
Dewi Kenanga terus memacu kudanya menuju ke arah dermaga penyeberangan sungai Brantas yang menghubungkan antara wilayah Anjuk Ladang dan Dahanapura.
Begitu sampai di sana, matahari telah sepenggal naik di ufuk timur. Wanita cantik itu segera melompat turun dari kudanya dan mencari air untuk membersihkan luka dan darah yang mengotori baju nya.
Dari gentong yang ada di depan sebuah warung makan, Dewi Kenanga mendapatkan air bersih. Setelah mencuci luka, perempuan cantik itu segera menaburkan bubuk obat yang dia ambil dari kantong baju nya. Lalu dengan cepat, dia merobek ujung selendang nya dan mengikat luka di lengan kiri nya yang baru ditaburi obat. Setelah selesai, perempuan itu mencuci baju nya dari darah yang menempel.
Dewi Kenanga menghela nafas lega, kemudian menuntun kuda nya menuju ke arah dermaga penyeberangan.
Seorang lelaki bertubuh gempal segera mengarahkan Dewi Kenanga pada kapal penyeberangan yang sudah hampir penuh.
Segera kapal penyeberangan bergerak menuju ke seberang. Si lelaki bertubuh gempal pemilik perahu penyeberangan sesekali menatap ke arah Dewi Kenanga yang matanya sembab sambil memandang arus sungai Brantas yang keruh kecoklatan.
Saat kapal penyeberangan berlabuh di dermaga seberang sungai, Dewi Kenanga segera menuntun kuda nya turun dari kapal penyeberangan usai membayar 1 kepeng perak pada pemilik kapal.
Tanpa berpikir panjang, Dewi Kenanga segera melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan tunggangan itu menuju ke arah Kota Kadiri.
Tujuan Dewi Kenanga ke Kadiri adalah untuk memperingatkan Panji Watugunung tentang rencana Pangeran Alas Larangan yang ingin membalas dendam kepada nya. Selain itu dia juga berharap agar Panji Watugunung bisa membalaskan kematian saudara seperguruan nya karena dia tahu Panji Watugunung berilmu tinggi.
Setelah melewati jalan raya Ibukota kerajaan Panjalu, Dahanapura, Dewi Kenanga terus memacu kudanya menuju ke arah Kadiri. Sepanjang perjalanan, air mata perempuan cantik itu terus menetes.
Saat matahari melewati atas kepala atau lepas tengah hari, Dewi Kenanga sampai di kota Kadiri. Perempuan itu segera memacu kudanya menuju ke arah Istana Katang-katang.
Dua orang prajurit penjaga gerbang istana langsung menghadang Dewi Kenanga saat perempuan cantik itu sampai di situ.
"Berhenti Nisanak...
Turun dari kudamu", perintah si prajurit penjaga gerbang yang berambut gondrong dengan kumis tebal.
Dewi Kenanga segera melompat turun dari kudanya. Dengan segera, dia mendekati mereka berdua.
"Maaf Ndoro Prajurit,
Saya ingin bertemu dengan Gusti Pangeran Watugunung. Tolong sampaikan kepada nya, Dewi Kenanga dari Perguruan Racun Kembang ingin bertemu", ujar Dewi Kenanga dengan cepat.
Sejenak si prajurit penjaga gerbang itu menatap ke arah Dewi Kenanga dengan tatapan menyelidik. Setelah merasa yakin bahwa perempuan cantik itu tidak ada niat jahat, si prajurit penjaga gerbang itu menoleh ke arah kawannya yang berjaga di sebelahnya.
"Tahan perempuan ini, jangan biarkan dia masuk sebelum aku kembali", ujar si prajurit penjaga gerbang berambut gondrong itu segera.
"Baik Kakang", jawab kawannya yang ada di sebelahnya.
Si prajurit penjaga gerbang itu segera melangkah masuk ke dalam istana Katang-katang.
Panji Watugunung sedang mendengarkan laporan dari Warigalit saat si prajurit penjaga gerbang itu berjongkok mendekati mereka di istana pribadi Yuwaraja. Segera si prajurit penjaga gerbang istana menyembah pada Panji Watugunung.
"Mohon ampun bila hamba mengganggu Gusti Pangeran,
Seorang wanita muda yang mengaku bernama Dewi Kenanga dari Perguruan Racun Kembang ingin bertemu dengan Gusti Pangeran.
Apakah Gusti Pangeran Jayengrana berkenan menerima kehadiran nya?", ujar si prajurit penjaga gerbang itu dengan penuh hormat.
Mendengar pertanyaan itu, Panji Watugunung dan Warigalit saling berpandangan sejenak.
"Dia datang bersama siapa?", tanya Panji Watugunung segera.
"Sendiri Gusti Pangeran, melihat dari tampilan nya seperti nya perempuan itu baru selesai bertarung", ucap si prajurit penjaga gerbang dengan sopan.
Hemmmm
"Baiklah,
Ijinkan dia masuk. Dan minta pada Bekel Prajurit Istana untuk meningkatkan penjagaan di sekitar istana", titah Panji Watugunung sambil menatap ke arah si prajurit penjaga gerbang.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", si prajurit penjaga gerbang segera menyembah pada Panji Watugunung dan mundur dari serambi istana pribadi Sang Yuwaraja.
Si prajurit penjaga gerbang dengan langkah tegak segera menuju ke arah pintu gerbang istana Katang-katang.
"Kau ikut dengan ku. Jaga kesopanan mu saat berhadapan dengan junjungan kami", ujar si prajurit berambut gondrong itu pada Dewi Kenanga. Mereka berdua segera melangkah menuju ke serambi istana pribadi Yuwaraja Panjalu.
Begitu sampai di serambi istana pribadi, si prajurit segera menyembah pada Panji Watugunung diikuti oleh Dewi Kenanga.
"Ada perlu apa kau kemari, Dewi Kenanga?
Apa terjadi sesuatu dengan Perguruan Racun Kembang?", tebak Panji Watugunung setelah melihat dandanan Dewi Kenanga.
"Mohon maaf Gusti Pangeran,
Saya kesini untuk memberi tahu bahwa Pangeran Alas Larangan memimpin orang orang Padepokan Alas Larangan menyerbu kemari. Kemarin mereka telah meratakan Perguruan Racun Kembang. Seluruh anggota Perguruan Racun Kembang di habisi oleh mereka.
Guru ku pun harus tewas demi menyelamatkan nyawa ku", air mata Dewi Kenanga langsung mengalir saat berbicara.
"Maksud mu, Dewi Kembang Wengi juga terbunuh?", tanya Panji Watugunung yang kaget mendengar berita itu.
"Benar Gusti Pangeran..
Karena itu saya datang kemari untuk mengabarkan ini pada Gusti Pangeran", ujar Dewi Kenanga dengan mata merah habis menangis sesenggukan.
"Terimakasih atas peringatan mu, Dewi Kenanga.
__ADS_1
Aku akan menyiapkan diri untuk menghadapi mereka. Setelah ini apa rencana mu?", Panji Watugunung segera menatap wajah Dewi Kenanga.
"Saya tidak tahu Gusti Pangeran, saya hanya sebatang kara", ucap Dewi Kenanga sambil menunduk.
Hemmmm
"Sementara tinggal saja disini. Kalau kau bersedia untuk mengabdi kepada ku, akan ku tempatkan kau sebagai prajurit Daha asal kau bersedia untuk bersumpah setia pada Panjalu", titah Panji Watugunung segera.
Wajah Dewi Kenanga langsung cerah mendengar ucapan Panji Watugunung.
"Saya bersedia Gusti Pangeran, saya bersedia", ujar Dewi Kenanga dengan cepat.
"Sekarang kau beristirahat dulu di bangsal tamu, pulihkan dulu luka mu sebelum kau bertugas.
Prajurit,
Antar wanita ini ke bangsal tamu", perintah Panji Watugunung yang segera membuat si prajurit penjaga gerbang itu segera menyembah pada Panji Watugunung. Dewi Kenanga segera mengikuti langkah sang prajurit.
Setelah mereka berlalu, Warigalit segera menatap ke arah Panji Watugunung.
"Dhimas Pangeran,
Apa kau sudah mempertimbangkan masak-masak dengan keputusan mu tadi?
Aku hanya khawatir dengan watak perempuan itu", ujar Warigalit dengan raut muka khawatir.
Panji Watugunung menghela nafas panjang.
"Aku tahu itu Kakang..
Tapi kita membutuhkan banyak tenaga yang mumpuni dalam beladiri untuk menghadapi perang besar yang bisa pecah sewaktu waktu.
Setidaknya dengan tambahan tenaga Dewi Kenanga, bisa menguatkan kemampuan menyerang kita", ujar Panji Watugunung sambil mengelus dagunya.
"Mpu Lumadi juga menawarkan putranya yang bernama Narajaya untuk menjadi prajurit Daha, Dhimas Pangeran.
Apa sebaiknya kau terima dia juga?", tanya Senopati Warigalit sambil tersenyum tipis.
"Kita bahas besok Kakang,
Aku minta Kakang meningkatkan penjagaan di sekitar kota Kadiri. Sebar telik sandi kita di seputar kota. Pancing mereka supaya bisa mendekati istana. Saat mereka sampai di luar tembok istana, kita hancurkan mereka", perintah Panji Watugunung dengan tegas.
"Sendiko dawuh Dhimas Pangeran", ujar Warigalit sambil menghormat pada Panji Watugunung. Senopati Kadiri itu segera mundur dari serambi istana pribadi Yuwaraja dan bergegas menata para prajurit.
Sementara itu Pangeran Alas Larangan yang telah menyeberang sungai Brantas, segera memacu kudanya menuju ke arah kota Kadiri. Diikuti oleh 200 orang anak murid Padepokan Alas Larangan, mereka menuju ke arah Kadiri dari sisi selatan. Mereka menghindari kota Dahanapura untuk mengurangi kecurigaan warga juga pemeriksaan dari patroli para prajurit Daha.
Menjelang sore hari, mereka tiba di sebuah hutan kecil di selatan kota Kadiri. Beberapa peladang yang melihat kedatangan mereka, memilih untuk tidak bersinggungan langsung dengan orang orang berbaju merah itu.
"Kang Moyo,
Mereka berjumlah sekitar 200 orang berkuda. Saat ini mereka berhenti di tepi hutan kecil itu. Aku takut mereka adalah gerombolan perampok yang ingin menjarah kota Kadiri", ujar si peladang pada Ki Moyo, sang telik sandi.
'Cepat sekali mereka datang', batin Ki Moyo.
"Kau tenang saja, Harjo..
Aku akan melaporkan kejadian ini ke istana", ujar Ki Moyo sambil tersenyum tipis. Lelaki bertubuh gempal itu segera berjalan mendekati kudanya dan melompat ke atas nya. Dengan cepat, Ki Moyo memacu kudanya menuju ke arah istana Katang-katang.
Di tepi hutan, Pangeran Alas Larangan sedang duduk di atas batu besar. Simbarmayura dan Darugeni mendekati pemimpin Padepokan Alas Larangan itu segera.
"Kapan kita bergerak Kanjeng Pangeran?", tanya Darugeni sambil menatap ke arah Pangeran Alas Larangan.
Pria muda tampan yang sebenarnya telah berusia ratusan tahun itu menatap ke arah langit barat yang mulai memerah.
"Tunggu sebentar lagi, Darugeni..
Istana Kadiri pasti punya banyak prajurit. Kalau kita ceroboh asal serbu saja, sama dengan kita mengantar nyawa kesana.
Langit malam akan membantu kita bergerak tanpa menimbulkan keributan di kota Kadiri", jawab Pangeran Alas Larangan dengan senyum seringai nya.
Darugeni dan Simbarmayura mengangguk mengerti dengan apa yang di inginkan oleh pemimpin mereka itu.
Hari semakin sore. Senja kemerahan segera berganti gelap malam yang di terangi bulan yang tinggal separuh di langit. Suasana begitu dingin di sekitar hutan kecil itu saat Pangeran Alas Larangan dan orang orang berbaju merah bergerak cepat menuju ke arah kota Kadiri.
Sepanjang pergerakan mereka, beberapa pasang mata terus mengawasi gerak-gerik mereka.
Para anggota Padepokan Alas Larangan sama sekali tidak curiga dengan mudahnya mereka memasuki kota Kadiri.
Di depan gerbang selatan istana Katang-katang, Pangeran Alas Larangan menghentikan langkah kakinya. Mata pemimpin Alas Larangan itu menatap sekeliling tempat itu.
Sedikit curiga dia melihat sepi dan longgar nya penjagaan di gerbang selatan. Terlihat hanya empat prajurit yang menjaga gerbang istana.
'Huhhhhh, Dewata rupanya berpihak pada ku..
Malam ini akan ku penggal kepala Panji Watugunung', batin Pangeran Alas Larangan.
Saat Pangeran Alas Larangan mulai bergerak, sebuah anak panah meluncur cepat dari atas tembok istana mengincar dada sang pemimpin Padepokan Alas Larangan.
__ADS_1
Shrrrinnngggg!!!
Merasakan angin kencang mengancam nyawa, Pangeran Alas Larangan segera menghantamkan tapak tangan nya kearah anak panah.
Whuuussshh..
Brakkkk!!!
Anak panah langsung hancur berantakan karena terkena hantaman tenaga dalam yang keluar dari tapak tangan kanan Pangeran Alas Larangan.
"Bangsat!!
Jangan main bokong kalau berani", teriak Pangeran Alas Larangan dengan keras.
Ratusan prajurit satu persatu mulai muncul mengepung mereka termasuk para pemanah yang siap menembakkan anak panah dari atas tembok istana.
"Sepertinya kedatangan kita telah diketahui, Kanjeng Pangeran", bisik Darugeni yang ada di samping Pangeran Alas Larangan.
"Benar Darugeni. Aku sudah curiga dengan mudahnya kita memasuki kota ini. Ternyata ini adalah jebakan yang dipersiapkan oleh Panji Watugunung.
Keparat dia!", geram Pangeran Alas Larangan dengan raut muka murka.
Dari atas tembok istana, beberapa bayangan melompat turun ke depan Pangeran Alas Larangan dan para anak murid Padepokan Alas Larangan.
Plasshhhh..
Jlegg jlegg jlegg!!!
Diterangi cahaya sinar bulan, Panji Watugunung melangkah maju diikuti oleh Warigalit, Tumenggung Landung, Patih Saketi dan beberapa pembesar istana Katang-katang seperti Gumbreg dan Rakai Sanga.
"Mau apa kalian kemari?", terdengar suara dingin Panji Watugunung yang membuat Pangeran Alas Larangan menatap ke arah sang pemilik suara.
"Darugeni,
Apa dia yang bernama Panji Watugunung?", Pangeran Alas Larangan berteriak pada Darugeni tanpa memalingkan wajahnya dari Panji Watugunung.
"Benar Kanjeng Pangeran,
Dia yang membunuh Dewa Tanah tempo hari", ucap Darugeni sambil menunjuk pada Panji Watugunung.
"Panji Watugunung,
Aku kemari untuk menuntut balas kematian sesepuh Padepokan Alas Larangan yang sudah kau bunuh.
Bersiaplah menemani mereka menemui Dewa Yamadipati", teriak Pangeran Alas Larangan sambil mengangkat tangan kanannya.
"Anak murid Padepokan Alas Larangan,
Bunuh mereka semua!!!!"
Mendengar perintah itu, anak murid Padepokan Alas Larangan segera menerjang maju ke para prajurit Daha yang mengepung mereka.
Pertempuran sengit pecah di depan pintu gerbang selatan Istana Katang-katang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏