Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Mengikat Hati Para Selir


__ADS_3

Begawan Sulapaksi tersenyum tipis. Batin pandita tua itu melihat semua masa depan pemuda di depannya. Sebagai pandita yang waskita, dia memiliki kemampuan wruh sadurunge winarah (melihat semua kejadian yang akan terjadi).


"Gusti Pangeran, saya mempunyai penglihatan", ujar Begawan Sulapaksi.


"Apa itu begawan? Jika ada sangkut pautnya dengan saya, mungkin bisa saya buat pegangan untuk menjalani hidup", Panji Watugunung mendengar dengan seksama.


"Semua keturunan mu nanti akan menjadi pahlawan di masa berdiri negeri ini. Bahkan nanti akan ada yang mampu memimpin pasukan menaklukkan Jenggala. Karena itu aku minta ikatlah mereka dalam sebuah ikatan suci agar para Dewata memberkati hidup kalian semua", ujar sang pandita sambil tersenyum simpul.


"Saya mengerti maksud ucapan Begawan, kalau boleh meminta bantuan, bisa begawan tunjukkan hari baik untuk kami?", tanya Panji Watugunung kemudian.


Sang pandita itu segera menutup kedua matanya. Sesaat kemudian tersenyum tipis.


"Gusti Pangeran bisa mengikat kesetiaan mereka besok tapi hanya bisa menikahi 3 selir Pangeran, untuk saudara jauh Pangeran sebaiknya di lakukan di Daha".


"Saya mengerti maksud Begawan. Besok pagi saya akan ke Watugaluh, mengabarkan masalah ini", Panji Watugunung tersenyum tipis.


Sampai larut malam mereka bercakap-cakap, sampai akhirnya sang pandita tua itu mundur untuk beristirahat.


Malam berganti pagi.


Suasana Wanua Klakah saat itu begitu cerah. Sisa sisa tragedi kemarin seperti hilang ditelan bumi. Para wanita yang tidak terbunuh, rupa nya di sekap di kapal besar berbendera merah.


Mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.


Begawan Sulapaksi sibuk melakukan upacara penyucian untuk desa. Dia terus membaca mantra mantra penyucian untuk para arwah yang menuju nirwana. Asap mengepul dari setanggi dan kemenyan yang di bakar.


"Paman Saketi,


Aku dan Kakang Warigalit akan ke istana Pakuwon Watugaluh. Kalian berjaga disini. Tempatkan 2 pemanah di sisi bukit.


Untuk yang lain, tolong siapkan uborampe untuk acara pernikahan. Tidak perlu terlalu bagus, sederhana saja.


Bisa Paman melakukan nya?", perintah Panji Watugunung.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Ki Saketi segera.


Warigalit dan Panji Watugunung di temani Bekel Setyaka menggebrak kuda mereka meninggalkan Wanua Klakah.


Sementara itu,


Ki Saketi di bantu oleh Pasukan Garuda Panjalu mempersiapkan perlengkapan untuk sebuah upacara pernikahan. Rajegwesi dan Arimbi, dua jagoan pemanah di tempat kan di atas bukit batu untuk mengawasi gerakan kapal yang melintas di depan Wanua mereka.


Ludaka dan Landung berpakaian seperti nelayan yang mencari ikan di sungai Brantas, mengamati situasi yang ada.


Gumbreg dan Weleng, di bantu beberapa orang tampak berkumpul di depan pesanggrahan sibuk merangkai bunga dan janur. Sedangkan beberapa wanita Wanua Klakah sibuk memasak di rumah besar.


"Ini yang mau menikah siapa to Ki, kog kita yang repot menyiapkannya??", tanya Gumbreg sambil menyambar pisang rebus di nampan. Tangan nya kembali lincah merangkai janur.


"Aku tidak tau Mbreg, perintah dari Gusti Pangeran cuma seperti itu. Aku tidak berani bertanya lagi", jawab Ki Saketi sambil mendirikan hiasan janur di samping pintu masuk pesanggrahan.


"Ya harus nya Ki Saketi tau, sebagai wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu, Ki Saketi wajib tanya dong", ujar Gumbreg menggerutu.


"Kenapa tidak kau tanya langsung pada Gusti Panji Watugunung, biar di kekkkkkk lehermu?", tanya Ki Saketi acuh tak acuh.


Gumbreg bergidik ngeri saat melihat tangan Ki Saketi seperti memotong lehernya.


Sementara itu, Panji Watugunung, Warigalit dan Bekel Setyaka sudah sampai di istana Pakuwon Watugaluh. Akuwu Hangga Amarta menyambut kedatangan mereka dengan senyum terkembang. Dia begitu mengagumi sosok lelaki yang dulu pernah membantu nya menyelamatkan nyawa cucu kesayangan nya. Dan sekarang pria itu adalah pangeran dari Daha. Warigalit tidak ikut berbicara dan segera bergegas undur diri menemui Ratri.


"Hangga Amarta memberikan hormat kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung", ujar Akuwu Watugaluh itu sambil menghormat.


"Ki Kuwu tak perlu begitu. Ngomong-ngomong Wanua Klakah sudah aman Ki, cuma aku mau meminjam tempat itu untuk menjebak anggota Alas Larangan yang akan datang ke Watugaluh.


Apa diijinkan Ki Kuwu??".


"Tentu saja Gusti pangeran, tentu saja.


Apa perlu bantuan pasukan dari Watugaluh? Kami siap membantu Gusti pangeran", Akuwu Watugaluh itu tersenyum.


"Kabar selanjutnya akan ku beri tau Ki Kuwu, Tapi untuk malam ini tolong tingkatkan penjagaan di seputar Pakuwon Watugaluh, terutama istana Pakuwon.


Selir selir akan ku ajak ke Wanua Klakah. Sedangkan istri istri ku, sementara akan aku titipkan di Pakuwon ini.


Apa bisa Ki Kuwu??, Panji Watugunung menatap ke arah Akuwu Watugaluh itu.


"Akan Hangga Amarta laksanakan perintah Gusti pangeran".

__ADS_1


Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera bergegas menuju kamar peristirahatan para istri nya. Semua nya berkumpul di kamar Dewi Anggarawati.


"Dinda Anggarawati, kau kenapa Dinda?", tanya Watugunung melihat Anggarawati tengah berbaring dengan wajah pucat.


Anggarawati berusaha tersenyum menyambut kedatangan suami nya. Dengan di bantu Dewi Srimpi dan Sekar Mayang, dia berusaha bangun.


"Aku tidak apa apa Kangmas Watugunung, hanya mual dan pusing saja", jawab Anggarawati sambil tersenyum tipis.


Panji Watugunung segera mendekati istrinya itu. Meraba dahi nya, seketika Panji Watugunung mengerutkan keningnya.


'Dia tidak demam. Tapi kenapa mual dan pusing?'


"Sudah ada tabib yang memeriksa keadaan Anggarawati?", Panji Watugunung .mengedarkan pandangannya kepada semua istrinya. Mereka semua menggeleng.


Panji Watugunung geram.


"Kan sudah aku bilang untuk saling menjaga. Apa kalian tidak mendengar kata kata ku?


Kau Pitaloka, kau yang paling dewasa. Seharusnya kau bisa memberi contoh kepada semua nya.


Mayang, biasanya kau paling cerewet. Kenapa untuk masalah ini kau masih diam saja?


Galuh, kau putri raja. Apa kau sama sekali tidak memahami kondisi Anggarawati seperti ini?


Srimpi, biasanya kau pintar mengobati. Tapi kenapa kau tidak membantu Anggarawati?".


Semua istri Watugunung hanya menunduk tak berani bersuara. Panji Watugunung memang jarang marah, tapi kalau marah memang menakutkan.


"Kangmas jangan marah, saudara ku tidak salah. Kangmas Panji tidak usah panik".


Ucapan Anggarawati mampu membuat dingin kepala Panji Watugunung. Kemudian dia menghela nafas panjang. Dia teringat tujuan nya ke Pakuwon Watugaluh.


"Pitaloka, Mayang dan kau Srimpi. Siapkan pakaian kalian. Kita berangkat ke Wanua Klakah", ujar Panji Watugunung.


"Baik Kakang", jawab ketiga gadis itu dan segera bergegas keluar dari kamar Anggarawati.


"Ayu Galuh, kau jaga Kangmbok mu disini. Selama dia sakit, kau jaga Anggarawati dengan baik. Kalau sampai ada apa apa dengan Anggarawati, jangan harap aku memaafkan mu", tatapan mata Panji Watugunung membuat Ayu Galuh gugup.


"Baik Kangmas, Ayu Galuh akan patuh", jawab Ayu Galuh terbata-bata.


Ayu Galuh segera bergegas keluar kamar setelah mendengar suara Panji Watugunung. Tak berapa lama kemudian, seorang prajurit datang bersama Ayu Galuh.


"Tolong panggilkan tabib istana Pakuwon Watugaluh kesini ya", ucap Panji Watugunung yang segera di balas anggukan kepala dari sang prajurit. Prajurit itu lalu bergegas keluar.


"Dinda, aku ada urusan di Wanua Klakah. Nanti jika sudah rampung, aku segera kesini lagi. Dinda beristirahat saja. Kalau mau apa apa, minta Ayu Galuh mengambilkan", ujar Panji Watugunung sambil mengecup mesra kening perempuan cantik itu.


Anggarawati tersenyum bahagia.


Putri bungsu Adipati Tejo Sumirat itu mengangguk-angguk mengerti.


Panji Watugunung hendak pergi, tapi tatapan Ayu Galuh menghentikan langkahnya.


"Kau kenapa?"


Ayu Galuh menunduk.


"Hei kau kenapa Galuh?"


"Pengen di sayang", ucapan lirih Ayu Galuh namun masih terdengar oleh telinga Panji Watugunung.


Lelaki itu segera mendekati Ayu Galuh dan...


Cuppp


Ciuman mesra mendarat sempurna di kening putri raja Daha itu. Senyum bahagia terpancar dari wajah Ayu Galuh.


Anggarawati hanya tersenyum tipis melihat pria nya mencium Ayu Galuh.


Panji Watugunung bergegas menuju keluar. Di ujung lorong, dia melihat Dewi Tunjung Biru sedang berjalan ke arahnya.


"Tunjung Biru, aku minta bantuan mu".


"Bantuan apa Kakang?", Dewi Tunjung Biru sumringah mendengar suara Panji Watugunung.


"Istri ku Anggarawati sakit. Aku sedang repot mengatur jebakan di wanua Klakah. Tolong kau jaga istri ku selama aku repot.

__ADS_1


Apa kau bisa Tunjung Biru?".


"Bisa Kakang Watugunung, aku pasti bisa.


Tapi ada bayaran nya", senyum tengil Tunjung Biru membuat Panji Watugunung curiga.


"Apa bayaran nya??


Tunjung Biru segera mendekat ke Panji Watugunung dan berjinjit mencium pipi lelaki itu.


"Itu bayaran nya Kakang", jawab Tunjung Biru sambil berlari menuju kamar Anggarawati.


Panji Watugunung tersenyum kecut.


'Gadis nakal'.


Di alun alun Pakuwon, Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang sudah menunggu kedatangan Panji Watugunung. Warigalit dan Ratri juga sudah bersiap.


Mereka memacu kudanya melesat meninggalkan Pakuwon Watugaluh. Tak butuh waktu lama, mereka tiba di Wanua Klakah dan di sambut oleh para anggota pasukan Garuda Panjalu.


"Apa maksudnya ini Kakang Watugunung?", tanya Ratna Pitaloka melihat persiapan di Pesanggrahan Siwa itu.


"Apakah kalian tidak ingin menikah dengan ku?", jawab Watugunung tersenyum tipis.


Mata ketiga gadis cantik itu terbelalak lebar. Mereka tidak menyangka bahwa hari itu, pemuda yang mereka cintai mengikat sumpah pernikahan yang selama ini mereka tunggu.


Raut bahagia tak lepas dari wajah mereka bertiga.


Dengan upacara pernikahan sederhana yang di saksikan oleh Warigalit, Ratri, Ki Saketi, dan seluruh anggota pasukan Garuda Panjalu, mereka di ikat menjadi pasangan suami-istri.


Begawan Sulapaksi yang memimpin acara, tersenyum tipis.


Ratri tampak meneteskan air mata bahagia. Warigalit yang di dekatnya memeluk tubuh Ratri. Dengan kalem, Warigalit membisiki Ratri.


"Pengen ya?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author juga pengen 🤤🤤


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus menulis dengan like vote dan komentar nya


Share juga boleh di FB Noveltoon 😂😂😂

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2