
Panji Watugunung hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Gumbreg. Pria tambun itu memang seperti itu kelakuan nya. Sekalipun suka asal dan aji mumpung, tapi dia sangat setia menemani Panji Watugunung dalam beberapa pertempuran besar yang telah mereka lewati.
Siang itu Lurah Wanua Sambu menjamu para tamu agung mereka di serambi kediaman nya. Rupanya Lurah Mpu Sengka sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Panji Watugunung beberapa hari sebelumnya, sehingga hidangan yang disajikan sangat istimewa. Pria sepuh itu bahkan menyembelih kambing dan puluhan ekor ayam untuk memberikan hidangan terbaik untuk rombongan Panji Watugunung.
Mereka makan dengan lahap.
Gumbreg yang sedang kesal karena ancaman Warigalit, melampiaskan amarahnya dengan menyambar seekor ingkung ayam gemuk yang ada di depannya. Habis seekor, tangan Gumbreg langsung mengangkat seekor ayam ingkung lagi.
Weleng yang setia menemani sang pemimpin pergudangan, tak tahan untuk tidak nyeletuk di dekat Gubarja, sesama wakil Gumbreg di pergudangan.
"Gusti Demung itu makan apa kesurupan sih?", suara Weleng pelan tapi masih terdengar oleh telinga Gumbreg.
"Ini semua gara gara mulut mu Leng", ujar Gumbreg sambil terus menyantap ayam ingkung nya.
"Lha kog saya yang salah Gusti Demung?
Salah saya apa?", tanya Weleng yang merasa tidak bersalah.
"Mulutmu itu ember. Gara gara kamu, aku diancam suruh jalan kaki pulang ke Kadiri oleh Gusti Senopati Warigalit", omel Demung Gumbreg sambil mendelik pada Weleng.
"Lha kan saya cuma cerita apa adanya Gusti Demung. Tidak lebih tidak kurang", jawab Weleng sambil menunduk.
"Cerita ya cerita. Tapi lihat situasi dong. Gusti Senopati Warigalit itu kejam, lain dengan Gusti Pangeran Jayengrana.
Kalau bilang iya, ya pasti di jalankan.
Kalau sampai aku disuruh pulang jalan kaki, kau harus menggendong ku sampai ke Kota Kadiri. Tidak mau gaji bulan depan aku potong.
Mau kau?", ujar Demung Gumbreg dengan senyum penuh ancaman
Wajah Weleng langsung pucat seketika. Bukan masalah gajinya dipotong, tapi kalau sampai dia disuruh menggendong tubuh Gumbreg yang seperti kerbau bunting, belum keluar dari Wanua Sambu dia pasti sudah tewas kehabisan nafas.
"Ampun Gusti Demung,
Saya mohon ampun", ujar Gumbreg sambil berlutut pada Gumbreg.
"Nanti usai makan kau minta pada Gusti Senopati untuk memaafkan kesalahan kita. Sekarang sana pergi", ujar Gumbreg sambil cekikikan melihat Weleng yang ketakutan dan segera beringsut ke belakang.
"Rasakan sekarang", timpal Gumbreg sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sepanjang hari itu, Panji Watugunung dan rombongannya berkeliling melihat keadaan wilayah persawahan di Wanua Sambu.
Juga rencana pembangunan saluran air yang akan digunakan sebagai sarana untuk pembangunan lahan persawahan baru dengan mengubah sawah tadah hujan menjadi sawah pengairan.
Para sesepuh Wanua, tokoh masyarakat dan para pemuda desa saling berpandangan dengan pemikiran sang Yuwaraja. Mereka benar benar gembira mendengar ucapan sang Pangeran Daha yang akan membantu biaya pembangunan mereka.
Menjelang sore, Panji Watugunung dan rombongannya kembali pulang ke Kota Kadiri.
Para penduduk Wanua Sambu mengantar kepergian mereka hingga ke gapura tapal batas Wanua Sambu.
Saat rombongan Panji Watugunung sampai di istana Katang-katang, para istri menyambut kedatangan mereka.
"Kangmas Panji,
Selamat datang kembali di istana Katang-katang", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum manis.
Keenam istri Panji Watugunung yang lain ikut tersenyum simpul.
Panji Tejo Laksono dan Mapanji Jayawarsa juga ikut menyambut kedatangan ayah mereka. Dengan di gendong Wandansari dan Tantri, dua pangeran kecil itu menatap ke arah Panji Watugunung.
Pangeran Daha itu segera mendekat dua putra nya dan mencium pipi tembem mereka. Panji Tejo Laksono yang mulai tumbuh gigi memamerkan senyum nya, Sementara Mapanji Jayawarsa hanya manggut-manggut saja.
Malam itu mereka berkumpul di istana pribadi Panji Watugunung.
"Kangmas,
Apa rencana Kangmas untuk kedepannya?", tanya Dewi Anggarawati sambil menggendong Panji Tejo Laksono.
"Aku akan ke Gelang-gelang Dinda..
Tempo hari Romo Bupati meminta ku untuk menemui nya terkait rencana pernikahan Nimas Anggraeni dengan putra Penguasa Lodaya.
Mereka sudah mengajukan lamaran beberapa waktu yang lalu, tapi Romo Bupati meminta pertimbangan dari ku", jawab Panji Watugunung segera.
"Kalau memang Dinda Anggraeni sudah siap, segerakan saja Kangmas. Jika Gelang-gelang berbesan dengan Lodaya, bukankah itu akan menguatkan posisi Panjalu dalam menghadapi Jenggala?", usul Ayu Galuh yang sedang berdiri sambil menggendong Mapanji Jayawarsa yang tengah menyusu.
"Aku juga berpikir begitu Dinda Galuh.
Tapi masalahnya kita belum tahu seperti apa wajah dan kelakuan putra Pangeran Arya Prabu itu. Sejauh ini hanya berita baik yang terdengar, selebihnya hanya berita angin yang belum tentu kebenarannya", ujar Panji Watugunung sembari mengelus dagunya.
"Iraha urang mios ka Gelang-gelang, Akang Kasep??
Abdi teh pengen bertemu dengan Abah Bupati", tanya Dewi Naganingrum sambil tersenyum tipis.
"Rencana ku besok, Dinda Naganingrum.
Kau mau ikut?", tanya Panji Watugunung sambil menatap wajah cantik Putri bungsu Prabu Darmaraja itu.
"Ikut Akang Kasep,
Abdi teh bosan kalau di istana terus", jawab Dewi Naganingrum segera.
"Pepet terus,
Nempel sekalian di ketek Kakang Watugunung", sindir Sekar Mayang yang disambut gelak tawa para istri Panji Watugunung yang lain.
"Besok, biar Kangmas Panji Watugunung berangkat dengan Naganingrum, Rara Sunti dan Srimpi.
Kakang Warigalit sedang repot mengurus perekrutan prajurit baru, jadi Kangmas harus membawa beberapa prajurit untuk mengawal", ucap Dewi Anggarawati sambil tersenyum simpul.
Panji Watugunung setuju. Usai berbincang beberapa waktu, mereka segera kembali ke tempat masing-masing kecuali Rara Sunti yang malam ini adalah giliran waktu nya menemani sang suami.
__ADS_1
Mereka berdua kini sudah berada di dalam kamar pribadi Panji Watugunung.
Wajah cantik putri Warok Suropati itu berbinar-binar bahagia. Sekian lama dia bersabar, akhirnya punya kesempatan berjalan bersama dengan Panji Watugunung.
"Kenapa kau senyum senyum begitu, Dinda Sunti? Apa ada hal yang menyenangkan hati mu", tanya Panji Watugunung sambil melepaskan mahkota Yuwaraja dan meletakkan nya di meja samping tempat tidur nya.
Rara Sunti yang membantu Panji Watugunung melepas gelang bahu segera menoleh kearah sang suami.
"Cempluk senang Kakang..
Akhirnya Kakang mau mengajak Cempluk untuk bertualang bersama", jawab Rara Sunti sambil tersenyum manis.
"Selama ini Kakang tidak mengajak mu bukan karena tidak sayang padamu, tapi Kakang khawatir dengan keadaan mu. Kakang tidak bisa selalu menjaga mu jika kamu ikut serta dalam perjalanan ku", ucap Panji Watugunung yang segera duduk di tepi ranjang tidur nya.
"Maka dari itu Kakang,
Nanti akan Kakang lihat bahwa Cempluk bisa menjaga diri", Rara Sunti segera ikut duduk di samping suaminya.
Panji Watugunung tersenyum tipis saja dan mengelus rambut hitam panjang Rara Sunti. Perempuan cantik berkulit sawo matang itu segera merebahkan kepalanya di dada Panji Watugunung.
Malam itu mereka memadu kasih menuju ke puncak asmara.
Pagi menjelang tiba di istana Katang-katang. Suara riuh kokok ayam jantan bersahutan membangunkan para penghuni Istana. Langit timur semakin terang, saat sang mentari pagi mulai menatap bumi dengan sinar hangat nya.
Panji Watugunung terbangun dari tidurnya saat merasa sesuatu yang basah dan hangat mendarat di bibirnya.
Rara Sunti yang tidak menyadari bahwa Panji Watugunung telah bangun, terus menciptakan bibir tipis sang Yuwaraja.
"Semalam masih kurang puas ya Dinda?", ujar Panji Watugunung yang membuat kaget Rara Sunti.
Saat Rara Sunti hendak menjauh, Panji Watugunung segera mendekap pinggang ramping selir termuda nya itu.
"Maaf sudah mengganggu tidur mu Kakang", ujar Rara Sunti yang malu dengan ulah nya. Perempuan cantik itu membenamkan wajahnya ke dada Panji Watugunung.
"Tidak apa-apa Dinda Sunti,
Tapi kau harus tanggung jawab", jawab Panji Watugunung dengan senyum nakalnya.
"Tanggung jawab bagaimana Kakang?
Cempluk masih tidak mengerti", Rara Sunti terlihat kebingungan.
Panji Watugunung tidak menjawab, namun meraih tangan kiri Rara Sunti dan memasukkan nya ke bawah selimut di bawah perut Panji Watugunung.
Wajah cantik Rara Sunti langsung merona merah.
Pagi itu, kembali mereka bertarung di atas ranjang tidur Panji Watugunung.
Usai kegiatan menguras tenaga mereka pagi itu, Panji Watugunung segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Gelang-gelang. Dengan dibantu oleh Dewi Srimpi, Naganingrum dan Rara Sunti, Panji Watugunung memakai pakaian keseharian nya.
Usai makan bersama di sasana boga bersama para istri, Panji Watugunung dengan ditemani Naganingrum, Dewi Srimpi dan Rara Sunti berangkat menuju ke Kabupaten Gelang-gelang dengan di kawal 20 prajurit Kadiri yang di pimpin oleh Demung Rakai Sanga.
Para istri mengantar mereka hingga di pintu gerbang istana Katang-katang.
Sementara itu di sebuah penginapan di luar tembok istana Gelang-gelang, Dewi Ambarwati yang baru selesai mandi, bersiap untuk sarapan pagi di rumah makan yang menjadi satu dengan penginapan tempat mereka bermalam.
"Apa rencana mu hari ini Gusti Putri?
Apa kita akan ke istana hari ini?", tanya Puspa Abang yang duduk di sebelah kanan Dewi Ambarwati.
"Iya Puspa Abang..
Hari ini kita akan ke istana Gelang-gelang usai makan pagi. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Watugunung", jawab Dewi Ambarwati segera.
Tak berapa lama kemudian seorang pelayan mengantar makanan untuk mereka. Saat mereka sedang asyik menikmati hidangan rumah makan itu, dari arah pintu rumah makan beberapa orang berpakaian putih masuk.
"Itu dia Guru,
Perempuan itu yang memukuli paman Kramayuda hingga luka parah", tunjuk seorang lelaki muda yang ternyata adalah Jayaseta yang kemarin di hajar Dewi Ambarwati. Rupanya dia tidak terima dengan kekalahannya.
Hemmmm
Seorang lelaki paruh baya berbadan tegap dengan kumis mulai memutih mendengus dingin kemudian menatap ke arah Dewi Ambarwati dan kedua pengiringnya yang tengah makan. Dia adalah guru besar Perguruan Pedang Perak, Bomantara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Pedang Kilat.
Bomantara segera melirik ke arah sebuah kendi air minum yang ada di meja kosong di sebelah kanan tempat nya berdiri.
Dengan halus, Bomantara memutar telapak tangan kanannya. Kendi air minum tiba-tiba terangkat dari meja makan dan melayang cepat kearah Dewi Ambarwati saat tangan Bomantara mengibas.
Whuuussshh
Dewi Ambarwati yang merasakan angin dingin tenaga dalam merangsek ke arah nya, segera melemparkan cangkir minumnya menyongsong kendi air minum.
Braakkkk!
Dua benda itu berbenturan di udara dan hancur berkeping keping saat jatuh ke tanah.
Dewi Ambarwati dan kedua pengiringnya segera berdiri dari tempat duduknya sementara para pengunjung rumah makan itu langsung berlari berhamburan keluar dari tempat itu.
Melihat kedatangan Jayaseta, Dewi Ambarwati langsung mengerti apa maksud kedatangan mereka.
"Hooohh rupanya ada yang tidak terima dengan kekalahannya.
Majulah, jangan membuang waktu ku", teriak Dewi Ambarwati segera.
"Jumawa sekali kau, gadis muda.
Apa kau tidak tahu siapa aku?", Bomantara atau Pendekar Pedang Kilat menatap wajah Dewi Ambarwati dengan pandangan meremehkan.
"Aku tidak peduli siapa kau, paman tua.
Cecunguk itu yang kemarin mencari masalah dengan ku. Selama aku tidak salah, aku tidak takut menghadapi siapapun", ujar Dewi Ambarwati sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Dia adalah murid Perguruan Pedang Perak. Kau sudah melukai 2 murid Perguruan Pedang Perak. Hari ini bersiaplah, aku Pendekar Pedang Kilat tidak akan memberi ampun", ujar Bomantara sambil mencabut pedangnya yang berwarna putih keperakan.
"Majulah paman tua, aku tidak akan mundur", ucap Dewi Ambarwati yang juga segera mencabut pedangnya.
Bomantara segera melesat cepat kearah Dewi Ambarwati sembari mengayunkan pedangnya kearah leher Dewi Ambarwati.
Sreeeetttt
Putri Rakeh Pamintihan itu dengan cepat menendang meja makan di depan nya. Meja melayang ke arah Bomantara.
Bruakkk
Meja makan langsung hancur berantakan terkena sabetan pedang Pemimpin Perguruan Pedang Perak. Saat yang bersamaan, Dewi Ambarwati melesat cepat kearah Bomantara sambil menyabetkan pedang nya.
Si Pedang Kilat dengan cepat memutar pedang dan menangkis sabetan pedang Dewi Ambarwati.
Tringgggg!
Dewi Ambarwati segera merubah gerakan dan menghantam dada Si Pedang Kilat dengan tangan kiri nya.
Si Pedang Kilat segera menyongsong dengan serangan tapak kiri nya.
Blammmmm
Baik Dewi Ambarwati maupun Si Pedang Kilat terdorong mundur beberapa langkah kebelakang.
Tenaga dalam mereka berdua berimbang, hanya berbeda beberapa urat.
Si Pedang Kilat segera melesat cepat sambil mengeluarkan jurus Pedang Selaksa Bayangan nya. Ratusan bayangan pedang tercipta dan menyerang ke arah Dewi Ambarwati.
Perempuan cantik segera memindah pedangnya ke tangan kiri dan menghantamkan tangan kanannya yang dilambari Ajian Gelap Ngampar.
Siiiiiuuuuuuutttt
Sinar biru kemerahan segera menerabas cepat kearah Si Pedang Kilat.
Bomantara terkejut melihat ajian andalan itu, segera menarik serangan nya, dan melompat ke samping pada jendela rumah makan untuk menghindari serangan mematikan dari Dewi Ambarwati.
Sinar biru kemerahan menghantam dinding kayu rumah makan.
Blarrrr!!
Dinding kayu rumah makan jebol dan kayu nya berserakan di lantai.
Melihat lawannya lolos, Dewi Ambarwati segera mengejar Bomantara yang sudah ada di halaman rumah makan.
Dari arah gerbang istana Gelang-gelang, ratusan prajurit Kabupaten Gelang-gelang bergerak mengepung tempat itu. Rupanya ada yang melaporkan kejadian itu ke Senopati Sancaka.
Pria paruh baya berbadan tegap itu segera turun dari kudanya dan mendekati mereka.
"Apa kalian sudah bosan hidup? Berani sekali membuat kekacauan di depan istana Gelang-gelang", ujar Senopati Sancaka dengan keras.
"Aku hanya menuntut balas atas perlakuan gadis itu, Gusti Senopati.
Perguruan Pedang Perak tidak pernah membuat onar jika tidak di salahi", ujar Bomantara sambil menatap tajam ke arah Dewi Ambarwati.
"Kalau orang mu tidak membuat perkara lebih dulu, apa kau pikir aku mau berurusan dengan perguruan kroco seperti kalian?", Dewi Ambarwati tak mau kalah.
Saat mereka sedang beradu pendapat, dari kejauhan rombongan Panji Watugunung dan ketiga istrinya mendekat ke arah tempat itu.
"Ada apa kalian ribut disini?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏