Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Aku Pulang Untukmu


__ADS_3

Tumenggung Suralaya segera menghormat pada Senopati Mpu Tandi dan mundur dari hadapannya.


Senopati Mpu Tandi langsung menatap Tumenggung Srenggapati dan Tumenggung Kencak.


"Srenggapati, Kencak..


Aku mau laporan terbaru mengenai pasukan kita segera. Nanti sore aku tunggu kalian disini untuk bertemu. Panggil juga semua perwira tinggi dan menengah prajurit kita untuk menghadap.


Kalian laksanakan", titah sang Senopati Mpu Tandi.


"Sendiko dawuh Gusti Senopati", dua tumenggung Jenggala segera menghormat pada Senopati Mpu Tandi dan bergegas menuju perkemahan pasukan Jenggala di utara Lwaram.


Mpu Tandi menatap langit siang itu dengan sayu. Ada perasaan aneh yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.


**


Panji Watugunung dan keempat istrinya menepuk punggung kudanya menyusuri jalan setapak di tepi hutan menuju kota Pakuwon Tawang.


Cuaca yang panas membuat mereka sedikit kehausan dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Usai mengikat tali kekang kuda pada semak belukar di tepi jalan setapak, mereka duduk di bawah pohon rindang untuk melepas lelah.


Dewi Srimpi membuka kantong air dari kulit rusa nya dan memberikan pada Panji Watugunung yang berpeluh.


"Terimakasih Dinda Srimpi", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Sama sama Denmas", Dewi Srimpi beringsut mundur agak menjauh.


Mereka berlima makan perbekalan yang sudah di persiapkan saat di istana Seloageng tadi pagi.


Tiba-tiba saja dari arah barat, seorang lelaki tua dan seorang gadis muda berlari seperti dikejar oleh sesuatu. Lelaki tua berjenggot panjang itu berpakaian layaknya seorang pertapa. Mereka ngos-ngosan mengatur nafas sejenak kemudian berlari lagi dengan cepat ke arah Panji Watugunung dan keempat istrinya.


"Ayo lari Wandansari, kau tidak boleh tertangkap", teriak sang lelaki tua berpakaian pertapa itu sambil terus menarik tangan gadis muda yang bernama Wandansari itu.


"Aku sudah tidak kuat lagi Romo, aku sudah tidak kuat", balas Wandansari sambil terengah-engah.


Di belakang mereka, serombongan pria berjumlah sekitar 10 orang memburu mereka.


"Ayo tangkap mereka", teriak seorang pemuda yang tampaknya merupakan pemimpin kelompok itu.


Wandansari melihat rombongan itu langsung bergegas berlari menjauh. Namun karena kalah tenaga, akhirnya mereka terkejar juga di dekat tempat peristirahatan Panji Watugunung dan keempat istrinya. Mereka segera mengepung lelaki tua dan Wandansari.


Si pemuda segera mencekal lengan Wandansari. Gadis itu meronta-ronta ingin lepas. Sementara anak buah nya menangkap lelaki tua berpakaian pertapa.


"Lepaskan aku, Karpo.


Dasar bajingan. Lepaskan aku.


Aku tidak mau menikah dengan mu", teriak Wandansari sambil mengibaskan tangannya namun tidak bisa lepas karna Karpo mencekal erat.


"Hahahaha


Kau pikir bisa lepas dari tangan ku Wandansari,


Jangan mimpi kau", Karpo menyeringai lebar.


"Lepaskan putri ku bangsat. Aku tidak rela jika dia menikah dengan bajingan laknat seperti mu", teriak lelaki tua berpakaian pertapa itu.


"Resi Widagdo, jangan banyak omong. Kau setuju atau tidak, Wandansari akan tetap menjadi istri ku.


Pukul dia", teriak Karpo sambil mendelik tajam kearah anak buahnya.


Seorang lelaki berbadan besar langsung memukul perut Resi Widagdo dengan keras.


Bukkkkk


Oughhh


Resi Widagdo terhuyung huyung kesakitan akibat pukulan keras anak buah Karpo. Saat akan memukul lagi, sebuah tulang ayam melesat cepat ke arah pelipis kanan si pria berbadan besar itu.


Clakkkk!


Anak buah Karpo langsung terpelanting dan pingsan seketika.


"Brengsek,


Siapa berani ikut campur urusan ku?", teriak Karpo geram.

__ADS_1


"Aku. Memangnya kenapa kalau aku ikut campur?"


Seorang perempuan muda cantik jelita muncul dari balik pohon besar sambil mengunyah daging ayam. Bisa dipastikan dia pelaku yang menyerang anak buah Karpo tadi.


Melihat perempuan cantik itu, mata Karpo langsung melebar. Di bandingkan Wandansari, perempuan itu jauh lebih cantik. Apalagi kemudian, dua orang yang tak kalah cantik nya juga muncul di samping perempuan itu.


"Hahahaha,


Apa kau ingin ku peristri juga ha? Boleh, aku tidak akan menolakmu", Karpo langsung tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh semua anak buah nya.


Phuihhh


"Lebih baik tidak menikah seumur hidup daripada harus menikah dengan bajingan berwajah jelek seperti mu", Ratna Pitaloka meludah ke atas tanah.


"Kurang ajar!


Cantik cantik mulutmu pedas juga. Perlu ku beri pelajaran rupanya.


Kalian semua, tangkap tiga perempuan cantik itu sekarang", Karpo yang geram karena di hina, langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap tiga selir Panji Watugunung itu segera.


Sembilan orang anak buah Karpo langsung mengepung mereka bertiga.


Mereka langsung menerjang kearah ketiga selir Panji Watugunung.


Seorang lelaki berbaju hitam langsung melayangkan pukulan tangan kosong ke wajah Ratna Pitaloka, perempuan itu hanya tersenyum tipis sambil menggeser posisi tubuhnya sedikit ke kiri kemudian sikutnya mengarah ke dada sang penyerang.


Deshhhhh


Aughhhhh


Si baju hitam terpelanting ke belakang. Meski kelihatan pelan, namun karena dialiri tenaga dalam, sikutan Ratna Pitaloka membuat sesak nafas si baju hitam.


Melihat teman temannya roboh, si baju merah langsung mencabut pedang nya dan menyabet leher Ratna Pitaloka.


Perempuan itu hanya sedikit menunduk, kemudian menyapu kaki si baju merah dengan kaki kanan nya. Si baju merah limbung.


Ratna Pitaloka segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras ke perut si baju merah.


Bukkkkk


Oughhh


Si ikat kepala biru langsung ciut nyali nya melihat Ratna Pitaloka dengan mudah menghajar kawan-kawannya.


Dia langsung kabur meninggalkan arena pertarungan.


Dewi Srimpi lebih kejam, sekali serang tiga orang anak buah Karpo langsung pingsan dengan Racun Kembang Emas nya.


Sekar Mayang malah membuat tiga penyerangnya menderita luka lebam dan patah tulang.


Melihat anak buahnya berjatuhan, Karpo berniat melarikan diri. Saat pria itu meloncat hendak kabur, sebuah tulang ayam melesat menghajar dada kanan nya.


Sreeetttttt


Clakkkk


Aarrgghhh


Suara tulang patah diikuti raungan keras dari Karpo, membuat Wandansari dan Resi Widagdo terkejut bukan main. Karpo langsung muntah darah segar. Dia pingsan.


Dari balik pohon besar, Panji Watugunung dan Ayu Galuh muncul.


Resi Widagdo langsung menghormat pada ketiga selir Panji Watugunung.


"Terimakasih atas bantuannya pendekar muda, Resi tua ini sangat tertolong oleh bantuan pendekar muda sekalian".


"Tidak perlu sungkan, pak tua. Kami hanya tidak suka ada orang menindas orang lain", ujar Ratna Pitaloka segera.


"Kalau boleh tau, kenapa kroco sekelas mereka ini mengejar kalian?", tanya Sekar Mayang sambil melirik ke Karpo dan anak buahnya.


Resi Widagdo langsung menghela nafas panjang kemudian ia bercerita.


"Kami penduduk Wanua Suren di Pakuwon Bonokeling wilayah Kabupaten Gelang-gelang.


Di wanua kami, ada seorang juragan besar yang bernama Karmo. Dia adalah bapak Karpo.


Karena ayahnya juragan besar, Karpo bertindak sesuka hati. Dia suka bertindak seenaknya, main perempuan juga mengganggu para wanita. Semua orang takut pada nya, karena Juragan Karmo selalu membela anaknya itu.

__ADS_1


Sepekan yang lalu, dia berniat menikahi Wandansari. Kami terang saja menolak nya. Tapi karena kami tidak berdaya, kemarin malam kami kabur dari rumah, meninggalkan wanua agar tidak menjadi korban Karpo selanjutnya.


Tapi rupanya Karpo mengetahui tindakan kami dan mengejar kami. Sampai kami bertemu dengan pendekar muda sekalian", Resi Widagdo mengakhiri ceritanya sambil membungkuk hormat kepada Panji Watugunung dan keempat istrinya.


"Hemmmmm,


Lantas apa rencana kalian selanjutnya?", tanya Ayu Galuh yang sedari tadi hanya diam mendengar.


"Kami tidak ingin kembali ke Suren lagi. Kami ingin pindah tempat pendekar muda", Wandansari menghormat pada Ayu Galuh.


"Bagaimana jika kalian ikut kami ke Gelang-gelang? Aku berani memastikan bahwa tidak akan ada yang berani mengganggu kalian lagi disana", Ayu Galuh menatap Panji Watugunung yang tersenyum mendengar ucapan Ayu Galuh.


"Boleh kan Kangmas?".


"Iya boleh, mereka berdua boleh ikut", jawab Watugunung kemudian.


Mendengar jaminan keamanan dari mereka, Resi Widagdo dan Wandansari segera menghormat pada Panji Watugunung.


Mereka kemudian naik kuda Ayu Galuh, sedangkan Ayu Galuh berkuda bersama Panji Watugunung. Meski sempat sedikit ribut, namun akhirnya ketiga selir Panji Watugunung memilih mengalah.


Mereka bertujuh menuju ke Pakuwon Randu yang masuk wilayah kabupaten Gelang-gelang.


Menjelang sore, Panji Watugunung memilih tidak merepotkan pihak istana Pakuwon Randu dengan bermalam di sebuah penginapan.


Malam itu berlalu dengan cepat.


Keesokan paginya, setelah membeli seekor kuda untuk Ayu Galuh, mereka melanjutkan perjalanan ke kota Gelang-gelang. Menjelang tengah hari mereka sudah sampai di gapura istana Gelang-gelang.


Seorang prajurit penjaga yang melihat kedatangan Panji Watugunung segera membuka gerbang istana, sedang seorang lagi berlari menuju ruang pribadi Bupati Gelang-gelang untuk mengabarkan kedatangan nya.


Kebetulan Dewi Anggarawati yang sedang bersama dengan Bupati Gelang-gelang dan Dewi Pancawati di taman sari istana.


"Mohon maaf jika hamba lancang Gusti Bupati,


Gusti Pangeran Panji Watugunung sudah kembali, sekarang beliau ada di depan bangsal paseban agung", lapor sang prajurit.


"Kau boleh kembali ke tempat mu", jawab sang Bupati Gelang-gelang.


Begitu mendengar suaminya pulang, perempuan cantik yang sedang hamil itu bergegas menuju ke arah bangsal paseban agung kabupaten Gelang-gelang di temani Dewi Pancawati dan Panji Gunungsari.


Melihat Panji Watugunung turun dari kudanya, Anggarawati langsung bahagia. Air mata kerinduan nya tumpah seketika. Perempuan cantik itu langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.


Hiks hiks..


Air mata Anggarawati terus mengalir di pipinya. Panji Watugunung segera mengelus kepala sang putri bungsu Adipati Seloageng itu.


"Sudah Dinda Anggarawati, jangan menangis lagi.


Aku pulang untuk mu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungan kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ❤️❤️❤️❤️


Pokoknya lophe lophe dah 😁😁😁

__ADS_1


Selamat membaca guys 🙏😁🙏


__ADS_2