng.
Phuihhh
"Baru calon istri sombong, aku istri sah nya. Kau bisa apa?", Dewi Anggarawati gusar.
"Aku tidak peduli. Dia calon suami yang di jodohkan ayahanda padaku. Aku seorang putri raja. Jangan macam-macam kau pada ku", Ayu Galuh mulai kasar.
"Aku tidak peduli, mau kau putri raja, putri dewa sekalipun aku tidak peduli. Sekali pengganggu tetap saja pengganggu", hardik Dewi Anggarawati mendelik marah.
"Kurang ajar", teriak Ayu Galuh langsung melompat ke Dewi Anggarawati dan menjambak rambut gadis itu.
Dewi Anggarawati pun tak tinggal diam. Dia membalas dengan cara yang sama.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang hanya melihat perkelahian mereka. Namun tatapan mata tajam Panji Watugunung ke arah mereka, membuat mereka segera memisahkan Ayu Galuh dan Dewi Anggarawati.
"Jangan halangi aku, biar ku robek mulut perempuan itu", teriak Ayu Galuh yang di tarik Ratna Pitaloka.
"Lepaskan aku Kangmbok Mayang, biar aku hajar wanita yang tidak tahu diri seperti dia", Dewi Anggarawati berusaha melepaskan tangan Sekar Mayang yang menarik nya.
"Kalian bisa diam tidak?", teriakan keras Panji Watugunung membuat Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh terdiam seketika. Mereka takut melihat wajah Panji Watugunung yang menunjukkan amarahnya.
__ADS_1
"Sekarang kalian semua keluar, aku mau istirahat", teriak Panji Watugunung sambil menunjuk pintu kamar.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang bergegas keluar. Namun Ayu Galuh masih berdiam diri di dalam kamar. Melihat perempuan itu masih di kamar Panji Watugunung, Dewi Anggarawati mengurungkan niatnya untuk keluar kamar.
"Kenapa masih disini?", ucap Panji Watugunung memandang wajah Ayu Galuh dan Dewi Anggarawati.
"Aku mau tidur disini", jawab Ayu Galuh.
"Aku juga mau tidur disini", Dewi Anggarawati tak mau kalah.
Ingin Panji Watugunung mengumpat tapi dia tahan. Dengan sedikit senyum terpaksa, dia berkata dengan sedikit pelan.
"Terserah kalian, aku mau tidur".
Panji Watugunung melangkah ke ranjang nya dan kedua wanita putri bangsawan itu bergegas menyusul nya.
Pagi menjelang tiba di Pakuwon Kunjang.
Para prajurit Pakuwon sudah sibuk mempersiapkan senjata dan kuda kuda mereka.
Pasukan Garuda Panjalu juga bersiap untuk bertugas. Semua nya sibuk dengan urusan yang menjadi tugas mereka.
Panji Watugunung berjalan dengan di apit empat orang wanita dan seorang pelayan di belakang nya. Semua orang segera menyembah dan berkata , "Hormat kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung".
Setelah beberapa pengarahan, Pasukan Garuda Panjalu di bantu pasukan Pakuwon Kunjang dan di pimpin langsung oleh Panji Watugunung bergerak cepat menuju markas para pengacau keamanan. Hanya Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang yang mengiringi perjalanan Panji Watugunung.
Pertempuran sengit terjadi. Pimpinan pengacau keamanan tewas setelah di hajar Ratna Pitaloka.
Dalam waktu sepekan terakhir semua markas pengacau keamanan di Kunjang sudah di ratakan dengan tanah.
Ayu Galuh dan Dewi Anggarawati sudah bisa akur walau kadang masih bersitegang. Dengan dukungan dua putri bangsawan dan pasukan Garuda Panjalu, nama Panji Watugunung semakin di takuti oleh para pengacau keamanan di wilayah perbatasan Panjalu.
Rakyat Pakuwon Kunjang mengelu-elukan Panji Watugunung dan pasukan Garuda Panjalu di sepanjang jalan menuju istana Pakuwon Kunjang.
Sesampainya di istana Pakuwon, Panji Watugunung segera menuju bangsal peristirahatan dan di sambut oleh dua putri bangsawan yang sangat mencintainya.
"Kangmas Panji selamat datang".
Panji Watugunung hanya tersenyum tipis melihat dua gadis itu.
Hemmmm
"Ayu Galuh, apa surat untuk Akuwu Watugaluh sudah kau kirimkan?".
"Sudah Kangmas, melalui merpati surat. Menurut balasan, bantuan mereka akan sampai besok di sini", jawab Ayu Galuh.
"Anggarawati, apa jawaban Kanjeng Romo Bupati sudah sampai?", Panji Watugunung memandang wajah cantik istrinya itu.
"Belum Kangmas, utusan yang aku kirim belum juga kembali", sahut Anggarawati sambil tersenyum manis.
Hemmmm
"Memang kita butuh pasukan besar ya Kakang?", tanya Ratna Pitaloka.
"Berdasarkan laporan telik sandi, Gunung Kematian setidaknya ada 400 orang lebih di markas besar nya. Kekuatan kita hanya 150 prajurit, belum lagi yang tinggal di markas besar mereka adalah para tokoh golongan hitam yang berilmu tinggi. Kalau kita hanya mengandalkan keberanian, maka kita hanya mengantar nyawa kesana", Panji Watugunung memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Semua orang terdiam memikirkan semua itu.
"Bagaimana kalau Denmas Panji meminta bantuan ayah ku?".
Suara merdu Dewi Srimpi memecah keheningan di serambi peristirahatan Pakuwon Kunjang.
Panji Watugunung segera menoleh pada gadis itu.
"Apa ayahmu mau membantu ku?".
"Tentu saja mau jika Denmas Panji meminta bantuan langsung kepada ayah", jawab Dewi Srimpi sambil menunduk.
Hemmmm
"Setidaknya ada 50 orang lebih pengikut Kelabang Koro, mereka berilmu tinggi. Rata rata memiliki keahlian dalam meracik racun.
Hemmmm
Tidak buruk", kata Panji Watugunung sambil manggut-manggut.
"Kita hanya bisa mengandalkan kekuatan bantuan dari luar Pakuwon jika ingin menyerbu mereka. Kekuatan Gunung Kematian masih terlalu besar meski kita sudah mengurangi ratusan anggota mereka.
Sambil menunggu bantuan pasukan dari Watugaluh dan Gelang-gelang, besok aku akan menemui Kelabang Koro bersama Srimpi.
Paman Saketi, perkuat penjaga di sekeliling istana pakuwon", ucap Panji Watugunung.
__ADS_1
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Ki Saketi sambil mundur dari serambi peristirahatan Pakuwon Kunjang.
Semua orang segera membubarkan diri.
**
Setan Gundul terkejut mendengar kematian muridnya Setan Banyu di tangan Ratna Pitaloka dari telik sandi nya. Matanya berkilat marah. Setan Gundul menggebrak meja dengan kasar.
Brakkk
Meja kayu itu hancur berkeping keping.
"Bedebah !!
Akan ku balaskan dendam mu, Siluman Banyu.
Pasti ku balaskan", teriak Setan Gundul.
Pria paruh baya itu segera keluar dari melangkah masuk ke serambi kediaman Dewa Maut, pimpinan Perguruan Gunung Kematian.
Julungwangi, Si Iblis Biru juga sudah ada di dalam serambi kediaman Dewa Maut.
"Setan Gundul, duduklah..
Ada perlu apa kau kemari?", tanya Dewa Maut sambil mengelus jenggotnya. Mata kakek tua itu terlihat menyeramkan.
"Maaf guru, aku baru saja menerima laporan telik sandi. Katanya murid ku Setan Banyu tewas oleh pasukan Garuda Panjalu", ujar Setan Gundul.
"Bukan murid mu saja, murid murid ku juga tewas", sahut Iblis Biru dengan wajah datar.
Hemmmm
"Pasukan itu tidak bisa dianggap enteng.
Setan Gundul,
Segera kirim pesan ke Iblis Bukit Jerangkong, apa jawaban nya jika kita menyerbu Pakuwon Kunjang", kata Dewa Maut sambil mengelus jenggotnya.
Setan Gundul mengangguk dan bergegas meninggalkan serambi kediaman Dewa Maut.
Dewa Maut masih termenung di serambi nya.
"Firasat ku mengatakan kita akan segera bertempur melawan pasukan itu. Apa kau siap membantai mereka, Julungwangi?"
Julungwangi alias Iblis Biru mengangguk dengan cepat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Bagaimana kisah selanjutnya?
Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung dan pasukannya ya guys 😁😁😁
Dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya.
Selamat membaca 🙏🙏*
__ADS_1