
Pagi itu sedikit mendung.
Mendekat pertengahan musim penghujan, kadang cuaca bisa berubah dalam beberapa saat saja.
Panji Watugunung mengelus dada nya. Rasanya masih terasa sakit. Dia baru saja berganti baju setelah membersihkan diri.
Ayu Galuh masih tertidur diatas ranjang nya. Gadis itu semalam menjadi liar dan menggigit dada Panji Watugunung sampai merah.
Panji Watugunung segera bergegas keluar kamar, di sana Dewi Srimpi sudah menunggu.
Dengan langkah tegas, Panji Watugunung menuju serambi peristirahatan Pakuwon Kunjang. Para istri nya sudah menunggu kedatangan suami mereka.
Sekar Mayang yang tidak melihat Ayu Galuh segera bertanya.
"Putri Raja itu mana Kakang? Belum bangun tidur dia?".
Panji Watugunung hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Hufff dasar manja, dimana mana putri bangsawan selalu sama saja", mendengar kata kata Sekar Mayang itu, mata Dewi Anggarawati mendelik tajam.
Sekar Mayang yang melihat tatapan mata Dewi Anggarawati segera menyambung kalimat nya.
"Kecuali kamu"
Semua tertawa terbahak-bahak mendengar kata kata Sekar Mayang. Mereka lalu makan dengan lahap. Masakan pagi ini terasa nikmat.
Usai makan Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera bergegas meninggalkan istana Pakuwon Kunjang. Kuda kuda mereka mereka melesat cepat menuju ke Utara.
Ayu Galuh berlari menuju serambi depan. Kepalanya celingukan mencari Panji Watugunung.
Melihat Sekar Mayang, Ayu Galuh segera bertanya.
"Kangmas Panji Watugunung kemana? Kog sudah tidak ada".
Sekar Mayang melengos pergi tanpa menjawab. Ayu Galuh menggeram kesal merasa diacuhkan.
"Selir busuk, kau berani mengacuhkan ku".
"Kenapa tidak? Aku lebih jago beladiri dari mu, Kakang Watugunung juga lebih mencintai ku.
Kalau aku mengacuhkan mu, lantas kau mau apa? ", jawab Sekar Mayang dengan tengil.
"Kau...."
Ayu Galuh menggeram dalam hati.
'Awas kau nanti selir busuk, akan ku laporkan pada Kangmas Panji nanti'.
Sementara itu Panji Watugunung dan Dewi Srimpi terus memacu kuda mereka menuju kediaman Kelabang Koro.
Setelah melewati hutan kecil, mereka sampai di kediaman Kelabang Koro di sela hutan kecil.
Penjaga gerbang yang melihat Dewi Srimpi datang segera membuka pintu gerbang dan berlari ke arah rumah besar di tengah pemukiman.
"Lurah e Lurah e, ada tamu agung Lurah e", teriak Tolu keras.
Mondhosio yang sedang asyik menikmati buah mangga seketika menoleh ke arah Tolu.
"Siapa yang datang?".
"Itu Denayu Srimpi sama lelaki yang dulu ikut kesini lurah e", jawab Tolu sambil menunjuk keluar.
Mondhosio segera bergegas keluar. Dewi Srimpi berlari dan langsung memeluk ayahnya. Dia sangat rindu pada lelaki tua itu. Mondhosio tersenyum tipis.
Panji Watugunung mengikat tali kekang kuda nya segera melangkah menuju serambi kediaman Mondhosio.
Melihat Panji Watugunung, Mondhosio segera melepaskan pelukan putri nya.
"Ada apa kalian kesini? Jangan bilang kau mau memulangkan putri ku", Mondhosio mendelik tajam kearah Panji Watugunung.
"Ayah jangan begitu. Denmas Panji Watugunung sangat baik padaku", potong Dewi Srimpi membela Panji Watugunung.
__ADS_1
"Lalu kenapa kemari? Bukankah aku sudah menyerahkan mu pada nya?", tanya Mondhosio alias Kelabang Koro menyelidik.
"Duduk dulu ayah, belum duduk sudah di tanya macam macam", Dewi Srimpi cemberut.
"Hehehehe aku lupa. Ayo duduk dulu bocah tengik", Mondhosio segera mempersilakan Panji Watugunung untuk duduk di kursi.
"Tolu, Wuye...
Siapkan makanan dan minum untuk mereka.
Cepat...!!".
Tolu dan Wuye segera berlari menuju dapur di belakang.
Hemmmm
"Kedatangan ku kesini untuk meminta bantuan mu Paman", Panji Watugunung berusaha sesopan mungkin.
"Bantuan apa yang kau minta? Duit aku tidak punya, apa yang bisa aku bantu?", potong Kelabang Koro.
"Ayah dengarkan dulu omongan Denmas Panji", sahut Dewi Srimpi sambil memegang tangan ayahnya.
"Kami berniat untuk menyerbu markas Gunung Kematian di Alas Wetan. Kekuatan kami belum cukup untuk menghadapi mereka. Kami masih perlu tambahan tenaga dalam upaya ini", jawab Watugunung sopan.
"Kalau aku tidak mau?", jawab Mondhosio cepat.
"Tidak mau ya tidak apa-apa, aku tidak bisa memaksa Paman. Tapi Dewi Srimpi akan ku tinggal di sini. Aku tidak mau dia menjadi korban dari pertempuran nanti",jawab Watugunung tenang.
Seketika wajah cantik Dewi Srimpi menjadi kusut. Begitu juga Mondhosio. Dia melihat wajah Dewi Srimpi baru menyadari bahwa gadis nya itu tidak mau berpisah dari Panji Watugunung.
"Dasar licik, kau benar benar licik", teriak Mondhosio sambil menunjuk ke Panji Watugunung.
"Aku belajar dari mu Paman", jawab Panji Watugunung penuh kemenangan.
"Bocah tengik kau berani menggunakan anak ku untuk menekan ku.
Baik, aku bantu kau tapi tidak gratis", jawab Mondhosio alias Kelabang Koro acuh tak acuh.
Wajah cantik Dewi Srimpi sumringah mendengar ayahnya mau membantu.
"Apa syarat nya? Katakan saja. Tanah, rumah atau perhiasan akan ku berikan. Apapun mau mu Paman, asal membantu ku membasmi Gunung Kematian", tanya Watugunung penasaran.
"Aku tak butuh itu semua. Jadikan Srimpi sebagai selir mu, pasti ku bantu kau meratakan Gunung Kematian dengan tanah", jawab Mondhosio alias Kelabang Koro acuh tak acuh.
"APAAAAA...."
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi berteriak keras.
"Ayah jangan sembarangan", teriak Dewi Srimpi geram dengan syarat ayahnya.
"Kau jangan seenaknya saja membuat syarat Paman, aku sudah punya 4 istri. Kalau masih ada perempuan lagi, bisa bisa aku di gantung sama istri istri ku", teriak Panji Watugunung gusar.
"Terserah padamu, aku tidak memaksa. Mau ya syukur tidak mau ya tidak apa-apa", Kelabang Koro acuh tak acuh.
Panji Watugunung segera memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Huft
Panji Watugunung segera menghela nafas panjang.
"Baik syaratmu aku terima. Dengan catatan setelah meratakan Gunung Kematian dengan tanah, baru aku akan melakukannya. Kalau kau tidak bersedia dengan kemauan ku, aku tidak bisa memaksa mu Paman", jawab Watugunung sopan.
Kelabang Koro masih diam tidak menjawab.
"Kediaman paman berarti kita tidak sepakat. Kalau begitu aku permisi dulu. Srimpi, baik baik kau disini. Jika jodoh, Dewata pasti mempertemukan kita lagi", usai berkata Panji Watugunung hendak melangkah pergi.
Mata Dewi Srimpi berkaca-kaca. Air mata nya menetes deras. Kelabang Koro segera melompat menahan tangan Panji Watugunung.
"Tunggu bocah tengik. Kau menang. Aku akan membantu mu, tapi setelah Gunung Kematian rata dengan tanah, kalau kau menipu ku, akan ku kejar kau sampai ke ujung neraka sekalipun".
Panji Watugunung tersenyum tipis.
__ADS_1
"Jangan khawatir paman, aku bukan orang yang suka ingkar janji".
Begitu lah akhirnya, Kelabang Koro bersedia membantu rencana besar Panji Watugunung. 75 pengikut nya siap bergerak begitu perintah di berikan. Sebagai bekas anggota Gunung Kematian, Kelabang Koro sangat mengenal perguruan aliran hitam itu. Dia pernah berguru kepada Resi Banaspati, tokoh golongan putih yang beralih menjadi golongan hitam setelah mempelajari ilmu sesat. Kelabang Koro adalah adik seperguruan Dewa Maut.
Setelah beberapa lama Dewi Srimpi melepas rindu pada ayahnya, menjelang tengah hari Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera undur diri untuk ke istana Pakuwon Kunjang.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
Saat sampai di istana Pakuwon Kunjang, keadaan istana Pakuwon menjadi lebih ramai.
Ternyata bantuan dari Watugaluh yang di pimpin Bekel Setyaka sudah sampai. 100 prajurit bersenjata lengkap dengan kuda kuda pilihan.
Bekel Setyaka yang pernah membantu penyerbuan markas Kalajengking Biru, kali ini di tugaskan langsung oleh Akuwu Hangga Amarta untuk membantu tugas Panji Watugunung.
"Setyaka menghaturkan sembah kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung", ujar Bekel Setyaka sambil berlutut di depan Panji Watugunung. Dia sudah mendengar kabar dari kawan nya yang menjadi utusan untuk Watugunung.
"Paman Setyaka, kenapa seperti itu? Berdirilah paman. Aku masih Watugunung yang kemarin paman traktir makan", kata Panji Watugunung yang membuat Setyaka semakin menaruh hormat kepada nya.
Mereka lantas bercakap-cakap di serambi peristirahatan Pakuwon Kunjang.
Menjelang sore hari, bantuan untuk Watugunung terus berdatangan. Mpu Kebi dari Pakuwon Randu meminjamkan 50 prajurit pilihan nya di pimpin Bekel Prangbakat. Dan dari istana Daha, Tumenggung Adiguna beserta 100 pasukan nya merapat sore itu. Suasana Pakuwon menjadi ramai. Akuwu Rakeh Kepung bahkan meminta bantuan para Rama wanua wilayah pakuwon Kunjang mengirim orang untuk mengurusi urusan dapur.
Malam itu di paseban Pakuwon Kunjang, seluruh pembesar dan bangsawan yang ada berkumpul. Mereka mendengar suara Panji Watugunung yang menjadi pemimpin tertinggi pasukan gabungan. Akuwu Rakeh Kepung, Tumenggung Adiguna, Ki Saketi, Bekel Setyaka, dan Bekel Prangbakat mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut sang panglima.
Panji Watugunung menerangkan tentang rencana dan suasana Gunung Kematian sesuai arahan Kelabang Koro.
"Apakah ada pertanyaan? Silahkan di utarakan", ujar Panji Watugunung di akhir penjelasannya.
"Maaf Gusti Pangeran, kapan kita bergerak", tanya Bekel Setyaka.
"Kita bergerak besok saat matahari sepenggal naik. Kita tidak bisa membiarkan mereka terlalu lama", jawab Watugunung tegas.
"Apakah penunjuk jalan sudah siap Gusti Pangeran?", tanya Bekel Prangbakat dari Pakuwon Randu.
"Paman Saketi sudah menyiapkan orang, untuk menjadi penunjuk jalan di beberapa pecahan pasukan pemanahnya", Panji Watugunung tenang.
Semua orang tampak lega mendengar jawaban Panji Watugunung.
Setelah dirasa cukup, semua orang membubarkan diri untuk bersiap berperang melawan Gunung Kematian.
Dewi Srimpi tersenyum tipis sambil memandang Panji Watugunung yang berjalan menuju pintu kamar nya di iringi Ratna Pitaloka.
'Giliran ku akan segera datang'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
Selamat membaca 😁😁😁
__ADS_1