
**
Di wilayah Lwaram.
Di luar istana Pakuwon Lwaram, sekitar 10 ribu prajurit berkemah. Mereka dalam posisi siap berperang.
Di dalam istana Pakuwon, nampak Senopati Mpu Tandi sedang duduk mengelus jenggotnya. Senopati andalan Jenggala itu tampak berpikir keras setelah mendengar berita yang di sampaikan Tumenggung Srenggapati tentang kekuatan Panjalu yang baru menghabisi Padepokan Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam.
Hemmmm
"Jadi mereka mampu menghabisi Iblis Bukit Jerangkong dan Dewa Rampok. Mereka pasti orang orang dengan ilmu kanuragan tinggi", Mpu Tandi menatap wajah Tumenggung Srenggapati.
"Benar Gusti Senopati, saya yakin seperti itu. Awalnya pasukan Daha bisa di kalahkan oleh Iblis Bukit Jerangkong dan anggota nya, namun setelah seorang pemuda memimpin pasukan Daha, Iblis Bukit Jerangkong bahkan tewas di tangan nya", Tumenggung Srenggapati meneruskan kalimatnya.
"Hanya seorang pemuda? Bukan pendekar tangguh yang terkenal seperti Pendekar Gunung Wilis, atau Pedang Sewu dari Goa Lawa??", Mpu Tandi terbelalak lebar mendengar penuturan Srenggapati.
"Bukan Gusti Senopati, saya dengar dia adalah putra Bupati Gelang-gelang yang dikenal dengan sebutan Pendekar Pedang Naga Api", Srenggapati menghaturkan hormat.
"Putra Bupati Gelang-gelang? Panji Gunungsari?
Hemmmm
Bupati Gelang-gelang itu masih sepupu jauh Prabu Airlangga. Dia terkenal sakti pada masa mudanya, meski tak sehebat Prabu Airlangga.
Bibit unggul akan datang dari pohon yang bagus juga.
Kalau kita bertarung melawan mereka, kita mesti berhati-hati. Jangan gegabah kalau tidak ingin mati konyol. Apalagi sekarang aku dengar, ada pemimpin muda lain di wilayah Utara sini", Mpu Tandi menatap ke langit pagi itu.
"Benar Gusti Senopati, saya dengar ada pasukan kecil penjaga perbatasan. Mereka terbagi dua bagian, Utara dan Selatan. Saya dengar, putra Bupati Gelang-gelang itu lah yang memimpin pasukan selatan. Untuk yang Utara, putra kedua Adipati Muria yang bernama Balapati yang memimpin", Srenggapati mengelus kumis nya.
"Iya aku dengar juga begitu. Kita tidak bisa meremehkan kemampuan pemimpin pemimpin muda pasukan ini, salah satu sudah menunjukkan taringnya dengan membantai Iblis Bukit Jerangkong. Bukan tidak mungkin, yang satunya juga memiliki kemampuan setara.
Hemmmm
Aku malah kepikiran dengan kakang Socawarma. Biasanya dia gegabah tanpa mengumpulkan berita lebih dulu. Main hantam saja.
Srenggapati,
Kumpulkan berita sebanyak mungkin. Sebar orang mu untuk mendengarkan semua kabar yang ada. Sepekan lagi, aku minta semua berita itu sudah terkumpul di sini", titah sang Senopati.
"Sendiko dawuh Gusti Senopati", Tumenggung Srenggapati segera menghormat pada Mpu Tandi lantas bergegas keluar dari serambi peristirahatan sang Senopati.
**
Pakuwon Kadri, Utara istana Daha.
Ribuan prajurit dari berbagai wilayah Panjalu, sudah mulai berdatangan. Dari Kurawan, Lewa, Wengker, Tanggulangin,Karang Anom sudah berkumpul di selatan istana Pakuwon itu. Sementara itu, pasukan dari Bumi Sambara, Paguhan, Kalingga, Kembang Kuning, Lasem, dan Muria berkumpul di utara istana Pakuwon.
Pasukan Seloageng yang di pimpin Tumenggung Gati dan Gelang-gelang dipimpin oleh Tumenggung Sancaka berkemah di wilayah Sengkapura, atas saran dari Mapatih Jayakerti.
Senopati Ganggadara, di bantu Senopati muda Narapraja mengatur tempat perkemahan pasukan bantuan dari wilayah daerah Daha itu.
Senopati Ganggadara terlihat membaca beberapa laporan telik sandi yang mengirim pesan lewat merpati saat Senopati muda Narapraja masuk bersama Tumenggung Ringkasamba dari Kurawan. Sebagai Panglima Pasukan Daha, dia bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi.
"Kakang Ganggadara, aku mengantar Kepala Pasukan dari Kurawan yang baru datang", ujar Senopati muda Narapraja.
"Bagus Adi Narapraja,
Dengan begini semua pasukan bantuan dari para penguasa daerah sudah berkumpulnya semuanya.
Kepala pasukan Kurawan, siapa namamu?", Ganggadara menatap wajah Tumenggung Ringkasamba.
"Hamba Tumenggung Ringkasamba, dari Kurawan Gusti Senopati.
Mohon maaf jika hamba lancang, hamba ingin bertemu dengan utusan dari Daha yang pernah datang ke Kurawan mengantar surat. Dari cerita Gusti Pangeran Wangsaatmaja, dia adalah seorang kepala pasukan dan juga seorang pangeran.
Dimana hamba bisa bertemu dengan orang itu Gusti Senopati?", Tumenggung Ringkasamba memberi hormat.
Senopati Ganggadara dan Senopati muda Narapraja saling berpandangan sejenak.
"Pangeran? Jangan jangan maksud mu adalah Gusti Pangeran Panji Watugunung?", Senopati Ganggadara menyelidik.
"Benar Gusti Senopati, saat pertama bertemu dia hanya mengaku bernama Watugunung saja.
Hamba pernah merendahkan nya, jadi kalau ada kesempatan, hamba ingin meminta maaf kepada beliau", Tumenggung Ringkasamba menunduk.
"Hehehehe..
Dia adalah putra mantu Gusti Prabu Samarawijaya. Walaupun bangsawan, dia tetap rendah hati. Aku baru mendengar kabar, kalau dia baru saja menumpas gerombolan pengacau dari Bukit Jerangkong yang sempat menguasai Watugaluh.
__ADS_1
Kau tenang saja, Tumenggung Ringkasamba.
Pasti ada kesempatan untuk bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Watugunung", Senopati Ganggadara tersenyum tipis.
"Adi Narapraja, apa ada kabar terbaru dari masing-masing telik sandi yang kau kirim?", sambung Sang Senopati Ganggadara pada Senopati muda Narapraja.
"Sampai saat ini belum Kakang, tapi aku sudah meminta Balapati dari Pasukan Garuda Panjalu Utara untuk segera mengabari ku jika ada gerakan", Narapraja mengelus kumis tipis nya.
Mereka bertiga berbincang hangat kemudian.
**
Hupppp...
Hiyaaaaaatttttt...
Blammmm!!!
Ledakan keras terdengar saat sinar merah menyala seperti api menghajar batu besar di tepi sungai Brantas. Panji Watugunung segera menata nafasnya.
Sepasang Sriti Perak segera mendekati Panji Watugunung mengikuti langkah Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.
"Sepertinya keadaan mu sudah pulih sepenuhnya Kakang", ujar Ratna Pitaloka sambil menyeka peluh yang membasahi kening suaminya itu.
Dewi Srimpi segera mengulurkan kendi air minum pada Panji Watugunung. Pria tampan itu menerima nya sambil tersenyum manis.
"Sebaiknya kita beristirahat di rumah saja Gusti Pangeran, ini sudah cukup siang untuk makan", ujar Sriti Lanang yang di sambut anggukan kepala oleh Sriti Wadon.
Selama dua hari ini, Panji Watugunung terus berlatih di Wanua Klakah untuk memulihkan kondisi tubuh nya. Urusan pasukan Garuda Panjalu, di tangani Ki Saketi. Pemerintah sementara di pegang oleh Bekel Setyaka di bantu Dewi Tunjung Biru. Untuk pasukan Anjuk Ladang, ada Tumenggung Koncar yang mengatur nya.
Kemarin Ayu Galuh dan Sekar Mayang yang menemani nya berlatih, hari ini Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi yang ikut.
"Mari Paman", Panji Watugunung melangkah menuju ke arah Wanua Klakah di ikuti oleh semua orang. Di gapura wanua, Warigalit sudah menunggu kedatangan nya.
"Adik, aku butuh bantuan mu", Warigalit setengah berbisik pada Panji Watugunung.
"Ada apa Kakang? Tumben berbisik begitu", tanya Watugunung penasaran dengan omongan Warigalit yang di luar kebiasaan.
Warigalit segera melirik ke arah sepasang Sriti Perak, Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi.
"Tidak disini", Warigalit mencebikan bibirnya pada pengikut di belakang Panji Watugunung.
"Kalian semua, duluan saja ke rumah. Aku ada urusan dengan Kakang Warigalit", Panji Watugunung segera menoleh ke arah Ratna Pitaloka, Dewi Srimpi dan. Sepasang Sriti Perak.
Empat orang itu mengangguk tanda mengerti, dan Panji Watugunung dan Warigalit segera melompat ke udara dan melesat cepat kearah dermaga Wanua Klakah.
Mereka berdua segera turun ke sebuah batu besar di bawah pohon rindang di tepi sungai Brantas, barat dermaga.
"Ada apa Kakang? Tidak biasanya kakang seperti ini", tanya Panji Watugunung saat mereka sudah duduk berdua.
Warigalit menghela nafas panjang sebelum berkata.
"Sebenarnya aku malu untuk bertanya pada mu Adik. Tapi aku tidak punya teman lagi untuk ku ajak bicara".
"Bicara saja Kakang, mungkin aku bisa mencarikan pemecahan masalah yang kakang hadapi saat ini", Panji Watugunung semakin penasaran.
Hemmmm
"Sudah lama aku menyukai Ratri. Kau tau sendiri kan? Akhir akhir ini, karena kesibukan kita, aku jadi kurang memperhatikan nya.
Kemarin dia marah pada ku. Seharian ini bahkan mendiamkan ku. Aku bingung Adik, apa yang harus aku lakukan??", Warigalit tampak kusut wajah nya.
Panji Watugunung segera tersenyum tipis.
"Sekarang aku tanya pada Kakang, tolong jawab dengan jujur.
Apa kakang mencintai Ratri?".
"Kalau itu sudah tidak perlu kau tanya lagi Adik", jawab Warigalit sambil menatap wajah Panji Watugunung.
"Apa Kakang sudah mengucapkan kata cinta pada Ratri?", Panji Watugunung kembali bertanya.
"Kalau itu belum Adik. Aku takut dia menolaknya", Warigalit nampak jelas kebingungan.
Panji Watugunung segera tersenyum manis saat mendengar ucapan Warigalit.
"Kakang, perempuan itu mahluk paling rumit sedunia. Sekalipun dia tau kita para laki-laki menyukai mereka, tapi kalau mulut kita tidak berkata cinta, maka selamanya mereka hanya menganggap kita teman dekat.
Jadi kakang harus berani, jangan takut".
__ADS_1
"Tapi kalau di tolak, bagaimana adik?", Warigalit menatap wajah Panji Watugunung penuh pengharapan.
"Yakin dulu Kang, urusan hasil itu belakang. Jangan menyerah sebelum berperang", ucap Panji Watugunung yang segera di sambut anggukan kepala oleh Warigalit.
Usai puas berbincang, mereka segera bergegas menuju kediaman Lurah Wanua Klakah, Sriti Lanang. Mereka makan sambil bercengkrama dengan santai.
Langit sore mulai merah saat mereka tiba di istana Pakuwon Watugaluh.
Warigalit segera mencari Ratri di balai peristirahatan. Perempuan itu tidak ada disana. Setelah bertanya pada Sekar Mayang yang kebetulan lewat, Warigalit segera menuju taman belakang tempat pribadi anggota keluarga istana.
Ratri sedang duduk di kursi kayu yang ada di bawah pohon sawo besar di sudut barat taman.
Gadis itu nampak sedang melamun.
"Ratri, maaf jika aku mengganggumu".
Kata kata Warigalit itu membuat Ratri segera sadar dari lamunannya.
"Kakang Warigalit, mengagetkan ku saja ah", ujar Ratri sambil menepuk pundak Warigalit yang duduk di sebelah nya.
"Maaf Ratri.
Begini ada eeee ada eeee hal yang ku bicarakan padamu", Warigalit terlihat grogi.
Ratri menatap wajah Warigalit. Dan itu semakin membuat Warigalit kebingungan.
"Ada apa Kang?"
Warigalit semakin grogi. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Antara takut dan tidak, akhirnya dia berkata setelah menghembuskan nafas nya kuat kuat.
"Aku mencintaimu, maukah kau menikah dengan ku?", Warigalit memejamkan matanya.
Sunyi.
Tak ada jawaban.
Perlahan Warigalit membuka sebelah mata nya, dan senyum Ratri membuat nya semakin deg-degan tak karuan.
"Apa kau bersedia Ratri??", tanya Warigalit lagi.
Cucu Mpu Narasima itu hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Sudah lama dia menyukai Warigalit.
Warigalit lega seketika. Seketika itu juga dia langsung memeluk tubuh Ratri.
"Main peluk sembarangan. Ini tempat umum Kakang Warigalit", teriak Panji Watugunung dan keempat istrinya sambil tersenyum simpul. Mereka diam diam membuntuti Warigalit sejak tadi.
Dua orang itu langsung melepaskan diri dari pelukan mesra mereka. Wajah mereka langsung merah seperti udang bakar.
'Duhh malunya'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hehehehe 😁😁😁😁
Terimakasih banyak author ucapkan untuk kakak reader tersayang yang sudah memberikan dukungannya terhadap cerita ini ❤️❤️
Semoga setia menemani sampai novel ini tamat nanti 🙏🙏🙏
__ADS_1
Selamat membaca guys 😁😁