
Bende berbunyi nyaring dua kali. Pertanda bahwa pasukan mulai menata wyuha chandra. Seribu prajurit Kalingga yang ahli tombak dan tameng membentuk garis setengah lingkaran mengelilingi sisi wyuha. Di belakangnya, seribu pasukan pemanah dari Pasukan Bhumi Sambara dan pasukan pemanah dari Kembang Kuning yang berjumlah 1000 prajurit membentuk lapisan kedua. Tumenggung Sukendro dan Tumenggung Janadi yang memimpin pasukan ini.
Sedangkan 7300 prajurit dibelakang mereka membentuk formasi bundar seperti bulan purnama dengan Panji Watugunung sebagai pusatnya.
Di sisi lain, tepat sesuai perkiraan Panji Watugunung, lawan mereka menggunakan wyuha Wukirsegara. Mengandalkan kekuatan pada pasukan berjalan kaki yang menyebar layaknya teluk samudra. Sedang di posisi gunung, para perwira tinggi prajurit membentuk susunan segitiga layaknya gunung Sindoro.
Terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring dua kali.
Warigalit dan Senopati Narapraja segera menggebrak kuda mereka menuju ke tengah Padang Setubanda setelah mendapat perintah dari Panji Watugunung. Mereka membawa bendera putih sebagai tanda ingin bicara.
Dari pasukan Paguhan, Senopati Sembu dan Tumenggung Kalayaksa maju ke hadapan Senopati Narapraja dan Warigalit dengan berkuda setelah menyambar bendera putih dari seorang prajurit Paguhan.
"Aku beri kesempatan terakhir kepada kalian, hai orang Paguhan.
Kembalilah ke Panjalu sebelum semuanya terlambat", ujar Senopati Narapraja yang menatap wajah Senopati Sembu yang mulai berkeriput di makan usia.
Phuihhh
"Jangan harap kami kembali menjadi budak Daha. Sudah saatnya Paguhan menjadi negara yang mahardika dan berdaulat", jawab Senopati Sembu sambil meludah ke tanah.
"Baiklah kalau begitu,
Jangan salahkan kami jika kami bertindak tegas terhadap kalian", Senopati Narapraja tersenyum sinis.
"Siapa bilang kami takut? Ayo kita buktikan di medan laga", Senopati Sembu segera menarik kekang kuda nya diikuti Tumenggung Kalayaksa kembali ke pasukan Paguhan.
Senopati Narapraja dan Warigalit segera bergegas menuju ke barisan pasukan Panjalu.
Dari arah pasukan Paguhan, genderang perang ditabuh bertalu-talu. Sambil berdiri tegak, Senopati Sembu segera berteriak lantang.
"Seraaaaaangggggg!!!!"
Ribuan prajurit Paguhan berlari menuju ke arah pasukan Garuda Panjalu yang bergerak pelan menuju tengah medan tempur.
Thuuuuuuttttttt....!!!!
Mendengar terompet tanduk kerbau berbunyi, seketika gerakan pasukan Daha berhenti.
"Pasang tameng kalian!!!
Tumenggung Janadi langsung berteriak keras. Pasukan Kalingga segera menata tameng mereka yang berbentuk persegi panjang dan ditancapkan pada tanah.
Tumenggung Sukendro bersuit panjang dan ribuan prajurit Bhumi Sambara dan Kembang Kuning langsung mengambil ancang ancang untuk melepaskan tembakan panah mereka.
Karena terhalang tameng, pandangan prajurit Paguhan yang sedang berlari mendekat ke arah pasukan Daha, tidak melihat adanya para pemanah di belakang pasukan Kalingga.
"Tahaaannn!", teriak Tumenggung Sukendro saat pasukan Paguhan belum di dalam jarak tembak panah pasukan Daha.
Setelah pasukan Paguhan melewati tengah padang rumput, dengan teriakan lantang, Tumenggung Sukendro mengacungkan pedangnya.
"Lepaskan!!!"
Sringggg!
Sring!!
Ribuan anak panah melesat ke langit laksana hujan deras dari neraka.
Creeppp...
Creeppp!!
Para prajurit Paguhan tidak bisa berbuat apa-apa saat hujan anak panah menghajar tubuh mereka.
Aughhhhh..!!
Jerit kesakitan akibat tusukan anak panah terdengar dari pasukan Paguhan. Sisa pasukan yang berhasil menghindar terus berupaya untuk menerjang maju.
Namun, kokohnya pertahanan dari pasukan Kalingga membuat mereka menelan pil pahit kegagalan. Terlebih serangan tombak yang keluar dari sela sela tameng membuat mereka menjadi korban sia sia.
Hujan anak panah kembali menghadirkan mimpi buruk bagi prajurit Paguhan yang sedang sial. Umumnya mereka adalah para petani dan peladang yang dipaksa untuk menjadi prajurit. Nyaris tanpa kemampuan beladiri yang mumpuni.
Melihat pasukannya di bantai, Senopati Sembu murka. Seketika, pasukan pemanah yang menjadi kaki gunung dalam wyuha Wukirsegara diperintahkan untuk membalas serangan Pasukan Daha. Langkahnya ini jelas mengacaukan bentuk wyuha yang dibentuk sebelumnya.
"Panah mereka!", teriak sang Senopati Paguhan.
Sringggg!
Sring!!
Hujan anak panah melesat dari bidikan prajurit pemanah Paguhan.
Melihat itu, Pasukan Kalingga segera menggunakan tameng mereka untuk berlindung.
Namun karena jarak pasukan pemanah dengan lawan terlalu jauh, maka anak panah justru jatuh di ujung wyuha mereka. Akibatnya ratusan prajurit Paguhan tewas oleh anak panah kawan mereka sendiri.
__ADS_1
Panji Watugunung segera menoleh ke arah peniup terompet tanduk kerbau di samping kanan nya.
Thuuuuuuttttttt
Mendengar isyarat itu, wyuha mereka segera berubah. Pasukan tameng dan pemanah langsung terpecah menjadi dua bagian.
Melihat lawan terpecah wyuha nya, Senopati Sembu segera memerintahkan kepada para prajurit Paguhan merangsek maju.
Namun, tiga ujung wyuha vajra dari pasukan Daha langsung terbentuk dari bundaran Chandra dan menusuk maju setelah pasukan tameng dan pemanah memecah diri lalu bergabung pada pangkal wyuha vajra.
Pertarungan sengit segera pecah di antara pasukan Daha dan Paguhan.
Warigalit dengan Tombak Angin nya langsung menerjang maju ke tengah pasukan Paguhan. Di temani Jarasanda dan Tumenggung Jayanata dari Kembang Kuning mereka mengobrak-abrik jantung pertahanan wyuha Wukirsegara dari pasukan Paguhan.
Dari sisi kiri, Senopati Narapraja dibantu Tumenggung Wiguna dari Daha menyerang sisi lemah pasukan Paguhan. Sedangkan dari sisi kanan Senopati Lokananta di bantu Tumenggung Kumara dari Rajapura menggempur pertahanan pasukan Paguhan yang kocar-kacir.
Perang terus berlangsung sengit.
Melihat Warigalit mengamuk di tengah, Tumenggung Rumpaksana yang geram melompat tinggi ke udara meninggalkan tugas nya sebagai pengendali pasukan kiri.
Dengan segera dia menyabetkan pedang nya kearah leher Warigalit yang masih mengayunkan Tombak Angin nya ke leher seorang prajurit Paguhan.
Crashhhh
Si prajurit langsung tewas dengan leher nyaris putus.
Merasa ada yang hendak menyerang nya dari belakang, Warigalit menunduk seraya turun dari kudanya saat angin dingin tenaga dalam dari pedang Tumenggung Rumpaksana hampir mencapai tubuhnya.
Crashhhttttt...
Hieeeeekhhhh
Kuda Warigalit meringkik keras saat pedang Tumenggung Rumpaksana menebas leher nya. Kuda itu ambruk dan meregang nyawa kemudian.
Melihat kuda kesayangan nya tewas, Warigalit marah besar. Kuda itu dibelikan Ratri saat mereka masih di Padepokan Padas Putih. Satu satunya teman setia yang selalu menemani perjalanannya.
Warigalit segera memutar Tombak Angin nya. Deru angin dingin menusuk tulang seketika tercipta dari putaran Tombak Angin. Setelah menahan nafas sejenak, Warigalit yang sudah merapalkan Ajian Sepi Angin melesat cepat ke arah Tumenggung Rumpaksana.
Dengan jurus dari Kitab Tombak Suci yang telah di pelajari nya, Tombak Angin Warigalit menusuk lurus kearah dada Tumenggung Rumpaksana.
Melihat perubahan kecepatan Warigalit, Tumenggung Rumpaksana segera berusaha mundur sambil menangkis tusukan Tombak Angin Warigalit.
Tringgg..
Tumenggung berjambang lebat itu melompat ke udara, sambil mengayunkan pedangnya mengincar bahu kiri Warigalit namun kakak seperguruan Panji Watugunung ini segera berkelit ke samping.
Whuttttt
Sabetan pedang Tumenggung Rumpaksana hanya mengenai udara kosong.
Usai berkelit, Warigalit merubah gerakan tubuhnya, kemudian melesat cepat dengan putaran tubuh setelah menjejak tanah dengan keras.
Tombak Angin mengincar dada Tumenggung Rumpaksana yang baru memijak tanah. Melihat serangan lawan nya, mau tidak mau Tumenggung Rumpaksana berguling ke tanah untuk menghindar.
Sebelum tubuh Warigalit memijak tanah, dengan bantuan Tombak Angin, Warigalit melenting tinggi ke udara. Dengan cepat ia merapal Ajian Tapak Dewa Api kemudian tangan kiri nya yang sudah berubah warna menjadi merah menyala seperti api dihantamkan ke arah Tumenggung Rumpaksana.
Siuuuttttt
Tumenggung muda itu segera melompat ke samping saat sinar merah menyala keluar dari tangan kiri Warigalit menuju ke arah nya.
Blammmm!!
Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Dewa Api menghajar tanah. Tumenggung Rumpaksana yang baru berhasil menghindar, tidak mengira saat Warigalit melesat turun sambil menusukkan Tombak Angin nya ke arah dada kiri nya.
Creeppp
Aughhhhh
Tumenggung muda itu meraung keras saat Tombak Angin menembus jantung nya. Usai berhasil menombak dada sang Tumenggung, Warigalit melompat mundur 1 tombak ke belakang. Tumenggung Rumpaksana tewas dengan luka menganga lebar di dada kiri nya.
Pasukan sisi kiri yang ditinggal pemimpin mereka, tak bisa bertahan lama. Dengan cepat, Senopati Narapraja dan Tumenggung Wiguna serta pasukan nya mendesak pasukan Paguhan. Demung Gempi yang berusaha untuk mengendalikan pasukan di sisi kiri semakin tidak berdaya menghadapi gempuran Senopati Narapraja dan Tumenggung Wiguna yang memimpin 2 ribu prajurit Daha.
Korban tewas terus berjatuhan dari kedua belah pihak. Darah mereka mengubah Padang Setubanda menjadi merah dengan darah.
Di sisi kanan, Senopati Lokananta di bantu Tumenggung Kumara terus menggempur pertahanan pasukan Paguhan di bawah pimpinan Tumenggung Kalayaksa. Perwira tinggi prajurit Paguhan yang berbadan besar seperti raksasa itu ternyata tidak bisa memimpin pasukan nya.
Alur serangan mereka kacau balau tak tentu arah.
Melihat pasukannya kocar-kacir, Tumenggung Kalayaksa segera melompat ke arah Senopati Lokananta. Dengan gada besarnya, dia mengincar kepala Senopati Lokananta.
Whussss
Merasakan hawa pembunuh dari ayunan gada, Senopati Lokananta segera menunduk. Gada besar Tumenggung Kalayaksa menghantam dada prajurit Paguhan yang naas. Saking kerasnya gebukan gada, prajurit yang tewas itu menabrak Tumenggung Kumara.
Brukkk
__ADS_1
Tumenggung sepuh itu nyaris jatuh tengkurap jika tidak cepat menyangga tubuh dengan pedangnya.
"Groaaahhhh..
Akan ku bunuh kalian semua!", teriak Tumenggung Kalayaksa sambil terus mengayunkan gadanya.
Bummmm
Senopati Lokananta terus menghindari serangan brutal dari perwira tinggi berbadan besar itu sambil mengayunkan pedangnya yang bisa menyayat kulit Tumenggung Kalayaksa.
Luka luka Tumenggung Kalayaksa terus bertambah banyak. Gerakan lincah dan gesit melawan gerakan lambat dan kasar. Jelas Senopati Lokananta unggul di atas angin.
Setelah berhasil menghindar dari gebukan gada Tumenggung Kalayaksa, Senopati Lokananta segera memusatkan tenaga dalam nya pada pedang nya.
Senopati Kalingga itu segera melompat tinggi ke udara, kemudian melesat turun sambil menebas leher Tumenggung Kalayaksa.
Crashhhh
Aaarghhh
Tebasan pedang itu telak memotong leher sang Tumenggung. Gada besar Tumenggung Kalayaksa jatuh, tangan kiri nya langsung membekap lehernya yang robek dan terus mengeluarkan darah segar. Perlahan tubuh besar itu roboh lalu diam dan tidak bergerak lagi.
Di pusat wyuha vajra, Panji Watugunung terus mengamati situasi pertempuran. Dari arah samping, Ludaka mendekati sang pemimpin pasukan Daha.
"Ampun Gusti Pangeran,
Ada berita penting, Istana Kadipaten Paguhan hanya dijaga sekitar 3 sampai 4 ratus prajurit", lapor Ludaka sambil menghormat.
Hemmmm
Melihat lawan nya yang sudah keteteran meladeni wyuha vajra nya, Panji Watugunung lalu menoleh ke arah keempat istrinya.
"Dinda sekalian,
Segera bergerak menuju istana kadipaten Paguhan. Untuk pimpinan kalian aku percayakan pada Dinda Pitaloka.
Tangkap Adipati Gandakusuma.
Ludaka, ajak Rajegwesi dan Gumbreg.
Pimpin 500 prajurit. Serbu Istana Kadipaten Paguhan.
Ingat, jangan buat gerakan tiba-tiba saat pergi dari sini", perintah Panji Watugunung yang segera di balas anggukan kepala dari mereka.
Pasukan Daha yang disekitar Panji Watugunung perlahan berkurang. Gerakan mereka begitu halus nyaris tidak kentara oleh lawan.
Di bawah pimpinan Ratna Pitaloka, para istri Panji Watugunung dan perwira tinggi pasukan Garuda Panjalu bergerak cepat menuju ke arah istana kadipaten dengan memutari Padang Setubanda.
Sementara itu, perang di Padang Rumput Setubanda terus berlanjut. Selain kalah dalam siasat perang, Pasukan Paguhan juga kalah dalam persenjataan.
Melihat perwira nya tewas berjatuhan, Senopati Sembu menggebrak kuda nya melesat cepat menuju ke arah Panji Watugunung. Dia bertekad untuk membinasakan pimpinan pasukan Daha. Setelah cukup dekat, Senopati Sembu segera melompat ke udara dari atas kudanya. Tujuannya hanya satu.
Menantang Panji Watugunung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️ favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Jangan lupa kasih rate lima bintang 🌟 agar author terus semangat menulis 😁😁
Selamat membaca guys 🙏😁😁🙏
__ADS_1