Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Reka Daya Mpu Rikmajenar


__ADS_3

"Iblis Mata Satu,


Jangan gegabah dalam bertindak. Kau tidak tahu seperti apa kekuatan Maharaja Panjalu ini. Kalau raja terdahulu mungkin tidak bisa selamat dalam satu jurus mu, tapi kalau dia mungkin kau yang tidak bisa bertahan dalam dua gebrakannya", ujar Akuwu Martayuda yang langsung mengenali pria bermata satu di depannya itu segera.


Iblis Mata Satu memang mencuat ke permukaan para pendekar golongan hitam usai hancurnya Padepokan Bukit Jerangkong bersama kematian Iblis Bukit Jerangkong dan Dewa Kematian dari Gunung Hitam. Berasal dari lereng selatan Gunung Mandrageni di wilayah Bhumi Sambara, membuat Akuwu Martayuda harus mengeluarkan biaya banyak untuk menyewanya. Untung saja keuangan yang tak terbatas di berikan oleh Mpu Rikmajenar hingga dia tidak kesulitan membayar jasa pendekar itu.


"Ah aku tidak takut Gusti Akuwu..


Aku akan menghancurkan batok kepala Raja sombong itu dengan Golok Api ku", ujar Iblis Mata Satu sambil menyeringai lebar.


Phuihhhh..


"Lagak mu seperti jagoan nomor satu di dunia persilatan saja, Mata Satu..


Apa benar kau sehebat itu?", sahut seorang perempuan cantik dengan dandanan menor seperti seorang tledek atau penari penghibur keliling. Dia adalah Nyi Kembang Selasih, seorang tokoh golongan hitam terkemuka yang berjudul Setan Betina dari Gunung Kapur. Perempuan itu mungkin berupa perempuan cantik berusia 3 windu, namun sebenarnya usia nya jauh lebih tua dari itu. Ada desas-desus yang beredar bahwa Nyi Kembang Selasih meminum darah bayi yang baru lahir sebagai syarat ilmu awet muda nya.


"Jaga mulutmu, Setan Betina.


Biarpun kita satu kelompok dengan Gusti Akuwu tapi aku tidak keberatan jika di suruh membelah kepala mu itu. Aku masih ingat kau membunuh saudara seperguruan ku", Iblis Mata Satu bersiap mencabut golok besar yang tersimpan di sarungnya.


Ciiihhhhhhh....


"Apa kau pikir aku takut melawan mu Mata Satu?


Pecut Ekor Naga ku masih mampu untuk membelah tubuh mu", ucap Nyi Kembang Selasih sambil mendekap gagang cambuk nya.


"Sudah cukup hentikan!


Apa kalian tidak bisa rukun sebentar saja? Disini ada paman ku yang membayar kalian dengan mahal. Setidaknya hormatilah dia", teriak Akuwu Martayuda yang langsung membuat pertengkaran antara Iblis Mata Satu dan Setan Betina dari Gunung Kapur itu terhenti.


"Kalamaruta, kenapa kau diam saja?", Akuwu Martayuda menoleh ke arah seorang lelaki tua bermata cekung bertubuh kurus yang ada di sudut tempat itu namun hanya menunduk. Meski wajah nya tidak jelas karena jubah hitam compang camping menutupi hampir seluruh wajahnya, namun sorot mata yang menakutkan terpancar dari wajah lelaki tua itu.


Diantara keduabelas jagoan yang di sewa oleh Akuwu Martayuda, hanya seorang yang berilmu sebanding dengan Iblis Mata Satu maupun Setan Betina dari Gunung Kapur. Dia adalah Kalamaruta atau juga yang di kenal sebagai Demit Hitam dari Pesisir Selatan. Dia sebenarnya tidak tertarik untuk menjadi pendekar sewaan Mpu Rikmajenar, namun begitu mendengar lawan nya adalah Panji Watugunung, api dendam yang lama tersimpan berkobar kembali. Dia ingin menuntut balas atas kekalahan Brotoseno, putra Akuwu Tapa yang menjadi cacat akibat Ajian Waringin Sungsang sewaktu pertarungan di rumah Warok Surapati dulu.


Kalamaruta mendengus dingin sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Kalau mereka susah di atur, bantai saja mereka Gusti Akuwu..


Bikin pusing saja", ucap Kalamaruta alias Demit Hitam dari Pesisir Selatan sambil mendelik tajam ke arah Iblis Mata Satu dan Setan Betina itu.


Iblis Mata Satu hanya mendengus keras mendengar ucapan Demit Hitam dari Pesisir Selatan, pun Setan Betina itu langsung membuang muka. Mereka sadar melawan Demit Hitam jika sendiri belum tentu mereka menang, sedangkan para pendekar lainnya belum tentu mau membantu mereka.


Akuwu Martayuda menarik nafas lega karena perdebatan mereka berakhir. Akuwu Martayuda segera menoleh ke arah Mpu Rikmajenar, menunggu orang tua itu angkat bicara.


Hemmmmmmm..


"Mendengar nama besar kalian, aku percaya kalian bisa mengalahkan Prabu Jayengrana.


Berita yang aku dengar, mereka tengah menuju ke arah istana Daha. Aku ingin kalian mencegat mereka disini karena jika sampai di Daha kalian tidak mungkin bisa menembus pertahanan para prajurit. Kini mereka hanya memimpin sekitar 5 ribu prajurit dan itu sebanding dengan para prajurit yang disiapkan oleh Sumantri dan Martayuda.


Martayuda keponakan ku akan memimpin kalian dalam tugas ini", ujar Mpu Rikmajenar sambil menatap ke arah para pendekar golongan hitam yang ada di depan nya.


Para pendekar golongan hitam itu hanya manggut-manggut saja dan menoleh ke arah Akuwu Martayuda. Pandangan mereka seolah bertanya kepada Akuwu Cempaka itu kapan mereka bergerak.


"Segera akan ku kabari kalian, karena paling lambat dalam 1 atau 2 hari ke depan, Prabu Jayengrana akan sampai ke tempat ini", ujar Akuwu Martayuda sambil menatap wajah para pendekar golongan hitam itu segera.


Usai Mpu Rikmajenar merasa puas dengan apa yang sudah di lakukan oleh Akuwu Martayuda, pria tua itu segera mengajak Akuwu Martayuda untuk kembali ke istana Pakuwon Cempaka.


Sesampainya di istana Pakuwon Cempaka, Mpu Rikmajenar dan Akuwu Martayuda segera masuk ke tempat pribadi sang Akuwu. Disana sudah menunggu kepala prajurit Pakuwon Cempaka yaitu Bekel Surenggana dan seorang lelaki bertubuh gempal yang merupakan pimpinan pasukan bawah tanah yang di persiapkan oleh Mpu Rikmajenar, Sumantri yang juga terkenal di dunia persilatan sebagai Pendekar Pedang Tunggal. Sumantri adalah anak dari Akuwu Bendo di wilayah Kadipaten Muria yang tewas dalam pemberontakan Adipati Ratnapangkaja dan Ranggawangsa tempo hari. Mpu Rikmajenar memang mengumpulkan orang-orang yang sakit hati pada Panji Watugunung sebagai pasukan bawah tanah nya. Reka daya ini sudah dia susun sejak tewasnya Ranggawangsa di Kadipaten Muria.


Kedua orang itu segera menghormat pada Mpu Rikmajenar dan Akuwu Martayuda.


"Bagaimana keadaan pasukan yang kau pimpin Sumantri? Apa mereka sudah bersiap untuk menghadapi pasukan Panjalu?", tanya Mpu Rikmajenar pada Sumantri yang duduk bersila di hadapannya.


"Semuanya sudah siap bergerak Gusti Mahamantri..


Tinggal menunggu perintah dari Gusti", ujar Sumantri sambil menghormat pada Mpu Rikmajenar.


"Dimana kau tempatkan orang-orang mu Sumantri?", Mpu Rikmajenar menatap wajah pria berkumis tipis itu dengan seksama.


"Mereka hamba tempatkan di sepanjang bantaran Sungai Wulayu Gusti..


Semuanya berjumlah 3 ribu pendekar yang memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni, satu orang dari mereka sanggup mengalahkan 2 sampai 3 prajurit sekaligus", jawab Sumantri seakan mengerti tatapan mata Mpu Rikmajenar.


"Tata sebaik-baiknya orang orang mu Sumantri, aku tidak mau ada kegagalan dalam tugas ini.


Sebab jika sampai gagal, pasukan Panjalu akan memburu kita seperti mereka memburu Pangeran Suryanata", ujar Mpu Rikmajenar sembari menatap jauh ke langit biru di luar atap bangunan istana Pakuwon Cempaka.


"Paman Mahamantri tidak perlu khawatir lagi. Aku yakin kita bisa mengalahkan pasukan Panjalu yang jumlahnya tidak seberapa besar itu. Surenggana juga sudah menyiapkan 1000 prajurit untuk membantu rencana kita.


Di samping para pasukan bawah tanah yang di pimpin oleh Sumantri, kita masih memiliki para pendekar berilmu tinggi yang tadi kita kunjungi.

__ADS_1


Sesakti apapun Panji Watugunung, dia pasti kerepotan melawan mereka semua. Aku yakin itu Paman", ucap Akuwu Martayuda dengan nada berapi-api.


Dari arah luar Bajong, Sampung dan Gombang masuk ke dalam ruangan itu. Usai menghormat pada Mpu Rikmajenar dan Akuwu Martayuda, mereka duduk bersila dengan rapi.


"Bagaimanapun Jong?


Apa perbekalan yang kau siapkan sudah tertata rapi?", tanya Mpu Rikmajenar pada Bajong, pengalasan nya.


"Mohon ampun Gusti Mahamantri,


Sesuai perintah Gusti Mahamantri kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik di timur kota Pakuwon ini. Apa perlu Gusti Mahamantri memeriksa nya?", Bajong sang pengalasan berkata sambil memberi hormat kepada Mpu Rikmajenar.


"Tidak perlu Jong. Aku percaya sepenuhnya kepada mu.


Martayuda,


Aku serahkan semua kepada mu untuk bertindak. Lakukan dengan cepat. Jangan sampai gagal. Aku akan pulang ke Daha menunggu kabar baik dari mu. Kita jangan sampai terlihat bekerja sama.


Begitu ini berhasil, aku akan mengangkat Pangeran Sambu sebagai Raja Panjalu. Pangeran lemah itu tidak akan berani macam-macam pada ku.


Saat ini usai ku jamin kalian semua akan menduduki jabatan tinggi di istana Daha", ujar Mpu Rikmajenar sambil tersenyum simpul.


Akuwu Martayuda, Sumantri dan Bekel Surenggana mengangguk mengerti.


Hari menjelang sore saat Mpu Rikmajenar segera naik kereta kuda menuju ke arah Daha. Dengan di kawal oleh beberapa prajurit dan pengalasan setia nya.


Saat melewati jalan perbatasan Pakuwon Cempaka menuju ke dermaga penyeberangan di Sungai Wulayu, Sampung melemparkan sebuah pisau kecil kearah sebuah pintu rumah kecil di dekat tapal batas Pakuwon Cempaka.


Shreeeeettttthhh!!


Pisau menancap di pintu. Sampung tersenyum tipis lalu kembali meneruskan perjalanan nya mengikuti langkah Mpu Rikmajenar.


**


Senja mulai turun di istana Pakuwon Semanding. Warna merah yang perlahan menghilang di cakrawala. Berganti warna jingga yang sekejap kemudian berganti malam yang gelap.


Kelelawar mulai keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Jangkrik dan belalang bernyanyi bersahutan menandakan bahwa malam telah turun di wilayah istana Pakuwon Semanding.


Usai pemberontakan Adipati Mpu Pamadi, Akuwu Semanding Palgunadi langsung menghadap ke istana Kembang Kuning untuk menyatakan kesetiaannya kepada Maharaja Panjalu. Sebenarnya tak semua warga Kadipaten Kembang Kuning mendukung upaya pemberontakan Adipati Mpu Pamadi, namun mereka tidak berdaya untuk menolak untuk memberikan hasil bumi dan para pemuda yang dijadikan sebagai prajurit.


Malam itu Panji Watugunung dan para prajurit Panjalu sengaja menginap di istana Pakuwon Semanding. Dia ingin tahu cara Akuwu Palgunadi menyatakan dukungan dan kesetiaan nya pada nya.


"Yang Mulia Maharaja Panjalu dimohon untuk hadir di sasana boga Istana Pakuwon Semanding", ujar suara dayang istana dengan sopan dari luar pintu kamar peristirahatan.


"Tunggu sebentar.


Gusti Prabu Jayengrana masih berdandan. Kau bisa kembali lebih dulu dayang", jawab Cempluk Rara Sunti tanpa membuka pintu kamar peristirahatan.


"Hamba mengerti", ucap sang dayang istana sambil berlalu menuju ke sasana boga Pakuwon Semanding. Akuwu Palgunadi langsung memanggil sang dayang istana dengan isyarat tangan kanannya. Sang dayang istana langsung mendekat.


"Bagaimana jawaban Gusti Prabu?", tanya Akuwu Palgunadi segera. Di dalam ruang sasana boga para perwira tinggi prajurit Panjalu telah berkumpul menunggu kedatangan junjungan mereka.


"Beliau masih berdandan Gusti Akuwu. Hamba di suruh duluan", jawab si dayang dengan sopan.


"Kenapa kau bodoh sekali? Harusnya kau tunggu saja disana.


Hufttt, kau bantu kawan mu yang lain. Aku sendiri yang akan kesana", ujar Akuwu Palgunadi yang segera berjalan menuju ke arah balai peristirahatan tamu, meninggalkan sang dayang istana yang kebingungan.


Akuwu Palgunadi langsung berdiri di depan kamar peristirahatan Panji Watugunung, menunggu pintu kamar terbuka.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh..


Panji Watugunung keluar dari kamar diikuti oleh Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti. Dia menatap heran kearah Akuwu Palgunadi.


"Kenapa kau disitu Ki Kuwu? Bukankah dayang istana tadi sudah memberi tahu mu?", tanya Panji Watugunung segera.


"Mohon ampun Gusti Prabu. Pelayan hamba masih bodoh tak tahu tata krama istana.


Gusti Prabu Jayengrana sudah di tunggu oleh seluruh perwira di sasana boga. Mohon ampun jika hamba tidak sopan", jawab Akuwu Palgunadi sambil menghormat pada Panji Watugunung.


Panji Watugunung hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Akuwu Semanding itu.


Malam itu mereka menikmati hidangan makan malam yang disiapkan oleh Akuwu Palgunadi untuk menghormati para prajurit Panjalu.


Setelah makan malam selesai, Panji Watugunung dan kedua istrinya segera kembali untuk beristirahat.


Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung dan Tumenggung Jarasanda berkumpul di depan balai peristirahatan Pakuwon Semanding seperti kebiasaan lama mereka yang menjaga keberadaan Panji Watugunung. Itulah sebabnya mereka selalu menjadi abdi setia sang Raja Panjalu karena telah lama bersama sejak masih di Pasukan Garuda Panjalu.


Gumbreg terus membolak-balik jagung muda diatas perapian yang di buat untuk mengusir hawa dingin dan nyamuk yang mendekat.


"Memang kau masih lapar Mbreg?", tanya Tumenggung Landung pada Demung Gumbreg di sampingnya. Belum sempat Gumbreg menjawab, Ludaka langsung menyahut.

__ADS_1


"Dia itu perut karet Ndung, mau makan sebanyak apapun ya tetap lapar.


Tuh lihat perutnya yang mirip kerbau bunting", ejek Ludaka sambil tersenyum simpul.


"Sialan kau Lu..


Siapa yang kau bilang mirip kerbau bunting? Perut ku sedari dulu juga segini", Gumbreg mendengus kesal mendengar ejekan kawan karibnya itu.


"Ya kau itu,


Lihat semua perut kawan kawan yang lain mana ada yang buncit seperti mu?", jawaban Ludaka membuat Gumbreg mengamati tubuh kawan kawan nya yang lain.


"Benar juga omongan mu Lu..


Ah aku tak peduli. Yang penting Dhek Jum cinta sama aku", Gumbreg langsung menyantap jagung bakar yang masih panas. Karena terlalu terburu-buru makan, jelaga yang menempel di jagung bakar ikut melekat di wajah Gumbreg.


Hahahaha..


Ludaka, Landung dan Jarasanda langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Gumbreg yang penuh dengan jelaga hitam. Gumbreg menghentikan acara makan jagung bakar nya sambil menatap kearah kawan-kawannya.


"Apa yang lucu? Kenapa kalian tertawa mirip orang gila di pasar?", mimik wajah Gumbreg penuh kebingungan.


"Coba kau bercermin Mbreg hahaha..", ujar Ludaka sambil terus tertawa. Gumbreg segera berlari menuju ke gentong air yang ada di sudut tempat itu. Cahaya bulan purnama yang terang benderang membuat Gumbreg melihat wajah nya terlihat berwarna hitam.


Baru saja Gumbreg hendak mencuci muka nya, sebuah anak panah melesat cepat kearah nya.


Shrrriinnnggg...


Sebuah bayangan berkelebat cepat dan menyambar anak panah yang hampir saja mengenai leher Gumbreg.


Semua orang terkejut melihat itu semua. Mereka segera berlari cepat kearah Gumbreg.


Mereka melihat Senopati Warigalit memegang batang anak panah. Semuanya menarik nafas lega melihat Gumbreg selamat.


"Gusti Senopati, ada suratnya", tunjuk Landung pada pangkal anak panah yang di pegang Warigalit.


Senopati Panjalu itu pun baru menyadari kalau ada surat disana. Buru buru dia melangkah ke arah pelita yang ada di tiang serambi depan balai peristirahatan.


'Hati-hati di Pakuwon Cempaka. Ada persiapan penyergapan"


Demikian bunyi tulisan yang tertera pada kain putih di pangkal anak panah.


"Kita harus melaporkan ini pada Gusti Prabu Jayengrana", ujar Senopati Warigalit yang mendapat anggukan kepala dari Tumenggung Ludaka, Landung dan Jarasanda.


Tercium aroma busuk menyengat di sekitar tempat itu seperti aroma kencing manusia.


Semua orang segera menoleh ke arah Demung Gumbreg yang masih gemetaran di samping gentong air. Tumenggung Ludaka segera berkata,


"Kau mengompol Mbreg?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙, dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 🙏😁😁🙏

__ADS_1


__ADS_2