
Sepasang Sriti Perak tersenyum mendengar ucapan Ratna Pitaloka. Sriti Wadon yang terluka dalam cukup parah muntah darah lagi.
Panji Watugunung segera mendekati Sriti Lanang.
"Mohon maaf jika lancang.
Boleh aku sedikit membantunya?"
"Silahkan tuan", sahut Sriti Lanang.
"Nyonya silahkan duduk bersila, aku akan coba menyalurkan tenaga dalam untuk mengobati luka dalam nyonya", ujar Panji Watugunung.
Sriti Wadon perlahan mulai duduk bersila sambil memejamkan matanya. Panji Watugunung segera mengerahkan tenaga dalam, menyalurkan lewat kedua tangan nya.
Hawa hangat segera menyebar ke seluruh tubuh Sriti Wadon. Perlahan tenaga wanita itu pulih.
Segera wanita itu membuka matanya dan menata napas.
"Terimakasih atas bantuannya tuan Pendekar", Sriti Wadon menghormat pada Panji Watugunung.
"Hanya bantuan kecil, tidak usah terlalu sungkan", Panji Watugunung segera mendekati rombongannya.
Sriti Lanang segera mengikuti langkah Watugunung.
"Mohon maaf jika boleh tau, saya sedang berhadapan dengan siapa?".
"Paman, pernah mendengar nama Pendekar Pedang Naga Api?", tanya Ratna Pitaloka pada Sriti Lanang.
"Itu julukan pendekar muda yang baru mengalahkan Mahesa Rangkah di Gelang-gelang bukan? ", jawab Sriti Lanang
"Nah, paman sekarang sedang berhadapan dengan orang nya", Ratna Pitaloka tersenyum memandang Panji Watugunung.
Sepasang Sriti Perak terkejut. Mereka tak menduga sebelumnya. Pemuda tampan itu adalah pendekar kondang yang mengalahkan Mahesa Rangkah, tangan kanan Dewa Maut dari Gunung Kematian. Juga 4 Setan yang kabarnya juga sudah tewas di tangan Pendekar Pedang Naga Api dan pengikutnya.
"Benarkah yang kau katakan nisanak? Tuan Muda ini adalah Pendekar Pedang Naga Api?", Sriti Wadon ganti bertanya.
"Aku tidak perlu berbohong untuk sebuah kebenaran paman", tukas Ratna Pitaloka.
"Perkenalkan namaku Ratna Pitaloka, yang berbaju biru langit itu Anggarawati dan yang berbaju merah itu Sekar Mayang. Kami bertiga calon istri Kakang Watugunung".
Sepasang Sriti Perak segera menghormat pada Panji Watugunung dan Ketiga calon istri nya..
"Sepasang Sriti Perak dari Bukit Kapur memberi hormat kepada Pendekar Pedang Naga Api dan ketiga calon istri".
Panji Watugunung jengah dan segera berkata,
"Sudahlah paman, jangan bersikap seperti itu. Paman itu seusai ayahku. Jadi tidak keberatan bukan aku panggil paman?".
"Tentu saja tidak. Pendekar muda adalah pendekar aliran putih terkenal. Sudah sepantasnya saya bangga di panggil paman", Sriti Lanang sopan.
"Kalau boleh tau, ada keperluan apa paman disini? Bukankah Bukit Kapur jauh di Utara", tanya Watugunung penasaran.
"Benar pendekar muda. Kami sebenarnya utusan Bukit Kapur. Pemimpin kami, Pangeran Bukit Kapur, mengirim kami untuk memberikan berita tentang rencana besar dari penguasa Jenggala, Raja muda Mapanji Garasakan. Kami sudah berkeliling, semua perguruan aliran putih kami datangi. Hanya tinggal ke Padepokan Anggrek Bulan, Padepokan Padas Putih dan Perguruan Pedang Suci.
Tapi seperti yang kamu lihat, kami di ganggu Dua Macan dari Alas Angker", Sriti Lanang menjelaskan semuanya.
"Awal mulanya kami tidak berminat bertarung dengan mereka Pendekar muda, tapi karna kami terus di hina, lama lama kami panas juga", timpal Sriti Wadon.
"Ya aku tidak menyalahkan paman dan bibi. Mereka berdua pantas di hukum", ujar Panji Watugunung.
"Sebaiknya kita bicarakan lainnya sambil jalan pendekar muda, bukan takut serangan susulan dari Perguruan Macan Alas, tapi saya dan adik Sriti Wadon juga perlu ketenangan untuk memulihkan kondisi tubuh kami", ujar Sriti Lanang.
Mereka kemudian sepakat berjalan bersama meninggalkan perkampungan kecil itu.
Menjelang senja, angin gunung Hantang berhembus pelan. Membuat sang malam menggeliat dari tidurnya.
Rombongan Panji Watugunung sampai di sebuah perbukitan dengan sungai kecil mengalir di bawahnya. Mereka berhenti sejenak untuk beristirahat.
"Kakang, aku baru saja dari sebelah tebing disana. Ada beberapa bangunan seperti bekas pemukiman penduduk. Bagaimana kalau kita bermalam di sana?", ujar Ratna Pitaloka sambil menenteng setandan pisang.
__ADS_1
"Itu lebih baik daripada kita bermalam di tempat terbuka seperti ini", Panji Watugunung berdiri lalu memberi tahu semua orang.
Semua orang bergegas mengikuti langkah Ratna Pitaloka.
Ternyata benar. Di sebelah tebing barat bukit ada beberapa rumah tua seperti bekas pemukiman.
Ada sebuah rumah besar besar di tengah bangunan bangunan itu. Walaupun atapnya sudah banyak yang bocor tapi masih bisa di gunakan untuk beristirahat.
Dan malam itu mereka berkumpul di situ. Usai menyantap perbekalan, mereka mencari tempat masing-masing untuk tidur.
Panji Watugunung memilih di sudut ruangan. Anggarawati segera menyusul di samping nya.
"Kau kenapa??", Panji Watugunung menoleh ke Anggarawati yang berada di sampingnya.
"Aku agak takut disini kakang, ini seperti kampung hantu", Anggarawati terlihat panik.
Hemmmm
"Itu alasan mu saja putri manja", Sekar Mayang ikut bergabung memepet Panji Watugunung.
"Tapi benar Kangmbok, disini seram", tukas Anggarawati sambil menoleh kanan kiri.
Tiba tiba terdengar lolongan serigala bersahutan..
Suasana semakin mencekam. Burung hantu pun berbunyi semakin menambah ketakutan Dewi Anggarawati.
Hampir sepanjang malam, Anggarawati tak dapat memejamkan mata.
Lewat tengah malam, suara langkah kaki membuat Panji Watugunung terjaga. Langkah kaki itu begitu ringan sehingga orang biasa tak dapat merasakan.
"Kakang....", bisik Anggarawati pelan menggoyangkan tubuh Panji Watugunung.
"Sssstttttt.....", Panji Watugunung menempelkan telunjuk di bibir.
Anggarawati mengangguk pelan. Langkah kaki semakin mendekati bangunan besar.
Panji Watugunung sudah menyiapkan diri untuk menyergap. Sekelebat bayangan masuk ke dalam bangunan.
Wushhhhh....
"Siapa kau? Mau apa di tempat ini?", kata Watugunung sambil menyiapkan kuda kuda.
"Tunggu ini aku"
Suara itu sepertinya Watugunung kenal. Gelapnya malam dan api unggun yang padam benar benar membuat Watugunung kesulitan melihat sosok yang di depan nya.
"Aku ini aku, Sima....".
Hahhh..
Panji Watugunung segera mendekati bayangan itu. Setelah jarak dekat baru terlihat kalau itu kakek Sima.
Anggarawati berlari mendekat.
"Sedang apa kakek tengah malam seperti ini??
Mau menakuti aku ya?", Anggarawati ketus.
"Aku baru dari sungai, perut ku sakit sejak tadi sore", Kakek Sima malu malu mengakui.
"Huh ku kira setan mana yang menakuti ku", Anggarawati mendengus kesal dan kembali ke tempatnya.
"Hehehehe maafkan aku", Kakek Sima cekikikan sambil berlalu.
Panji Watugunung pun kembali ke tempat istirahat nya. Di lihat nya Sekar Mayang sudah pulas di alam mimpi.
Dengan pelan, Watugunung merebahkan tubuhnya di atas tumpukan rumput kering alas tidur nya.
Anggarawati memepet tubuh Panji Watugunung lalu memeluknya. Putri bungsu Adipati Seloageng itu merebahkan kepalanya di lengan kiri Watugunung.
__ADS_1
"Kakang Watugunung..., Anggarawati tidak bisa tidur"
"Lantas kamu mau apa dinda?", Watugunung merubah posisi tidur nya menghadap Anggarawati.
"Pengen di peluk", ucap Dewi Anggarawati manja.
Panji Watugunung segera memeluknya.
Dengusan nafas Anggarawati membuat Panji Watugunung semakin mendekatkan wajahnya pada Anggarawati.
Dengan lembut, pemuda tampan itu mengecup lembut bibir mungil calon istri nya itu.
Emmmmmm
Andai itu siang hari, pasti terlihat wajah memerah dari Anggarawati. Bukan nya menolak kecupan mesra dari Watugunung, Anggarawati malah melingkarkan tangannya ke tengkuk Panji Watugunung dan menekan nya.
Dengan segera, Panji Watugunung ******* bibir mungil Anggarawati. Menjelajahi setiap ruang di mulutnya.
Membuat Anggarawati merem melek menahan nafas. Saat serangan Panji Watugunung mereda, gadis itu melepaskan ******* Watugunung untuk mengambil nafas.
Selanjutnya ganti Anggarawati yang memagut bibir Panji Watugunung.
Setelah beberapa saat, senyum bahagia bahagia terukir indah di bibir Anggarawati.
Kemudian dengan gemas Anggarawati menggigit dada Watugunung.
Panji Watugunung meringis sambil tersenyum simpul.
Selanjutnya mereka berpelukan dan tertidur hingga pagi menjelang.
Sinar matahari menerobos pucuk-pucuk daun, menghangatkan bumi.
Kokok ayam hutan bersahutan menyambut datangnya nya sang Surya.
Sepasang mata nampak geram melihat Dewi Anggarawati dan Panji Watugunung tidur dalam posisi berpelukan, apalagi ada bekas gigitan berwarna merah di dada Watugunung.
"Apa yang kalian lakukan tadi malam?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waduh persiapan perang dunia ketiga nih
Hehehehe
Author siapkan kopi dulu ya untuk ikut panik menghadapi situasi darurat.
__ADS_1
😁😁😁😁😁