
"Tunggu Denmas Prabu. Kita tidak bisa ke Kembang Kuning", sergah Dewi Srimpi yang membuat Panji Watugunung keheranan. Raja Panjalu itu menatap wajah cantik istri nya itu seakan memiliki jawaban.
"Kenapa tidak bisa Dinda Srimpi? Memang ada masalah apa?", tanya Panji Watugunung segera.
"Denmas Prabu Jayengrana tidak bisa ke Kembang Kuning dengan pakaian Raja Panjalu seperti ini.
Kedatangan Denmas dengan pakaian seperti ini akan membuat heboh warga disana", jawab Dewi Srimpi sambil tersenyum simpul.
Panji Watugunung yang segera tersadar langsung tertawa terbahak bahak.
"Kau benar Dinda, kita tidak bisa kesana bila masih memakai pakaian bangsawan.
Ayo kita ganti baju Dinda", ucap Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Dewi Srimpi.
Mereka berdua segera berganti baju rakyat jelata. Dengan memakai jarit lompong kali, ikat kepala hitam tanpa hiasan emas, gelang bahu dari akar bahar, celana pendek polos dan tidak memakai baju membuat penampilan Panji Watugunung sudah seperti rakyat biasa. Tak lupa Pedang Naga Api dia buntal dengan kain dan di ikat pada punggung.
Sedangkan Dewi Srimpi pun berpakaian senada, khas pendekar wanita yang hanya mengenakan kemben dan selendang hitam pada dada. Juga buntalan kain berisi sedikit bekal mereka untuk jalan jalan di Kembang Kuning.
Usai berdandan, Panji Watugunung meninggalkan sepucuk surat dari daun lontar yang di taruh di tempat tidur nya.
Setelah persiapan selesai, Panji Watugunung segera merapal mantra Ajian Halimun ajaran Ki Buyut Permana dari Wanua Karang Kamulyan di tatar Pasundan. Dengan memeluk tubuh Dewi Srimpi, sebuah sinar biru muda melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.
ZZZRRRRRRRRTTTTTHHHHH
Sekejap kemudian mereka menghilang dari pandangan dan muncul di tempat mereka pernah singgah dulu saat melakukan perjalanan menuju Galuh Pakuan yaitu di ujung selatan wilayah Kembang Kuning.
Pada dasarnya, Ajian Halimun adalah memindahkan raga ke tempat yang diinginkan namun tempat itu juga sudah pernah di kunjungi oleh sang pemakai ajian.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera berjalan kaki melintasi jalan raya. Mereka berdua terlihat begitu gembira.
Dari arah belakang muncul rombongan pedati yang di kawal oleh beberapa orang. Sepertinya mereka adalah rombongan pedagang yang hendak menuju ke kota Kadipaten Kembang Kuning.
Saat rombongan itu mendekati Panji Watugunung dan Dewi Srimpi yang tengah berhenti di pinggir jalan, salah satu dari mereka berteriak pada Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.
"Hai kalian,
Mengapa berjalan kaki di tempat sepi seperti ini? Apa kalian ingin merampok?", tanya seorang lelaki brewok berbadan besar yang merupakan pemimpin pengawal rombongan pedagang itu. Mata pria bertubuh besar itu mengamati Panji Watugunung dan Dewi Srimpi dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kami bukan perampok kisanak. Kami hanya pengelana yang datang dari jauh ingin melihat luasnya dunia.
Silahkan tinggalkan kami dan lanjutkan perjalanan kalian", jawab Panji Watugunung dengan sopan. Dewi Srimpi kagum pada Panji Watugunung walaupun seorang Raja besar dalam pakaian penyamaran tapi terlihat luwes bersikap seperti rakyat jelata.
Si pria brewok berbadan besar itu sejenak kembali memandang ke arah Panji Watugunung lalu mengarahkan kudanya ke pedati yang ada di belakangnya. Setelah berbisik kepada orang di dalam pedati, pria brewok berbadan besar itu kembali bicara dengan Panji Watugunung.
"Sepertinya kalian orang baik. Apa kalian butuh tumpangan untuk ke kota Kadipaten Kembang Kuning?
Di pedati belakang masih ada tempat kalau mau", tawar si lelaki bertubuh besar itu segera. Panji Watugunung dan Dewi Srimpi saling berpandangan sejenak lalu senyum manis tersungging di wajah mereka.
"Kami mau kisanak. Terimakasih atas kebaikan hati kalian", ucap Panji Watugunung segera. Setelah Panji Watugunung dan Dewi Srimpi naik ke pedati yang di belakang, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan.
Hari semakin sore saat rombongan pedagang yang di tumpangi Panji Watugunung dan Dewi Srimpi sampai di tapal batas kota Kadipaten Kembang Kuning. Rombongan itu lalu berhenti di depan sebuah rumah penginapan yang ada di dekat jalan raya.
Dari pedati depan, turun seorang wanita berumur 3 warsa dengan pakaian mahal. Dia adalah Nyi Tepasan, seorang saudagar kaya di wilayah Kadipaten Kembang Kuning yang memiliki usaha jual beli beras dan hasil bumi seperti beras dan palawija.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi juga turut serta turun dari pedati yang mereka tumpangi.
Mereka berdua segera mendekati pria brewok yang menawari mereka tadi.
"Kisanak,
Terimakasih atas tumpangannya. Kita berpisah disini. Lain waktu budi baik mu pasti akan aku balas", ucap Panji Watugunung dengan santun.
"Bukan aku yang memberi tumpangan untuk kalian berdua, tapi Nyi Tepasan. Kalau berterima kasih sebaiknya pada dia. Aku hanya menjalankan tugas", ujar si lelaki brewok berbadan besar itu sambil menunjuk ke arah Nyi Tepasan yang baru saja turun dari pedati.
Mendengar penuturan si pengawal tadi, Panji Watugunung segera mendekati Nyi Tepasan.
"Nyi,
Aku berterima kasih atas bantuan yang kau berikan. Kami mohon diri", ucap Panji Watugunung dengan sopan.
"Apa kalian punya sanak keluarga di kota ini? Jika tidak sebaiknya kalian menginap di tempat ini. Soal biaya tak usah khawatir, aku yang bayar", ujar Nyi Tepasan dengan ramah.
"Waduh terima kasih Nyi, tapi maaf kami masih punya bekal untuk melanjutkan perjalanan.
Nyi Tepasan sudah baik pada kami, dan kami tidak enak hati jika merepotkan terus", Panji Watugunung menolak halus tawaran dari Nyi Tepasan.
"Ya sudah terserah kalian. Tapi kalau kalian mencari penginapan lain, dari sini masih jauh. Tempat ini satu-satunya penginapan terdekat", ujar Nyi Tepasan sambil berlalu menuju ke dalam penginapan.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi tersenyum simpul lalu mengikuti langkah Nyi Tepasan ke dalam penginapan. Meski bersama, namun Panji Watugunung membayar biaya kamar untuk dia dan Dewi Srimpi.
__ADS_1
Setelah memesan satu kamar tidur, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi memesan makanan untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Mereka memilih untuk duduk di sudut ruang rumah makan yang jadi satu dengan penginapan.
"Ini seperti jaman masih berkelana dulu ya Denmas,
Kita bebas bepergian tanpa perlu pengawalan dari para prajurit", ujar Dewi Srimpi sambil menuangkan air kendi ke dalam cangkir yang terbuat dari tanah liat. Perempuan cantik itu segera mengulurkan cangkir itu pada Panji Watugunung.
"Iya Dinda Srimpi,
Hidup memang penuh perubahan. Dulu aku paling tidak suka jika ada orang yang menyembah ku karena aku bukan dewa. Tapi sekarang aku mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa mereka menyembah pada ku bukan karena memuja ku tapi karena rasa hormat.
Jadi hidup itu akan terus berubah seiring berjalannya waktu, Dinda", ucap Panji Watugunung sambil meneguk air minum dari cangkir nya.
Di sudut ruangan yang lain, nampak seorang lelaki bertubuh kekar terus mengamati Nyi Tepasan juga tengah menikmati makanan di salah satu meja. Dandanan mewah perempuan itu membuat mata lelaki tak bisa lepas dari segala polah tingkah Nyi Tepasan. Tak berapa lama kemudian dia keluar dari rumah makan usai membayar makanan nya.
Ekor mata Panji Watugunung terus mengawasi gerak-gerik si lelaki bertubuh kekar itu.
"Ada apa Denmas?
Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiran mu?", tanya Dewi Srimpi yang merasa Panji Watugunung tengah waspada.
"Lelaki yang baru saja keluar rumah makan ini merencanakan sesuatu yang buruk untuk Nyi Tepasan, Dinda..
Firasat ku mengatakan pasti malam nanti akan terjadi sesuatu di tempat ini", jawab Panji Watugunung seraya tersenyum tipis.
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu, Denmas..
Aku lebih suka bersama dengan Denmas tanpa ada yang mengganggu", ucap Dewi Srimpi dengan rona wajah memerah. Panji Watugunung tersenyum mendengar ucapan dari Dewi Srimpi.
Usai makan malam, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera menuju kamar tidur yang sudah di persiapan untuk mereka.
Bagai sepasang pengantin baru, Dewi Srimpi tampak malu malu saat Panji Watugunung mulai menyentuh tubuhnya. Dengan lembut Raja Panjalu itu mengecup bibir mungil Dewi Srimpi. Saat Panji Watugunung mulai meloloskan pakaian Dewi Srimpi, pandangan putri Kelabang Koro itu tertuju pada 2 lampu minyak jarak yang menerangi kamar itu.
Panji Watugunung segera kibaskan tangan nya dan lampu minyak jarak yang menerangi kamar tidur mereka padam, menyisakan satu lampu jarak dan cahaya rembulan purnama yang menerobos lewat celah celah dinding kayu untuk menerangi kamar tidur nya.
Selanjutnya hanya desah nafas dan erangan kenikmatan yang terdengar dari kamar tidur Panji Watugunung dan Dewi Srimpi. Mereka seakan ingin menumpahkan semua kerinduan seperti kekasih yang lama tidak bertemu.
Dewi Srimpi yang kelelahan tertidur di lengan kiri Panji Watugunung. Nyaman nya bahu sang suami membuat perempuan cantik itu pulas dalam dekapan Sang Maharaja Panjalu.
Panji Watugunung yang masih belum tertidur tiba-tiba saja terkesiap saat mendengar ada suara mendarat di atap penginapan. Meski hanya suara langkah pelan, namun itu terdengar jelas di telinga nya.
"Hemmmmmmm..
Meski pelan, tapi Dewi Srimpi ikut bangun saat merasakan tangan suaminya itu di tarik.
"Ada apa Denmas?", tanya Dewi Srimpi yang segera menatap wajah tampan suaminya.
Sssssttttttttt...
Panji Watugunung tidak menjawab melainkan hanya menarik telunjuk tangan kanannya ke depan bibir sambil menunjuk ke arah atap. Melihat isyarat itu, Dewi Srimpi langsung mengerti.
Mereka turun dari ranjang tidur nyaris tak bersuara lalu segera memakai baju mereka masing masing. Dewi Srimpi segera mengikat Pedang Kelabang Neraka di pinggangnya sedangkan Panji Watugunung segera meletakkan Pedang Naga Api di punggungnya.
Tiba-tiba..
Bhhruuuaaaakkk!!!
Terdengar suara dinding kayu hancur. Panji Watugunung dan Dewi Srimpi saling berpandangan sejenak lalu melesat keluar dari kamar tidur lewat jendela. Saat sampai di luar kamar, mereka melihat seorang lelaki bertubuh kekar yang mereka lihat tadi sore di rumah makan tengah terkapar di luar kamar Nyi Tepasan yang berjarak beberapa tombak dari kamar mereka.
Tak berapa lama kemudian muncul 10 lelaki berpakaian serba hitam mengepung Nyi Tepasan.
Si lelaki bertubuh kekar itu segera berdiri dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Perempuan busuk,
Kau bisa mengalahkan ku tapi belum tentu bisa mengalahkan saudara saudara seperguruan ku.
Ayo kita habisi dia!", teriak si lelaki bertubuh besar itu yang membuat 10 orang temannya menerjang maju.
Nyi Tepasan yang kaget berusaha untuk membela diri sebaik mungkin. Dia berhasil menjatuhkan dua orang yang mengeroyoknya, namun salah satu pengeroyok berhasil menendang perut saudagar wanita itu yang membuat Nyi Tepasan terjatuh. 7 orang berpakaian serba hitam itu memburu nya sambil menyabetkan pedang mereka masing-masing. Saat dia dalam keadaan terjepit, perempuan cantik itu pasrah.
Lalu terdengar suara jerit kesakitan yang membuat Nyi Tepasan berani membuka mata nya.
Aaauuuuggggghhhhh ougghhh!!
Dewi Srimpi melesat cepat menyambar tubuh Nyi Tepasan dan menjauh dari pengeroyokan terhadap saudagar kaya itu sedangkan Panji Watugunung dengan cepat meraih sebuah pedang dari pengeroyok yang di jatuhkan Nyi Tepasan untuk menangkis sabetan pedang dari lawan Nyi Tepasan seraya melancarkan tendangan beruntun kilat nya yang membuat ketujuh orang itu terjatuh sekaligus.
Tujuh orang yang terjatuh meringis kesakitan. Salah seorang dari mereka segera berdiri dan mengacungkan senjata pada Panji Watugunung.
"Siapa kau?
__ADS_1
Kenapa kau ikut campur urusan kami ha?", si lelaki bertubuh kekar mendelik tajam ke arah Panji Watugunung yang berdiri tegak di depannya.
"Aku hanya pengelana dari jauh.
Kalian sungguh picik. Mengeroyok seorang wanita apakah perbuatan yang pantas di lakukan oleh lelaki?", ujar Panji Watugunung segera.
"Itu bukan urusan mu, orang asing.
Kau tahu bahwa perempuan itu telah membuat kakak seperguruan tergila-gila dengan peletnya hingga dia terbunuh oleh suaminya. Hari ini ini aku datang untuk menuntut balas kematian saudara ku", lelaki bertubuh kekar itu perlahan mempersiapkan diri untuk bertarung.
"Itu bohong, pendekar. Kakak seperguruan nya mencoba memperkosa ku dan Kakang Danureja menyelamatkan ku.
Kau jangan asal main fitnah, Bagawanta!", teriak Nyi Tepasan yang tak terima dengan ucapan si lelaki bertubuh kekar yang bernama Bagawanta.
"Huhhhhh,
Kau tidak bisa mengelak lagi Nyi Tepasan. Kalau kau tak pakai ilmu hitam, mana mungkin Kakang Somawijaya bisa jatuh cinta kepada mu?", Bagawanta mencibir kearah Nyi Tepasan yang berdiri di dekat Dewi Srimpi.
"Dasar mulut beracun.
Kau pintar memutarbalikkan kenyataan Bagawanta. Dasar laki-laki bajingan.
Aku tidak pernah menggunakan ilmu hitam, ilmu pelet atau apapun itu namanya. Kakak seperguruan mu sendiri yang mencari masalah, jadi kalau Kakang Danureja membungkuk nya, sudah sepantasnya", teriak Nyi Tepasan yang marah dengan omongan Bagawanta.
"Tutup mulut mu perempuan sundal.
Jika hari ini aku tidak bisa membunuhmu, jangan panggil namaku Bagawanta lagi", teriak Bagawanta yang segera melesat ke arah Nyi Tepasan sambil menyabetkan pedang nya.
Kurang satu tombak dari Nyi Tepasan, sebuah sabetan pedang memaksa Bagawanta merubah gerakan tubuhnya dan menangkis sabetan pedang yang datang dari arah samping.
Thhhrriinnngggggg!!
Bagawanta melompat mundur beberapa langkah ke belakang dan menatap tajam ke arah orang yang baru menghentikan langkahnya.
"Bajingan!
Kau selalu ikut campur dengan urusan ku. Sudah bosan hidup kau rupanya ha?", hardik Bagawanta pada Panji Watugunung yang berdiri menghadang di depan nya.
"Bosan hidup sih tidak. Hanya aku tidak suka melihat ketidakadilan terjadi di depan mata ku.
Kalau memang ingin memaksa Nyi Tepasan mengakui kesalahan yang belum tentu dia lakukan, sebaiknya kau hadapi dulu aku", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
Bagawanta mendelik marah ke arah Panji Watugunung. Sudah dua kali Panji Watugunung mengganggu keinginan nya untuk menghabisi nyawa Nyi Tepasan. Sebelum melesat ke arah Panji Watugunung, Bagawanta berteriak lantang.
"Kau harus mati lebih dulu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
__ADS_1
Selamat membaca 😁🙏😁