
**
Panji Watugunung dan rombongannya terus memacu kudanya menuju ke kota Kadipaten Kalingga. Mereka berharap agar sebelum senja turun, mereka sudah masuk di kota Kadipaten itu agar tidak perlu bermalam di hutan.
Kota Kadipaten Kalingga adalah kota besar. Dulu pernah menjadi ibukota Kerajaan Kalingga sebelum pusat pemerintahan di pindah ke selatan oleh Rakai Panangkaran. Setelah pendirian kerajaan Medang, pamor Kalingga sebagai bekas ibukota kerajaan semakin turun. Hingga menjadi sebuah kota Kadipaten. Namun pelabuhan Halong tetap menjadi pilihan utama para pelancong dari berbagai daerah di Nusantara untuk menurunkan jangkar kapal mereka. Pun peziarah maupun penjelajah laut dari manca negara tetap menjadikan Pelabuhan Halong sebagai salah satu tempat berhenti. Tak heran, banyak orang asing yang hilir mudik di wilayah Kota Kadipaten Kalingga.
Agnibrata, sang Adipati Kalingga benar benar mampu memberikan rasa nyaman pada para pelancong sehingga mereka betah berlama-lama di Kalingga.
Lamana yang menjadi penunjuk jalan terus menggebrak kuda nya diikuti oleh Panji Watugunung dan rombongannya.
Saat senja mulai turun, mereka telah sampai di tepi kota Kadipaten Kalingga. Lamana segera mengarahkan kuda nya menuju kediaman Senopati Lokananta yang ada di kompleks istana Kadipaten Kalingga.
Seorang prajurit penjaga gerbang kediaman keluarga Senopati Lokananta segera membuka pintu gerbang begitu melihat Lamana, sang Bekel prajurit pengawal pribadi sang Senopati sampai di depan pintu gerbang.
"Apa Gusti Senopati ada di rumah?", tanya Lamana setelah melompat turun dari kudanya.
"Ada Ki Bekel, baru saja pulang dari istana Kadipaten", ujar sang penjaga gerbang.
Di dalam serambi kediaman pribadi Senopati, Lokananta nampak sedang berbicara dengan salah satu bawahannya, Tumenggung Janadi tentang perselisihan antara orang Tionghoa dan India di pelabuhan Halong tempo hari saat Lamana masuk ke serambi di sertai Panji Watugunung dan rombongannya.
Melihat Panji Watugunung, Senopati Lokananta langsung menyembah kepadanya. Tumenggung Janadi langsung mengikuti.
"Sembah bakti hamba untuk Gusti Pangeran Panji Watugunung".
"Berdiri Tumenggung Lokananta, eh maksud ku Senopati Lokananta.
Kau tidak perlu begitu sopan terhadap ku", ujar Panji Watugunung segera.
"Terimakasih Gusti Pangeran.
Hamba mengucapkan selamat datang di Kalingga. Semoga Gusti Pangeran merasa senang saat disini.
Gusti Selir sekalian, Lokananta memberikan hormat", ujar Senopati Lokananta sambil membungkuk.
Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi hanya tersenyum dan mengangguk saja.
"Mari silahkan duduk Gusti Pangeran, mohon tunggu sebentar.
Biar hamba menyiapkan makanan dan tempat istirahat untuk Gusti Pangeran dan Gusti Selir sekalian", Senopati paruh baya itu segera mundur ke dalam rumah, tak lama kemudian kembali menemui para tamu nya.
"Paman Senopati,
Apa paman lupa dengan ku?", ujar Candani sambil tersenyum tipis.
Hemmmm
"Maaf aku tidak mengenali mu, cah ayu.
Siapa kau ini?", tanya Senopati Lokananta kemudian.
"Wah Paman Lokananta, mentang-mentang sudah jadi pejabat tinggi lupa dengan keponakan.
Aku Candani, putri Tarapaksi si Pendekar Pedang Ular dari Padepokan Gunung Alang-alang", ujar Candani sambil tersenyum simpul.
"Jagat Dewa Batara,
Bocah kemarin sore yang suka menangis itu sudah sebesar ini? Hahahaha, Paman benar benar pangling Cah Ayu", Senopati Lokananta tertawa lepas. Saat dia meninggalkan Gunung Alang-alang, Candani masih berusia 2 tahun. Sekarang sudah 17 tahun, dan gadis itu berubah menjadi wanita cantik.
"Huhhh
Paman ingatnya hanya bagian itu saja", Candani pura pura merajuk.
"Hehehehe,
Bagaimana kabar ayahmu? Dan bagaimana ceritanya kau bisa bersama Gusti Pangeran Panji Watugunung?", tanya Senopati Lokananta penasaran.
Candani lalu bercerita tentang kehidupan orang tuanya sampai akhirnya bertemu dengan Panji Watugunung lalu melakukan perjalanan ke Kalingga.
Dingin malam kembali datang.
Para pelayan dan emban di kediaman Senopati Lokananta menyajikan makanan malam itu dengan cekatan. Pelbagai jenis masakan disajikan.
Usai makan, para pelayan mengantar Candani, Harsa dan Gentala ke kamar peristirahatan mereka, begitu pula dengan Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi.
Sedangkan Panji Watugunung, Lamana, Senopati Lokananta dan Tumenggung Janadi masih bertahan di serambi kediaman sang senopati.
"Senopati Lokananta,
Aku membawa tugas dari Gusti Prabu Samarawijaya untuk menyelidiki berita Paguhan yang berencana untuk makar pada Panjalu.
Apa kau sudah dengar berita ini?", Panji Watugunung menatap wajah Senopati paruh baya itu segera.
Senopati Lokananta menghela napas panjang.
"Hamba sudah mendengar kabar itu Gusti Pangeran. Untuk lebih jelasnya biar Tumenggung Janadi yang menjelaskan.
Janadi,
__ADS_1
Bicaralah sekarang", ujar Senopati Lokananta pada Tumenggung muda itu kemudian.
"Ampun Gusti Pangeran,
Berdasarkan berita dari telik sandi yang hamba kirim ke Paguhan, Adipati Gandakusuma bersiap untuk memberontak terhadap Daha. Menurut berita, dia menyiapkan sedikitnya 2 ribu pasukan berkuda, 6 ribu prajurit berjalan kaki, 1000 pemanah dan seribu prajurit perbekalan", Tumenggung Janadi memberi hormat.
Hmmmmm..
"Darimana dia mendapat begitu banyak dana untuk memperkuat pasukannya?", Panji Watugunung menatap ke arah Tumenggung Janadi sambil mengelus hidungnya.
"Itu yang masih di selidiki Gusti Pangeran..
Ada selentingan kabar yang menyatakan, bahwa Coa Bu Teng, saudagar bangsa Tionghoa kaya raya di Pelabuhan Halong turut mendanai upaya ini. Tapi masih belum bisa dipastikan kebenarannya.
Juga ada berita, kalau Prabu Darmaraja dari Galuh Pakuan yang mendukung penuh upaya Adipati Gandakusuma untuk merdeka dari Daha", ujar Tumenggung Janadi kemudian.
Panji Watugunung menghela nafasnya.
"Sepuluh hari lagi, pasukan Garuda Panjalu dan pasukan Daha akan datang ke Kalingga.
Siapkan tempat di Pakuwon perbatasan antara Kalingga dan Paguhan untuk mereka. Besok pagi aku akan menghadap Adipati Agnibrata untuk meminta ijin tempat".
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar ketiga perwira prajurit Kalingga itu segera.
Malam itu hujan deras mengguyur wilayah Kota Kadipaten Kalingga. Suara gemericik air hujan di tambah riuhnya kodok yang bernyanyi membuat malam itu semakin sunyi.
Pagi menjelang tiba. Meski semalaman hujan deras, tapi pagi ini cuaca cukup bersahabat. Walaupun sinar matahari tampak malu malu di balik awan, tapi tidak ada rintik hujan yang turun.
Panji Watugunung segera bergegas menuju ke tempat mandi di belakang rumah sang senopati diikuti oleh Ratna Pitaloka yang semalam menemani tidur nya.
Senopati Lokananta mendahului langkah Panji Watugunung menuju ruang pribadi Adipati bersama Tumenggung Janadi dan Lamana. Di dalam ruang pribadi Adipati, sudah ada Patih Jayakrama dan penasehat Mpu Waridi.
Setelah menghaturkan sembah, mereka duduk bersila di lantai ruang pribadi Adipati.
"Ampun Gusti Adipati,
Hamba datang membawa utusan dari Daha yang ingin berbicara dengan Gusti Adipati", Senopati Lokananta membuka percakapan mereka.
"Kalau kau mengaku utusan Istana Daha, tunjukkan lencana mu sebagai tanda kau benar-benar utusan dari Daha", ujar Adipati Agnibrata sambil mengangkat tangan kanannya.
Panji Watugunung segera merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan lencana Chandrakapala dari emas. Adipati Agnibrata terkesiap melihat itu. Chandrakapala dari emas adalah bukti bahwa Panji Watugunung adalah kerabat dekat istana Daha. Hanya para pangeran atau putri raja Daha saja yang memiliki lencana ini.
"Ma-maaf. Siapa sebenarnya kau ini", Agnibrata gugup saat itu pula.
"Namaku Panji Watugunung, putra mantu Gusti Prabu Samarawijaya. Istri ku Ayu Galuh adalah putri sulung Prabu Samarawijaya", ujar Panji Watugunung dengan tersenyum tipis.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Agnibrata sangat bodoh, tidak tau tamu agung datang ke Kalingga".
"Sudahlah Gusti Adipati, jangan bersikap seperti itu. Aku kesini untuk meminta bantuan mu, bukan meminta kau menyembah ku", ujar Panji Watugunung segera.
Adipati Agnibrata segera duduk bersila di depan Panji Watugunung.
"Hamba akan senang hati jika Gusti Pangeran bersedia menyuruh hamba untuk melakukan sesuatu", ujar Adipati Agnibrata segera.
"Aku minta, persiapkan Pakuwon yang paling selatan di wilayah Kalingga untuk menjadi markas sementara pasukan Daha.
Lalu selidiki orang Tionghoa yang bernama Coa Bu Teng yang katanya memiliki hubungan dengan Adipati Gandakusuma.
Kirim pesan kepada semua Adipati di sekitar Paguhan untuk menyiapkan 1000 prajurit siap tempur.
Sementara aku akan ke Kawali menemui Prabu Darmaraja. Setengah purnama lagi, aku akan kembali ke Kalingga. Jika rencana besar ini sampai tercium Adipati Gandakusuma, jangan salahkan aku bertindak kejam", titah Panji Watugunung segera.
"Hamba akan laksanakan perintah Gusti Pangeran.
Untuk ke Kawali, sebaiknya Gusti Pangeran di kawal prajurit Kalingga", Adipati Agnibrata segera menghormat.
"Tidak perlu repot-repot,
Aku minta Lamana dan seorang penunjuk jalan yang tau jalan ke Kawali", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum.
Pagi itu juga, Panji Watugunung dan ketiga selir nya beserta Lamana dan Trajutrisna, seorang lelaki paruh baya yang pernah ke Kawali berangkat ke Kawali. Mereka berenam langsung memacu kudanya menuju kearah barat menuju Kadipaten Kembang Kuning.
Setelah melewati hutan perbatasan Kalingga dan Kembang Kuning, rombongan Panji Watugunung terus bergerak cepat menuju ke arah barat. Wilayah Kadipaten Kembang Kuning yang tidak terlalu besar, membuat mereka mampu menempuh jarak itu dalam sehari perjalanan.
Menjelang senja mereka memutuskan untuk berhenti di tepi Kali Agung, di sebuah wanua kecil yang bernam Cenggini. Sang pemimpin Wanua, Lurah Harja adalah seorang kaya raya yang memiliki banyak istri. Sifatnya yang mata keranjang karena merasa paling kaya membuat dia benar benar jumawa.
Rombongan Panji Watugunung hendak bermalam di rumah salah satu warga desa yang bernama Ki Ranu atas saran dari Trajutrisna yang pernah menginap disitu.
"Permisi Ki,
Masih ingat dengan saya?", ujar Trajutrisna setelah Ki Ranu membuka pintu rumah nya.
"Ahhh ini Trajutrisna kan?
Mari masuk, sudah lama sekali kau tidak mampir kesini", ujar Ki Ranu dengan ramah.
__ADS_1
"Iya Ki, saya menetap di Kalingga jadi jarang pulang ke Kawali.
Oiya Ki, saya membawa beberapa teman. Kami bermaksud untuk menyewa tempat Ki Ranu barang semalam saja", Trajutrisna tersenyum tipis.
"Boleh, boleh saja.
Untuk kalian berenam 6 kepeng perak sudah cukup. Kalau mau makan, tambah 3 kepeng perak lagi", Ki Ranu tersenyum simpul.
Sekar Mayang segera merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan 10 kepeng perak. Lalu memberikan nya pada Ki Ranu. Mata kakek tua itu langsung berbinar seketika melihat kepeng perak.
2 orang lelaki berwajah sangar yang melihat ada wanita cantik bermalam di tempat Ki Ranu, langsung berlari menuju rumah Lurah Harja.
Setelah sampai di rumah yang di maksud, mereka bergegas masuk ke halaman rumah.
Nampak Lurah Wanua Cenggini itu sedang minum arak di temani oleh 2 istri nya yang masih berumur belasan tahun.
"Ki... Ki Lurah, Ki Lurah..."
Teriakan dua orang lelaki berwajah sangar yang tak lain adalah centeng Lurah Harja, membuat lelaki paruh baya itu mendelik marah.
"Bangsat!
Mengganggu kesenangan ku saja", gerutu Lurah Wanua Cenggini itu sambil keluar dari rumahnya.
"Ada apa ha?! Apa kalian ingin aku hajar teriak teriak di depan pintu rumah ku sore sore begini?!", hardik Lurah Harja.
"Bukan Ki, bukan...
Ada wanita cantik yang menginap di rumah Ki Ranu Ki", ujar si centeng berbadan gempal.
"Alah mana mungkin? Di wanua ini sudah tidak ada wanita cantik", Lurah Harja mencibir ke arah centeng nya itu.
"Benar Ki Lurah,
Sepertinya mereka bukan dari daerah sini. Kelihatan dari cara berpakaian dan bahasanya Ki. Tiga wanita cantik loh Ki, kulit mereka putih seperti susu", ujar si centeng berbadan gempal memanasi otak Lurah Wanua Cenggini itu.
Hemmmm
"Awas kalau kalian menipu ku.
Segera panggil kawan kawan mu. Malam ini juga, kita ambil tiga wanita cantik itu", perintah Lurah Wanua Cenggini itu segera.
Dua orang centeng Lurah Harja tersenyum tipis. Dalam hati mereka sudah membayangkan mendapat sekantong kepeng perak dari Lurah Harja yang hendak mereka pakai untuk acara jaipongan di wanua sebelah.
Tak berapa lama kemudian, 10 orang centeng berkumpul di depan rumah Lurah Harja. Kemudian Lurah Harja memimpin mereka ke rumah Ki Ranu yang terletak di dekat dermaga penyeberangan Kali Agung.
Sesampainya di rumah Ki Ranu, Lurah Harja langsung berteriak lantang.
"Ki Ranu,
Serahkan tiga wanita cantik itu. Kalau tidak, aku hancurkan rumah mu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dukung author terus semangat menulis yah dengan like 👍, vote ☝️ dan komentar 🗣️ nya
Buat kakak reader tersayang yang sudah memberikan dukungannya, author mengucapkan beribu terima kasih ❤️❤️❤️
Selamat membaca guys 😁😁😁😁
__ADS_1