
Sabetan pedang Bagawanta terarah pada leher Panji Watugunung. Saat bilah pedang yang tajam itu hampir mengenai kulit Panji Watugunung, dengan cepat Panji Watugunung berkelit hingga pedang hanya menebas udara kosong tiga ruas jari di depan leher Panji Watugunung.
Raja Panjalu itu segera memutar tubuhnya lalu melancarkan tendangan memutar ke arah pinggang Bagawanta.
Whhhuuuuuttttthhhh..
Bagawanta dengan cepat jatuhkan diri ke tanah lalu menyabetkan pedang nya ke arah kaki Panji Watugunung. Mendapat serangan itu, Panji Watugunung segera jejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Kemudian raja Panjalu itu turun dengan cepat dan menginjak bilah pedang Bagawanta dengan cepat pula.
Pedang Bagawanta yang terjepit di bawah kaki Panji Watugunung tak bisa lepas meski dia menariknya sekuat tenaga.
Lalu bagai kilat, kaki kanan Panji Watugunung bergerak menghantam wajah Bagawanta.
Dhiiieeeessshh..
Auuuggghhhhh,!!
Bagawanta terjungkal ke tanah dan berguling beberapa kali sampai berhenti. Kemudian pria bertubuh kekar itu berdiri. Badan dan pakaian nya penuh rumput dan tanah. Dia meludah darah bercampur gigi nya yang tanggal.
Melihat Bagawanta yang terluka, keenam kawan nya berlari menuju ke arah Panji Watugunung untuk mengepung nya. Mereka segera menebaskan pedangnya kearah Panji Watugunung.
Thrrriiinnnggggg!!!
Terdengar bunyi nyaring seperti dua logam keras berbenturan saat keenam pedang menyentuh kulit Panji Watugunung. Keenam kawan Bagawanta terpana dengan apa yang mereka lihat. Sekejap kemudian ganti jerit kesakitan terdengar dari mulut mereka karena sikutan, tendangan dan pukulan keras Panji Watugunung seperti kilat menghajar tubuh mereka.
Sesaaat kemudian, keenam kawan Bagawanta roboh menahan sakit pada bagian tubuh mereka masing-masing. Ada yang sakit perut nya, ada yang mengerang kesakitan pada dada, juga ada yang pecah bibirnya dengan darah menetes di sana.
"Apa masih mau di lanjutkan?", tantang Panji Watugunung seraya berdiri tegak.
"Kurang ajar!
Ku bunuh kau keparat!!!", maki Bagawanta seraya melemparkan pedangnya kearah Panji Watugunung. Pria bertubuh kekar itu segera menangkup kedua tangan di depan dada. Mulutnya komat-kamit membaca mantra Ajian andalannya.
Shrrriinnnggg!!
Pedang meluncur cepat kearah Panji Watugunung. Di belakangnya Bagawanta yang tangan kanannya di liputi oleh sinar kuning kemerahan melompat ke arah Panji Watugunung dengan menghantamkan tangan kanannya yang berubah warna menjadi kuning kemerahan.
"Mampus kau!
Hyyyyaaaaaaaaaaaaaaaa......"
Blammmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat tangan kanan Bagawanta menghantam dada Panji Watugunung. Asap putih tebal menutupi sebagian tubuh Sang Maharaja Panjalu itu. Bagawanta terdorong mundur beberapa tombak namun dia tersenyum lebar. Dia yakin lawan nya pasti tewas dengan dada hangus terkena Ajian Asta Geni nya.
Setelah asap menghilang, mata Bagawanta melotot lebar. Tak ada lagi senyum kemenangan di wajahnya. Panji Watugunung tersenyum tipis menatap ke arah Bagawanta.
Sadar lawannya bukan orang sembarangan, Bagawanta bermaksud untuk melarikan diri. Pria bertubuh kekar itu segera melompat tinggi ke udara dengan niat kabur dari tempat itu.
Dewi Srimpi yang terus mengawasi gerak-gerik Bagawanta, segera melemparkan 3 jarum berwarna hijau tua kearah Bagawanta.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!
Chhreepppppph crreepppphhh crepp!!
Aaaarrrgggggghhhhh!
Bagawanta menjerit keras dan langsung jatuh ke tanah dengan keras. Perlahan, Bagawanta merasakan mulutnya kering lalu pecah dan mengeluarkan darah.
Itulah kehebatan racun penghancur pembuluh darah yang di ciptakan oleh Dewi Srimpi dari Kitab 7 Obat Mujarab yang di dapat ketika berkelana bersama Panji Watugunung ke Tanah Perdikan Lodaya.
Seluruh pembuluh darah Bagawanta pecah dan terus mengeluarkan darah. Racun Penghancur Pembuluh Darah jauh lebih kejam daripada Racun Kelabang Neraka, karena racun itu menyiksa korban nya perlahan, sedangkan Racun Kelabang Neraka langsung membunuh lawan dalam sekejap.
"A-ampuni a-aku, pendekar.
Cepat habisi nyawa ku. Jangan sik-siksa aku seperti ini", hiba Bagawanta dengan memelas.
"Jangan ampuni dia pendekar. Orang ini telah membunuh Kakang Danureja, menghabisi keluarga ku dengan racun keji dan ingin merusak kehormatan ku.
Dia pantas mendapatkan balasan atas semua perbuatan bejatnya", teriak Nyi Tepasan yang berdiri di dekat Dewi Srimpi sambil melihat keadaan Bagawanta yang setengah mati tersiksa oleh racun penghancur pembuluh darah.
"Aku tidak mampu menyembuhkan mu. Racun yang masuk ke dalam tubuh mu adalah dari istri ku, aku tidak punya penawar nya.
Kalau benar yang di ucapkan oleh Nyi Tepasan berarti kau pantas untuk terkena racun ini", ujar Panji Watugunung sambil mendekati Dewi Srimpi, meninggalkan Bagawanta yang terus mengerang kesakitan. Tak berapa lama kemudian Bagawanta tewas dengan bersimbah darah karena darah keluar dari seluruh pori pori kulit nya.
"Terimakasih atas pertolongan nya pendekar sekalian. Tanpa bantuan kalian mungkin aku sudah mati di tangan Bagawanta dan komplotannya", Nyi Tepasan membungkukkan badannya pada Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.
Tak berapa lama kemudian 4 orang pengawal Nyi Tepasan datang. Melihat Bagawanta yang telah tewas dan kesepuluh orang kawannya terkapar, mereka segera mendekati Nyi Tepasan.
"Kau baik baik saja Nyi?", tanya si lelaki brewok berbadan besar yang tadi menanyai Panji Watugunung dan Dewi Srimpi di jalan.
"Tentu saja baik!
Untung ada dua pendekar ini, kalau tidak aku sudah mati di tangan mereka. Kau ini benar-benar menjengkelkan.
Sekarang panggil Jagabaya wilayah sini. Kirim orang-orang itu ke penjara", hardik Nyi Tepasan dengan amarah yang meluap-luap. Dia benar-benar kesal dengan para pengawal pribadi nya itu.
Para pengawal pribadi Nyi Tepasan segera mengikat mereka dengan tali pada pohon mangga yang ada di sudut halaman belakang penginapan.
__ADS_1
Saat Panji Watugunung dan Dewi Srimpi hendak beranjak dari tempat itu, Nyi Tepasan memanggil mereka.
"Tunggu pendekar!
Aku belum membalas budi baik kalian. Jangan pergi dulu", tahan Nyi Tepasan sambil tersenyum tipis.
"Kami tidak minta balasan apapun Nyi. Kami sekedar menolong seperti Nyi Tepasan memberi tumpangan untuk kami pagi tadi", jawab Dewi Srimpi sambil tersenyum simpul.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi lantas berlalu menuju ke kamar tidur mereka. Usai membereskan semuanya, mereka berjalan keluar kamar tidur.
"Kalian mau kemana pendekar? Ini masih gelap.
Kalau ingin meneruskan perjalanan, tunggu lah matahari terbit", ujar Nyi Tepasan yang masih berdiri di depan kamar tidur Panji Watugunung dan Dewi Srimpi. 4 orang pengawal pribadi Nyi Tepasan pun ikut berdiri di sana.
"Kami sudah cukup lama berada disini Nyi. Tidak baik meninggalkan rumah terlalu lama.
Kami harus kembali sekarang", jawab Dewi Srimpi yang di balas anggukan kepala Panji Watugunung.
"Suatu saat kami akan kembali kemari Nyi. Jika Nyi Tepasan merasa berhutang budi pada kami, bayarlah saat itu", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum manis.
Raja Panjalu itu segera merapal mantra Ajian Halimun nya. Dewi Srimpi segera memeluk tubuh sang suami. Sinar biru muda melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.
Dan..
Zzzrrrrrrrrttttthhhhh!!
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi menghilang dari pandangan Nyi Tepasan dan para pengawal pribadi nya. Mereka melongo tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Suatu saat nanti ya suatu saat nanti akan ku balas kebaikan kalian pendekar.
Ayo kita pergi dari tempat ini", Nyi Tepasan melangkah menuju ke kamar tidur nya diikuti oleh para pengawal pribadi nya.
**
Ayam jantan berkokok lantang bersahutan pertanda bahwa pagi telah tiba di Istana Daha. Suasana mendung menyelimuti seluruh kawasan ibukota Kerajaan Panjalu menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi yang baru saja sampai langsung melangkah masuk ke dalam istana Daha. Kebetulan Ayu Galuh yang bangun pagi melihat kedatangan mereka berdua.
"Darimana saja kau Kangmas Prabu? Seisi istana Daha bingung karena kau menghilang tiba-tiba", tanya Ayu Galuh pada Panji Watugunung.
"Aku hanya jalan-jalan sejenak dengan Dinda Srimpi, untuk melepaskan diri sejenak dari pikiran. Lagipula aku juga sudah meninggalkan pesan.
Memang ada apa Dinda Galuh?", Panji Watugunung segera menatap permaisuri keduanya itu.
"Aku dengar bibi Dewi Kilisuci akan datang ke istana ini. Entah hari ini atau besok, aku belum jelas mendengar berita nya. Aku tidak tahu apa yang sedang di inginkan bibi ku itu.
Tapi pasti ada sesuatu yang penting", ucap Ayu Galuh sambil menatap langit barat istana Daha. Ada sedikit pikiran yang mengganjal di benak Ayu Galuh.
"Kita hadapi saja Dinda Galuh.. Kalau memang ada yang perlu dibicarakan, kita bisa bicarakan dengan baik-baik dengan Bibi Kilisuci", ujar Panji Watugunung usai menghela nafas panjang.
"Semoga saja begitu Kangmas Prabu.
Oh iya, nanti siang ada beberapa pimpinan daerah dan beberapa punggawa Kayuwarajan Kadiri yang ingin bertemu dengan Kangmas Prabu. Sebaiknya Kangmas Prabu Jayengrana segera bersiap untuk menemui mereka", ujar Ayu Galuh segera. Sebagai permaisuri, tugas utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan tentang laporan yang berhubungan dengan rumah tangga istana.
"Baiklah Dinda Galuh, aku mengerti..
Dinda Srimpi, sebaiknya kau kembali ke tempat mu sekarang. Ada yang perlu aku bicarakan dengan Dinda Galuh", ucap Panji Watugunung sambil menoleh ke arah selir ketiga nya yang sedari tadi hanya diam saja.
"Saya mengerti Denmas Prabu.. Saya mohon diri dulu", ujar Dewi Srimpi sambil menghormat pada Panji Watugunung dan Ayu Galuh. Perempuan cantik itu segera berlalu menuju ke tempat tinggalnya.
Usai Dewi Srimpi berlalu, Ayu Galuh segera mencolek pinggang suami nya.
"Kemarin Kangmas Prabu kemana? Main pergi seenaknya saja", gerutu Ayu Galuh dengan nada kesal. Putri Prabu Samarawijaya itu cemberut wajahnya.
"Kan Kangmas sudah tinggalkan pesan di atas ranjang, Dinda Galuh. Masak masih tanya lagi?", Panji Watugunung menggaruk kepalanya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres ini, batin Panji Watugunung.
"Apa Kangmas Prabu lupa, kalau semalam adalah giliran waktu bersamaku?", Ayu Galuh bersungut-sungut sambil memunggungi Panji Watugunung. Perempuan cantik beranak satu memainkan ujung selendangnya.
Panji Watugunung segera menepuk jidatnya sendiri.
"Aduh maaf Dinda Galuh, aku lupa. Waktu nya bisa di geser hari ini bukan?", Panji Watugunung segera menarik tangan permaisuri keduanya itu untuk menatap wajah cantik nya.
"Mana bisa Kangmas?
Semua sudah di atur oleh Kangmbok Anggarawati. Kalau sampai melanggar aturan nya, bisa bisa waktu giliran ku bersama Kangmas Prabu pekan depan akan di hilangkan", ujar Ayu Galuh dengan cemberut.
Panji Watugunung yang tidak tahu aturan waktu para istrinya langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiba tiba sebuah pemikiran melintas di kepala Raja Panjalu itu.
"Kalau begitu, sekarang saja Dinda", senyum nakal tersungging di bibir Panji Watugunung.
"Tapi Kangmas Prabu, sebentar lagi kau harus menerima kedatangan para Adipati di Bangsal Paseban Agung.
Nanti kau bisa terlambat", ujar Ayu Galuh mencoba mengingatkan.
"Urusan itu nanti kita tangani bersama-sama. Yang penting sekarang istri ku yang cantik ini hilang perasaan marah nya", ujar Panji Watugunung yang segera membopong tubuh Ayu Galuh ke dalam kamar pribadinya.
Meski awalnya sedikit keberatan, Ayu Galuh akhirnya tersenyum simpul juga. Mereka menyelesaikannya pagi hari itu.
__ADS_1
Di Balai Paseban Agung, para Adipati dari kadipaten sekitar Kotaraja Daha telah berkumpul. Mapatih Jayakerti, dua senopati Negri Panjalu yaitu Senopati Warigalit dan Tunggul Arga, Tumenggung Adiguna dan Tumenggung Ludaka juga sudah hadir disana. Matahari sudah lewat sepenggal naik, namun sang Maharaja Panjalu masih belum juga hadir. Semuanya menunggu kedatangan Prabu Jayengrana.
"Yang Mulia Maharaja Panjalu, Jayengrana Wijaya Saptaprabu memasuki Balai Paseban Agung", teriak seorang seorang punggawa istana yang berpangkat Rakryan Mantri dengan lantang.
"Sembah bakti kami kepada Gusti Prabu Jayengrana"
Seluruh pembesar istana Daha dan para Adipati segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung yang hadir bersama Ayu Galuh dan Dewi Anggarawati.
Usai Maharaja Jayengrana duduk di singgasana Panjalu, para punggawa istana Daha dan para Adipati segera duduk bersila berjajar rapi di samping kiri dan kanan Sang Maharaja Panjalu.
Pagi menjelang siang itu, semua Nayakapraja melaporkan semua kegiatan dan berjalan nya roda pemerintahan Kerajaan Panjalu.
"Paman Mapatih Jayakerti,
Bagaimana dengan persiapan para prajurit kita yang akan bergerak menuju ke Kadipaten Kembang Kuning?", tanya Panji Watugunung seraya menatap wajah sepuh Mapatih Jayakerti.
"Mohon ampun Gusti Prabu.
Pasukan kita sudah tertata rapi di Ksatrian Kadri. Tinggal menunggu perintah dari Gusti Prabu Jayengrana untuk bergerak", ujar Mapatih Jayakerti sembari menghormat pada Panji Watugunung.
Jawaban itu seketika menimbulkan kehebohan di kalangan para Adipati dan Nayakapraja lainnya karena mereka belum mengetahui bahwa Kembang Kuning berencana untuk memberontak.
"Mohon ampun bila hamba lancang, Nakmas Prabu Jayengrana.
Ada apa dengan Kembang Kuning? Mengapa kita perlu mengirimkan pasukan kesana?", tanya Adipati sepuh Seloageng, Tejo Sumirat yang juga merupakan mertua Panji Watugunung.
"Begini Romo Adipati,
Kembang Kuning berencana untuk memberontak terhadap Kerajaan Panjalu. Telik sandi kita telah melaporkan bahwa mereka melatih pasukan dalam jumlah besar sebagai persiapan untuk makar.
Aku juga sudah tahu bahwa peristiwa Pangeran Banjarsari akan berbuntut panjang. Karena itu aku bertanya kepada kalian semua, apakah kalian masih menjadi kesatuan dengan Daha atau ingin membantu Kembang Kuning?", Panji Watugunung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Para Adipati di sekitar wilayah Kotaraja Daha seperti Anjuk Ladang, Lasem, Matahun, Bojonegoro, Karang Anom, Tanggulangin, Wengker dan Seloageng segera berlutut dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Kami selalu setia kepada Gusti Prabu Jayengrana", ucap para Adipati bersamaan.
"Aku hargai kejujuran dan kesetiaan kalian pada ku. Kalian pantas menjadi suri tauladan bagi segenap rakyat Kerajaan Panjalu", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum.
Panji Watugunung segera menoleh ke arah Mapatih Jayakerti.
"Untuk sementara, roda pemerintahan Kerajaan Panjalu akan di jalankan oleh mu Paman Jayakerti..
Aku sendiri yang akan memimpin pasukan Panjalu untuk menertibkan hukum di Kembang Kuning", titah Sang Maharaja Panjalu dengan tegas.
"Kakang Senopati Warigalit", imbuh Panji Watugunung segera.
Warigalit segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu Jayengrana", ucap Senopati Warigalit dengan penuh hormat.
Panji Watugunung segera berdiri dari tempat duduknya dan berkata,
"Persiapkan pasukan Panjalu segera.
Dua hari lagi, kita berangkat ke Kembang Kuning"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁