Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Rencana Busuk Seorang Patih


__ADS_3

Wangsaatmaja terkejut mendengar ucapan Dewi Srimpi.


'Ayah ku di racun orang? Siapa pelakunya?'.


"Kalau saya tidak salah memperkirakan, pelaku nya pasti orang dalam Gusti Pangeran", ujar Panji Watugunung kemudian.


"Darimana kamu punya pemikiran seperti itu, Utusan Daha?", tanya Wangsaatmaja memandang kearah Panji Watugunung.


"Kalau bukan orang dalam, tidak mungkin bisa memasukkan racun ke dalam makanan Gusti Adipati. Sekarang Gusti Pangeran perhatikan, dalam muntah ini ada sedikit sisa makanan. Melihat dari makanan yang kehitaman, berarti racun masuk bersama makanan", jawab Panji Watugunung seraya menunjuk pada kendil tanah yang berisi muntah Adipati Kurawan itu. Wangsaatmaja segera melihat dalam kendil dan benar saja, makanan nya berwarna hitam.


"Coba Gusti pangeran ingat, sebelum sakit, Gusti Adipati makan bersama siapa?".


Wangsaatmaja mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengingat kejadian sebelum Wangsakerta jatuh sakit.


Saat itu mereka makan bersama di istana selir ada Patih Rakeh Paksi, ada Ayahanda nya, Tumenggung Ringkasamba, selir termuda ayahnya Rara Kuning, dan dirinya.


"Dari mereka semua tidak mungkin ada yang berani berbuat macam-macam terhadap ayah ku, hai Utusan Daha", Wangsaatmaja mencoba meyakinkan.


Panji Watugunung segera tersenyum tipis.


"Maafkan saya Gusti Pangeran, tapi semakin dekat maka semakin besar dia pelakunya".


"Apa maksudmu?", Wangsaatmaja segera memandang kearah Panji Watugunung.


"Diantara kalian berlima, ada yang sengaja berbuat hina untuk maksud tertentu. Coba Gusti ingat, siapa yang paling di untungkan saat Gusti Adipati meninggal? Tentu saja Gusti Pangeran bukan?", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Kau mencurigai ku, Utusan Daha?", Wangsaatmaja mendelik tajam.


"Dengar dulu Gusti Pangeran, pelaku sebenarnya ingin semua orang berpikir seperti itu. Ingin memfitnah Gusti pangeran dengan mengatasnamakan keuntungan yang Gusti Pangeran dapatkan.


Ini seperti menggunting kertas dalam lipatan. Gusti Adipati meninggal, Gusti Pangeran naik takhta, dan dia bebas dari segala tuduhan.


Licik sekali bukan?", Panji Watugunung menjelaskan semuanya.


Wangsaatmaja terperangah mendengar penjelasan Panji Watugunung. Dia tidak menyangka utusan dari Daha ini begitu cerdas.


Putra Adipati itu tersenyum.


"Lalu bagaimana cara kita mengetahui pelaku sebenarnya dari rencana jahat ini?", tanya Wangsaatmaja bersemangat.


"Gusti ingat ingat dulu, siapa pihak yang paling tidak di untungkan dari sakit nya Gusti Adipati Kurawan ini?


Coba Gusti Pangeran pikir perlahan saja", ujar Panji Watugunung segera.


Dewi Srimpi yang diam mendengar semua percakapan mereka. Dalam hati dia tidak menyangka bahwa suaminya sampai bisa berpikir sejauh itu.


"Tentu saja Rara Kuning. Dia akan di pulangkan ke rumah nya saat Ayahanda meninggal dunia", jawab Wangsaatmaja yakin.


Panji Watugunung terkekeh kecil.


Wangsaatmaja memandang Panji Watugunung kebingungan.


"Apa ada yang salah dengan ucapan ku?".


"Gusti Pangeran benar dan juga salah. Rara Kuning tidak akan berani melakukan tindakan bodoh itu tanpa ada orang kuat di belakangnya", Panji Watugunung membuka penalaran Wangsaatmaja.


"Benar juga, selir itu tidak akan berani bertindak tanpa dukungan dari orang lain.


Bagaimana cara kita menangkis dalang dari peristiwa ini kalau begitu??".


"Gampang saja Gusti Pangeran, tangkap saja selir itu lebih dulu. Minta orang untuk mengawasi gerak-gerik Tumenggung Ringkasamba dan Patih Rakeh Paksi", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Baik, akan kulakukan.


Penjaga,


Tangkap Rara Kuning dan bawa kemari. Cepat", perintah Wangsaatmaja dan dua orang penjaga segera menghormat pada Wangsaatmaja dan mundur keluar dari kamar pribadi Adipati Wangsakerta.


"Kau dan kau, panggil Tumenggung Ringkasamba dan Patih Rakeh Paksi kesini sekarang", teriak Wangsaatmaja pada dua penjaga lainnya. Mereka bergegas mencari dua orang yang di tunjukkan oleh Wangsaatmaja.


Di istana selir, Rara Kuning begitu ketakutan saat mendengar berita Adipati Wangsakerta sudah sadar.


Dayang istana yang menjadi kaki tangan perbuatan jahatnya sudah di habisi dengan tusukan pisau.


'Celaka, aku harus kabur dari istana ini'.


Rara Kuning berlari menuju pintu gerbang samping istana selir. Namun pintu itu ternyata sudah di kunci dari luar.

__ADS_1


Dari arah depan, dua prajurit penjaga segera bergegas masuk melihat seorang dayang Rara Kuning tewas dan menahan Rara Kuning yang hendak melarikan diri.


"Lepaskan aku bodoh, aku ini selir Adipati Kurawan.


Cepat lepaskan aku", Rara Kuning terus meronta saat penjaga menyeretnya ke ruang pribadi Adipati.


Sesampainya di ruang pribadi Adipati, penjaga itu segera mendorong tubuh Rara Kuning ke depan Wangsaatmaja.


"Gusti Pangeran, dayang pribadi Selir Rara Kuning di bunuh dengan pisau", ujar sang prajurit penjaga.


Pandangan tajam dari Wangsaatmaja membuat Rara Kuning meringkuk ketakutan.


Tak berapa lama kemudian, Patih Rakeh Paksi dan Tumenggung Ringkasamba masuk ke dalam kamar pribadi Adipati.


Mereka berdua terkejut melihat Rara Kuning terus menerus menangis sedang Wangsaatmaja memandang kearah Rara Kuning dengan tatapan mata dingin nya.


"Ini ada apa Gusti Pangeran? Kenapa selir Gusti Adipati menangis?", tanya Patih Rakeh Paksi.


Panji Watugunung dan Dewi Srimpi terus menatap gerak gerik mereka berdua.


"Dengarkan aku. Romo Adipati sudah di racuni. Dan dia adalah pelakunya", teriak Wangsaatmaja geram.


"Gusti Pangeran tidak bisa asal menuduh orang begitu saja. Harus ada bukti kuat untuk memutuskan dia bersalah atau tidak", Tumenggung Ringkasamba menjelaskan tentang hukum.


"Hari itu sebelum ayahanda sakit, kita semua makan di istana selir bukan? masakan juga dari dapur selir. Hari ini dia membunuh dayang yang menaruh racun di makanan ayahanda.


Mewakili ayahanda dan hukum Kerajaan Panjalu, hari ini dia akan di penggal kepala nya".


Mendengar ucapan Wangsaatmaja akan memenggal kepalanya, Rara Kuning ketakutan setengah mati. Matanya terus melirik ke arah Patih Rakeh Paksi.


Panji Watugunung yang diam memperhatikan, segera tau bahwa dalang peristiwa ini adalah Patih Rakeh Paksi.


"Patih Rakeh Paksi, tolong aku", teriak Rara Kuning yang ketakutan akhirnya meminta bantuan.


Patih Rakeh Paksi segera menyeringai lebar. Kepalang basah, semua sudah ketahuan. Patih Rakeh Paksi segera mencabut keris pusaka nya dan melompat ke arah Wangsaatmaja.


Pangeran Kurawan itu terkejut. Sebelum keris pusaka Rakeh Paksi menyentuh kulit Wangsaatmaja, sebuah bayangan berkelebat cepat dan menangkap tangan Rakeh Paksi kemudian memuntir nya.


Kreeekk..


Aarrgghhh..


Keris pusaka nya terjatuh dari lantai kamar pribadi Adipati.


Tumenggung Ringkasamba terkejut dengan perubahan situasi itu dan segera berdiri.


"Ada apa ini sebenernya? Ada apa Gusti Pangeran?", teriak Ringkasamba kebingungan.


"Ringkasamba, mereka berdua melakukan rencana jahat ingin membunuh ayah ku", Wangsaatmaja berdiri sambil menatap tajam kearah Patih Rakeh Paksi.


Phuihhh


"Wangsakerta pantas mati. Dia merebut ibu mu dari ku. Dia pantas mati, dia pantas mati!", Rakeh Paksi mendelik tajam kearah Wangsakerta yang masih terbaring lemah.


"Kau hanya lelaki biadab yang suka menyiksa calon istri. Ibuku sudah menceritakan semuanya kepada ku. Selama ini ayah ku menempatkan mu sebagai Patih, hanya karena menghargai mu karena kau kakak seperguruan ibuku bajingan. Ibuku memilih ayahanda karena dia tau bahwa hanya ayahanda ku yang benar benar mengayominya", teriak Wangsaatmaja sambil mencabut kerisnya dan menusuk ulu hati Patih Rakeh Paksi.


Patih Rakeh Paksi melenguh kesakitan dan akhirnya tewas dengan keris Wangsaatmaja menancap di ulu hati nya. Panji Watugunung melepaskan kuncian nya. Tubuh Rakeh Paksi ambruk.


Rara Kuning yang ketakutan, diam-diam mencabut keris patrem yang ada di balik selendangnya. Perempuan itu berlari menuju ranjang Wangsakerta sambil mengacungkan keris patrem nya.


"Mati kau Wangsakerta"


Namun dua buah jarum kecil berwarna hitam melesat cepat menuju leher Rara Kuning.


Creppp


Oughhh


Rara Kuning limbung dan jatuh ke lantai kamar pribadi Adipati. Matanya membeliak menahan sakit luar biasa akibat Racun Kelabang Neraka dari Dewi Srimpi. Tak berapa lama kemudian dia tewas dengan mulut berbusa.


Semua orang yang sempat terkejut, menarik nafas lega.


"Ringkasamba, apa kau masih setia kepada ku atau ingin membela mereka?", tatap Wangsaatmaja kepada Tumenggung Ringkasamba yang mematung melihat kejadian itu.


"Ringkasamba selalu setia kepada Adipati Wangsakerta, Gusti Pangeran", Tumenggung Ringkasamba yang berumur paruh baya itu berlutut kepada Wangsaatmaja.


"Baik, aku percaya kepada mu. Urus mayat dua pengkhianat ini, lalu segera susul aku ke Keputran Kurawan.

__ADS_1


Utusan Daha, aku Wangsaatmaja mengucapkan terima kasih atas bantuan mu.


Mari kita berbincang di keputran", ajak Wangsaatmaja kepada Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.


Mereka bertiga segera berjalan menuju keputran Kurawan. Diluar gerbang kamar tidur Adipati Wangsakerta, mereka bertemu dengan Warigalit dan Ratri serta kedua selir Panji Watugunung.


Mereka lalu bersama sama menuju ke Keputran Kurawan.


Dua orang penjaga gerbang keputran segera memberi hormat kepada Wangsaatmaja saat mereka sampai disana.


Sesampainya di serambi keputran Kurawan, mereka segera duduk.


"Aku benar-benar kagum dengan kecerdasan mu, Utusan Daha.


Kalau tidak ada kamu dan gadis ini, mungkin Adipati Wangsakerta dan Putra mahkota Wangsaatmaja sudah tidak ada lagi di dunia ini", ujar Wangsaatmaja memandang kearah Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.


Sekar Mayang yang tidak tahu apa apa, segera memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf Gusti Pangeran, apa terjadi sesuatu?".


"Ya, gadis cantik. Utusan Daha ini telah menyelamatkan nyawa ayahku dan aku dari pengkhianat yang ingin menghancurkan Kadipaten Kurawan. Dia dengan cerdas membongkar rencana busuk mereka untuk menyingkirkan keluarga Wangsakerta", puji Wangsaatmaja memandang kagum pada Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.


"Ahh itu sudah biasa. Seorang Pangeran Daha memang harus cerdas".


Ucapan spontan Sekar Mayang membuat semua orang melotot kepadanya. Sadar dirinya keceplosan ngomong, dia segera menutup mulut nya dengan kedua tangan.


'Mulutnya benar benar selalu membuat masalah', gerutu Panji Watugunung.


"Pangeran Daha? Apa maksudmu gadis cantik?", Wangsaatmaja kebingungan melihat mereka yang mendelik tajam kearah Sekar Mayang.


Menyadari tidak mungkin menyembunyikan identitasnya lagi, Panji Watugunung menghela nafas panjang dan mengangguk tanda iya kepada Sekar Mayang.


"Maaf Gusti Pangeran, orang yang kau panggil Utusan Daha itu sebenarnya adalah Pangeran Daha. Dia putra menantu sulung Sang Prabu Samarawijaya", ujar Sekar Mayang.


"APAAAAA?!"


Wangsaatmaja terkejut bukan main. Tadi dia hanya menganggap sebelah mata pada Panji Watugunung sebelum kejadian Patih Rakeh Paksi. Setelah dia menolong nyawa nya, dia menghormati nya sebatas mengagumi kecerdasan nya. Sekarang saat tahu kenyataan yang sesungguhnya, dia menjadi semakin takjub dengan Panji Watugunung.


Segera Wangsaatmaja menyembah kepada Panji Watugunung.


"Mohon ampuni hamba Gusti Pangeran, Wangsaatmaja yang bodoh ini benar benar buta. Tidak bisa melihat seorang pangeran dari Daha"


"Sudahlah Pangeran Wangsaatmaja, berdirilah.


Jangan membuat aku dalam masalah. Aku minta hanya kau yang tau siapa aku", ujar Panji Watugunung.


"Bersikaplah biasa saja. Besok aku mau melanjutkan perjalanan ku ke Wengker. Aku mau balasan surat dari Kurawan aku terima besok pagi", ujar Panji Watugunung yang segera berdiri dan berjalan keluar dari keputran Kurawan di ikuti ketiga selirnya serta Warigalit dan Ratri.


Wangsaatmaja memandang kagum mereka yang kemudian menghilang di balik gapura seraya berkata,


"Seorang Pangeran sejati"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar ya 👍👍

__ADS_1


Selamat membaca 🙏


__ADS_2