Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Gangguan Kecil


__ADS_3

Malam itu semua perwira tinggi prajurit Panji Watugunung berkumpul di serambi utama.


Selain membahas persiapan, juga menerima laporan dari Marakeh dan Rakai Sanga.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Prajurit bantuan dari kadipaten Seloageng dan Gelang-gelang, semuanya berkumpul di istana Pakuwon Sengkapura.


Menurut berita, mereka di pimpin Tumenggung Gati dan Tumenggung Sancaka.


Apa langkah kita selanjutnya?", Marakeh menghormat pada Panji Watugunung.


Hemmmm


"Bukankah kau dari Sengkapura, Marakeh??", tanya Panji Watugunung segera.


"Benar sekali Gusti Pangeran, hamba memang dari Sengkapura", jawab Marakeh kemudian.


"Baiklah,


Malam ini Kakang Warigalit temani aku dan Paman Saketi ke Pakuwon Sengkapura.


Marakeh, kau tunjukkan jalan tercepat.


Yang lain, tingkatkan penjagaan di markas dan sekitarnya. Kalau ada apa-apa, Tumenggung Adiguna yang memutuskan", ujar Panji Watugunung.


Semua orang segera menghormat dan mundur dari serambi utama markas pasukan Garuda Panjalu.


Panji Watugunung, Warigalit, Ki Saketi dan Marakeh segera melompat ke atas kuda mereka masing masing dan menggebrak kuda mereka menuju istana Pakuwon Sengkapura. Bulan mendekati purnama menemani perjalanan mereka.


Setelah melewati wanua Sanggur, mereka terus memacu kuda mereka menuju ke timur. Di hutan kecil sebelum memasuki kota pakuwon, tiba tiba kuda mereka meringkik keras.


"Ada apa ini? Kenapa kuda kuda ini tiba-tiba berhenti? Sepertinya ada yang menakuti mereka", ujar Warigalit seraya menepuk punggung kudanya agar tenang.


"Benar Kakang, coba perhatikan itu yang ada di depan kita", Panji Watugunung menunjuk ke arah jalan di depan mereka.


Puluhan bayangan hitam bermunculan dari balik gelapnya malam.


"Rupanya beberapa orang sudah bosan hidup", ujar Ki Saketi sambil mendelik tajam kearah bayangan hitam yang mulai mengepung mereka.


Hahahaha


Suara tawa keras dari arah depan, membuat Panji Watugunung dan ketiga pengawal nya menatap kesana.


"Kalian memasuki wilayah kekuasaan ku. Yang lewat harus bayar pajak.


Serahkan harta kalian. Kalau tidak...", teriak seorang bayangan hitam yang bertubuh gempal.


"Kalau tidak apa?", Marakeh mulai gusar.


"Akan ku cabut nyawa kalian semua", ancam si bayangan hitam itu sambil menyeringai lebar. Meski dalam kondisi suram akibat malam, namun kelihatan bahwa si pemimpin kelompok itu seorang lelaki paruh baya berkumis tebal dengan wajah jelek.


"Coba saja kalau kalian bisa", Ki Saketi geram.


"Kurang ajar!


Kethek kethek, bunuh mereka semua", teriak si pemimpin kelompok rampok itu.


6 bayangan hitam didepan melesat cepat sambil mengayunkan pedang mereka. Marakeh dan Ki Saketi segera mencabut pedang mereka dan melompat turun dari kudanya masing masing sambil menerjang maju ke arah 6 bayangan hitam itu.


Tranggg..


Bunyi pedang beradu terdengar dari benturan kepentingan malam itu. Ki Saketi dengan trengginas melayani serangan para perampok itu. Meski satu lawan tiga, namun wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu itu bukan prajurit remeh. Sejak kecil dia sudah berguru kepada Mpu Harja dari Gunung Gedang.


Marakeh juga bukan prajurit sembarangan. Sebagai keponakan sang Akuwu Sengkapura, dia adalah jagoan pilih tanding dari pakuwon itu.


4 bayangan hitam di belakang segera mencabut senjata masing-masing, dan merangsek maju ke arah Warigalit dan Panji Watugunung. Warigalit menjejak punggung kudanya, dan melompat tinggi ke udara dan turun di belakang 4 bayangan hitam yang mengincar nya.


Pertarungan sengit segera terjadi di antara mereka.


Sekalipun di keroyok 4 orang, Warigalit meladeni serangan mereka dengan tenang.


Sabetan pedang dari salah seorang dari mereka mengincar leher Warigalit, pemuda itu berkelit mundur lalu merendahkan tubuhnya sedikit sambil menyapu kaki salah seorang yang di dekatnya.


Bukkk


Si bayangan hitam yang terkena sapuan kaki Warigalit langsung terjengkang. Dengan cepat, Warigalit memutar tubuhnya dan mendaratkan sebuah pukulan di perut orang itu segera.


Deshhhhh

__ADS_1


Orang itu langsung menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya.


Usai memukul, Warigalit segera melompat ke udara menghindari sabetan pedang yang datang sambil menepak pundak si penyerang.


Plakkk


Walaupun hanya pelan, tapi serangan Warigalit disertai dengan tenaga dalam membuat pundak si penyerang seperti di hantam balok kayu.


Si penyerang itu menyusruk tanah dengan keras.


Begitu turun menjejak tanah, Warigalit segera memulai tubuh dan melayangkan tendangan keras ke bayangan hitam yang hendak menyabetkan pedang nya.


Deshhh


Si bayangan hitam itu meraung keras saat tubuhnya melayang ke arah Panji Watugunung.


Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu hanya memiringkan tubuhnya sedikit sambil meraih satu kancing baju si bayang hitam itu.


Si bayangan hitam itu menubruk kuda Marakeh.


Seketika langsung pingsan.


Dengan cepat, Warigalit melesat ke arah penyerang yang tersisa. Perampok itu gelagapan saat Warigalit tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan menampar pipi nya dengan keras


Plakkk


Aarrgghhh


Orang itu terjatuh dengan pipi lebam seketika. Sebuah gigi langsung tanggal dan darah mengalir dari sudut bibir nya.


Si pemimpin kelompok itu segera melompat maju saat anak buah nya mudah di kalahkan oleh Warigalit, Ki Saketi dan Marakeh. Pedang besarnya terayun cepat mengincar nyawa Ki Saketi dari belakang.


Panji Watugunung yang peka, segera melempar kancing baju yang dia pegang ke arah pipi si pemimpin rampok.


Takkk


Aughhhhh


Jerit kesakitan terdengar saat kancing baju itu menghantam pipi si pemimpin rampok dengan keras. Gigi si pemilik itu langsung tanggal tiga biji. Pria itu terhuyung huyung ke belakang sambil memegangi pipinya yang gosong.


Ki Saketi juga berhasil menghajar orang yang mengeroyok nya. Bahkan seorang sudah tewas meregang nyawa. Marakeh malah sudah menebas leher seorang lawan nya, dan membunuh satunya lagi dengan menusuk dada kiri nya.


Bukkkkk


Oughhh


Sang pemimpin rampok menjerit keras. Lambung nya terasa berpindah tempat. Laki laki itu meringkuk menahan sakit.


Warigalit segera menyorongkan tombak nya ke arah leher sang pemimpin rampok itu.


"Ampun saya ampuni saya pendekar, saya kapok. Saya tobat.


Saya janji tidak akan merampok lagi", sang pemimpin rampok menghiba ketakutan.


"Kita bantai saja mereka semua, Gusti Pangeran. Sampah masyarakat seperti ini hanya merepotkan saja bila di biarkan hidup", teriak Marakeh yang semakin membuat sang pemimpin rampok itu pucat pasi.


"Tidak perlu begitu Marakeh, membunuh lawan yang sudah menyerah itu tidak boleh. Bawa saja mereka ke penjara Sengkapura", ujar Panji Watugunung kemudian.


Marakeh langsung menggiring mereka. Dengan tertatih mereka berjalan menuju istana Pakuwon Sengkapura. Yang sehat menggendong yang sakit, sedang sang pemimpin rampok berjalan tertatih di depan.


Sesampainya di gapura istana Pakuwon, perampok itu di serahkan pada prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon yang segera membawa mereka ke penjara.


Marakeh langsung menuju ruang pribadi sang Akuwu Sengkapura, Rakeh Sempu yang juga merupakan paman Marakeh. Panji Watugunung, Ki Saketi dan Warigalit menunggu di balai pisowanan Pakuwon Sengkapura.


Tak lama kemudian, Akuwu Sengkapura berlari keluar dari ruang pribadi nya menyambut kedatangan Panji Watugunung diikuti Marakeh.


Akuwu Rakeh Sempu segera berlutut di hadapan Panji Watugunung.


"Ampuni hamba Gusti Pangeran, Sempu yang bodoh ini tidak menyambut kedatangan Gusti Pangeran", Akuwu sepuh itu menyembah.


"Berdiri lah Ki Kuwu, jangan seperti menyembah dewa. Aku ini manusia biasa", ujar Panji Watugunung segera.


"Hamba patuh pada perintah Gusti Pangeran", ujar Akuwu Rakeh Sempu kemudian.


"Kedatangan ku kemari aku ingin bertemu dengan kepala pasukan dari Seloageng dan Gelang-gelang.


Bisa kau panggil mereka kemari?", pinta Watugunung sambil tersenyum.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Akuwu Rakeh Sempu segera. Akuwu sepuh itu segera menghormat dan langsung mundur menuju balai peristirahatan Pakuwon Sengkapura.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Akuwu Sengkapura datang bersama dengan Tumenggung Sancaka dan Tumenggung Gati.


Dua orang tumenggung itu segera menyembah kepada Panji Watugunung.


Mereka kemudian duduk bersila di lantai bangsal pisowanan Pakuwon Sengkapura bersama Ki Saketi, Warigalit, dan Marakeh.


"Maaf aku menggangu waktu istirahat paman tumenggung semua.


Kedatangan ku kemari karena ada sesuatu yang mendesak untuk dibicarakan", ujar Panji Watugunung segera.


"Hal apa gerangan yang sedemikian penting Gusti Pangeran?", Tumenggung Sancaka menjawab sambil menghormat.


"Tadi siang aku baru menerima laporan telik sandi, 10 ribu pasukan Jenggala bergerak menuju Daha dari Tumapel", Panji Watugunung menatap ke arah wajah semua orang.


Semua orang terkejut mendengar berita itu kecuali Warigalit dan Ki Saketi yang sudah mendengar lebih dulu.


"10 ribu prajurit sama dengan kekuatan 5 kadipaten Gusti Pangeran, ini bukan sembarangan", sahut Tumenggung Gati.


"Benar Paman Tumenggung, kita tidak bisa menganggap enteng berita ini.


Aku sudah mengirim utusan ke Daha, jawaban mereka seperti apa aku tidak tau. Yang jelas kita harus menyiapkan diri sebaik-baiknya", ujar Panji Watugunung sambil menghela nafas panjang.


"Lalu apa langkah kita selanjutnya Gusti Pangeran?", tanya Tumenggung Sancaka kemudian.


"Aku memiliki prajurit sebanyak 1300 orang, dengan 200 prajurit pemanah.


Niatku adalah kita bersiap di perbatasan Kali Aksa. Dari Pakuwon Bedander sampai Pakuwon Ganter. Menurut berita, mereka berjalan kaki. Sebagian kecil menaiki perahu. Berarti mereka menempuh rute Sungai Brantas.


Kita bisa mencegah mereka masuk ke Kadipaten Seloageng dari dua rute. Darat dan air.


Apakah kalian bersedia membantu ku?? ", Panji Watugunung menatap ke arah dua pimpinan pasukan itu.


"Gelang-gelang adalah pendukung setia Gusti Bupati Panji Gunungsari. Sudah barang tentu kami akan mengikuti perintah Gusti Pangeran Panji Watugunung", Tumenggung Sancaka menghormat.


"Gusti Pangeran Panji Watugunung adalah menantu Adipati Seloageng. Mati pun kami rela jika mengikuti junjungan kami", Tumenggung Gati tersenyum tipis.


"Terimakasih atas dukungannya Paman Tumenggung sekalian.


Besok pagi kita berangkat ke Seloageng", titah sang Pangeran Daha.


Malam itu, Panji Watugunung dan ketiga pengawal nya kembali ke markas pasukan Garuda Panjalu di Sanggur setelah mendengar kesanggupan dua kepala pasukan itu.


Pagi menjelang tiba.


Pasukan Garuda Panjalu dan Anjuk Ladang bergerak menuju ke Seloageng setelah bunyi terompet tanduk kerbau melengking tinggi.


Di tengah jalan, pasukan Gelang-gelang dan Seloageng bergabung. Jumlah mereka kini mencapai 3300 prajurit. Mereka siap menghadang pasukan Jenggala di perbatasan Panjalu dan Jenggala.


Ratna Pitaloka yang berkuda di sebelah Panji Watugunung, lantas bertanya,


"Kita berhenti di mana Kakang Watugunung??".


Sambil terus menepak punggung kuda nya, Panji Watugunung menjawab,


"Kita berhenti di Bedander".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih banyak atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita perjalanan Kang Panji Watugunung dan kawan kawan nya ya❤️❤️❤️


Selamat membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2