
Adipati Danaraja segera melesat cepat kearah timur istana Kadipaten Matahun di kawal Patih Marmadewa dan Tumenggung Adyaksa juga Tumenggung Ranuseta dan Demung Kumbi.
Tepat di gerbang istana Matahun, Adipati Danaraja menghentikan langkahnya begitu juga dengan para punggawa Kadipaten Matahun. Ribuan prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung sudah mengepung istana Matahun. Sementara para prajurit istana Matahun sudah bersiap untuk menghadapi mereka.
Adipati Danaraja segera maju ke depan pintu gerbang istana Matahun. Pria paruh baya berbadan tegap dengan rambut yang mulai memutih itu mendengus dingin kemudian menatap ke arah para prajurit Panjalu yang mengepung istana Matahun.
"Kalian sudah mengacaukan tempat ku, jangan harap bisa kabur", teriak Adipati Danaraja dengan lantang.
Panji Watugunung segera maju ke depan para prajurit Panjalu sambil menatap ke arah Adipati Danaraja.
"Adipati Matahun,
Sebaiknya kau menyerah. Tempat mu sudah kami kepung. Kalau kau menyerah, aku akan tetap membiarkan kau berkuasa di tempat ini.
Jika kau masih membangkang, jangan salahkan aku jika bertindak tegas", ujar Panji Watugunung segera.
Phuihhhh
"Bocah kemarin sore ingin menantang ku.
Majulah, Adipati Danaraja tidak takut menghadapi kalian", ucap Adipati Danaraja setelah meludah ke tanah.
"Baiklah jika itu mau mu,
Para prajurit Panjalu,
Taklukan Kadipaten Matahun sekarang!", perintah Panji Watugunung yang segera membuat para prajurit Panjalu menerjang maju ke arah pintu gerbang istana Matahun.
Pertarungan hidup mati antara mereka segera pecah.
Bunyi pedang beradu, jerit sakit memilukan dan darah segar yang muncrat dari tubuh yang terluka segera mewarnai depan pintu gerbang istana Matahun.
Warigalit segera melompat tinggi ke udara dan mendarat di tengah para prajurit Jenggala yang berlari menuju ke arah pasukan Panjalu.
Gerakan cepat Tombak Angin nya, langsung memutar cepat dan menusuk ke perut seorang prajurit Jenggala yang naas.
Creeppp!
Ougghhh
Si prajurit Jenggala langsung tersungkur ke tanah dengan perut bolong menganga. Seorang prajurit Jenggala yang lain mencoba membokong Warigalit dengan sabetan pedang nya, namun Senopati Kadiri itu segera memutar tubuhnya dan dengan cepat ia memutar tombak di tangan kanannya lalu menusukkan tombaknya kearah leher sang prajurit.
Chrreeeppphh!
Si prajurit Jenggala menjerit keras dan jatuh ke tanah dengan leher nyaris putus.
Melihat itu, Tumenggung Adyaksa segera melompat tinggi ke udara dan membabatkan pedang nya kearah punggung Warigalit.
Ratna Pitaloka yang melihat ancaman dari lawan, langsung mencabut Pedang Bulan Kembar nya dan menyongsong serangan Tumenggung Adyaksa.
Thrrriiinnnggggg!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Tumenggung Adyaksa melompat mundur beberapa langkah usai serangan nya di gagalkan oleh Ratna Pitaloka.
Warigalit yang menyadari bantuan Ratna Pitaloka segera beradu punggung dengan selir pertama Panji Watugunung.
"Terima kasih Nimas Selir,
Aku berhutang nyawa pada mu", ujar Warigalit sambil tersenyum tipis. Tombak Angin di tangan kanannya terus berputar putar.
"Kita harus saling membantu, Kakang.
Ayo kita habisi para cecunguk Jenggala ini", ucap Ratna Pitaloka yang segera melesat cepat kearah Tumenggung Adyaksa sambil membabatkan pedang nya ke arah sang perwira prajurit.
Tumenggung Adyaksa segera memutar pedangnya dan menangkis sabetan pedang dari Ratna Pitaloka.
Thhraaaangggggggg!
Saat Pedang di tangan kanannya bisa ditangkis, Ratna Pitaloka segera mengayunkan pedang di tangan kiri nya ke arah Tumenggung Adyaksa.
Dengan menjejak tanah dengan keras, tubuh Tumenggung Adyaksa melenting tinggi ke udara menghindari tusukan pedang di tangan kiri Ratna Pitaloka.
Selir pertama Panji Watugunung itu segera merubah gerakan tubuhnya dan kembali memburu perwira prajurit Jenggala itu yang baru saja menjejak tanah.
Sabetan Pedang Bulan Kembar kali ini mengincar kaki kanan sang Tumenggung Matahun.
Whhhuuuggghhhh
Dengan cekatan, Tumenggung Adyaksa melompat menjauhi Ratna Pitaloka yang dengan cepat terus memburu nya. Pria bertubuh gempal itu segera menyambar seorang prajurit Jenggala yang ada di dekat nya dan melemparkannya ke arah Ratna Pitaloka yang sedang bergerak cepat kearah nya.
Ratna Pitaloka yang tengah melesat, langsung memutar tubuhnya dan dengan cepat menebas pinggang sang prajurit yang di lemparkan oleh Tumenggung Adyaksa.
Chrraaasssshhh!!
AAAARRRGGGHHHH!
Si prajurit Jenggala itu hanya bisa menjerit keras saat Pedang Bulan Kembar membelah tubuhnya menjadi dua. Dia tewas dengan tubuh terpotong menjadi dua bagian.
Ratna Pitaloka terus mengejar Tumenggung Adyaksa yang mulai ketakutan menghadapi serangan serangan perempuan cantik itu.
Di sisi lain, Sekar Mayang yang ikut bertarung segera menendang ke arah seorang Bekel Prajurit Istana Matahun yang berlari ke arahnya.
Si bekel prajurit berusaha menghindar dari serangan Sekar Mayang dengan berkelit ke samping.
Namun selir kedua Panji Watugunung itu segera merubah serangan dengan melebarkan kakinya dan menghantam pinggang sang bekel.
Deshhhh..
Ougghhh!!
Sang Bekel Prajurit Istana Matahun terhuyung huyung ke belakang. Sekar Mayang dengan cepat menyambar sebuah pedang yang tergeletak di tanah dan dengan cepat menebas perut si bekel prajurit.
Shrraaakkkkk..
Uuuaaaggghhh!!
Tebasan pedang dari Sekar Mayang merobek perut si bekel prajurit. Isi perut perwira menengah itu langsung keluar dari rongga perut nya. Dia masih berusaha untuk tetap berdiri.
Sekar Mayang dengan cepat melempar pedang di tangan nya kearah dada kiri si bekel prajurit.
Whuuuuttt..
__ADS_1
Jleepppp!!!
Si Bekel Prajurit Istana Matahun roboh. Dia tewas dengan pedang menancap di dada kiri nya dan usus yang terburai keluar.
Sekar Mayang segera meloloskan Selendang Es dari pinggang nya. Dengan menggunakan Ajian Sepi Angin, dia menerjang maju ke arah para prajurit Jenggala.
Perang semakin sengit. Para prajurit Panjalu mulai mendesak maju ke dalam istana Matahun.
Dewi Srimpi yang sudah bergerak berbarengan dengan Ratna Pitaloka tadi, terus melesat cepat kearah para prajurit Jenggala yang menghalangi jalan nya.
Dengan Ajian Langkah Kelabang Sewu nya, gerakan tubuhnya sangat cepat. Sambil melesat, dia melempar jarum jarum beracun nya kearah para prajurit Jenggala.
Shinggg shiinnggggg!!
Jarum kecil berwarna merah itu melesat cepat kearah para prajurit Jenggala yang berusaha mendekati Dewi Srimpi.
Creeppp creeppp creeppp!
Aaarrghhh!!!
Terdengar jeritan kecil saat jarum Racun Kelabang Neraka menancap di tubuh para prajurit Jenggala. Semula hanya terasa panas menyengat namun sebelum dua langkah mereka roboh. Mereka tewas dengan mulut berbusa dan mata terbelalak menahan sakit.
Gumbreg terus mengayunkan pentung sakti nya kearah seorang prajurit Jenggala yang berlari ke arahnya.
Braakkkk..
Aauuggghhhh!!
Si prajurit itu terpental akibat hantaman pentung sakti Sang Demung Kadiri. Dia tewas dengan dada remuk.
"Ayo maju kalian.
Biar merasakan kerasnya gebukan pentung ku", ujar Gumbreg sambil mengejek orang orang Matahun.
Sementara itu, Adipati Danaraja yang tengah berhadapan dengan Senopati Taradipa dari Paguhan yang memang mengikuti langkah Panji Watugunung sejak awal dia bergabung dengan sang Pangeran Daha.
Namun tampak nya, Senopati Taradipa bukan tandingan Adipati Danaraja.
Meski permainan pedangnya luar biasa, namun perwira tinggi Paguhan itu masih kalah jumlah tenaga dalam. Pendekar Pedang Awan dari Gunung Pamrihan itu terengah-engah mengatur nafasnya setelah bermain puluhan jurus melawan Adipati Danaraja yang juga pintar bermain pedang.
"Kau masih terlalu cepat 10 tahun untuk melawan ku, perwira muda.
Guru mu pun belum tentu menang melawan ku", cibir Adipati Danaraja sambil tersenyum sinis pada Senopati Taradipa.
"Sombongnya sekali kau, Adipati Matahun.
Aku Taradipa masih belum kalah dari mu", teriak Senopati Taradipa yang perlahan mulai mengatur nafasnya.
"Kalau begitu, keluarkan semua kepandaian mu,hai wong Panjalu..
Akan ku ladeni sampai dimana kemampuan mu", ujar Adipati Danaraja sambil tersenyum sinis.
Taradipa segera merapal mantra Ajian Tapak Dewa Awan nya yang merupakan pasangan Ilmu Pedang Awan nya. Tangan kiri nya seketika berwarna kebiruan akibat sinar biru yang melingkupi nya. Pedang Awan nya juga memancarkan sinar biru terang.
Melihat itu, Adipati Danaraja segera merapal Ajian Segoro Geni andalannya.
Senopati Taradipa segera melesat cepat kearah Adipati Danaraja sambil mengayunkan pedangnya kearah sang penguasa Kadipaten Matahun.
Adipati Danaraja dengan cepat menangkis sabetan pedang Taradipa dengan pedang di tangan kanannya.
Saat yang bersamaan dia menghantamkan tangan kiri nya ke arah Senopati Paguhan itu yang segera di sambut benturan ajian Tapak Dewa Awan.
Tringgggg...
Blammmmm!!!
Senopati Taradipa terlempar jauh ke belakang. Tubuh berotot perwira tinggi Paguhan itu menghantam tanah dengan keras. Melihat lawan nya jatuh, Adipati Danaraja segera melepaskan Cambuk Api Angin yang melingkar di bahunya. Saat gagang cambuk itu terpegang, sinar merah kekuningan seperti api segera muncul di badan cambuk.
Dengan cepat dia menggerakkan senjata ampuh itu kearah Senopati Taradipa.
Chtaaaaaarrrrrrrr....
Naganingrum yang baru saja menghajar seorang prajurit Jenggala yang ada di dekat nya, melihat Senopati Taradipa dalam bahaya, langsung melesat cepat kearah Senopati Paguhan itu. Dia berusaha menarik tubuh Taradipa segera. Meski berhasil menjauh, tapi jangkauan Cambuk Api Angin masih mampu menyambar punggung Dewi Naganingrum.
Aaarrghhh!!
Tubuh Dewi Naganingrum dan Senopati Taradipa terlempar jauh.
Panji Watugunung yang baru saja menghantam seorang bekel prajurit Jenggala, langsung melesat cepat kearah Dewi Naganingrum. Begitu juga Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka yang berdekatan. Dia segera menyambar tubuh istri ketiganya itu.
"Dinda Naganingrum,
Dinda Naganingrum,
Bertahanlah!", ujar Panji Watugunung segera membopong tubuh ramping perempuan cantik itu.
Naganingrum hanya tersenyum dengan bibir memucat. Dari sudut bibirnya darah segar mengalir. Putri Prabu Darmaraja itu kemudian pingsan.
Melihat itu Panji Watugunung murka.
Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka segera memeriksa keadaan istri ketiga Panji Watugunung itu dengan cepat.
Panji Watugunung yang murka perlahan tubuh nya mengeluarkan asap tipis berwarna putih. Perlahan kulit tubuhnya memerah seperti api.
Tubuh Yuwaraja Panjalu itu perlahan membesar. Wajahnya yang tampan perlahan berubah menyeramkan dengan taring besar yang menakutkan.
Semua orang langsung terkejut melihat perubahan wujud Panji Watugunung tak terkecuali para istri nya dan Warigalit yang baru saja membantai lawan nya.
Tubuh Panji Watugunung terus membesar layaknya raksasa yang berwarna merah.
Wajah Adipati Danaraja pucat seketika.
Wujud Panji Watugunung adalah wujud raksasa yang dia lihat pada mimpinya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa mimpinya menjadi kenyataan.
Tubuh Panji Watugunung terus membesar hingga sebesar gunung anakan. Tidak ada lagi wajah tampan yang teduh pada muka sang Yuwaraja Panjalu itu, berganti dengan wajah menyeramkan dengan taring besar dan muka merah menyala. Dia berubah menjadi Butha Agni.
Ratna Pitaloka segera menarik Dewi Srimpi agar membawa Naganingrum menjauh dari medan tempur, begitu juga Sekar Mayang yang segera menyusul mereka.
Hooooooaaaaarrrrrgggggghhh!!
Teriak Butha Agni membuat seluruh prajurit yang bertempur menghentikan gerakan mereka. Mereka segera menoleh ke arah sumber suara. Muka mereka, baik dari golongan prajurit Panjalu maupun Jenggala ketakutan melihat raksasa yang muncul di tengah medan tempur.
__ADS_1
Butha Agni segera mencabut pohon beringin besar yang ada di alun-alun istana Matahun.
Brrreeekkkkhhh!
Pohon beringin itu segera tercabut dan Butha Agni segera melemparkan nya pada para prajurit Jenggala.
Jerit kesakitan terdengar dari para prajurit Jenggala yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Butha Agni mengibaskan tangannya dan menghantam tembok istana Matahun.
Bruakkkhh!!
Tembok istana itu langsung hancur berantakan. Dengan gerakan tubuhnya yang besar, setiap gerakan Butha Agni menghancurkan semua bangunan yang ada di istana Matahun.
"Akan ku hancurkan kau, Adipati sombong.
Hoooaaarrrrggghhh!!!", teriak Butha Agni sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Adipati Danaraja.
Dengan ketakutan, Adipati Danaraja berusaha untuk menghindari hantaman tangan Butha Agni.
Gleerrrr!
Tanah bergetar hebat seperti gempa saat tangan Butha Agni menghantam tanah. Adipati Danaraja dengan cepat mengayunkan Cambuk Api Angin pada tangan Butha Agni.
Jedddhhhhaaarrrrrrr!!
Cambuk Api Angin melecut tangan kanannya Butha Agni namun tidak mampu menggores kulit sang Raksasa tapi malah membuat Butha Agni semakin murka.
Segera tangan kiri Butha Agni berkelebat cepat kearah Adipati Danaraja yang masih tak percaya bahwa senjata andalannya tidak berguna melawan Butha Agni.
Daaassshh!
Adipati Danaraja terlempar jauh ke belakang akibat kibasan tangan kiri Butha Agni. Tubuh Penguasa Matahun itu menghantam tanah dengan keras.
Saat hantaman tangan kanan Butha Agni berkelebat ke arah nya, sambil mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya, Adipati Danaraja segera melompat menjauh.
Dengan cepat ia merapal Ajian Segoro Geni andalannya, dan menghantamkan tangan kanannya ke arah Butha Agni.
Sinar merah kekuningan menerabas cepat kearah tangan Butha Agni.
Blllaaammmmmm!!
Meski tanpa ajian Tameng Waja, Butha Agni sama sekali tidak terluka malah semakin marah. Dengan cepat, tangan raksasa itu menyambar tubuh Adipati Danaraja yang baru mengeluarkan ajian andalan nya.
Dengan erat Butha Agni menggenggam tubuh Adipati Danaraja. Penguasa Kadipaten Matahun itu meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri.
"Kau sudah membunuh istri ku. Kau harus mati", ucap Butha Agni sambil meremas tubuh Adipati Danaraja.
AAAARRRGGGHHHH!!!
Adipati Danaraja tewas seketika dengan tubuh hancur karena remasan Butha Agni. Raksasa yang masih murka itu segera melempar mayat penguasa Kadipaten Matahun itu ke halaman istana dan menginjak-injak nya dengan keras.
"Kakang,
Hentikan amarah mu! Naganingrum baik baik saja Kakang Watugunung. Lihatlah", teriak Ratna Pitaloka dengan keras. Dia menangis sesenggukan.
Perempuan cantik itu berdiri di dekat mata kaki kiri Butha Agni.
Butha Agni yang mendengar ucapan Ratna Pitaloka segera mengalihkan pandangannya ke arah Ratna Pitaloka. Dia segera merendahkan tubuhnya. Tangan kiri nya segera membuka dan Ratna Pitaloka naik ke telapak tangan kanan Butha Agni.
"Apa kau tidak menipu ku Dinda?", ucap Butha Agni sambil menatap wajah Ratna Pitaloka.
"Lihat saja Kakang, Lihat di bawah sana.
Naganingrum baik baik saja", ujar Ratna Pitaloka segera.
Butha Agni segera menatap ke arah bawah pohon rindang. Naganingrum terlihat sudah sadar meski dengan wajah pucat. Segera dia menurunkan tubuh Ratna Pitaloka.
Setelah itu, Butha Agni berjongkok dan menyembah ke arah timur. Perlahan tubuhnya mengecil dan terus mengecil hingga kembali ke wujud semula Panji Watugunung yang tampan.
Segera dia berlari menuju ke Dewi Naganingrum yang ada di bawah pohon rindang.
"Dinda Naganingrum,
Kau tidak apa-apa?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏