Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Rasa Malu Sang Perwira


__ADS_3

**


"Gusti Senopati, apa sebaiknya kita mendobrak gerbang istana Kadipaten Lasem ini? Seperti nya Gusti Pangeran Panji Watugunung akan lama datang kesini", ujar Tumenggung Wasikerta yang tidak sabar ingin segera menyerbu.


"Jangan bodoh!


Kau ingat perintah Gusti Pangeran Panji agar tidak menyerang masuk? Apa kau belum kapok dengan serangan kemarin?", Senopati Narapraja mendelik tajam kearah Tumenggung Lasem itu.


"Aku tau kamu ingin sekali membalas dendam kematian Adipati Waisudana. Tapi perang tidak hanya mengandalkan keberanian saja, Wasikerta.


Otak juga harus berpikir jernih, karna perang tidak hanya melibatkan diri mu sendiri, tapi juga para prajurit", imbuh sang Senopati Daha.


Tumenggung Lasem itu langsung tertunduk mendengar ucapan Senopati Narapraja. Dia memang sangat ingin membalas kematian Waisudana, Adipati Lasem yang telah berjasa mengangkat derajatnya dari seorang sudra menjadi ksatria. Waisudana bahkan mengangkat adik nya, Pujiwati menjadi selir sang Adipati. Karena itu, Tumenggung Wasikerta sangat benci pada prajurit Jenggala yang sudah menghancurkan keluarga nya.


Di dalam tembok istana, Mpu Tandi sang pemimpin pasukan Jenggala harap harap cemas menunggu kedatangan bala bantuan dari Kahuripan. Dia menatap ke arah Tumenggung Kencak dan Tumenggung Suralaya yang terlihat seperti kebingungan.


Tumenggung sepuh seperti Kencak dan Suralaya, adalah prajurit Kahuripan pada masa Airlangga. Mereka rekan seperjuangan di medan tempur saat Airlangga menaklukkan wilayah Medang yang sudah memerdekakan diri. Bisa di bilang mereka adalah para pahlawan pada masa itu.


"Durpa,


Bagaimana keadaan di gerbang istana selatan?", tanya Tumenggung Kencak pada Demung Durpa yang baru saja dari gerbang istana selatan.


"Pasukan Daha berusaha menjebol gerbang istana selatan Gusti Tumenggung, tapi anehnya mereka melakukan hanya sebentar kemudian berhenti", Demung Durpa menghormat pada Tumenggung sepuh itu.


Hemmmm


"Ada yang aneh. Seperti nya mereka sedang mengulur waktu. Jangan jangan....


Celaka!!


Gusti Senopati Gusti Senopati...", Tumenggung Kencak segera menyadari sesuatu dan bergegas menuju ke arah Senopati Mpu Tandi.


"Ada apa Kencak?


Kenapa raut muka mu pucat seperti habis melihat hantu?", Mpu Tandi menatap wajah sepuh Tumenggung Kencak.


"Pasukan Daha ternyata hanya mengulur waktu saja. Melihat serangan di gerbang istana barat dan selatan, terlihat mereka tidak serius menyerang kita.


Kemungkinan, sebagian besar pasukan mereka sedang menghadang bantuan pasukan dari Kahuripan, Gusti Senopati", Tumenggung Kencak yang telah berpengalaman puluhan tahun dalam perang menguraikan pendapat nya.


Hemmmmm


Senopati Jenggala, Mpu Tandi langsung mengerutkan keningnya. Ucapan Tumenggung Kencak ada benarnya. Tapi untuk keluar dari tembok istana, dan menyerang mereka itu sangat beresiko tinggi.


Kalau hanya menunggu, mereka masih bisa bertahan hidup selama persediaan bahan makanan di lumbung istana masih ada.


Kebimbangan menyelimuti hati Senopati Mpu Tandi.


"Bagaimana Gusti Senopati? Apa kita bertahan di dalam istana, atau kita bergerak keluar?", tanya Tumenggung Kencak kemudian. Tumenggung Suralaya yang baru dari gerbang timur istana, segera duduk bersila di samping Tumenggung Kencak.


Mpu Tandi menghela nafas panjang sebelum berkata lantang.


"Kita bukan pengecut!


Lebih baik mati di medan perang, daripada hidup tapi bersembunyi layaknya tikus!


Kencak,


Pasukan kita bagi tiga. Sepertiga aku pimpin keluar dari gerbang barat, sepertiga kau pimpin lewat gerbang selatan, dan sepertiga di pimpin Suralaya keluar dari gerbang timur.


Kita bertemu di gerbang selatan".


"Sendiko dawuh Gusti Senopati", dua tumenggung Jenggala itu segera menyembah kepada Senopati Mpu Tandi dan mundur ke arah tempat yang di perintahkan.


Senopati Mpu Tandi membawa 6 ribu prajurit di temani Demung Jurumeya dan Bekel Kasya bergerak ke gerbang barat. Tumenggung Kencak di bantu Demung Durpa dan Bekel Marati bergerak menuju ke gerbang selatan dengan 4 ribu prajurit Jenggala sementara Tumenggung Suralaya dan Demung Wirya serta Bekel Buristirta bergerak menuju ke gerbang timur diikuti 4 ribu prajurit Jenggala.


Di luar gerbang barat yang merupakan titik terlemah dari tembok istana Kadipaten Lasem, berkumpul Senopati muda Narapraja, Tumenggung Wasikerta dan Demung Sukendro dari Bumi Sambara dengan 5 ribu prajurit Daha.


Di luar gerbang selatan, Senopati muda Maitreya, Tumenggung Lokananta dan Demung Nayaka dari Lewa bersiap dengan 4 ribu prajurit.


Sedangkan di luar gerbang timur, Pasukan Daha yang di pimpin Tumenggung Ringkasamba, Demung Pranala yang merupakan pengganti Tumenggung Ranji yang berkhianat, dan Bekel Boja dari Lasem menanti dengan kekuatan 3 ribu prajurit.


Terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring dari dalam istana Lasem.


Melihat itu, Senopati Narapraja segera memerintahkan kepada para penabuh bende perang memukul bende mereka, sebagai isyarat bersiap.


Kriettttt!!!!


Perlahan bunyi gerbang barat istana yang terbuat dari kayu jati tebal mulai terbuka.


Senopati Narapraja segera mengangkat tangan kanannya, sebagai tanda pasukan pemanah untuk bersiap.


Begitu pintu gerbang terbuka lebar, ratusan prajurit Jenggala berlari cepat menuju ke arah pasukan Daha sambil memegang tameng perlindungan.

__ADS_1


Tangan Senopati Narapraja segera berayun.


Ratusan anak panah melesat cepat menuju ke arah pasukan Jenggala yang merangsek maju.


Sring sringggg sringgg!!


Creppp Creeppp!


Aarrgghhh.....!


Meski terlindung tameng, namun beberapa anak panah masih mampu membunuh puluhan


prajurit Jenggala.


Perang berkobar begitu mengerikan di gerbang barat.


Di gerbang selatan, begitu pintu gerbang terbuka, Senopati muda Maitreya tidak membuang waktu untuk menyongsong pasukan Jenggala yang di pimpin oleh Tumenggung sepuh Kencak.


Senopati muda itu langsung melompat tinggi ke udara dan turun sambil menjejak kepala prajurit Jenggala yang sial.


Deshhhhh


Sang prajurit langsung roboh tak bernyawa karena leher nya patah. Senopati Maitreya mengamuk dengan pedang nya. Setiap prajurit Jenggala yang mendekati nya, pasti tewas terkena sabetan pedang nya.


Tumenggung Kencak yang geram melihat banyaknya prajurit Jenggala yang tewas di tangan Maitreya, langsung melompat ke udara dan mendarat di depan senopati muda Daha itu.


"Huhhh..


Rupanya hanya bocah kemarin sore yang memimpin pasukan Daha.


Pulang saja ke ibu mu, minta susu dan tidur lah, bocah!", teriak Tumenggung Kencak yang sedang kesal.


Mata Senopati muda Maitreya langsung mendelik tajam kearah Tumenggung Kencak.


"Tua bangka bau tanah!


Mulutmu tajam sekali. Sudah mau mampus masih banyak tingkah!


Maju kesini kau!


Biar bocah cilik ini menghajar muka peyot mu itu", jawab Senopati muda Maitreya tersenyum sinis sambil memutar mutar pedang nya.


"Dasar bocah kurang ajar!


Tumenggung Kencak langsung mencabut pedang dari pinggang nya usai berteriak lantang. Perwira sepuh itu segera melesat ke arah Senopati muda Maitreya sambil mengayunkan pedangnya mengincar leher sang Senopati Daha.


Tringgg!!


Percikan bunga api kecil disertai angin dingin tenaga dalam bercampur bunyi nyaring benturan dua senjata beradu segera terdengar.


Para prajurit yang bertarung, memilih menjauh dari arena pertarungan mereka agar tidak menjadi korban sia sia. Pertarungan dua pasukan penguasa pulau Jawa itu begitu sengit.


Kedua orang perwira tinggi beda usia itu berlangsung menegangkan. Kedua nya sama sama bernafsu untuk membunuh lawannya.


Tumenggung Kencak meski menang dalam pengalaman tapi kalah di tingkat tenaga dalam. Maitreya, murid Resi Kunjarakarna dari Padepokan Lembah Wilis , begitu pintar bermain pedang.


Setiap serangan Maitreya begitu lincah dan cepat. Tumenggung sepuh itu mulai keteteran meladeni permainan pedang sang Senopati Daha.


Sreeetttttt


Aughh!


Maitreya segera melompat mundur satu tombak usai pedangnya bisa merobek baju dan kulit punggung Tumenggung Kencak.


Perwira tinggi istana Kahuripan itu murka.


Dia mundur selangkah ke belakang, menyarungkan kembali pedangnya dan memasang kuda kuda. Dia siap menyabung nyawa dengan Senopati muda Maitreya.


Tangan pria sepuh itu segera menangkup di depan dada. Mulut nya komat kamit merapal mantra Ajian Hasta Geni andalannya. Segera sinar merah menyala melingkupi kedua tangan Tumenggung Kencak.


Melihat bahaya, Senopati muda Maitreya langsung berkomat kamit merapal Ajian Panca Buana ajaran Resi kunjungan. Dua jari kiri Maitreya langsung mengusap mata pedang nya, yang seketika berubah bersinar biru langit.


"Mampus kau bocah tengik!!


Tangan kanan Tumenggung Kencak menghantam ke depan. Sinar merah seperti api melesat cepat menuju ke arah senopati muda Daha itu di sertai angin panas yang menderu.


Whuttttt....


Senopati muda Maitreya langsung memutar pedangnya dan menebas sinar merah itu dengan pedangnya.


Cranggg


Blammm!!!

__ADS_1


Pedang Senopati muda Maitreya mampu memotong sinar merah itu, yang mengakibatkan sinar merah itu menghantam tanah dan menciptakan sebuah lubang karena ledakan.


Tumenggung sepuh makin marah melihat ajian andalan nya mudah di patahkan oleh senopati muda itu.


Segera dia melompat dan menghantamkan kedua tangannya bergantian dengan cepat kearah Maitreya.


Whuttttt whutttt whutttt


Tiga sinar merah disertai angin panas menerabas cepat kearah Senopati muda Maitreya.


Senopati muda itu melompat ke udara menghindari serangan beruntun dari Tumenggung Kencak. Setelah berhasil menghindar, dengan cepat Senopati muda Maitreya melesat ke arah Tumenggung Kencak sambil menyabetkan pedang nya kearah dada.


Sreeetttttt


Tumenggung sepuh itu segera menghantamkan tangan kanannya ke arah pedang.


Blammmm!!


Ledakan keras terdengar dari benturan dua tenaga dalam tingkat tinggi mereka. Dua perwira tinggi prajurit itu terlempar dua tombak ke belakang. Dada Maitreya terasa sakit dan sesak, sementara Tumenggung Kencak muntah darah dengan tangan kanan hancur.


Senopati muda Maitreya mencibir ke arah Tumenggung Kencak.


"Ternyata umur bukan ukuran kemampuan kanuragan. Kau bukan lawan ku, tumenggung tua".


Di hina seperti itu, membuat Tumenggung Kencak malu. Sebagai tokoh tua perwira prajurit Jenggala, pantang dia dipermalukan. Dengan lantang dia berteriak.


"Bocah tengik,


Cepat bunuh aku!".


"Kau masih belum pantas untuk mati di tangan pedang ku", ujar Senopati muda Maitreya sambil menyarungkan kembali pedangnya.


Merasakan pahitnya kekalahan, dan tak ingin berlama-lama menderita sakit akibat luka dalam, Tumenggung Kencak langsung meraba pinggang dengan tangan kiri dan mencabut kerisnya.


Creeppp


Tumenggung sepuh itu mendelik sesaat sebelum akhirnya tewas setelah kerisnya menembus perutnya sendiri. Dia bunuh diri.


Pertarungan sengit terus terjadi.


Di gerbang timur, pertarungan sengit langsung meletus saat pintu gerbang istana Kadipaten Lasem itu terbuka.


Tumenggung Ringkasamba meladeni serangan Tumenggung Suralaya dengan cepat. Keduanya sama sama berimbang dalam ilmu keprajuritan maupun kanuragan.


Dari arah timur muncul ribuan prajurit berkuda


Pasukan Garuda Panjalu yang di pimpin Panji Watugunung dan Balapati.


"Seraaaaaangggggg!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini 🙏🙏🙏


Yang belum, silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️ dan komentar 🗣️.


Jaga kesehatan selalu, jangan lupa pakai masker 😁😁😁


Selamat membaca guys ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2