
Ratna Pitaloka mengangguk mengerti setelah mendengar ucapan Panji Watugunung. Satu persatu para istri Panji Watugunung mendekat menemani sang suami yang tengah menyaksikan upacara penyucian jiwa Mapanji Garasakan.
Saat mereka tengah khidmat melakukan ritual penyucian jiwa, dari arah barat para prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Narapraja dan Warigalit sampai disana. Rupanya mereka juga berhasil mengalahkan para prajurit Jenggala yang di pimpin Tumenggung Wahana dan Mpu Wastra.
Begitu mereka melihat Panji Watugunung mengenakan kain putih sebagai tanda duka cita, mereka segera turun dari kuda mereka masing-masing dan ikut bergabung di belakang sang Yuwaraja.
Matahari tergelincir di ufuk barat. Rona merah sang senja perlahan menghiasi cakrawala usai sang mentari tenggelam sempurna di langit.
Panji Watugunung masih terus menatap kobaran api penyucian jiwa Mapanji Garasakan yang terus mengecil. Jasad sang Penguasa Jenggala itu telah berubah menjadi abu. Di dampingi keempat istri dan para bawahannya, mereka masih berkerumun di sekitar tempat penyucian jiwa.
Malam itu, mereka beristirahat dengan tenang karena mereka kelelahan setelah melakukan pertempuran yang melelahkan melawan Jenggala. Mereka melepaskan letih serta mengobati luka.
Di tenda besar yang menjadi tempat peristirahatan Panji Watugunung dan keempat istri nya, nampak Panji Watugunung tengah menerima kedatangan Warigalit dan Senopati Narapraja.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Kami hendak melaporkan hasil dari peperangan yang kami lakukan tadi", ujar Senopati Narapraja sambil menyembah pada Panji Watugunung.
"Silahkan kau laporkan, Senopati Narapraja", ucap Panji Watugunung sambil mengangkat tangan kanannya tanda dia mengijinkan.
"Dari pertempuran tadi, kita kehilangan beberapa perwira menengah dan dua perwira tinggi yaitu Senopati Koncar dari Anjuk Ladang dan Senopati Ringkasamba dari Kurawan.
Sebanyak 1500 prajurit juga gugur, 300 orang luka berat dan 200 orang mengalami luka ringan.
Jumlah keseluruhan prajurit yang masih mampu bertempur adalah 7 ribu prajurit Gusti Pangeran. Jika di tambah dengan para prajurit dari pasukan Garuda Panjalu, semua nya berjumlah 11 ribu prajurit", lapor Senopati Narapraja mengakhiri ucapan nya dengan menyembah pada Panji Watugunung.
Hemmmmmmm
"Kita kehilangan nyaris separuh prajurit menghadapi Maharaja Jenggala. Kalau ingin menahklukan Kahuripan, kita harus mengetahui seluk beluk kota itu terlebih dahulu.
Ludaka,
Bagaimana dengan pasukan Lowo Bengi mu? Apa sudah ada berita yang bisa kau sampaikan?", Panji Watugunung menoleh ke arah Tumenggung Ludaka yang duduk tak jauh dari Senopati Warigalit.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran.
Hingga saat ini mereka belum kembali. Kemungkinan tercepat mereka akan membawa berita esok pagi. Tapi dari salah seorang prajurit Jenggala yang tersisa, mereka bilang bahwa kekuatan Jenggala sepenuhnya di pimpin oleh Mapanji Garasakan kemari. Jadi kemudian besar, yang tersisa di kota Kahuripan hanya pasukan pengawal yang berjumlah kecil", ujar Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Kita tidak boleh menentukan arah peperangan ini, hanya dengan perkiraan saja.
Kalau sudah ada laporan pasti dari Pasukan Lowo Bengi, baru kita tentukan cara kita untuk menaklukkan kota Kahuripan.
Sekarang kalian semua boleh beristirahat. Pertemuan ini aku bubarkan", ucap Panji Watugunung dengan tegas.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", seluruh perwira tinggi prajurit Panjalu segera menyembah pada Panji Watugunung dan satu persatu mundur dari tenda besar itu.
Di sisi barat perkemahan, Demung Gumbreg yang mendapat jatah pengamanan malam itu tampak asyik menikmati jagung bakar yang masih panas. Tiga orang bawahan setia nya, Weleng, Gubarja dan Widarba nampak duduk di samping sang perwira. Dari arah samping muncul Tumenggung Ludaka dan Jarasanda yang tengah berkeliling menjaga keamanan.
"Wah sepertinya enak Mbreg,
Bagi dong", ucap Tumenggung Ludaka yang segera membuat Demung Gumbreg menoleh ke arah nya.
"Eh ternyata Ludaka,
Kau mau? Tuh di bakaran masih ada", jawab Gumbreg sambil menunjuk ke arah perapian yang masih menyala. Di sana memang masih ada 3 jagung yang belum matang di atas bara api.
"Tumben kau baik Mbreg, biasanya kau pelit urusan makanan", seloroh Ludaka sambil berjalan mendekati api unggun. Kepala pasukan Lowo Bengi itu duduk di dekat Gumbreg. Jarasanda menyusul di sampingnya.
"Yah kan perbekalan kita masih banyak, sedangkan tinggal Kahuripan yang belum kita taklukkan. Jadi jatah makan masih aman untuk satu purnama ke depan hahahaha", tawa keras Gumbreg terdengar lepas.
"Hust...
Jangan keras-keras ketawa mu Mbreg. Semua orang butuh istirahat untuk melanjutkan perjalanan besok ke Kahuripan", potong Jarasanda yang sedari tadi hanya diam saja.
"Iya nih kebo,
Pantas saja baik lha wong jatah makan nya dia aman. Dasar tukang makan", gerutu Ludaka sambil mulai menggigit jagung bakar yang baru dia angkat dari perapian.
"Lah aku kan selalu baik padamu Lu,
bahkan sate kambing jatah ku saja aku rela kau embat", ungkit Gumbreg sambil sedikit mendelik ke arah Ludaka.
"Jagad Dewa Batara,
Peristiwa yang sudah berlalu beberapa Warsa masih kau ingat juga. Jadi kau masih tidak terima sate kambing mu aku makan tempo hari Mbreg?", tanya Ludaka sambil terus memakan jagung bakar nya.
"Terima sih terima Lu,
Tapi kalau perang ini berakhir dan kita pulang ke Kadiri, kau harus membelikan ku sate kambing di pojok pasar sore dekat alun-alun Lu", ujar Gumbreg dengan senyum liciknya.
"Baik,
Dengan satu syarat. Kita menangkan perang ini dan pulang ke Kadiri dengan selamat", jawab Tumenggung Ludaka sambil tersenyum tipis.
"Aku tagih saat kita pulang ke Kadiri nanti Lu, awas kalau kau bohong. Tak timpa tubuh mu dengan tubuh ku", ancam Gumbreg sambil tersenyum penuh kemenangan.
Para perwira tinggi prajurit Daha itu terus berbincang hingga larut malam.
**
Dua orang lelaki bertubuh gempal memakai pakaian khas prajurit Jenggala terus menggenjot kuda mereka melintasi jalan raya yang menghubungkan wilayah Kota Kahuripan dengan Kadipaten Pasuruhan.
__ADS_1
Mereka tidak mempedulikan beberapa luka sayat yang menghiasi beberapa bagian tubuh mereka. Tujuan mereka hanya satu, sampai di Ibukota Jenggala secepat mungkin untuk menyampaikan berita yang terjadi di Hutan Marsma.
Toprakh..
Toprakh...
Suara langkah kaki kuda terus mencecah jalan yang menuju ke arah Kota Kahuripan.
Kuda kuda pilihan itu terus melesat menembus kegelapan malam. Dengan berbekal obor dari daun kelapa kering yang diikat dengan tali, mereka terus bergerak cepat melintasi jalanan.
"Kakang Wono,
Kita harus cepat sampai ke Kahuripan. Kita harus segera memberi tahu Gusti Pangeran Mapanji Alanjung", teriak seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tipis sambil terus menggebrak kudanya yang berwarna coklat kehitaman itu dengan keras.
"Benar Adhi Langsur,
Ini berita besar adik. Gusti Pangeran Mapanji Alanjung harus tau segera", jawab si lelaki bertubuh gempal berjambang lebat yang menunggang kuda di sebelah lelaki itu.
Ya, mereka berdua adalah Sarwono dan Langsur, dua orang kakak beradik prajurit Jenggala yang berhasil meloloskan diri sergapan pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Narapraja dan Warigalit. Meski sempat melakukan perlawanan terhadap gempuran para prajurit Panjalu, mereka yang melihat kematian Tumenggung Wahana dan Mpu Wastra, memilih melarikan diri dari medan tempur. Pun setelah kabur, mereka berdua juga memata-matai para prajurit Panjalu yang sudah berhasil menghabisi nyawa Mapanji Garasakan dan Mapatih Dyah Bayunata.
Setelah melihat kejadian itu semua, mereka berdua memutuskan untuk menuju ke Kota Kahuripan dengan maksud memberi tahukan berita itu pada sang Putra Mahkota Kerajaan Jenggala, Mapanji Alanjung.
Setelah melewati tapal batas Wanua Pandan di Utara Hutan Marsma, Sarwono dan Langsur terus menggebrak kudanya. Kegelapan malam tidak mengurangi semangat mereka untuk segera sampai di Kota Kahuripan.
Menjelang tengah malam, Sarwono dan Langsur sudah sampai di kota Kahuripan. Mereka berdua terus saja menggebrak kuda tunggangan nya ke arah istana Kahuripan.
Begitu sampai di depan pintu gerbang istana, empat orang prajurit penjaga gerbang istana menghentikan langkah mereka.
"Berhenti!!", teriak seorang prajurit penjaga gerbang istana dengan menghadangkan tombaknya bersilangan.
Sarwono dan Langsur segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing.
"Kalian bukankah pengawal pribadi Tumenggung Wahana?
Kenapa kalian seperti ini?", tanya seorang prajurit yang baru muncul di belakang para penjaga. Prajurit berpangkat bekel itu menatap Sarwono dan Langsur dengan penuh selidik.
"Mohon ampun Ki Bekel,
Saya baru dari medan tempur di hutan Marsma. Ingin menghadap Gusti Pangeran Mapanji Alanjung. Ada berita besar yang harus kami sampaikan pada beliau", ucap Sarwono dengan penuh hormat. Meski gurat lelah tergambar jelas di wajahnya, dia berusaha untuk tetap bertahan.
"Hemmmmmmm,
Baiklah aku antar kalian menghadap Gusti Pangeran. Kebetulan Gusti Rakryan Samarotsaha juga baru saja masuk", usai berkata demikian, Sang bekel prajurit Jenggala itu segera melangkah menuju ke dalam istana Kahuripan diikuti oleh Sarwono dan Langsur. Kuda mereka langsung di tangani oleh pekatik yang sedari tadi bersiap di samping pos jaga.
Sarwono dan Langsur terus mengikuti langkah sang Bekel Prajurit.
Di dalam balai paseban agung Keraton Kahuripan, Mapanji Alanjung sedang duduk di kursi kebesarannya yang ada di samping kanan singgasana Raja Jenggala.
Di bawahnya sedang duduk Rakryan Samarotsaha dan Wulupaksi yang merupakan abdi setia Samarotsaha.
Seharusnya paman kembali ke samping Kanjeng Romo Prabu Mapanji Garasakan saat ini", tanya Mapanji Alanjung dengan nada tidak suka. Pangeran Mahkota Kerajaan Jenggala menatap wajah Rakryan Samarotsaha dengan sedikit kesal.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Sudah menjadi titah Kangmas Prabu Garasakan, andaikata pasukan kejutan yang kami pimpin kalah maka kami ditugaskan kembali ke Istana Kahuripan untuk mempersiapkan diri dari segala kemungkinan", ujar Rakryan Samarotsaha dengan penuh hormat. Lelaki licik itu sungguh-sungguh pintar bersilat lidah membalikkan kata-kata.
Belum sempat Mapanji Alanjung menanggapi ucapan Rakryan Samarotsaha, dari arah pintu balai paseban agung Sang Bekel Prajurit diikuti oleh Sarwono dan Langsur muncul.
Seorang penjaga gapura Balai paseban agung segera berlari menuju ke arah Balai paseban agung dan berjongkok memberi hormat kepada Mapanji Alanjung.
"Mohon ampun beribu ampun bila hamba mengganggu percakapan Gusti Pangeran,
Bekel Prajurit penjaga gerbang istana dan dua orang prajurit pengawal Tumenggung Wahana mohon ijin menghadap Gusti Pangeran. Katanya ada sesuatu yang penting untuk di laporkan", ujar sang prajurit penjaga gapura Balai paseban agung dengan penuh hormat.
"Persilakan mereka masuk", titah Mapanji Alanjung segera.
Sang prajurit penjaga gapura Balai Paseban Agung segera menyembah pada Mapanji Alanjung dan mundur dari tempat itu. Tak berapa lama kemudian, Sang Bekel Prajurit diikuti oleh Sarwono dan Langsur sampai di balai paseban agung. Mereka langsung menghaturkan sembah pada Mapanji Alanjung, usai menyembah mereka segera duduk bersila di belakang Rakryan Samarotsaha dan Wulupaksi.
"Siapa yang membawa berita penting?
Segeralah bicara", ucap Mapanji Alanjung dengan cepat.
"Hamba Gusti Pangeran,
Nama hamba Sarwono. Hamba adalah pengawal Tumenggung Wahana.
Begini Gusti Pangeran,
Kedatangan kami kemari adalah untuk melaporkan bahwa Gusti Prabu Garasakan dan Mapatih Dyah Bayunata sudah gugur di Medan perang", ucap Sarwono dengan perlahan.
APAAAAAA???!!!
Semua orang di balai paseban agung terkejut bukan main mendengar laporan dari Sarwono tak terkecuali Samarotsaha dan Wulupaksi. Mereka semua mengakui kehebatan ilmu kanuragan dan kedigdayaan Mapanji Garasakan sebagai seorang ksatria. Bisa membunuhnya, sudah pasti orang itu memiliki kemampuan beladiri yang luar biasa.
"Bagaimana mungkin Romo Prabu Garasakan bisa di kalahkan?
Siapa yang mengalahkannya?", tanya Mapanji Alanjung dengan cepat. Ada nada suara bergetar yang keluar dari mulut Putra Mahkota Kerajaan Jenggala itu. Nada penuh kemarahan dan dendam.
"Orang itu adalah Panji Watugunung atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Jayengrana Gusti Pangeran.
Dia adalah orang yang bertarung melawan Gusti Prabu Garasakan di medan tempur", jawab Sarwono sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kurang ajar!
Hutang nyawa di bayar nyawa, hutang darah di bayar darah.
Paman Baratwana,
Siapkan pasukan Jenggala. Kita gempur pasukan Panjalu. Watugunung harus mati di tangan ku", teriak Mapanji Alanjung dengan penuh kemarahan.
Belum sempat Mpu Baratwana yang menjadi Tumenggung Kahuripan berbicara, Rakryan Samarotsaha segera berbicara.
"Tunggu Nakmas Pangeran,
Kita tidak boleh gegabah dalam situasi ini. Kalau kita langsung menggempur pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung, kita hanya akan mati konyol sia-sia. Gusti Prabu Garasakan yang sakti mandraguna saja gugur, apalagi kita yang ilmu beladiri nya hanya seujung kuku Gusti Garasakan.
Sekali ini, tolong dengarkan ucapan ku Nakmas Pangeran", potong Rakryan Samarotsaha sambil menghormat pada Mapanji Alanjung.
"Mohon dipertimbangkan dulu Gusti Pangeran,
Untuk saat ini Gusti Pangeran adalah pucuk pimpinan kerajaan Jenggala. Kami selaku abdi negara akan patuh pada perintah Gusti Pangeran namun kita juga harus bisa memilah mana yang lebih penting untuk ke depannya.
Mohon ampun beribu ampun jika hamba lancang", ujar Mpu Baratwana sambil menyembah pada Pangeran Mahkota Kerajaan Jenggala itu.
Sejenak Mapanji Alanjung menghembuskan nafas panjang.
Hemmmmmmm...
"Lantas apa saran kalian menghadapi situasi ini?", tanya Mapanji Alanjung segera. Pandangan pangeran muda itu beredar pada Samarotsaha dan Mpu Baratwana.
"Menurut Paman,
Sebaiknya kita menyingkir dulu dari istana Kahuripan, Nakmas Pangeran. Saat ini kekuatan kita tidak cukup mampu untuk menahan serangan pasukan Panjalu. Jika kita memaksakan diri untuk berperang, sudah barang tentu trah Isyana dari Gusti Prabu Garasakan akan musnah dan Jenggala bisa di pastikan jatuh di kekuasaan Daha", jawab Samarotsaha dengan suara berat. Meski lelaki licik itu selalu mementingkan diri sendiri, namun kali ini dia memikirkan nasib kerajaan Jenggala selanjutnya.
"Benar kata Gusti Samarotsaha, Gusti Pangeran.
Kita harus mundur dari istana Kahuripan. Kita susun ulang kekuatan kita di luar tembok istana. Saat kita siap, kita akan menggempur Panjalu", timpal Mpu Baratwana sambil menyembah.
Hemmmmmmm
Kembali terdengar dengusan nafas panjang dari Mapanji Alanjung. Meskipun tidak rela meninggalkan istana Kahuripan, namun jika terlambat maka tamat sudah riwayat kerajaan Jenggala. Dengan berat hati, Mapanji Alanjung bertitah,
"Baiklah,
Malam ini juga kita mundur dari istana Kahuripan. Kita bangun pertahanan di timur Kahuripan sebagai persiapan untuk menyerang Panjalu!", ucap Mapanji Alanjung dengan cepat.
Dan malam itu, terjadi kehebohan luar biasa di dalam istana Kahuripan. Mereka dengan cepat meninggalkan Istana Kahuripan dengan membawa harta benda.
Mapanji Alanjung menatap ke arah gapura Istana Kahuripan sejenak sebelum kereta yang di tumpanginya bergerak meninggalkan tempat itu.
"Istana Kahuripan,
Aku pasti akan kembali padamu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya.
Selamat membaca 😁🙏😁