Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Warok Suropati


__ADS_3

Rombongan Panji Watugunung memacu kuda mereka menuju ke sebuah wanua kecil selepas perbatasan Wengker dan Kurawan.


Wengker merupakan wilayah dengan dengan aroma mistis yang misterius. Wengker menurut cerita merupakan kependekan kata dari wewengkon kang angker (tempat yang menyeramkan). Segala jenis mahluk halus menghuni wilayah yang di kelilingi oleh gunung dan perbukitan tinggi.


Adipati Wengker, Warok Surogati terkenal dengan kemampuan kanuragan dan ilmu kebatinan yang tinggi.


Panji Watugunung dan rombongannya segera melompat turun dari kudanya saat memasuki gapura wanua, seorang penjaga gapura berusia muda menghentikan mereka.


Panji Watugunung segera menarik tali kekang kudanya dan kuda berhenti. Dengan segera Panji Watugunung melompat dari atas kudanya.


"Maaf Kisanak, kami pengelana dari jauh. Ingin menuju ke Kota kadipaten Wengker. Apa masih jauh jalan nya??", tanya Panji Watugunung sopan.


Penjaga gapura itu tidak segera menjawab. Matanya meneliti Panji Watugunung. Merasa Panji Watugunung tidak memancarkan niat jahat, penjaga wanua itu segera tersenyum ramah.


"Masih jauh kisanak, setidaknya setengah hari perjalanan paling cepat. Kalian lurus saja ke selatan, selepas sampai di telaga kalian belok kanan", si penjaga gapura itu berbicara memberi petunjuk.


Panji Watugunung berterima kasih kepada penjaga gapura itu kemudian melompat ke atas kuda nya dan bersama dengan rombongan nya melesat cepat meninggal wanua kecil itu menuju ke arah yang di tunjukkan.


Sesampainya di persimpangan jalan, mereka kebingungan. Seorang lelaki berbadan besar dengan kumis tebal dan jenggot terlihat sedang duduk di depan rumah nya dengan halaman luas.


Panji Watugunung segera turun dari kudanya dan melihat ke arah lelaki bertubuh besar itu. Dengan sedikit berlari, dia menuju ke arah lelaki paruh baya itu.


"Permisi Kisanak, mohon maaf jika mengganggu. Kami pengelana dari jauh, kebingungan arah menuju ke Kota kadipaten Wengker. Bisa kami minta tolong di tunjukkan arahnya?", Panji Watugunung sopan sekali. Dia merasakan sesuatu yang lain dari lelaki paruh baya itu.


Lelaki paruh baya itu tersenyum. Tak disangka dia kedatangan seorang tamu agung hari ini.


"Sebaiknya kalian beristirahat di sini. Ada bahaya menghadang di depan jalan kalian sedang kemampuan batin kalian sama sekali kosong".


Panji Watugunung terpana.


"Jangan terkejut, Pendekar Pedang Naga Api atau ingin ku panggil kau Pangeran Daha hahahaha".


Dua kali sudah lelaki paruh baya itu membuat Panji Watugunung terkejut. Hanya lelaki dengan ilmu batin linuwih saja yang bisa mengetahui siapa dirinya tanpa bertanya.


"Terimakasih atas peringatan mu Paman. Kalau memang ada bahaya menghadang, bagaimana kami menghadang nya? Mohon beri kami petunjuk".


Laki laki paruh baya itu tersenyum. Dia suka sifat sopan santun dari Panji Watugunung.


"Tinggallah di rumah ku beberapa hari. Akan ku ajari sedikit pengetahuan. Oiya, jangan sebut aku paman. Aku bukan paman mu. Namaku Warok Suropati'.


"Terimakasih atas bantuannya Ki".


Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera bergegas menuju ke arah Warigalit dan yang lainnya. Lalu kembali ke rumah Warok Suropati dan menambatkan kuda nya di samping halaman rumah.


Warok Suropati segera masuk ke dalam rumah. Menyuruh istrinya Nyi Ratih dan putrinya Rara Sunti untuk menyiapkan makanan untuk tamu-tamu nya.


Lalu Warok Suropati keluar dan mempersilahkan mereka masuk. Mereka duduk di kursi serambi kediaman Warok Suropati.


"Kalian ini orang orang istana Daha, sebaiknya berhati-hati bila memasuki wilayah istana kadipaten Wengker. Surogati, kakang ku, bukan orang yang yang mudah percaya. Dia akan menjajal kemampuan kalian. Kalau kanuragan kalian, sudah pasti bisa menghadapinya, tapi kebatinan nya sangat berbahaya", ujar Warok Suropati.


Warigalit dan para wanita terkejut bukan main begitu lelaki paruh baya itu menebak asal mereka, padahal mereka baru saja bertemu. Panji Watugunung yang sudah tahu terus mendengarkan penjelasan Warok Suropati.


"Maaf Ki, sejauh mana Ki Warok mengetahui sifat Adipati Wengker ini? Kami ini utusan, harus menyampaikan pesan yang kami bawa", Panji Watugunung menatap ke arah Warok Suropati.


"Dia itu punya ilmu linuwih. Dulu Airlangga kesulitan menaklukkan Raja Wengker, Sri Wijayawarma. Namun karena bantuan Maharesi Mpu Barada, mereka mampu membuat para punggawa nya yang rata rata orang sakti tewas.


Sri Wijayawarma bukan orang sembarangan, setelah berhasil kabur dari Airlangga, dia mencoba menyerang Airlangga lagi. Dia kalah lagi. Rakyat Wengker yang kesal dengan ulah nya, membunuh nya di wilayah Tapa ini. Kakang ku Surogati yang menghabisi nyawa nya.


Karena itu, Airlangga menjadikan wilayah kerajaan Wengker menjadi daerah bawahan yang mandiri dengan Kakang ku Surogati menjadi Adipati nya.


Kalian harus menjaga sopan santun terhadap dia. Itu saja saran ku".


Saat mereka sedang asyik berbincang hangat, Nyi Ratih dan putrinya Rara Sunti keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi makanan.

__ADS_1


"Nah, ini istri ku Nyi Ratih. Kalau itu putri ku, Cempluk panggilan nya, kalau namanya Rara Sunti", ujar Warok Suropati memperkenalkan mereka.


Nyi Ratih mengangguk pelan, begitu juga Rara Sunti.


Saat mereka masih bercakap cakap, suara seorang pemuda mengagetkan mereka.


"Paman Suropati, kulonuwun.."


Pemuda itu, Brotoseno, adalah putra Akuwu Tapa. Dia sangat menyukai Rara Sunti tapi Rara Sunti tidak pernah menanggapi nya. Kali ini dia datang berniat melamar Rara Sunti.


"Bocah, ada apa kau mengganggu para tamu ku?", Warok Suropati memandang kearah Brotoseno.


"Paman Suropati, sudah lama aku suka dengan putri bungsu mu. Hari ini, sebagai pria sejati, aku ingin melamar nya. Bagaimana jawaban mu Paman?", Brotoseno tersenyum simpul.


"Tunggu dulu bocah, aku tidak bermaksud melarang Cempluk untuk menikah. Menikah itu harus melibatkan dua hati.


Cempluk,


Kau suka dengan dia?", tanya Warok Suropati memandang kearah putri bungsu nya itu.


Cempluk Rara Sunti, gadis cantik berkulit sawo matang itu menggelengkan kepalanya. Panji Watugunung dan rombongannya hanya diam melihat peristiwa yang terjadi di hadapan mereka.


"Kau lihat sendiri bocah. Dia tidak mau", Warok Suropati tersenyum.


"Cempluk, kalau kau menolak ku, di Pakuwon Tapa ini tidak ada yang lebih baik dari ku. Aku tampan, kaya, bapak ku Akuwu. Tidak ada yang kurang dari ku. Semua gadis di Pakuwon ini mengharapkan cinta ku.


Apa itu belum cukup buat mu?", Brotoseno berkoar koar dan memandang tajam kearah Cempluk Rara Sunti.


"Maaf Denmas Broto,


Siapa wanita yang tidak suka dengan kemewahan?


Siapa wanita yang tidak suka kekayaan?


Tapi maaf, itu bukan aku", jawab Cempluk Rara Sunti.


Wajah Brotoseno merah padam mendengar penolakan Cempluk Rara Sunti. Dia tidak menyangka bahwa seorang putra Akuwu Tapa bisa di tolak oleh gadis desa seperti Cempluk.


Mulut Brotoseno bergetar menahan marah. Rasa marah dan malu Brotoseno bercampur menjadi satu.


"Paman Suropati, aku tidak terima penghinaan ini. Jangan salahkan aku jika aku bertindak kasar. Aku tantang keluarga mu untuk adu kesaktian dengan ku".


Hahahaha


Warok Suropati tertawa terbahak-bahak mendengar tantangan Brotoseno.


"Bocah, nyali mu besar juga. Berani menantang adik Adipati Wengker. Kau belum cukup umur untuk melawan ku".


"Aku tidak peduli. Walaupun aku mati, aku tidak peduli. Tentukan hari dimana kau siap menghadapi ku Paman Suropati", Brotoseno sudah kehilangan akal sehat nya.


"Baik, ku kabulkan keinginan mu tapi lawan mu bukan aku. Kau masih belum pantas bertarung melawan ku.


3 hari lagi, datanglah kemari. Akan kuberikan lawan yang seumuran dengan mu", ujar Warok Suropati tersenyum.


Brotoseno segera bergegas meninggalkan serambi kediaman Warok Suropati.


"Maaf Bopo, siapa lawan yang akan bopo ajukan untuk melawan putra Akuwu itu?", tanya si Cempluk Rara Sunti penasaran. Dia tau putra Akuwu Tapa itu terkenal sebagai jagoan.


"Hahahaha, kau tenang saja Cempluk. Lawan nya sudah ada disini. Itu dia", ujar Warok Suropati menunjuk ke arah Panji Watugunung.


Semua orang terkejut mendengar ucapan Warok Suropati. Cempluk Rara Sunti segera memperhatikan Panji Watugunung.


"Kenapa Cempluk? Apa kau tidak yakin dengan kemampuan nya? Hahahaha", Warok Suropati tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Bukan begitu Bopo, tapi melihat wajahnya saja sudah kelihatan kalau dia mata keranjang dan punya banyak wanita. Apa dia benar benar bisa diandalkan?", Cempluk Rara Sunti terkesan meremehkan Panji Watugunung.


Panji Watugunung memerah wajahnya mendengar kata mata keranjang, sementara tiga selir nya mendelik sewot ke arah Rara Sunti.


"Hati hati ucapan mu Nduk, kalau nanti kau jatuh cinta pada nya, Bopo tidak akan bertanggungjawab loh", ujar Warok Suropati sambil tersenyum penuh arti.


"Aku juga tidak mau Bopo kalau punya suami istri nya banyak", Cempluk Rara Sunti melengos kesal.


Warok Suropati menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


"Watugunung,


Selama 3 hari ini kau akan ku ajari sedikit ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan untuk bekal mu di kemudian hari.


Ilmu kanuragan mu sudah sangat tinggi, tapi aku yakin suatu saat ilmu yang ku berikan akan berguna", ujar Warok Suropati memandang kearah Panji Watugunung.


"Terimakasih atas bantuannya Ki", ujar Panji Watugunung segera menghormat.


Malam itu, Warok Suropati mengajak Panji Watugunung ke sebuah lembah di tepi sungai. Pria paruh baya itu menurunkan Ajian Ngrogoh Sukmo. Ajian kebatinan yang mampu memisahkan jiwa dan raga serta memindahkan tubuh menembus dimensi berbeda.


Sementara itu, di kamar peristirahatan Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka bercakap cakap.


"Aku bersyukur Kangmbok Pitaloka", ujar Sekar Mayang.


"Apa yang membuat mu terlihat lega Mayang?", tanya Ratna Pitaloka yang keheranan.


"Ya lega, si Cempluk tidak suka dengan Kakang Watugunung. Tadi aku sempat berpikir, bahwa dia akan menjadi penggemar berat kakang Watugunung. Tapi melihat dia menghina Kakang Watugunung dengan sebutan mata keranjang tadi aku justru lega", Sekar Mayang tersenyum simpul.


Ratna Pitaloka menghela nafasnya dalam-dalam.


"Kau jangan terlalu yakin Mayang"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lahh ini?? 😁😁😁


Ikuti terus kisah selanjutnya guys


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote share dan komentar nya 👍👍

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁


__ADS_2