
"Ka-kami mau ke rumah Ki Lurah Suro, Ndoro Prajurit..
Ada sanak saudara yang sakit keras dan butuh pertolongan Ki Lurah Suro", ujar si bayangan hitam dengan suara ketakutan.
"Siapa kalian?
Apa kalian tidak tahu suasana sedang genting begini ha?", bentak seorang prajurit Panjalu yang mengawal Tumenggung Landung.
"Saya Ki Panggih dan dua orang ini adalah saudara saya. Kami tahu suasana sedang tidak aman, tapi kami tidak punya pilihan lain kecuali menghadap Ki Lurah Suro, Ndoro Prajurit", ujar lelaki yang berada paling depan.
Si prajurit Panjalu segera mendekati si lelaki bertubuh gempal itu dengan mendekatkan obor nya untuk melihat wajah orang itu lebih dekat. Karena cahaya bulan yang mendekati purnama tak cukup terang untuk melihat dengan jelas.
Hemmmmmmm..
Dengusan nafas dingin terdengar dari hidung si prajurit Panjalu. Lelaki itu segera kembali ke samping Tumenggung Landung untuk melapor.
"Mereka orang biasa Gusti Tumenggung. Apa yang sebaiknya kita lakukan?", tanya si prajurit bertubuh kekar itu segera.
"Kita antar mereka ke rumah Ki Lurah Suro. Kalau benar ini warganya pasti dia mengenali mereka. Kalau tidak, bunuh saja mereka di tempat", ujar Tumenggung Landung dengan tegas.
Tumenggung Landung segera melangkah menuju ke arah kediaman Lurah Wanua Cenggini diikuti oleh para prajurit Panjalu yang menggiring 3 orang yang keluyuran pada malam hari itu.
Dua pasang mata terus menatap ke arah perginya para prajurit Panjalu di salah satu sudut jalan yang terlindung gelap malam.
"Benar dugaan ku Gusti Pangeran. Mereka sudah sampai di sini", bisik salah satu bayangan hitam pada sosok lain di dekatnya.
"Iya Galungwangi, untung saja kau cerdas dengan menyuruh 3 prajurit itu jalan duluan. Kalau tidak kita pasti sudah tertangkap", ujar sesosok bayangan hitam yang tak lain adalah Suryanata.
Galungwangi menyuruh 3 prajurit pengawal pribadi Pangeran Suryanata untuk berjalan lebih dulu untuk memastikan Wanua Cenggini dalam keadaan aman sekaligus sebagai umpan agar mereka berdua bisa bergerak leluasa.
Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrr!!!
Ledakan keras dari pertarungan antara Panji Watugunung dan Resi Tunggak membuat para prajurit Panjalu yang berpatroli terkejut.
Diam-diam 3 orang lelaki berpakaian layaknya orang biasa itu menghunus pedang pendek yang tersembunyi di balik bajunya.
Kemudian mereka dengan cepat menikam para prajurit Panjalu yang teralihkan perhatiannya pada bunyi ledakan dahsyat yang baru mereka dengar.
Jleeeeppppph!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Dua orang prajurit Panjalu yang berada di dekat 3 orang itu langsung meraung keras terkena tikaman pedang pendek.
Yang lain langsung menebaskan pedangnya kearah tiga orang berpakaian rakyat jelata itu segera.
Chhrrrraaaaaassss!
Aarrrggghhhhhhhhh!!!
Seorang lelaki bertubuh gempal yang mengaku bernama Ki Panggih langsung melompat menjauh sedangkan seorang temannya tersungkur dengan luka menganga lebar pada leher. Mereka segera di kepung oleh para prajurit Panjalu yang berpatroli itu. Galungwangi dan Suryanata memanfaatkan itu untuk segera bergerak meninggalkan tempat itu.
"Bangsat!
Rupanya kalian orang orang Suryanata", teriak Tumenggung Landung dengan geram. Dua prajurit nya tewas dengan bersimbah darah.
Dia segera melompat tinggi ke udara sambil menebaskan pedangnya kearah Ki Panggih yang berupaya menangkis tebasan pedang Tumenggung Landung.
Thriiiinnngggggg!!
Ki Panggih meski kalah tenaga berhasil menahan tebasan pedang Tumenggung Landung. Namun satu tendangan keras dari Landung langsung menghantam dada prajurit Kembang Kuning itu.
Bhhhuuukkkkkhhh..
Ooouuugggghhhhh!!
Ki Panggih menjerit keras dan terjengkang ke belakang. Dia merasakan sakit luar biasa pada dada nya. Landung yang naik darah langsung mengayunkan pedangnya kearah leher Ki Panggih.
Chrraaasssshhh!!
Kepala prajurit Kembang Kuning itu langsung menggelinding ke tanah terpisah dari badannya. Kawan Ki Panggih yang kalap, membabatkan pedang nya ke arah Tumenggung Landung, namun perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan cepat menangkisnya.
Thrrraaannnnggggg!!
Satu tebasan pedang dari salah seorang prajurit Panjalu langsung mengarah ke punggung kawan Ki Panggih.
Shrraaaakkkkhhhh..
Aaarrrghh!!
Meski tidak terlalu parah, kawan Ki Panggih langsung terjungkal menubruk tubuh Ki Panggih. Meski terluka parah, dia masih hidup.
Tumenggung Landung segera mengayunkan pedangnya kearah leher kawan Ki Panggih.
"Katakan dimana Suryanata?
Akan ku ampuni nyawamu kalau kau berkata jujur. Tapi kalau tidak, pedang ini akan mengantar nyawa mu ke neraka", ancam Tumenggung Landung dengan sengit.
"Huhhhhh...
Lebih baik aku mati daripada mengkhianati junjungan ku", ucap kawan Ki Panggih seraya menatap tajam ke arah Tumenggung Landung.
Dia lalu merogoh pisau kecil yang terselip di pinggangnya dan dengan cepat menghujamkan nya para perutnya sendiri.
Jleeeeppppph..
Ouuuuggghhhh!!
Kawan Ki Panggih meraung keras sebelum akhirnya tewas bunuh diri. Tumenggung Landung mendengus keras lalu menoleh ke arah para prajurit Panjalu di dekatnya.
"Kita kejar Suryanata, pasti belum jauh dari sini", usai berkata demikian Tumenggung Landung segera bergegas mengejar Pangeran Suryanata. Landung tahu pasti mereka mengarah ke Kali Agung untuk menyeberang ke Rajapura.
Suryanata dan Galungwangi terus berlari menuju ke arah tepi Kali Agung. Namun melihat kerumunan para prajurit Pakuwon Sambang yang mencegat di dekat perahu yang dijanjikan oleh Sembada, mereka berlari menuju ke arah selatan.
"Hai itu dia orangnya!
__ADS_1
Cepat tangkap mereka!", teriak pemimpin prajurit Pakuwon Sambang, Bekel Kandaga yang melihat arah lari nya Suryanata dan Galungwangi.
Mendengar perintah Bekel Kandaga, para prajurit Pakuwon Sambang langsung memburu Pangeran Suryanata yang bergerak menuju ke arah dermaga penyeberangan Wanua Cenggini.
Guwarsa yang sempat kehilangan jejak Suryanata dan Galungwangi melihat dua bayangan berkelebat cepat kearah selatan langsung mengikuti arah pelarian mereka.
Dari arah tenggara, Pasukan Panjalu di bawah pimpinan Tumenggung Landung berlari cepat mengepung Suryanata dan Galungwangi yang terpojok. Tidak ada pilihan lain bagi kedua orang itu selain menuju ke arah dermaga penyeberangan Wanua Cenggini yang menjadi satu satunya jalan keluar dari kepungan para prajurit Panjalu.
Di dermaga penyeberangan Wanua Cenggini sendiri, pertarungan antara Dewi Srimpi dan Wisastra berlangsung sengit.
Wisastra bertarung memakai dua pedang sedangkan Dewi Srimpi menggunakan pedang pendek nya yaitu Pedang Kelabang Neraka.
Sudah dua puluh jurus berlalu namun nampaknya keduanya sama-sama memiliki kemampuan beladiri yang tinggi.
Keduanya sama-sama melompat mundur untuk mengambil napas sejenak.
"Kau cukup hebat wanita cantik. Aku akui baru kali ini aku bertemu dengan lawan tangguh seperti mu.
Tapi itu tak cukup untuk membuat kau bisa mengalahkan aku", ujar Wisastra alias Pendekar Pedang Seribu dengan jumawa.
"Jangan sombong dulu, kakek tua.
Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri ku. Selepas ini jangan harap kau bisa melihat matahari terbit esok pagi", jawab Dewi Srimpi sembari tersenyum tipis. Memang dari tadi dia tidak menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin nya untuk menekan pergerakan Wisastra. Dia memberi waktu bagi Cempluk Rara Sunti untuk menghabisi para pengikut Wisastra dengan Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan nya.
Wisastra mendesis kesal. Rupanya dia tertipu dengan ulah Dewi Srimpi yang memancingnya untuk bertarung menjauhi anak buah nya. Dengan mata kepala sendiri dia melihat Cempluk Rara Sunti menghabisi nyawa anak muridnya satu persatu tanpa ampun.
"Bangsat!
Rupanya kau sengaja menjatuhkan ku dari murid-murid ku. Akan ku cabut nyawamu ******!", teriak Wisastra dengan murka.
Wisastra dengan cepat merubah kuda kuda nya. Dia berniat untuk menghabisi nyawa Dewi Srimpi dengan ilmu pedang andalannya, Jurus Pedang Seribu Bayangan. Dua tangan Wisastra berputar hingga puluhan bayangan tangan menggenggam pedang tercipta di kedua bahu Wisastra.
Dewi Srimpi menghembuskan nafas panjang. Lalu melesat cepat kearah Wisastra menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin. Sambil melemparkan puluhan pisau kecil berwarna merah yang mengandung Racun Kelabang Neraka, tangan kiri nya memancarkan sinar biru terang karena Ajian Tapak Petir usai melemparkan senjata rahasia nya. Sementara tangan kanannya memegang erat gagang Pedang Kelabang Neraka yang berwarna merah kebiruan.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg shriingg!!
Jarum jarum berwarna merah melesat ke arah Wisastra. Pemimpin Padepokan Gunung Agung itu langsung mengayunkan pedangnya yang berjumlah puluhan menangkis jarum beracun Dewi Srimpi.
Thrrraaannnnggggg trakkk!!
Kibasan pedang Wisastra mampu menangkis serangan jarum beracun Dewi Srimpi, beberapa hancur berantakan di udara sedang yang lain bermentalan ke beberapa arah.
Namun Wisastra terkejut bukan main melihat tiba-tiba saja Dewi Srimpi muncul di hadapannya sembari mengayunkan Pedang Kelabang Neraka. Wisastra berupaya keras untuk menahan serangan Pedang Kelabang Neraka dengan pedang di tangan kirinya.
Thriiiinnngggggg tringgg!!
Wisastra yang masih terkejut, tak melihat bahwa sabetan Pedang Kelabang Neraka hanya pengalih perhatian nya.
Tangan kiri Dewi Srimpi yang berwarna biru terang namun tersembunyi di balik punggungnya, bergerak cepat menghantam dada Wisastra dengan keras.
Wisastra dengan panik mengerahkan seluruh tenaga dalam nya kearah dada untuk menahan hantaman Ajian Tapak Petir dari Dewi Srimpi.
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ledakan keras terdengar kembali. Wisastra terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras.
Lelaki tua itu muntah darah kehitaman pertanda dia menderita luka dalam yang cukup serius.
Saat yang bersamaan, Galungwangi dan Suryanata sampai ke tempat pertarungan antara Dewi Srimpi dan Wisastra. Putra Adipati Warasambu itu segera mendekati Wisastra yang tengah megap-megap mengatur nafasnya yang sesak.
Para pengejar Suryanata mulai berdatangan satu persatu. Tumenggung Landung dari tenggara, Tumenggung Ludaka dan Guwarsa dari timur dan para prajurit Pakuwon Gedangan dan Sambang dari Utara.
Para anggota Padepokan Gunung Agung memilih untuk mundur karena menyadari kalau bala bantuan para prajurit Pakuwon Gedangan berdatangan dari berbagai arah. Mereka membentuk pagar betis di sekeliling Galungwangi, Suryanata dan Wisastra.
Panji Watugunung berjalan pelan-pelan mendekat ke arah Suryanata.
"Suryanata,
Menyerahlah! Kau sudah tidak bisa lolos lagi", ujar Panji Watugunung yang berjalan dari arah barat.
Hemmmmmmm...
"Jayengrana, kau pengecut!
Beraninya kau hanya menggunakan taktik licik untuk menangkap ku. Kalau kau jantan, ayo satu lawan satu", teriak Suryanata yang sudah putus asa karena dia tidak mungkin bisa lolos dari kepungan para prajurit Panjalu.
"Mulut mu lancang sekali, pengkhianat negara!
Tak perlu Gusti Prabu Jayengrana yang turun tangan, aku saja sudah cukup untuk mencabut nyawa mu", sahut Tumenggung Ludaka yang geram sekali pada Suryanata. Dia benar-benar ingin mencincang tubuh orang itu.
Phuihhhh...
"Aku tidak punya urusan dengan mu, hai antek Jayengrana!
Kau tidak pantas melawan ku", ujar Suryanata dengan berapi-api.
"Kauuu..."
Belum sempat Tumenggung Ludaka bicara, Panji Watugunung segera berkata.
"Ludaka, cukup!
Akan ku selesaikan sendiri apa yang menjadi tugas ku. Mundurlah!", perintah Panji Watugunung yang segera membuat Tumenggung Ludaka menghormat pada Panji Watugunung dan mundur beberapa langkah.
"Ayo sekarang kita buktikan Suryanata. Kau atau aku yang pantas menjadi Raja Panjalu", ujar Panji Watugunung segera.
Suryanata menyeringai lebar. Dia sudah menantikan ini sejak lama. Putra Adipati Rajapura itu segera mencabut pedangnya kemudian melesat cepat kearah Panji Watugunung sembari mengayunkan pedangnya.
Panji Watugunung yang telah merapal Ajian Tameng Waja sama sekali tidak bergerak saat sabetan pedang Suryanata mengarah ke lehernya.
"Mampus kau keparat!"
Thrrriiinnnggggg!!!
Saat pedang Suryanata hampir menyentuh kulit Panji Watugunung, sinar kuning keemasan segera melindungi tubuh Sang Maharaja Panjalu. Suryanata melotot lebar saat pedangnya seperti membentur logam keras. Tangan kanan nya bergetar hebat hingga pedang itu nyaris terlepas dari genggaman tangannya.
__ADS_1
Panji Watugunung tersenyum lebar lalu tangan kanannya menghantam perut Suryanata dengan keras.
Bhhhuuukkkkkhhh...
Oouugghhhh!!
Suryanata terpental ke belakang sejauh 1 tombak. Isi perutnya terasa hancur akibat hantaman Panji Watugunung baru saja.
Huuuuuueeeeeggghh!
Isi perut Suryanata langsung keluar. Dia muntah muntah seketika. Putra Adipati Warasambu itu segera berdiri dan menunjuk ke arah Panji Watugunung.
"Bajingan kau Jayengrana!
Akan ku bunuh kau keparat!!", Suryanata memaki maki Panji Watugunung dengan keras. Dia geram, perutnya sakit sekali rasanya. Dia menancapkan pedangnya ke tanah.
Tangan Suryanata terentang lebar. Lalu bersilangan di depan dada. Tak lama kemudian, sinar biru terang tercipta di kedua kepalan tangannya. Dia merapal Ajian Tambak Segara ajaran Resi Tunggul dan Resi Tunggak.
Dengan cepat Suryanata menghantamkan kedua kepalan tangannya ke arah Panji Watugunung bergantian.
Shiiiuuuuuuuuttttt shiiiuuuuuuuuttttt..
Panji Watugunung sama sekali tidak berusaha menghindar dari sinar biru berhawa dingin itu.
Blammmmm blammmmm!!
Ledakan keras beruntun terdengar. Suryanata menyeringai lebar penuh kemenangan. Dia yakin bahwa Jayengrana pasti tewas terkena Ajian Tambak Segara nya. Dia tidak tahu bahwa kedua guru yang mengajarkan ilmu itu sudah tewas di tangan Panji Watugunung.
Senyuman Suryanata langsung lenyap saat melihat Panji Watugunung malah tersenyum lebar ketika asap tebal yang menutupi tubuhnya menghilang.
Belum sempat berkedip, tiba tiba Panji Watugunung sudah berdiri di depan nya dan langsung mencekik leher Suryanata dengan tangan kanan nya.
"Kau benar benar orang yang tidak tahu diri, Suryanata!
Aku sudah memberi mu kesempatan tapi kau malah ngotot ingin melawan ku. Sekarang terimalah kematian mu!", ujar Panji Watugunung yang segera merapal Ajian Waringin Sungsang.
Sinar hijau kebiruan melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung dan segera menjalar ke tubuh Suryanata yang meronta-ronta ingin di lepaskan.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Suryanata menjerit kesakitan saat Ajian Waringin Sungsang mulai menyedot daya hidup dan tenaga dalam nya. Putra Adipati Warasambu itu terus menjerit kesakitan.
Galungwangi yang tidak tega melihat penderitaan Suryanata melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil mengayunkan pedangnya kearah tangan kanannya yang mencekik leher Suryanata.
Namun sebuah jarum kecil berwarna merah melesat cepat kearah leher Galungwangi.
Chhreepppppph!
Auuuggghhhhh!!
Galungwangi langsung membekap lehernya yang terasa panas bagai terbakar api. Pengawal setia Suryanata itu langsung berguling guling ke tanah. Dari mulut Galungwangi muncul busa putih berbau busuk. Dia tewas dengan mata melotot seperti menahan sakit yang teramat sangat.
"Mengganggu saja!", desis Dewi Srimpi sambil kembali melihat kearah Panji Watugunung.
Tubuh Suryanata perlahan menghitam. Darah keluar dari lubang hidung, mata, telinga dan mulut Suryanata. Saat mencapai puncaknya, Panji Watugunung dengan cepat menghantam dada Suryanata yang tinggal tulang dan kulit.
Hiyyyyaaaaaaaatttttt..
Blllaaammmmmmmm!!
Tubuh Suryanata langsung hancur lebur menjadi abu. Malam itu menjadi akhir pelarian Suryanata, sang pangeran durjana pelaku makar terhadap Kerajaan Panjalu.
Para murid Padepokan Gunung Agung yang tersisa tak lebih dari 10 orang langsung berhamburan ke arah sampan dan perahu kecil di tepi dermaga penyeberangan Wanua Cenggini. Meninggalkan Wisastra yang terluka dalam serius.
Wisastra terbatuk-batuk sambil mulutnya mengeluarkan darah kehitaman. Panji Watugunung segera mendekati Wisastra yang masih terduduk di tanah.
"Katakan,
Siapa yang menyuruh kalian untuk membantu Suryanata?".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁