Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Akhir Gunung Kematian


__ADS_3

Prajurit pasukan Garuda Panjalu terus mendesak anggota perguruan Gunung Kematian. Ratusan mayat bergelimpangan baik dari kedua belah pihak.


Bekel Prangbakat dari Pakuwon Randu terus menusukkan tombak nya. Gerakannya lincah dan cepat dalam menyerang dan menangkis serangan anggota Gunung Kematian yang menyerangnya.


Jarasanda terus menyerang anggota Gunung Kematian dengan keris Kyai Klotok nya. Gerakan nya buas seperti macan mengamuk, terus merangsek maju ke arah anggota Gunung Kematian.


Landung dan Ludaka saling bahu membahu menyerang anggota Gunung Kematian di bantu Arimbi. Rajegwesi dan Laras kompak melindungi kawan kawan nya dengan anak panahnya.


Dewi Srimpi masih terus menangis memeluk tubuh ayahnya. Sekar Mayang berusaha menghibur Dewi Srimpi. Sekar Mayang merasa berhutang nyawa pada Dewi Srimpi.


Panji Watugunung mendelik tajam kearah Dewa Maut yang mundur setelah menghabisi nyawa Kelabang Koro.


Wajah Dewa Maut menyeringai lebar. Dia puas bisa menghabisi Kelabang Koro meskipun dia tidak sadar bahwa kematian adik seperguruannya itu nanti harus dia bayar mahal.


Panji Watugunung segera memusatkan tenaga dalam nya. Ajian Tameng Waja di padu Ajian Sepi Angin. Pelan tapi pasti, Panji Watugunung segera mencabut Pedang Naga Api nya.


Hawa panas seketika menyelimuti udara di sekitar tempat itu. Pedang berwarna merah menyala itu benar benar mengerikan.


Dewa Maut terkejut dan mundur dua langkah ke belakang. Dia pernah mendengar tentang keampuhan pusaka yang menjadi puncak tertinggi dunia persilatan itu. Pedang Naga Api.


'Bedebah tengik ini rupanya memiliki pusaka itu. Ini tidak akan mudah'.


Dewa Maut segera mengeluarkan senjata andalan nya. Sepasang Arit Maut. Senjata ini sekilas mirip Pedang Bulan Kembar tapi berbeda pada warna dan gagang nya. Pedang Bulan Kembar berwarna kuning redup dengan gagang pedang ada bulatan seperti bentuk bulan purnama sedangkan Sepasang Arit Maut berwarna gelap berbau amis darah dan bergagang kepala tengkorak manusia di ujung nya.


Panji Watugunung segera melesat cepat menyabetkan Pedang Naga Api mengincar dada Dewa Maut. Angin panas bercampur tenaga dalam tingkat tinggi menderu kencang kearah Dewa Maut.


Whuttttt


Dewa Maut segera melompat ke atas menghindari sabetan pedang Panji Watugunung.


Blarrrr


Angin panas menghantam tanah dengan keras


Panji Watugunung terus bergerak cepat menyerang Dewa Maut.


Semua orang menjauhi arena pertarungan mereka. Takut menjadi serangan nyasar.


Semakin lama gerakan Panji Watugunung semakin cepat. Setelah serangkaian serangan nya berhasil di hindari, Panji Watugunung kembali menyabetkan Pedang Naga Api nya. Dewa Maut yang baru menghindari angin panas, berusaha melompat mundur.


Namun tiba tiba Panji Watugunung sudah di belakang nya. Sadar akan bahaya, Dewa Maut menyabetkan Arit Maut nya ke leher Panji Watugunung. Pemuda itu menundukkan kepalanya dan melayangkan pukulan tangan kiri yang telak menghajar dada nya..


Bukkkkk


Dewa Maut melompat mundur dan Panji Watugunung juga mundur. Dada Dewa Maut sesak. Dari sudut bibirnya, darah segar perlahan menetes.


Mata kakek tua berwajah seram itu melotot marah. Dengan marah dia meningkatkan tenaga dalam pada sepasang Arit Maut di tangan nya. Lalu melesat cepat membabatkan Arit Maut di tangan kanannya nya ke arah Panji Watugunung yang segera menangkisnya.


Tranggg...


Takkk..


Arit Maut itu hancur berkeping keping. Panji Watugunung segera melayangkan tendangan keras ke arah Dewa Maut.


Deshhhhh


Dewa Maut meraung keras. Tubuh kakek tua berwajah seram itu terpelanting ke belakang namun segera berdiri.


Panji Watugunung melesat cepat dan menyabetkan Pedang Naga Api . Tangan kiri nya berubah kemerahan seperti api.


Dewa Maut berusaha mengumpulkan tenaga dalam untuk mengeluarkan Pukulan Tangan Iblis nya namun tenaga dalam nya mendadak sirna.


Rupanya racun pelemas tenaga dari Kelabang Koro mulai menunjukkan keampuhan. Dewa Maut berusaha menangkis Pedang Naga Api yang menyabet leher.


Tringgg


Arit Maut hancur berkeping keping. Tangan kiri Panji Watugunung yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api menghajar dada kanan Dewa Maut dengan keras.


Dhuarrrr


Ledakan keras kembali terdengar. Tubuh Dewa Maut terpental jauh ke belakang. Belum sempat menyentuh tanah, gerakan kilat Panji Watugunung mendahului dan menebas leher Dewa Maut.


Crashhhh

__ADS_1


Kepala Dewa Maut menggelinding ke tanah. Tubuh tanpa kepala itu menyusur tanah dengan dada gosong.


Dewa Maut, pimpinan Perguruan Gunung Kematian yang selama belasan tahun menjadi momok menakutkan di wilayah Kahuripan kini tewas dengan kepala terpisah dari badan.


Melihat pemimpin mereka tewas, puluhan anggota Gunung Kematian yang tersisa mencoba melarikan diri. Namun prajurit yang mengejar tidak membiarkan mereka lolos.


Panah Arimbi dan Rajegwesi melesat cepat mengincar mereka yang berusaha kabur. Meski ada satu dua orang lolos, tapi nyaris semua anggota Gunung Kematian tewas pada hari itu.


Seluruh bangunan markas Gunung Kematian terbakar api. Hari itu nama Gunung Kematian di hapus dari dunia persilatan.


Teriakan gembira dari para prajurit segera memenuhi tempat itu.


"Hidup Gusti Panji Watugunung!"


"Hidup pasukan Garuda Panjalu!"


Semua orang merasa gembira kecuali Dewi Srimpi yang masih meratapi kematian ayahnya.


Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya, suasana kembali tenang.


"Saudara saudara ku semua.


Hari ini kita sudah menghapus nama Gunung Kematian dari wilayah Panjalu.


Kita bergembira karena keamanan wilayah perbatasan Panjalu menjadi terkendali. Tapi ingat jangan pernah melupakan saudara saudara kita yang gugur.


Mereka menjadi korban untuk keamanan yang kita dapatkan.


Karena itu, kuburkan mayat mayat saudara kita yang gugur hari ini. Kabarkan kepada keluarga mereka, bahwa mereka menjadi pahlawan yang membela negeri ini".


Ucapan Panji Watugunung benar benar meresap ke dalam setiap hati prajurit yang berlaga hari itu.


Mereka bergotong royong menggali lubang untuk memakamkan jenazah prajurit korban pertarungan. Sedangkan untuk mayat-mayat anggota Gunung Kematian mereka lempar ke dalam api yang membakar markas mereka.


Pasukan Garuda Panjalu dan pasukan gabungan dari Daha, Kunjang, Randu dan Watugaluh bergerak kembali ke Pakuwon Kunjang.


Pengikut Kelabang Koro memilih membawa jenazah lurah mereka kembali ke pemukiman mereka. Panji Watugunung dan Dewi Srimpi serta dua selir Panji Watugunung mengantar jenazah Kelabang Koro ke tempat peristirahatan terakhir nya.


Panji Watugunung mendekati gadis itu.


"Relakan kepergian ayah mu Srimpi, jangan membebani nya dengan tangisan mu..


Ikhlaskan dia, doakan semoga Sang Hyang Widhi Wasa memberikan nirwana untuk nya".


Dewi Srimpi segera memeluk tubuh Panji Watugunung dengan terus menangis.


"Paman Kelabang Koro, beristirahatlah dengan tenang. Jangan khawatir tentang Srimpi. Aku akan menjaga nya dan akan ku lakukan semua janji ku padamu", ucap Panji Watugunung sambil memandang pusara Kelabang Koro.


Panji Watugunung dengan memeluk tubuh Dewi Srimpi, meninggalkan tempat itu. Pengikut Kelabang Koro memilih untuk tetap tinggal di pemukiman. Wuye diangkat sebagai pemimpin perkampungan.


Rombongan Panji Watugunung sampai di istana Pakuwon Kunjang di sambut pasukan Garuda Panjalu dan pasukan gabungan. Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh yang harap harap cemas, begitu bahagia melihat suami mereka pulang dengan selamat.


Tapi senyum Ayu Galuh menghilang saat melihat Panji Watugunung memeluk tubuh Dewi Srimpi.


"Hei Kangmas Panji, kenapa kau memeluk tubuh perempuan itu? "


Panji Watugunung mendelik tajam kearah Ayu Galuh.


Tanpa memperdulikan omongan Ayu Galuh mengantar Dewi Srimpi ke kamar nya.


Ayu Galuh segera di tarik oleh Sekar Mayang dan di kepung 3 orang istri Panji Watugunung.


"Kau punya mulut bisa di jaga tidak? Kau mau aku hajar ya?", Sekar Mayang begitu emosi.


"Sabar Mayang, tunggu dulu. Aku juga ingin sekali menghajarnya. Tapi kita jangan memperkeruh suasana", tahan Ratna Pitaloka sambil mendelik tajam kearah Ayu Galuh.


"Lha apa salah ku? Jelas jelas Kangmas Panji Watugunung main perempuan di depan kita, kenapa kalian masih membela nya", Ayu Galuh tak mau kalah.


"Sudah sudah jangan ribut. Kangmbok Pitaloka, jelaskan apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Kangmas Panji sampai memeluk Srimpi yang terus menangis. Ada apa?", potong Dewi Anggarawati menengahi suasana.


Lalu Ratna Pitaloka menjelaskan perihal pertolongan ayah Dewi Srimpi pada Panji Watugunung yang menyebabkan kematian nya.


"Dengar, kalau ayah Srimpi tidak menolong Kakang Watugunung, mungkin kita semu sudah menjadi janda. Buka telingamu lebar lebar putri bodoh", kata Sekar Mayang sambil mendelik tajam kearah Ayu Galuh.

__ADS_1


Ayu Galuh terdiam seketika. Dia menyesali sikapnya yang ceroboh tanpa mendengar penjelasan lebih dulu.


"Derajat mu memang paling tinggi diantara kita semua, tapi justru kau yang paling bodoh diantara semua wanita Kakang Watugunung", timpal Sekar Mayang yang masih emosi.


"Ma-maaf aku salah. Aku bodoh. Maafkan aku", ujar Ayu Galuh terbata-bata.


"Minta maaf sama Kakang Watugunung, bukan pada kami", ujar Ratna Pitaloka.


Ayu Galuh bergegas menuju kamar Panji Watugunung. Laki laki itu sedang berganti baju.


Usai mengantar Dewi Srimpi ke kamar nya, Panji Watugunung memang bergegas membersihkan diri.


"Kangmas Panji,


Maafkan Ayu. Ayu salah. Ayu bodoh. Ayu tidak tahu apa apa sudah marah marah. Maafkan Ayu Kangmas",ujar Ayu Galuh sambil menunduk.


"Sudahlah, jangan diperpanjang. Aku paham kenapa kau marah. Lain kali sebelum marah perhatikan dulu", jawab Panji Watugunung sambil memakai pakaiannya.


"Ayu mengerti Kangmas.


Emmm Ayu boleh bantu Kangmas berpakaian?", tanya Ayu Galuh sambil melirik ke arah Panji Watugunung.


Panji Watugunung hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.


Malam itu di istana Pakuwon Kunjang, di adakan perjamuan besar. Semua berpesta bersama tanpa membedakan derajat.


**


Seorang pria berlari menuju sebuah rumah tua di pinggir kampung.


"Kakang, ada berita penting. Perguruan Gunung Kematian musnah. Pelakunya pasukan Garuda Panjalu".


"Apa?!


Bagaimana mungkin itu terjadi??", teriak seorang lelaki tua bertangan buntung itu.


" Mereka di bantu pasukan dari seluruh Pakuwon di perbatasan Panjalu. Menurut kabar, mereka di pimpin seorang pangeran muda yang membawa pedang bersarung merah. Pedang itu yang menghabisi Dewa Maut kakang", ujar si pria paruh baya.


Hemmmmmm


'Pedang bersarung merah? Apa kah dia'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Bagaimana kisah selanjutnya??


Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung mengabdi kepada negeri tercinta.


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 😁😁😁


Selamat membaca guys 🙏🙏*

__ADS_1


__ADS_2