Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Memburu Pangeran Suryanata


__ADS_3

Si Wungkal terus memacu kudanya menuju ke arah istana Pakuwon Sambang. Di depan gapura istana Pakuwon, Si Wungkal melompat turun dari kudanya dan berjalan menuju ke arah para prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Sambang.


"Permisi Ndoro Prajurit,


Saya mau bertanya. Tadi pagi saya melihat ada wara-wara di pasar wanua Lampuh. Katanya bila ada yang bisa memberikan berita tentang Pangeran Suryanata akan mendapat imbalan besar.


Apakah benar demikian?", tanya Si Wungkal dengan sopan.


Si prajurit penjaga gerbang menatap Si Wungkal dari ujung rambut hingga ujung kaki sejenak seolah menyelidiki pria itu.


"Memang berita yang kau bawa benar benar penting? Aku tidak yakin dengan omongan mu", jawab si prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Sambang itu dengan sinis.


"Penting atau tidak, biar atasan mu yang menentukan. Kau cukup menjawab pertanyaan ku, tak perlu banyak tanya", geram Si Wungkal mendapat ucapan sinis dari si prajurit penjaga gerbang yang sombong.


"Kurang ajar!


Dasar orang kampung dungu! Mulut mu layak mendapat pelajaran rupanya", ucap si prajurit penjaga gerbang istana itu dengan gusar. Dia merasa tersinggung dengan omongan Si Wungkal.


"Kau pikir aku takut pada mu?


Aku kesini karena melihat wara-wara yang ada di pasar wanua Lampuh. Dan aku memang tahu kemana arah pelarian Pangeran Suryanata", Si Wungkal yang geram bersiap untuk bertarung.


"Kau..."


Belum sempat si prajurit penjaga gerbang itu meneruskan omongannya, sebuah suara berat menghentikan perselisihan yang nyaris menjadi adu senjata itu.


"Berhenti kata ku!", si prajurit penjaga gerbang dan Si Wungkal langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki muda gagah dengan pakaian mewah dengan menunggang seekor kuda hitam mendekat ke arah mereka.


Si prajurit penjaga gerbang langsung menghormat pada lelaki itu.


"Sembah hamba Gusti Akuwu", ujar si prajurit dengan mengangkat kedua telapak tangannya ke depan dahi.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut ribut di depan istana ku?", tanya si lelaki gagah itu seraya menatap ke arah si prajurit penjaga gerbang dan Si Wungkal. Dia adalah Bratayuda, Akuwu Sambang.


"Mohon ampun Gusti Akuwu. Orang ini berkata bahwa dia memiliki berita penting mengenai keberadaan Pangeran Suryanata.


Hamba hanya meragukan omongannya, Gusti Akuwu", jawab Si prajurit penjaga gerbang istana dengan sopan.


Hemmmmmm...


"Apa benar kau tahu sesuatu tentang Pangeran Suryanata?", tanya Akuwu Bratayuda sambil menatap ke arah Si Wungkal.


"Bukan hanya tahu Gusti Akuwu, tapi hamba juga tahu kemana arah lari Pangeran Suryanata", jawab Si Wungkal dengan cepat.


"Kau sepertinya yakin sekali dengan berita mu.


Baiklah, ayo masuk ke dalam istana Pakuwon Sambang", ajak Akuwu Bratayuda sambil menepuk punggung kudanya hingga kuda itu berjalan pelan-pelan ke dalam istana Pakuwon Sambang. Si Wungkal segera mengikuti langkah sang Akuwu Sambang.


Mereka menuju ke balai pisowanan Pakuwon Sambang dimana seorang Bekel Prajurit dan seorang lelaki bertubuh gempal dengan pakaian biasa terlihat duduk bersila di lantai balai pisowanan.


Dua orang itu segera menghormat pada Akuwu Bratayuda saat dia memasuki balai pisowanan Pakuwon Sambang.


Usai duduk di kursi kebesarannya, Akuwu Pakuwon Sambang itu segera berbicara.


"Nah sekarang berita apa yang kau berikan kepada kami?", tanya Akuwu Bratayuda sambil menatap ke arah Si Wungkal.


"Mohon ampun Gusti Akuwu,


Pangeran Suryanata beserta beberapa pengikutnya tengah menuju ke arah Rajapura. Mungkin saat ini mereka sedang memasuki Pakuwon Gedangan sebelum akhirnya menyebrang Kali Agung untuk menuju Rajapura", ujar Si Wungkal dengan cepat. Mendengar jawaban itu semua orang di dalam balai pisowanan Pakuwon Sambang nampak terkejut terutama si lelaki bertubuh gempal yang tak lain adalah Guwarsa, pimpinan pasukan Lowo Bengi yang di tugaskan Tumenggung Ludaka untuk memburu Pangeran Suryanata.


"Darimana kau yakin bahwa mereka tengah menuju Rajapura, kisanak?


Apa hubungan mu dengan mereka? Sedangkan aku kehilangan jejak mereka di hutan Kendal", ujar Guwarsa yang menatap curiga pada Si Wungkal.


"Tentu saja Kisanak tidak menemukan mereka, karena Galungwangi yang mengetahui ada yang memburu langsung membuat jejak palsu untuk menyesatkan para pengejar.


Saya adalah Wungkal, salah satu dari keempat orang pengawal pribadi Pangeran Suryanata. Saya kabur karena tidak tahan lagi jika harus mengikuti Pangeran Suryanata.


Saya capek. Saya lelah mengikuti langkah orang yang menjadi buronan Kerajaan Panjalu", tutur Si Wungkal dengan wajah yang putus asa.


Mendengar penuturan itu, semua orang terkejut bukan main. Bekel Kandaga langsung menerkam Si Wungkal dan mengunci tubuh bekas pengawal pribadi Suryanata itu dengan cepat.


"Tunggu Kandaga,


Lepaskanlah dia. Kau jangan berbuat sembarangan", teriak Akuwu Bratayuda sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Mohon ampun Gusti Akuwu, dia adalah pengawal pengkhianat negara itu. Itu sama saja dengan dia juga ikut bersalah", ujar Bekel Kandaga yang terus mengunci tubuh Si Wungkal yang mulai meringis kesakitan.


"Cukup Kandaga!


Dengar, walaupun dia sudah menjadi pengawal pribadi Suryanata tapi dia juga memberikan kabar penting mengenai pelarian Suryanata. Sekarang lepaskan dia. Aku yang bertanggungjawab penuh dengan nya", pinta Guwarsa segera. Mendengar itu, Bekel Kandaga langsung menoleh ke arah Akuwu Bratayuda. Melihat anggukan kepala dari Akuwu Bratayuda, Bekel Kandaga segera melepaskan Si Wungkal dari kuncian nya yang nyaris membuat Si Wungkal mati lemas karena kehabisan nafas.


Usai menyelamatkan Si Wungkal, Guwarsa segera meminta pada Akuwu Bratayuda untuk mengirim merpati pos ke arah Kota Kadipaten Kembang Kuning. Sedangkan Wungkal di bebaskan sambil menerima sekantor besar kepeng emas yang cukup baginya untuk memulai kehidupan baru di Kalingga.


Usai menulis berita yang mereka miliki, Guwarsa segera melepaskan burung pengantar surat itu. Merpati pos segera terbang menuju ke timur laut.


Seorang prajurit yang bertugas menjaga burung pengantar berita di istana Kadipaten Kembang Kuning, langsung menangkap seekor burung merpati berwarna abu-abu yang baru hinggap di dekat sangkar. Segera dia melepaskan gulungan kain yang terikat pada kaki burung itu. Lalu memasukkan burung merpati pos itu ke dalam sangkar.

__ADS_1


Kemudian dia menuju ke arah jendela sambil membaca tulisan yang ada di kain itu dengan seksama. Sedikit terkejut dia segera berlari menuju ke arah Tumenggung Ludaka yang sedang duduk bersama Tumenggung Landung di serambi depan balai peristirahatan yang menjadi tempat tinggal Panji Watugunung dan kedua istrinya.


"Mohon ampun Gusti Tumenggung. Ada berita penting", ujar si prajurit penjaga sangkar burung merpati pos sembari menyerahkan selembar kain putih yang bertuliskan berita.


Tumenggung Ludaka segera menerimanya dan dengan cepat membaca berita yang tertera di sana. Raut muka perwira tinggi prajurit Panjalu itu langsung cerah. Dia bergegas menuju ke arah kamar peristirahatan Panji Watugunung.


"Mohon ampun hamba mengganggu waktu istirahat Gusti Prabu Jayengrana.


Ada berita penting yang harus Gusti Prabu Jayengrana segera tahu", ujar Tumenggung Ludaka dari luar pintu kamar peristirahatan.


Kriiiieeeeeetttttthhhh..


Pintu kamar peristirahatan terbuka dan Panji Watugunung berdiri di depan Tumenggung Ludaka.


"Ada apa Ludaka? Sepertinya penting sekali", tanya Panji Watugunung segera.


Tanpa menjawab pertanyaan Panji Watugunung, Tumenggung Ludaka segera menyerahkan selembar kain putih pada Panji Watugunung.


Segera Maharaja Panjalu itu membuka gulungan kain dan membacanya.


'Suryanata menuju ke Rajapura. Saat ini sudah sampai di Pakuwon Gedangan'


Demikian bunyi tulisan di kain putih dari telik sandi yang terbaca oleh Panji Watugunung. Raja Panjalu itu segera menggenggam erat kain putih di tangan kanannya.


"Balas surat ini segera. Perintahkan kepada Akuwu Gedangan untuk menutup perbatasan Kalingga dengan Rajapura sekarang", titah Sang Maharaja Panjalu dengan cepat.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Tumenggung Ludaka yang segera menghormat pada Panji Watugunung dan mundur dari tempat itu.


"Landung,


Pimpin 100 anggota pasukan gerak cepat untuk berangkat ke Pakuwon Gedangan sekarang", perintah Panji Watugunung segera. Tumenggung Landung segera berdiri dan menyembah pada Panji Watugunung kemudian bergegas melaksanakan perintah sang kepala negara Panjalu.


Siang itu para perwira tinggi prajurit Panjalu bergerak cepat menuju ke arah Pakuwon Gedangan untuk memburu Pangeran Suryanata. Sementara berita itu segera menyebar cepat kearah Akuwu Gedangan dan Sambang. Mereka dengan cepat menata pasukan di sepanjang Kali Agung untuk menutup perbatasan dengan Rajapura.


Panji Watugunung segera memakai pakaian rakyat biasa. Melihat suaminya berdandan aneh seperti itu, Cempluk Rara Sunti buru-buru mendekat kepada Sang Maharaja Panjalu.


"Gusti Prabu,


Kenapa Gusti Prabu Jayengrana memakai pakaian rakyat biasa seperti ini? Apa ada sesuatu yang penting?", tanya Cempluk Rara Sunti dengan penasaran.


"Aku ingin mengejar Suryanata sendiri Dinda Sunti. Sebaiknya kau tetap disini. Jika ada yang bertanya kemana aku, bilang saja aku sedang jalan jalan keluar kota", jawab Panji Watugunung sembari tersenyum simpul.


"Ah tidak mau, pokoknya aku harus ikut Gusti Prabu. Cempluk tidak mau ditinggal sendiri disini", ujar Cempluk Rara Sunti sambil cemberut wajahnya.


"Kalau Sunti ikut, aku juga harus ikut Denmas Prabu. Aku bertanggungjawab atas kebutuhan Denmas Prabu selama di perjalanan ini. Aku tidak mau kena marah Kangmbok Anggarawati", sahut Dewi Srimpi yang baru saja datang dari belakang.


Aku tidak sedang jalan jalan biasa Dinda, aku ini ingin menyelesaikan perkara ini sehingga kita bisa pulang cepat ke Daha", ujar Panji Watugunung sambil menatap dua istri nya itu bergantian.


"Pokoknya aku mau ikut. Titik!", ucap Cempluk Rara Sunti tak mau mengalah.


"Kalau dia ikut, aku juga ikut Denmas", tukas Dewi Srimpi sambil tersenyum penuh kemenangan.


Huuufffffffttt...


"Dasar perempuan keras kepala..


Ya sudah panggil Senopati Warigalit kemari. Biar dia yang mengurusi pembenahan di Kembang Kuning selama kita pergi Dinda Srimpi", perintah Panji Watugunung pada Dewi Srimpi yang seketika langsung mendapat anggukan kepala dari selir ketiganya itu segera.


Usai menyerahkan semua urusan pembenahan Kadipaten Kembang Kuning pada Senopati Warigalit, Panji Watugunung segera merapal mantra Ajian Halimun. Tujuannya adalah Wanua Cenggini di tepi Kali Agung yang menjadi tapal batas antara Kalingga dan Rajapura.


Dewi Srimpi memeluk tubuh Panji Watugunung dari depan sedangkan Cempluk Rara Sunti memeluk tubuh sang suami dari belakang.


Sinar hijau segera membungkus tubuh mereka bertiga.


Zzzrrrrrrrrttttthhhhh!!


Panji Watugunung, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti menghilang dari pandangan. Senopati Warigalit tersenyum tipis lalu meninggalkan balai peristirahatan Kadipaten Kembang Kuning untuk kembali melanjutkan tugasnya.


Di dekat dermaga penyeberangan Wanua Cenggini, Panji Watugunung dan kedua istrinya muncul di sana. Karena pada dasarnya Ajian Halimun bisa memindahkan raga sang pemakai hanya ke tempat yang sudah pernah di datangi oleh sang pemakai ajian.


"Kita ada dimana Gusti Prabu?", tanya Cempluk Rara Sunti sembari menoleh ke kanan kiri di tempat itu.


"Kita sekarang di wanua Cenggini, Dinda Sunti. Dinda Srimpi pernah bersama ku kemari saat aku mendatangi Kawali, ibukota Kerajaan Galuh Pakuan.


Benar kan Dinda Srimpi?", Panji Watugunung menoleh ke arah Dewi Srimpi.


"Benar Denmas, aku jadi ingat waktu menghajar centeng Lurah Harja saat mereka mengganggu kita waktu itu", Dewi Srimpi tersenyum mengingat peristiwa tempo hari.


"Sebaiknya kita segera mencari tahu tentang para prajurit Kalingga yang berjaga di sekitar tempat ini Dinda Srimpi.


Atau kita ke penginapan Ki Ranu saja Dinda Srimpi?", tanya Panji Watugunung segera.


"Sebaiknya kita kesana Denmas.. Dan kau Sunti, jangan sebut Denmas Prabu dengan sebutan Gusti Prabu. Kau harus memanggil nya Kakang biar tidak menimbulkan kecurigaan", ujar Dewi Srimpi yang langsung mendapat anggukan kepala dari Cempluk Rara Sunti.


Mereka bertiga segera melangkah menuju ke sebuah rumah besar yang ada di dekat dermaga penyeberangan Wanua Cenggini.


Seorang lelaki bertubuh kurus dengan ikat kepala hitam tengah asyik memberi makan ayam peliharaan nya saat Panji Watugunung dan kedua istrinya datang.

__ADS_1


"Permisi Ki..


Apa tempat ini masih di sewakan untuk menginap barang semalam?", tanya Panji Watugunung yang segera membuat lelaki bertubuh kurus itu menoleh. Raut wajah lelaki tua itu seperti tengah berpikir keras seperti mencoba mengingat sesuatu saat mendekati Panji Watugunung.


"Darimana kisanak tahu kalau tempat ini adalah penginapan?", tanya lelaki tua bertubuh kurus itu segera.


"Dulu kami pernah menginap di sini Ki, waktu perjalanan ke Kawali", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


"Kau kau... yang menghajar para centeng Lurah Harja itu kan?


Jagat Dewa Batara,


Mari mari masuk.. Lama sekali ya kalian tidak kelihatan", sambut ramah Ki Ranu sambil tersenyum memamerkan gigi nya yang sudah ompong.


Mereka berempat segera masuk ke dalam rumah Ki Ranu.


"Kalian darimana saja? Suasana di sini sedang panas. Para prajurit Pakuwon Gedangan baru saja lewat. Mereka bilang ada buronan pemerintah Daha yang kabur menuju ke Rajapura. Setiap orang asing yang masuk ke Wanua Cenggini harus di laporkan pada Lurah Suro. Kalau tidak akan dapat hukuman berat", ujar Ki Ranu sambil menghidangkan sesisir pisang matang pada Panji Watugunung dan kedua istrinya.


"Ki Ranu tenang saja.


Mereka tidak akan berani mengusik keberadaan kami di tempat Ki Ranu", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum simpul. Ki Ranu yang tidak mengerti apa apa hanya bisa pasrah saja.


Hari mulai menjelang sore. Sinar matahari telah menyentuh atas cakrawala dunia. Sebentar lagi senja akan turun di wilayah Wanua Cenggini.


Galungwangi menggerutu dalam hati. Dia tidak menduga bahwa akan ada penutupan perbatasan wilayah di Kalingga. Dengan gontai, dia melangkah menuju ke tepi hutan kecil di timur Wanua Cenggini.


Suryanata yang duduk di atas batu besar di samping pohon rindang langsung berdiri melihat kedatangan Galungwangi.


"Bagaimana Galungwangi? Kau sudah dapat perahu untuk menyeberangi Kali Agung?", tanya Suryanata dengan penuh semangat.


"Mohon maaf Gusti Pangeran..


Semua kegiatan penyeberangan di perbatasan Kalingga di larang bekerja. Kata tukang perahu, itu perintah dari Akuwu Gedangan yang mendapat perintah langsung dari Adipati Aghnibrata.


Meskipun hamba sudah menawarkan harga 4 kali lipat mereka tidak mau karena takut resiko nya", lapor Galungwangi dengan nada letih.


"APAAAAAA?!!!


Penutupan perbatasan? Ini tidak biasanya terjadi. Atau jangan-jangan...


Bangsat kau Wungkal!


Ini semua adalah buah dari ulahnya. Celaka kita Galungwangi. Pasti Jayengrana sudah menyuruh orang untuk menangkap kita", ujar Suryanata sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Hamba juga berpikir begitu, Gusti Pangeran. Kita tidak boleh berdiam diri terlalu lama di tempat ini", Galungwangi menatap wajah Suryanata.


"Kau benar Galungwangi, kita harus segera pergi dari sini. Malam ini curi lah sebuah perahu di dermaga penyeberangan Wanua Cenggini", ujar Suryanata sembari mendengus keras.


"Kita tidak boleh membuang waktu".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁

__ADS_1


__ADS_2